|

[home]
[pakguruonline]
[siswaonline]
[mailinglist
pakguruonline] [al-haq]

SUATU
OPINI MENGENAI
REFORMASI SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
Oleh :
Muhammad Yacub*)
Abstrak:
Ada berbagai masalah dalam dunia pendidikan kita yang
belum teratasi. Beberapa masalah tersebut antara lain
kinerja yang tidak pas dengan tujuan umum pendidikan
nasional, produk pendidikan yang belum siap pakai atau
tidak sesuai dengan ketersediaan lapangan kerja, rangking
pendidikan kita di mata dunia yang setara dengan
negara-negara miskin atau baru merdeka, dll. Dalam situasi
seperti itu telah bergulir pula gelombang reformasi yang
menghendaki adanya perubahan. Dalam rangka memasuki
tahapan reformasi dan realisasi undang-undang otonomi
daerah maka dalam patron pendidikan kita mesti dapat
menumbuhsuburkan secara serempak potensi-potensi IQ, EQ,
CQ, dan SQ. Dalam patron itu juga mesti terbuhul adanya
kemandirian/ kewirausahaan yang didukung oleh kemampuan
bersinergi dengan lingkungan fisik dan non-fisik yang ada.
Dengan kata lain, dalam menyongsong berbagai kecenderungan
yang aktual tidak ada alternatif lain selain perlu
penataan kembali terhadap dunia pendidikan mulai dari
filsafat/tujuan pendidikan sampai ke pemerintahan dan
manajemen pendidikan, kurikulum, metode pembelajaran, dan
substansi pengajaran secara nasional, regional dan lokal.
Kata kunci:
permasalahan pendidikan, reformasi pendidikan,
desentralisasi, potensi manusia, metode pembelajaran.
_____________
*)
Prof. Dr.H.Muhammad Yacub, M.Ed adalah staf pengajar
Universitas Negeri Medan (UNIMED), program Pasca Sarjana
USU dan IAIN-SU di Medan.
1. Pendahuluan
Atas bantuan Pemda
Sumatera Utara pada Minggu pertama November 1999, penulis
(atas nama pengurus ISPI-SU) mengikuti seminar pendidikan
nasional yang membahas bagaimana upaya merumuskan
paradigma baru dalam sistem pendidikan nasional di tanah
air tercinta ini dalam kaitannya dengan UU No. 22 tahun
1999 di Yogyakarta. Seminar itu sebagai upaya serius agar
kecenderungan-kecenderungan yang negatif dan mencemaskan
pada akhir-akhir ini terutama perilaku sebagian dari
anak-anak bangsa ini tidak terus-menerus kebablasan. Telah
banyak dibahas tentang segala sesuatu yang perlu
diwujudkan dalam masyarakat, agar generasi muda kita kelak
menjadi insan yang berbudi luhur, demokratis, kreatif dan
cakap melalui wahana pendidikan yang dikembangkan. Dalam
dunia pendidikan yang bersifat otoriter akan sulit sekali
atau tidak akan terdapat adanya sifat kemandirian (otonom),
demokratis, pro-aktif/kreatif. Apakah paradigma pendidikan
kita yang lalu dan sekarang ini tidak relevan lagi
sehingga terwujud insan-insan yang dalam perilakunya tidak
seperti yang kita harapkan? Masalah di atas telah dibahas
dalam seminar pendidikan nasional di Yogyakarta.
Dari sejumlah tokoh
pendidikan yang hadir dalam seminar pendidikan nasional
1999 yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan
Primagama, PGRI dan ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan
Indonesia) wilayah Yogyakarta pada tanggal 8-10 November
1999 telah dibahas bagaimana kita harus melakukan
rekonstruksi dalam sistem pendidikan nasional di negeri
ini, terutama dalam kaitannya dengan otonomi/
desentralisasi pendidikan yang mesti terwujud dalam abad
ke-21 yang segera kita masuki. Dengan kata lain, telah
terjadi reformasi pemerintahan dari sistem yang lebih
banyak menggunakan pendekatan kekuasaan ke dalam
pemerintahan yang lebih demokratis, lepas dari
keterbelengguan dan telah diperkenankan tumbuhnya
kebersamaan (egalitarian) dalam masyarakat. Dengan
demikian adanya reformasi dalam sistem pendidikan nasional
tidak boleh tidak mesti dilakukan.
2.
Teori-teori Tampilnya Tokoh-tokoh Terkenal
Ada sejumlah teori
tentang munculnya orang-orang cemerlang dan sukses di
dunia ini. Mereka yang tergolong sukses karena berbagai
faktor pembinaan sebelum mereka dewasa, antara lain
melalui proses pendidikan yang pernah digelutinya dan
pengalaman yang bermakna/kondusif dalam mengarungi
kehidupan yang penuh dengan tantangan. Ada juga
orang-orang tertentu yang menjadi hebat karena suatu
keahlian/ketrampilan yang dimilikinya dan semua itu
terhimpun dalam kepribadiannya yang agung tanpa melalui
proses pendidikan tapi melalui bimbingan gaib dari Allah
SWT. Mereka yang seperti itu adalah para nabi dan rasul
yang diutus Allah. Ada juga orang-orang yang menjadi ahli
hanya dengan melalui proses pemagangan/pengalaman yang
panjang, mereka ditempa dalam dunia kerja yang menjalankan
teori dan praktik langsung dengan berbagai karir yang ada
dalam masyarakatnya. Namun demikian, fakta membuktikan
bahwa mereka yang menjadi sukses dalam kehidupannya adalah
orang-orang yang menempa dirinya melalui pendidikan dan
pengalaman yang panjang. Dengan kata lain proses
pendidikan yang baik dan benar dan dilengkapi pengalaman
yang kondusif adalah sangat penting dan strategis dalam
mencapai sukses dalam kehidupan siapa saja di dunia dan
akhirat.
