[home] [pakguruonline] [siswaonline] [mailinglist pakguruonline] [al-haq]


    SEPUTAR PENDIDIKAN
  

Sekolah Online di Kaki Merbabu

 

Ditulis oleh :  Kompas
Monday, 28 March 2005

  
DI pagi hari, saat cuaca cerah, keperkasaan Gunung Merbabu yang menjulang tinggi menembus langit dapat jelas disaksikan di antara rumah-rumah petani di Dusun Nglelo. Dusun ini terletak di Desa Batur, Kecamatan Getasan yang berada di wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, sekitar 15 kilometer arah selatan kota Salatiga. Kabut segera saja datang menutup pameran keperkasaan itu.
 
DUSUN Nglelo merupakan sebuah dusun kecil yang dihuni 60 keluarga, di lokasi yang disebut masyarakat setempat sebagai "leher" Merbabu. Sebuah dusun terpencil dengan jumlah penduduk yang kecil sudah dipastikan bakal sulit mencuri perhatian birokrasi pendidikan. Tidak ada alasan yang mendesak mereka untuk memikirkan hak anak-anak untuk memperoleh pendidikan dasar sembilan tahun, sekalipun wajib belajar telah dicanangkan lebih dari 10 tahun lalu. Tidak terpikir bagaimana anak-anak itu mendapatkan haknya untuk memperoleh pendidikan setelah lulus SD.
 
Supardi (14) menuturkan, untuk menjangkau SMP negeri terdekat ia harus berjalan kaki selama 30 menit sampai satu jam untuk mendapatkan angkutan umum yang akan mengangkut mereka ke lokasi sekolah. Kesulitan itu hampir membuatnya putus sekolah. Apalagi biaya untuk sekolah tidak ringan. Uang masuknya ratusan ribu rupiah, uang sekolah rata- rata Rp 25.000 per bulan, belum uang buku yang harus dikeluarkan tiap semester. Padahal orangtuanya hanya mengandalkan kehidupan mereka dari bertani sayur-mayur di lereng Merbabu. Harapan untuk memperoleh penghasilan lebih dengan menanam tembakau telah lama dikubur.
 
Anak-anak dusun itu yang melanjutkan sekolah ke SMP rata-rata hanya mereka yang memperoleh beasiswa dari lembaga keagamaan. Namun, Supardi dan empat kawan sebayanya cukup beruntung. Tahun lalu, Budi Pramono (34)-aktivis organisasi tani Qaryah Thayyibah-bersama seorang pengusaha internet Salatiga, Roy Budhianto (51), berinisiatif membuka sekolah alternatif di dusun itu.
 
Sekolah yang diberi nama SMP Alternatif Nglelo meniru model yang dikembangkan SMP Alternatif Qaryah Thayyibah di desa Kalibening, Salatiga. Sekolah itu secara formal tercatat sebagai SMP terbuka. Kegiatan belajar-mengajar menempati bilik rumah tante Budi Pramono. Meski berada di dusun kecil, kelima anak di sekolah itu dibiasakan menggunakan komputer dan internet. Sekolah mini itu juga merupakan model sebuah sekolah plural. Lima muridnya berasal dari keluarga beragama Islam, Kristen, dan Buddha. Dua ibu gurunya beragama Islam, sehari-hari mengenakan jilbab. Roy Budhianto yang mengajar di sekolah itu tiap Sabtu adalah seorang pengusaha keturunan Tionghoa, beragama Katolik.
 
"Sekolah ini masih embrio. Banyak orang masih mempertanyakan apakah ini benar-benar sekolah. Namun, paling tidak anak-anak itu tertolong bisa terus bersekolah, tidak harus keluar ongkos untuk pergi ke sekolah, tenaganya tidak habis di jalan yang membuat mereka ngantuk saat belajar," kata Budi.
 
Sari Famularsih (23) dan Ely Nurhayati (20), yang masih berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga, menjadi pengajar tetap di sekolah itu. Mereka bergantian, tiga hari sekali, tinggal di desa itu dan tidur di sebuah bilik satu atap dengan ruangan yang dipergunakan untuk sekolah.
 
