| Sajak-Sajak Yohanes Manhitu Sajak-sajak terbaru |
|||||||||
![]() |
|||||||||
| Hujan Merah Untuk jiwa beku Tumbuh jamur maut di musim kemarau ini serpihkan sederet jiwa terbang temani dedaunan melayang, berhamburan menyatu di langit sana lalu hujankan air mata Ini merah dan merah bagai tetesan cat murah di permukaan kanvas sosok pelukis pasrah Merah tetaplah merah Merah sudahlah merah Yang berbekas itu marah Jogjakarta, 10 September 2004 Kembalikan Kasihku Bagi sang kasih yang pergi Runtuh bata di dinding kalbu terlepas kaca dari bingkai jiwa jebol sudah tanggul air bening hancur kini benteng pekikan terkoyak pula tirai harapan Di mana sosok kasihku? Jalan-jalan sepi, seram angin berhembus gosong pintu, jendela hiasi angkasa sebaris kertas putih disedot asap doa dan puisi bagi sosok tabularasa Tuhan, dengarlah doa-doa penuh asa! Jogjakarta, 10 September 2004 Pintu Garc�a Valdez Untuk La puerta terima kasih, penyair! telah kau bukakan pintu ke penjuru hamparan luas padang hijau kata-makna yang membentang indah membujur dari keabadian hingga kekekalan zaman pintumu telah biarkan aku selami relung lautan hidup kagumi pucuk-pucuk bintang asyik dalam rongga pepohonan membilang tulang-belulangku memahat kata di dinding waktu melirik pintu di bola mata dewi dan mencari kunci gerbang hati pintumu kini telah aku lampaui dan sandingkan dengan jendela agar angin surga leluasa bertiup hingga ke sudut-sudut sesak kata meresap ke tembok-tembok masa membasuh gelas-gelas ketamakan menyegarkan langit-langit benak dan membelai jiwa-jiwa merajuk. Jogjakarta, 31 Agustus 2004 Hakekat Malam alam sekitarku terbenam dalam diam malam Jogja ruas jalan hanyut kebisuan tapi sesekali tampak terjaga terusik nyaring kokok jago juga deru sepeda motor layar berbingkai hitamku masih mendesis mendesus setumpuk kitab di kananku secangkir kopi setia di kiri alunan musik klasik temani lewati batas hari tenggelam telah lama kucintai malam dan telusuri lorong kelam di antara dinding-dinding dan keasyikan tak terlukis dalam lautan sajak-sajakku yang rindukan teduh Pasifik. telah lama kukagumi malam yang sodorkan rupa pualam yang tuangkan anggur ilham ke dalam cangkir kehausan malamku pelamin terjamin bagi roh dan daging sekata. Jogjakarta, 31 Agustus 2004 Aku dan Waktu lahir kini satu bayi hari dari rahim sang waktu sejuta wajah peristiwa terus dipahat manusia ada yang kandas petang ada pula yang jadi fosil jari-jari waktu berputar tanpa protes pada poros yang kokoh menopang jari panjang dan pendek penakar masa anti letih aku terseret dalam bisu ruas jari-jari masa genap sendi-sendi waktu lentur langkah waktu amat tegap songsong sejuta kehadiran antarkan berjuta kepergian kutelusuri ruas jari-jarinya Jogjakarta, 31 Agustus 2004 Di Gerbong Ini aku di gerbong ini tak terikat, bebas bola mataku liar tatap roda-roda tak kenal lelah aku di gerbong ini yang kulihat adalah yang dilampauhi yang dihadapi tanpa diam aku di gerbong ini harus bersujud mesti berpeluh ada tertawa ada tangis Jogjakarta, 27 Agustus 2004 Salibkan Ketiadaan anggur hayat kau perlu agar hatimu terisi penuh dan luapkan aliran kasih yang gerak tanpa letih asa yang patut kau asah agar rindu bersemi mawar dan lahirkan sejuta benih pada yang ada kau peduli agar rasa dan asa berpadu dan salibkan ketiadaanmu Jogjakarta, 27 Agustus 2004 Menyusuri Lorong Waktu sengaja kududuki kursi yang sama, menghadap ke meja yang sama pula di bawah langit-langit yang sama pada menit-menit yang kukira sama. dalam ruang yang sama, tampak abadi, pada masa yang tak tampak berbeda, kau koyak tirai hatimu yang terluka akibat sayatan dalam alam maya. masih kuingat isakmu melintasi malam, kertas-kertas kerdil jembatani isi benak. kuhanya sanggup tawarkan cahaya redupku yang kau balas dengan pelukan merdekamu. Jogjakarta, 15 Mei 2004 |
|||||||||
| Kembali | Berikut | ||||||||