Di antara sekian banyak
para pemimpin yang sukses, mungkin saja dapat ditinjau
dari teori-teori leadership/manajemen yang diterapkan
dalam kiprahnya. Ada tiga teori yang kesohor dalam
kemunculan para pemimpin di dunia ini, yaitu teori genetik
(keturunan), sosial dan lingkungan. Orang-orang seperti
Pangeran Charles, Hamengku Buwono X, Gus Dur, Megawati
tampil sebagai tokoh terkenal karena leluhurnya memang
dari kalangan aristokrat dan tokoh yang terkenal.
Tampilnya Pangeran Charles dan Hamengku Buwono X secara
genetik, karena leluhurnya dari kalangan kaum aristrokat
ditambah lagi dengan adanya proses pendidikan/pengalaman
yang dialaminya (teori genetik). Gorbachev, George Bush,
Yasser Arafat mencuat kepermukaan dan tampil mengagumkan
bukan karena leluhur mereka, tetapi karena keadaan sosial
dan lingkungan telah menempa diri dengan baik, ada peluang
yang membuat diri orang itu muncul kepermukaan (teori
sosial). Dalam masa yang sedang labil dan keadaan tidak
menentu tidak jarang terjadi muncul pemimpin yang dominan
pada mereka bukan dari kalangan aristokrat tapi dari
rakyat biasa seperti Napoleon, Hitler, Suharto yang pada
gilirannya mereka mencapai puncak kekuasaan yang tidak
pernah diduganya (teori lingkungan) Ada juga orang-orang
yang sukses sebagai ilmuan, pioner dalam bidang iptek dan
sosial, ekonomi, dan politik seperti Iqbal, Tagore, dan
Habibie. Mereka berasal dari kalangan elit dalam
masyarakatnya, kemudian menempa diri secara optimal
melalui pendidikan dan pengalaman yang panjang ( teori
genetik dan lingkungan ). Kebanyakan dari mereka menjadi
berhasil atau tampil menjadi pemimpin atau tokoh dalam
bidangnya masing-masing setelah melalui proses pembinaan/pendidikan/latihan
yang panjang dan berliku-liku .
Dari deretan nama-nama
di atas dapat kita lihat dalam biografinya bahwa mereka
adalah pribadi-pribadi yang menempa diri secara serius
pada masa mudanya. Telah banyak turunan raja yang gagal
menjadi tokoh penerus tahta orang tua/leluhurnya, karena
tidak menempa diri atau lalai, sehingga mereka tumbang
dari singgasananya. Sudah pasti bahwa orang-orang terkenal
seperti di atas, bukanlah terdiri orang-orang yang selalu
santai, malas dan semacamnya ketika mereka masa muda dulu,
tetapi mereka yang pernah menempa diri dengan belajar yang
baik, disiplin, ulet, tahan uji, etos kerjanya tinggi,
lalu berjuang dengan gigih dalam mencapai cita-cita yang
agung dan mulia di dunia nyata baik secara lokal,
regional, nasional dan internasional.
3.
Pentingnya pendidikan dan pengalaman
Semua kita atau siapa
saja memahami bahwa orang tua dan generasi penerusnya
selalu merindukan bagaimana mendapatkan hidup bahagia dan
cemerlang untuk dirinya dan sesamanya. Tak heran jika
lembaga-lembaga pendidikan kebanjiran para penuntut ilmu (siswa
dan mahasiswa). Telah tumbuh dan berkembang
perguruan-perguruan, mulai taman kanak-kanak (TK) sampai
perguruan tinggi negeri/swasta (PTN/PTS) di seluruh tanah
air. Setiap tahun terdapat jutaan orang muda membanjiri
PTN/PTS. Telah menjadi berita rutin tentang wisuda lulusan
perguruan, mulai dari TK sampai lulusan PTN/PTS.
Belakangan ini di antara lulusan PTN dan PTS itu ada yang
mencapai tingkat Magister (S2), Doktor (S3) dan studi
lanjut setelah Doktor (post doctorat). Kalau ada
S4, S5 dan S,S, selanjutnya mungkin akan dikejar terus
oleh para pecinta ilmu.
Pada akhir-akhir ini
telah terjadi gejala baru di tengah-tengah masyarakat
ilmuwan, yaitu sangat besar jumlah pencari kerja atau
penganggur baik dari kalangan yang tidak/kurang terdidik
sampai lulusan perguruan tinggi. Kebanyakan dari para
penganggur terdidik itu lulusan fakultas dari ilmu-ilmu
sosial bahkan dari lulusan ilmu-ilmu eksakta, diantaranya
lulusan dari fakultas pertanian, teknik, dan kedokteran.