"Mengajar di sini lain dengan mengajar di sekolah reguler. Di sini lebih ditekankan cara mengajar yang menyenangkan. Anak tidak dipaksa berpikir dengan waktu ketat, anak bisa mengekspresikan dirinya dengan bebas tanpa takut gurunya marah," tutur Sari. Ely dan Sari dibayar berdasarkan jam mengajar, Rp 25.000 untuk tiap jam mengajar.
 
Selain Ely dan Sari, ada sejumlah guru lain yang ikut mengajar. Roy yang memprakarsai pendirian sekolah itu tiap Sabtu datang ke sekolah, mengajar Matematika.
 
INTERNET bukan sesuatu yang asing bagi lima siswa sekolah mini yang terpencil di kaki Merbabu. SMP Alternatif Nglelo dan SMP Alternatif Qaryah Thayyibah di Desa Kalibening, Salatiga, mencuat menembus kelambanan birokrasi pendidikan dan telekomunikasi untuk menyediakan dan membudayakan internet sebagai sarana belajar-mengajar. Kehadiran sekolah online di kaki Merbabu ini seolah menertawakan keraguan birokrasi pendidikan dan pengelola pendidikan yang begitu pelit menyediakan akses internet murah untuk kemajuan anak didiknya.
 
Dr Naswil Idris, dosen komunikasi dan peneliti untuk Asia Pacific Telecommunity yang berpusat di Bangkok, menyejajarkan SMP Qaryah Thayyibah di Kalibening dengan tujuh komunitas pengguna internet dan komputer terbaik di dunia. Sekolah alternatif di desa kecil ini bisa tidak kalah dengan Kampung Issy Les Moulineauk di Perancis, Kecamatan Mitaka di Tokyo, dan di lima komunitas lain di dunia yang dipandang sebagai tujuh keajaiban dunia.
 
"Kita tidak perlu mencari contoh jauh-jauh. Apa yang dilakukan di Salatiga menempati peringkat pertama dalam keberhasilan penggunaan internet untuk pendidikan di Indonesia," kata Naswil.
 
Keberhasilan SMP Alternatif Qaryah Thayyibah, yang kini dikembangkan pula di dusun kecil Nglelo, tidak lepas dari jasa Roy Budhianto, Direktur Indo.net Salatiga. Roy menyediakan akses internet gratis 24 jam untuk kedua sekolah itu melalui gelombang radio. Bekerja sama dengan sebuah yayasan, Roy juga mencoba mengembangkan internet di seluruh SMP yang ada di Kota Salatiga yang diintegrasikan dalam pendidikansalatiga.net.
 
Roy mengakui, masih ada keragu-raguan di kalangan birokrasi maupun guru untuk memperkenalkan internet kepada murid sejak dini. Menurut dia, memperkenalkan internet sejak anak duduk SMP memberikan banyak keuntungan. Sebelum bersentuhan dengan hal-hal yang negatif, mereka diajarkan menggunakan internet untuk belajar dan membuka wawasan ke dunia luar. Berinternet di sekolah jauh lebih kecil risikonya dibandingkan di warung- warung internet. Namun, ternyata ketersediaan akses internet di sekolah tidak sendirinya mendorong sekolah menggunakan fasilitas tersebut untuk kegiatan belajar-mengajar.
 
Dwi Nuryanti (26), yang pernah menyurvei penggunaan internet di SMP yang telah tersambung dengan fasilitas online di Salatiga, menemukan bahwa kebanyakan sekolah tidak menggunakan sarana tersebut secara optimal. Murid-muridnya tidak tahu bahwa sekolahnya memiliki fasilitas internet. Di beberapa sekolah komputer yang tersambung dengan fasilitas internet berada di ruang kepala sekolah dan tak pernah disentuh oleh guru, apalagi murid. Guru-gurunya pun belum terdorong menggunakan internet untuk mencari informasi.
 
"Alasan yang lazim dikemukakan, mereka takut komputernya rusak atau hilang," kata Nuryanti.
 