Banyaknya pengangguran dari kalangan putus sekolah,
lulusan SD-SLA, fakultas-fakultas sosial/keguruan, sudah
menjadi berita biasa. Realita di atas merupakan salah satu
faktor yang membuat orang muda kehilangan semangat dan
motivasi dalam menempa diri, dengan cetusan hati sebagai
berikut : "buat apa capek-capek belajar dengan
serius, pada akhirnya hanya untuk menambah kuantitas
pengangguran intelektual saja".
Cetusan hati di atas,
sepintas lalu memang ada benarnya pada masa tertentu,
tetapi tidak selamanya akan selalu benar dalam masa yang
lain. Mengapa begitu? Sebagai penganut ajaran agama yang
baik, kita mesti yakin bahwa: "Akulah (kata Tuhan)
yang mengatur perbekalan hidup (rezeki) setiap insan di
muka bumi ini". Dengan jaminan Tuhan tersebut
kita jangan hanya menunggu saja, namun kita harus berusaha
keras bagaimana mendapatkan peluang kerja atau menciptakan
kerja baru untuk dirinya dan jika mungkin menciptakan
kerja untuk orang lain. Dalam bagian lain Allah berfirman
dalam Al Qur’an : "Allah tidak berubah nasib
suatu kaum apabila mereka tidak berusaha mengubah nasibnya
sendiri". Hal itu berarti, bahwa walaupun gelar
sarjana, atau keahlian tertentu telah kita miliki, namun
kita mesti berusaha mendapatkan pekerjaan yang cocok, jika
belum diperoleh maka jangan jemu apa lagi putus asa, terus
berusaha dengan cara: (1) supaya sebanyak mungkin orang
lain mengetahui kebolehan/keahlian yang kita miliki, (2)
membina diri agar menjadi insan yang berkualitas sehingga
mereka dapat menciptakan pekerjaan untuk diri sendiri dan
jika mungkin untuk orang lain. Penulis pernah mendorong
orang-orang muda seperti apa yang dituliskan di atas ini
dan fakta menunjukkan bahwa dengan penuh kegigihan
orang-orang muda mengikuti terapi tersebut, pada
gilirannya mereka menemukan pekerjaan yang dapat menolong
kehidupannya. Dengan kata lain, kita mesti optimis,
kreatif dan rajin berkomunikasi dengan siapa saja yang
pada gilirannya akan dapat membantu atau membuka jalan
yang pada gilirannya seseorang mendapatkan pekerjaan atau
karier yang menjadi lahan memperoleh rezeki di muka bumi
ini.
Di negara-negara maju
seperti Amerika Serikat (tempat penulis pernah menimba
ilmu khususnya dalam bidang pendidikan non formal atau
Pendidikan Luar Sekolah atau PLS) pada tahun 1978-1080
yang lalu sangat banyak ditumbuhkembangkan Community
College atau semacam Pendidikan Politeknik yang ada di
sejumlah propinsi di Indonesia seperti yang kita kenal
sekarang ini. Para lulusan Community College di
Amerika Serikat pada umumnya dapat langsung bekerja ke
perusahaan yang telah menjalin kerja sama dengan college
tersebut. Boleh jadi ada sejumlah lembaga mengirimkan
orang-orangnya ke lembaga pendidikan/pelatihan itu.
Walaupun demikian kendati telah lulus dari lembaga yang
seperti di atas, tidak merupakan jaminan bahwa lulusan
tersebut 100 persen siap kerja. Mereka itu masih perlu
dilatih atau menyesuaikan diri lagi dalam perusahaan yang
merekrutnya, mengikuti latihan khusus dalam waktu yang
relatif singkat.
Persyaratan utama dalam
menempa diri, terutama dalam belajar di perguruan tinggi,
tidak hanya tergantung pada faktor dana dan intelegensia
saja, masih banyak faktor-faktor lain yang turut berperan.
Tidak sedikit mereka yang mempunyai dana yang melimpah
ruah dan tidak didukung oleh kadar intelegensia dan
lain-lain yang baik mereka gagal dalam mencapai sukses,
pada akhir studinya. Kegagalan itu terjadi karena
orang-orang itu lebih banyak menggunakan waktunya untuk
kegiatan di luar objek studinya atau ia terperosok pada
kelompok orang-orang yang salah arah antara lain: kelompok
penggemar minuman/makanan yang berbahaya/narkoba dan
semacamnya. Ada pula yang gagal karena terlibat dalam
berbagai kejahatan yang makin merebak di mana saja. Dan
memang tanpa adanya dan intelegensia dll yang memadai
dapat dikatakan lebih baik tak usah belajar ke perguruan
tinggi karena biaya untuk studi lanjut yang bermutu,
memang cukup mahal, di samping faktor-faktor lain yang
akan diulas pada giliran selanjutnya.
Dalam situasi yang serba
sulit akhir-akhir ini terutama sangat lemahnya kehidupan
ekonomi bangsa kita, usaha-usaha dari semua pihak sangat
diharapkan. Dari pihak pemerintah terutama dalam Kabinet
yang sekarang ini tampak jelas bagaimana upaya mengatasi
kesulitan ekonomi terutama pengadaan bahan-bahan keperluan
pokok menjadi tumpuan utama. Berbagai proyek pembangunan
fisik yang baru akan dimulai dapat ditunda dan dananya
dialihkan kepada pembinaan sektor-sektor yang dipandang
sangat urgen antara lain peningkatan sektor pangan,
industri, perdagangan di dalam dan luar negeri serta
sektor yang berkaitan dengan pembinaan sumber daya manusia
pada umumnya, dalam pembinaan kewirausahaan pada khususnya.
4.
Berbagai Potensi Non-fisik yang Mesti Dikembangkan dalam
Proses Pendidikan
Dalam bagian akan
diuraikan secara singkat dan populer tentang potensi non-fisik
antara lain mengenai: kecerdasan emosional dan lain-lain
yang mesti ada dalam kegiatan-kegiatan wirausaha yang pada
masa akhir-akhir ini sedang ditumbuh-kembangkan oleh
berbagai pihak.
4.1
Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient)
Kecerdasar emosional
terjemahan dari emotional quotion (EQ). Menurut
Laurence E Syapiro (1997) EQ adalah himpunan dari berbagai
fungsi jiwa yang melibatkan kemampuan memantau itensitas
perasaan/emosi, baik pada diri sendiri maupun pada diri
orang lain, memiliki keyakinan tentang dirinya (percaya
diri) dan penuh dengan antusias, pandai memilah-milah
semuanya dan menggunakan informasi sehingga dapat
membimbing pikiran dan tidakannya. Seseorang yang tinggi
kualitas EQ-nya dalam kinerjanya tampak adanya keuletan
dan kekenyalan, selalu dapat menahan diri dalam mengalami
frustasi/stres atau himpitan keadaan dalam rangka mencapai
atau memperjuangkan sesuatu yang menjadi cita-cita yang
ingin dicapainya.
Walaupun masih ada
sebagian ahli belum sepakat apakah EQ ini dapat diukur
atau tidak, orang-orang yang di dalam dirinya terdapat
potensi ini, dalam kepribadiannya terdapat ciri-ciri
sebagai berikut:
-
Empati.
-
Mampu mengungkapkan
dan memahami perasaan, mengendalikan amarah
menyesuaikan diri berjuang dan survive dalam
situasi yang bagaimana termasuk dalam keadaan rawan.
-
Disukai oleh apa dan
siapa saja yang ada di sekitarnya.
-
Memiliki kemampuan
dalam memecahkan masalah.
-
Tekun dalam
menangani tugas-tugas yang diembannya.
-
setia kawan dengan
mitranya
Siapa yang memiliki
kecerdasan emosional (EQ) pada umumnya dalam menggeluti
usahanya selalu gigih, ulet, konsisten (ajeg) dan tahan
uji/andal dalam menghadapi situasi yang paling pahit dan
berat.
4.2
Kreativitas (creativity quotient)
Istilah ini berasal dari
kata creativity, creatie berarti ciptaan, creativity
berarti penciptaan. Adanya kreativitas yang tinggi dalam
kepribadian berarti terdapat kecenderungan untuk
menciptakan sesuatu yang dipandang baru dan bermanfaat
dalam kehidupan. Orang yang kreatif sering juga dianggap
sebagai orang yang inovatif, selalu berminat untuk
menemukan yang baru dan original (keaslian), tidak
hanya meniru/mengekor terhadap sesuatu yang telah
dikerjakan orang lain. Dalam diri orang yang kreatif dalam
kinerjanya selalu tampak:
-
Mampu mengendalikan
emosi.
-
Memiliki empati.
-
Luwes dalam berpikir/bertindak,
berminat dalam kegiatan kreatif.
-
Berwawasan ke depan
dan percaya kepada gagasan sendiri.
(Dedi Suriadi, 1994)
Dalam belajar, bekerja,
dan dunia bisnis adanya kreativitas sangat diperlukan
dalam rangka menghadapi kejenuhan/kebosanan dan persaingan
yang ketat.
-
Kecerdasan
Ruhaniah (Spiritual Quotient atau SQ)
SQ adalah suatu
kemampuan untuk memahamai dan menggali motif terdalam
dari kehidupan ini. Dengan kemampuan ini seseorang
dapat mengenal Tuhan, meyakininya dan mencintainya.