MENYEDIAKAN akses internet untuk belajar di sekolah, menurut Roy, tidak memerlukan biaya mahal. Untuk membangun satu titik sekolah dengan koneksi internet melalui gelombang radio hanya dibutuhkan dana belasan juta rupiah, sekali untuk selamanya. Sementara untuk biaya operasional tiap bulan bisa ditekan sampai Rp 500.000 per bulan, apalagi bila antarsekolah di satu kota disambungkan dengan fasilitas intranet. Roy mengungkapkan, fasilitas gratis 24 jam yang diberikan untuk SMP Alternatif Qaryah Thayyibah dan Nglelo merupakan subsidi silang dari usaha internet yang dibangunnya di Salatiga.
 
"Apalagi secara jangka panjang, bila anak-anak itu mengenal internet sejak dini, beberapa tahun mendatang akan terjadi ledakan pemakaian internet di kota ini," kata Roy.
 
Naswil menyatakan keheranannya mengapa perusahaan jasa koneksi internet lainnya tidak mau mengikuti jejak Roy. Apa yang dilakukan Roy secara bisnis tidaklah merugikan. Karena itu, ia mempertanyakan bila jasa internet yang disediakan badan-badan usaha milik negara, seperti telkomnet, bisa kelewat mahal.
 
Internet untuk pendidikan, kata Naswil, merupakan sebuah keharusan untuk saat ini. Dengan internet, siswa SMP di sebuah desa kecil di Salatiga bisa memperoleh pengalaman informasi yang sama tingkatnya dengan seorang mahasiswa di New York, Amerika Serikat.
 
"Pendidikan sudah menyatu. Internet membuat kita bisa belajar tanpa kendala jarak dan waktu. Para pengambil kebijakan di Depdiknas dan Kominfo perlu mencatat bahwa ada usaha ke arah pencerdasan bangsa yang dilakukan organisasi tani Qaryah Thayyibah. Kelihatannya ini tidak masuk akal, tetapi itulah yang bisa dilihat di Salatiga," kata Naswil. (P Bambang Wisudo/ Rien Kuntari)

 


Sekolah Global di Desa Kalibening

  

Ditulis oleh : Kompas
 
FINA Af'idatussofa (14) bukan siswa sekolah internasional dan bukan anak
orang berada. Ia lahir sebagai anak petani di Desa Kalibening, tiga kilometer perjalanan arah selatan dari kota Salatiga menuju Kedungombo, Jawa Tengah. Karena orangtuanya tidak mampu, ia terpaksa melanjutkan sekolah di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah di desanya. Namun, dalam soal kemampuan Fina boleh dipertandingkan dengan siswa sekolah-sekolah mahal yang kini menjamur di Jakarta.

 
MESKI bersekolah di desa dan menumpang di rumah kepala sekolahnya, bagi Fina internet bukan hal yang asing. Ia bisa mengakses internet kapan saja. Setiap pagi berlatih bahasa Inggris dalam English Morning. Ia pernah menjuarai penulisan artikel on line di kotanya. Ia juga berbakat dalam olah vokal meski ia mengatakan tidak ingin menjadi seorang penyanyi.

  
"Kalau menjadi penyanyi, pekerjaanku hanya menyanyi. Padahal, cita-citaku banyak. Aku ingin jadi presenter, aku ingin jadi penulis, pengarang lagu, ilmuwan, dan banyak lagi.. Aku juga ingin berkeliling dunia," kata Fina. SMP Alternatif Qaryah Thayyibah resmi terdaftar sebagai SMP Terbuka, sekolah yang sering diasosiasikan sebagai sekolah untuk menampung orang-orang miskin agar bisa mengikuti program wajib belajar sembilan tahun. Namun, siswa SMP Alternatif Qaryah Thayyibah sangat mencintai dan bangga dengan sekolahnya.

 
Pukul 06.00 sekolah sudah mulai dan baru berakhir pada pukul 13.30. Akan tetapi, jam sekolah itu terasa sangat pendek bagi murid-murid sekolah tersebut sehingga setelah makan siang mereka biasanya kembali lagi ke sekolah. Mereka belajar sambil bermain di sekolahnya sampai malam, bahkan tak jarang mereka menginap di sekolah.