Seseorang tidak dapat mencintai Tuhan secara benar
sebelum ia mencintai sesama manusia secara tulus. SQ
yang tinggi kadarnya sangat berkaitan dengan EQ dan CQ
(Gatra, No,43 th IV. 9 Sept. 2000: 46)
-
Etos
Kerja (EK)
Istilah etos salah
satu artinya adalah semangat, etos kerja artinya
semangat bekerja. Siapa yang etos kerjanya tinggi
selalu bergairah/bersemangat dalam menjalani kegiatan
kerja yang telah diputuskan menjadi bagian dari
kehidupannya. Mereka seolah-olah tidak mengenal lelah
dan putus asa dalam menggeluti tugas-tugas yang
menjadi tanggung jawabnya. Dalam jiwanya telah
terpatri motto "Hari ini harus lebih baik dari
hari kemarin" yang berasal dari salah satu ajaran
agama Islam yang cukup hebat tapi kurang terlihat
dalam kepribadian sebagian dari orang-orang Islam masa
kini; padahal motto ini telah diluncurkan pada abad
ke-7 yang lalu. Motto itu adalah bagian dari motivasi
kerja berdasarkan ajaran Islam: "Siapa
saja pada hari ini amalnya lebih baik dari kemarin
maka tergolong orang beruntung, siapa yang amalnya
sama saja dengan kemarin, tergolong orang yang merugi
dan apabila amalnya lebih rendah dari kemarin maka ia
tergolong orang celaka".
Betapapun berat dan
sulitnya kegiatan kerja yang menjadi tanggung jawabnya,
ia selalu menggeluti tugasnya itu dengan rasa ikhlas
dan lapang dada; ia senantiasa merasa senang dan
tenang dalam menjalankan tugasnya. Dengan penuh
kesadaran, tugas yang diembannya itu adalah salah satu
ibadah bahkan setara dengan ibadah wajib menurut
ajaran agama Islam. Apabila bekerja telah diyakini
sebagai ibadah dan hal itu dila-kukannya secara rutin,
dengan penuh kesadaran dan kecintaan maka apabila
orang itu tidak melakukannya karena berbagai sebab
maka ia merasakan ada sesuatu yang hilang atau tidak
lengkap dalam dirinya. Siapa saja yang telah melakukan
ibadah kepada Tuhan sesuai dengan ajaran agama yang
dianutnya dan ibadah itu telah meresap dalam jiwanya
dan menjadi bagian yang menetap dalam dirinya (kebiasaan)
maka apabila kegiatan itu tidak dilakukannya, ia
merasa gelisah. Siapa saja yang etos kerjanya tinggi
pada umumnya akan merasa seperti itu apabila ia dalam
keadaan menganggur atau suatu tugas yang tidak
didikerjakan dengan tuntas. Dalam menumbuhkembangkan
kegiatan belajar, bekerja, wirausaha dll sifat-sifat
mental yang dipaparkan di atas harus ada. Dari
sejumlah tokoh yang dipandang sukses dalam berbagai
bidang, khususnya dalam dunia wirausaha memang
terbukti memiliki sifat-sifat mental seperti telah
dipaparkan di atas.
-
Meningkatkan
penumbuhan usaha-usaha Wiraswasta
Program-program untuk
membantu kelompok masyarakat yang tergolong dalam usaha
kecil ke bawah dan menengah (usaha wiraswasta) terutama
dalam rangka program-program yang ada dalam Jaringan
Pengaman Sosial (JPS) yang telah diluncurkan dengan
alasan sebagai berikut.
-
Pertumbuhan jumlah
pegawai negeri dengan zero growth, dengan demikian
kesempatan untuk menjadi pegawai negeri makin kecil
peluangnya.
-
Banyaknya
usaha-usaha swasta yang besar dan menengah yang
terlikuidasi akibat krisis moneter yang
mengakibatkan krisis lainnya.
-
Belum tumbuh
dengan subur usaha-usaha wirausaha yang dilandasi
oleh semangat dan etos kerja yang didalamnya
terdapat kecerdasan emosional, kreativitas dan
spiritual yang tinggi.
Dari orang-orang yang
sukses dalam dunia bisnis yang pernah penulis lontarkan
dalam sejumlah tulisan yang pernah dimuat di media massa,
antara lain Marsimin Purba, Sujak Widodo, Ray Crock dapat
kita cermati bahwa dalam kepribadian mereka terdapat
potensi-potensi yang telah diuraikan di atas. Menurut
pengamatan penulis bahwa dalam kepribadian orang-orang
seperti M. Purba, Sujak, Lim Sui Long, dan R Crock
terdapat adanya IQ, EQ, CQ, dan RQ. S Widodo dan M. Purba
(wiraswastawan dari wilayah Sumatera Utara dan Batam-Riau
) ternyata memang memiliki sifat-sifat tekun dan ulet/gigih
dalam menumbuhkembangkan usaha yang dikelolanya dalam
bidang yang digelutinya. Mereka memiliki kemampuan
berkomunikasi yang baik dengan berbagai pihak terutama
dengan Departemen Koperasi dan Bank; dengan bantuan
pembiayaan dari Bank maka usaha mereka makin bertambah
maju dan sukses. Dengan adanya potensi-potensi seperti
telah diuraikan di atas salah seorang dari 10 orang
terkaya kaliber dunia yaitu Ray Crock pada gilirannya
menjadi lebih kaya-raya jika dibandingkan dari pada
pembina dan pengembang awal (pioner) dari Restoran Mc
Donald yaitu Mc Donald bersaudara. (C.A.Poisant, 1993)
Dengan memperhatikan
uraian di atas kita dapat merasakan bahwa produk
pendidikan yang terjadi pada masa lalu di negeri ini baru
terfokus pada kuantitas lulusan belum menyentuh dari sisi
kualitas pendidikan, berorientasi pada aspek kognitif (NEM/IP
yang tinggi) dan kemampuan psikomotor yang kurang optimal
dan belum banyak menyentuh aspek non fisikal terutama dari
sisi pengembangan EQ, CQ dan, SQ secara optimal.
7.
Otonomi Pemerintahan Daerah dan reformasi pendidikan
7.1
Pengertian Otonomi, UU No. 22 tahun 1999 dan Otonomi
Pemerintahan Daerah
Otonomi artinya
memutuskan suatu keputusan/kebijakan secara mandiri;
otonomi erat kaitanya dengan desentralisasi. Otonomi yang
ideal dapat tumbuh dalam suasana bebas, demokratis,
rasional dan sudah tentu dalam kalangan insan-insan yang
berkualitas. Dalam pemerintahan Presiden Habibie yang
berusia 500 hari itu telah lahir Undang-undang No. 22
tahun 1999 tentang pemerintahan daerah walaupun belum
begitu sempurna namun dapat merupakan acuan untuk
melangkah lebih maju dapat mengadakan terobosan ke arah
terwujudnya cita-cita nasional yang belum juga menjadi
kenyataan.
Dalam UU No. 22 1999 itu
yang merupakan titik balik terhadap UU No. 5 tahun 1974,
telah ditegaskan adanya pembagian kekuasaan antara
pemerintah pusat dan daerah. Dalam pasal 7 UU No 22 tahun
1999 kewenangan daerah akan cukup luas, namun dalam bidang
keamanan, hubungan politik luar negeri, agama, peradilan
dan moneter/fiskal masih merupakan kewenangan pemerintah
pusat. Dengan realisasi desentralisasi kewenangan dalam
bidang keuangan hanya terfokus dalam pembangunan secara
makro dalam globalisasi, ada kesepakatan tentang pembagian
budget untuk pusat dan daerah sehingga kewenangan daerah
dalam menggunakan keuangan yang menjadi porsinya sesuai
dengan kebutuhan dan aspirasi yang memang relevan untuk
daerahnya.
7.2
Rekonstruksi/Reformasi dalam Sistem Pendidikan Nasional
dan Regional
Dalam seminar yang telah
dikemukakan di atas telah dibahas hal-hal sebagai berikut.
Pertama, dari berbagai
kelemahan yang kita jumpai dalam dunia pendidikan dalam
zaman orde lama dan orde baru sudah pasti mesti dirumuskan
paradigma baru dalam menuju milenium ke tiga mendatang.
Telah terungkap berbagai bentuk dan jenis lembaga
pendidikan yang telah tumbuh dan berkembang di tanah air
tercinta ini, baik yang tumbuh dari sosio budaya
masyarakat yang ada di bumi Nusantara ini maupun yang
berdasarkan pengaruh dari luar nusantara misalnya dari
Asia Selatan, Timur Tengah dan Barat. Keberadaan berbagai
bentuk lembaga pendidikan Islam terutama paradigma
pendidikan yang dikembangkan dalam pondok pesantren
dipandang sebagai salah satu bentuk pendidikan yang
membina sikap mandiri dan waspada terhadap berbagai
pengaruh dari luar. Pada awalnya pondok pesantren
didirikan dengan semangat kemandirian dan berbagai sistem
(termasuk dalam substansi pendidikan) yang
ditumbuhkembangkan di dalamnya begitu otonom, walaupun
adanya semacam hak veto dan hegemoni memang ada di
tangan kiayi atau para pendiri pesantren.
Kedua, dalam GBHN 1999
telah dirumuskan misi pendidikan nasional kita sebagai
berikut. Mewujudkan sistem dan iklim pendidikan nasional
yang demokratis dan bermutu, guna memperteguh akhlak mulia,
kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas, sehat,
berdisiplin, bertanggung jawab, berketerampilan serta
menguasai iptek dalam rangka mengembangkan kualitas
manusia Indonesia.( Soedjiarto, 1999 ). Untuk mewujudkan
misi tersebut mesti diterapkan arah kebijakan sebagai
berikut:
-
Perluasan dan
pemerataan pendidikan.
-
Meningkatkan
kemampuan akademik dan profesionalitas serta
kesejahteraan tenaga kependidikan.
-
Melakukan
pembaharuan dalam sistem pendidikan nasional termasuk
dalam bidang kurikulum.
-
Memberdayakan
lembaga pendidikan formal dan PLS secara luas.
-
Dalam realisasi
pembaharuan pendidikan nasional mesti berdasarkan
prinsip desentralisasi, otonomi keilmuan, dan
manajemen.
-
Meningkatkan
kualitas lembaga pendidikan yang dikembangkan oleh
berbagai pihak secara efektif dan efisien terutama
dalam pengembangan iptek, seni dan budaya sehingga
membangkitkan semangat yang pro-aktif, kreatif, dan
selalu reaktif dalam seluruh komponen bangsa (Soedjiarto,
1999).
Ketiga, dalam hal upaya
menuju otonomi pendidikan kita mesti memperhatikan adanya
empat pilar yang direkomendasi oleh UNESCO yaitu: 1) learning
to know, 2) learning to do, 3) learning to
live together, dan 4) learning to be (mengembangkan
kepribadian dan kemampuan untuk bertindak dengan otonomi
yang lebih besar disertai oleh penilaian dan tanggung
jawab pribadi). Dalam hal otonomisasi pendidikan di
Indonesia sesuai dengan semangat reformasi telah
ditetapkan/diberlakukan UU No. 22 tahun 1999 pasal 11 ayat
2 bahwa bidang pendidikan dan kebudayaan merupakan salah
satu bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh
daerah tingkat II. Kemudian dalam pasal 8 ayat 1 diacu
bahwa penyerahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada
pemerintah daerah dan masyarakat di dalamnya sebagai
realisasi desentralisasi yang tidak boleh tidak memiliki
konsekwensi logis berupa penyerahan dan pengalihan
pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya
manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut.
Dengan demikian, otonomi pendidikan akan berupa sistem
desentralistik dalam manajemen pendidikan harus dapat
mengarahkan pada berbagai kebijakan dalam proses
pendidikan antara lain dalam proses belajar-mengajar
sebagai alat mencapai tujuan yaitu mendorong terwujudnya
partisipasi, peningkatan kualitas layanan melalui
pemberdayaan lembaga pendididkan (sekolah) dan pendidik/guru
dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan masyarakat dalam
konteks sosial budayanya sendiri. Dengan demikian,
penerapan sistem desentralistik manajemen Pendidikan Dasar
dan seterusnya dapat mengacu PP No. 65 tahun 1951 dan UU
No. 22 tahun 1999. Dengan demikian maka DPR daerah (Dati I
dan II) perlu memikirkan kembali agar berbagai kebijakan
di masing-masing daerah sesuai dengan jiwa reformasi yang
kondusif dan kebutuhan daerahnya di masing-masing. Dengan
demikian, peserta didik harus dikembangkan secara
proporsional dari berbagai segi (IQ, EQ, CQ dan RQnya) dan
jasmaninya sesuai dengan bakat dan minatnya dan dalam
konteks: sosio-budaya daerah yang mengacu pada kebudayaan
nasional bangsa Indonesia yang mesti dipegang teguh dalam
upaya menjaga kesatuan/keutuhan nasional. Dalam upaya itu
jangan dilupakan bahwa bangsa apa saja mesti berintegrasi
dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia ini.
Dari sedemikian banyak
masukan dalam hal otonomisasi dalam pendidikan menuju
milenium ketiga dari seminar terungkap sebagai berikut.
-
Perlu adanya
filosofi pendidikan Indonesia yang menggambarkan
paradigma yang relevan dengan jiwa reformasi yang di
dalamnya telah tumbuh sistem demokratisasi dan
kebebasan yang beradab/beraklak dan sedang kita
kembangkan sekarang ini dalam berbagai bentuk dan
sudah tentu dalam aspek Politik Pendidikan dan
Kebudayaan sehingga dapat mewujudkan Manusia Indonesia
Baru yang berkepribadian kuat.
-
Pendidikan Nasional
hendaknya memiliki misi agar tercipta partisipasi
masyarakat secara menyeluruh sehingga secara mayoritas
seluruh komponen bangsa yang ada dalam masyarakat
menjadi terdidik. Pada sisi lain tidak hanya terfokus
pada penyiapan tenaga kerja, tapi lebih jauh dari itu
harus memperkuat kemampuan dasar peserta didik
sehingga memungkinkan baginya untuk berkembang lebih
jauh sebagai individu, anggota masyarakat maupun
sebagai warga negara dalam konteks kehidupan global.
-
Pengembangan sekolah
perlu menggunakan pendekatan community based
education, terutama menerapkan prinsip otonomi, acountability
dan quality assurance sehingga dapat
mengakomodasi sosio-ekonomi/budaya lokal namun tetap
mengacu pada sosio budaya nasional. (Suyanto, 1999).
Dengan demikian, lembaga pendidikan yang ada
mempertanggungjawabkan kinerjanya kepada masyarakat/orang
tua di sekitarnya dan pemerintah setempat, namun tetap
dalam koridor sistem pendidikan nasional.
-
Substansi pendidikan
dasar hendaknya mengacu pada pengembangan potensi dan
kreativitas (IQ, EQ, CQ, dan RQ) dalam totalitas yang
seimbang dan serasi. Pendidikan menengah dan tinggi
hendaknya diarahkan pada membuka kemungkinan
pengembangan individu/kepribadian secara vertikal dan
horisontal. Pengembangan secara vertikal mengacu pada
struktur keilmuan dan pengembangan horisontal, mengacu
pada keterkaitan antarbidang keilmuan.
-
Dalam realisasi
pendidikan dalam konteks lokal adanya badan-badan
pembantu dalam dunia pendidikan antara lain Badan
Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) ditingkatkan
perannya menjadi Dewan Sekolah yang di dalamnya harus
ada unsur-unsur Pemerintah Daerah, perwakilan
guru-guru dan sudah tentu ada pula di dalamnya
tokoh-tokoh masyarakat dan para orang tua peserta
didik. BP3 berperan memberi masukan tidak hanya dari
sisi bantuan material dan kesejahteraan guru, tetapi
juga masukan dalam berbagai aspek termasuk dalam
pembinaan misi, visi dan substansi (kurikulum lokal
dll) pendidikan yang sesuai dengan keperluan daerah
masing-masing.
-
Dalam pembelajaran
pada tingkat apa saja mesti dapat mengaktualisasi enam
unsur kapasitas belajar yaitu: (i) kepercayaan (confidence),
(ii) keingintahuan (curioucity), (iii) sadar
tujuan (intensionality), (iv) kendali diri
(self control), (v) kemampuan bergaul secara harmonis
/saling pengertian (relatedness), dan (vi) mampu
bekerja sama (work together) dengan pihak mana
saja.
8.
Penutup
Dengan kata lain,
rahasia bagaimana kita dapat mencapai keberhasilan dalam
proses pendidikan yang pada gilirannya dapat mencapai
sukses kehidupan ini dalam garis besarnya adalah sebagai
berikut.
-
Kita harus memiliki
pengetahuan dan keterampilan yang optimal sehingga
menjadi profesional dalam satu atau dua atau lebih
dari dalam kehidupan yang nyata baik yang bersifat
fisikal atau non fisikal.
-
Berusaha agar orang
lain atau jika mungkin satu/beberapa perusahaan
mengenal dan mengetahui tentang keahlian yang kita
miliki sehingga mereka mungkin menggunakan (memesan)
keahlian yang kita miliki untuk mereka manfaatkan.
-
Dalam menggeluti
pekerjaan apa saja tunjukkan hasil kerja (prestasi)
yang prima/optimal dan dengan penuh tanggung jawab (accountability)
serta jauhkan diri dari segala sesuatu yang arogan.
-
Adanya kemampuan
untuk berinteraksi dengan baik dan harmonis (human
relation) dengan sesamanya dan dengan atasan/bawahannya
serta bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
-
Sangat perlu adanya
kejujuran, disiplin, keuletan, kesabaran dalam
berbagai aspek dalam kehidupan dalam ruang/tempat
kerja dan di luarnya termasuk dalam keluarganya.
-
Sadarilah bahwa
bekerja adalah termasuk salah satu bentuk ibadah
kepada Allah SWT di samping berbagai jenis ibadah
lainnya terutama ibadah ubudiyah kepadaNya.
Dengan berbagai usaha di
atas timbul tanda tanya: dapatkah berbagai upaya itu
mencapai tujuan yang diharapkan? Faktor-faktor apa saja
yang mesti ditingkatkan sehingga tumbuh dan berkembang
sehingga berbagai usaha baru dapat terwujud? Dalam
menjawab pertanyaan di atas, penulis yakin bahwa para
pembaca dapat menemukan sendiri jawabannya setelah melalui
penyelidikan dan pengalaman yang cukup panjang.
Sekedar demikian saja
pemaparan kami tentang reformasi pendidikan yang dapat
kami simak dalam tulisan ini. Mudah-mudahan saja isi
tulisan ini ada manfaatnya bagi kita semua.
Pustaka
Acuan
Madya, Sumarsih, 1999,
"Menuju Otonomi Pendidikan", MAKALAH,
Primagama-ISPI-PGRI, Yogyakarta.
Muhammad, Henry &
Bakri, Kholis Bachtiar, 2000. " Sikap damai itu
cerdas ", GATRA, No. 43/thn VI/9 September.
Meester, De L, 1999,
"Menuju Otonomi Pendidikan", MAKALAH,
Primagama-ISPI-PGRI, Yogyakarta.
Poisant, Charles
Albert, 1993, RAHASIA KEBERHASILAN JUTAWAN TERKEMUKA DI
DUNIA, Pustaka Tangga, Jakarta.
Supriadi, Dedi, 1994,
KREATIPTAS, KEBUDAYAAN & PERKEMBANGAN IPTEK,
Alfabeta, Bandung.
.Syapiro, Laurence E,
1997, MENGAJARKAN EMOTIONAL INTELIGENCE PADA ANAK,
Gramedia, Jakarta.
Soedjiarto, 1999.
"Memahami Arahan Kebijakan GBHN 1999-2004
tentang Pendidikan Sebagai Upaya Mencerdaskan Kehidupan
Bangsa dan Membangun Peradaban Negara bangsa
Indonesia", MAKALAH, Primagama-IPSI-PGRI,
Yogyakarta.
Suyanto, 1999, "Paradigma
Baru Sistem Pendidikan Nasional Abad ke-21",
MAKALAH, Primagama-IPSI-PGRI, Yogyakarta.
Yacub, Muhammad, 1999,
ORANG TUA BIJAKSANA DAN INSAN-INSAN YANG SUKSES, Yay-
Madera, Medan.
Sumber : http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/27/suatu_opini_mengenai_reformasi_s.htm

http://www.geocities.com/jipsumbar
http://jipdiknassumbar.cjb.net
Situs
ini menampung sumbangan tulisan, berupa makalah,
kajian, serta artikel dalam kerangka inovasi pendidikan.
Silahkan kirim tulisan anda kepada web master
:
[email protected]
Jika
pada browser Internet Explorer anda muncul pesan
script error atau script debugging,
klik disni
|