 
Murid-murid SMP Qaryah Thayyibah memang sangat menikmati sekolahnya. Bersekolah merupakan sesuatu yang menyenangkan. Guru bukanlah penguasa otoriter di kelas, tetapi teman belajar. Mereka bebas berbicara dengan gurunya dalam bahasa Jawa ngoko, strata bahasa yang hanya pantas untuk berbicara informal dengan kawan akrab. 

 

Di kelas mereka juga sangat bebas. Mereka bisa asyik mengerjakan soal-soal matematika dengan bersenda gurau, ada yang mengerjakan soal sambil bersenandung, yang lain bermain monopoli. Suasana bermain itu bahkan di taman kanak-kanak pun kini makin langka karena mereka dipaksa oleh gurunya untuk membaca dan menulis. 

 
SMP Qaryah Thayyibah lahir dari keprihatinan Bahruddin melihat pendidikan di Tanah Air yang makin bobrok dan semakin mahal. Pada pertengahan tahun 2003 anak pertamanya, Hilmy, akan masuk SMP. Hilmy telah mendapatkan tempat di salah satu SMP favorit di Salatiga. Namun, Bahruddin terusik dengan anak-anak petani lainnya yang tidak mampu membayar uang masuk SMP negeri yang saat itu telah mencapai Rp 750.000, uang sekolah rata-rata Rp 35.000 per bulan, belum lagi uang seragam dan uang buku yang jumlahnya mencapai ratusan ribu rupiah.

  
"Saya mungkin mampu, tetapi bagaimana dengan orang-orang lain?" tuturnya. Bahruddin yang menjadi ketua rukun wilayah di kampungnya kemudian berinisiatif mengumpulkan warganya menawarkan gagasan, bagaimana jika mereka membuat sekolah sendiri dengan mendirikan SMP alternatif. Dari 30 tetangga yang dikumpulkan, 12 orang berani memasukkan anaknya ke sekolah coba-coba itu. Untuk menunjukkan keseriusannya, Bahruddin juga memasukkan Hilmy ke sekolah yang diangan-angankannya.

  
"Saya ingin membuat sekolah yang murah, tetapi berkualitas. Saya tidak berpikir saya akan bisa melahirkan anak yang hebat-hebat. Yang penting mereka bisa bersekolah," kata Bahruddin.

 
Bahruddin mengadopsi kurikulum SMP reguler di sekolahnya. Ia menyatakan tidak sanggup menyusun kurikulum sendiri. Lagi pula sekolah akan diakui sebagai sekolah berkualitas jika bisa memperoleh nilai yang baik dan mendapatkan ijazah yang diakui pemerintah. Karena itulah ia memilih format SMP Terbuka. Akan tetapi, ia mengubah kecenderungan SMP Terbuka sekadar sebagai lembaga untuk membagi-bagi ijazah dengan mengelola pendidikannya secara serius.

 
Sekolah itu menempati dua ruangan di rumah Bahruddin, yang sebelumnya digunakan untuk Sekretariat Organisasi Tani Qaryah Thayyibah. Jumlah guru yang mengajar sembilan orang, semuanya lulusan institut agama Islam negeri dan sebagian besar di antaranya para aktivis petani. 

 

Guru pelajaran Matematika-nya seorang lulusan SMA yang kini mondok di pesantren. Akses internet gratis 24 jam diperoleh dari seorang pengusaha internet di Salatiga yang tertarik dengan gagasan Bahruddin. Dengan modal seadanya sekolah itu berjalan.

  
Ternyata pengakuan terhadap keberadaan SMP Alternatif Qaryah Thayyibah tidak perlu waktu lama. Nilai rata- rata ulangan murid SMP Qaryah Thayyibah jauh lebih baik daripada nilai rata-rata sekolah induknya, terutama untuk mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris.

 
Sekolah itu juga tampil meyakinkan, mengimbangi sekolah-sekolah negeri dalam lomba cerdas cermat penguasaan materi pelajaran di Salatiga. Sekolah itu juga mewakili Salatiga dalam lomba motivasi belajar mandiri di tingkat provinsi, dikirim mewakili Salatiga untuk hadir dalam Konvensi Lingkungan Hidup Pemuda Asia Pasifik di Surabaya. Pada tes kenaikan kelas satu, nilai rata-rata mata pelajaran Bahasa Inggris siswa Qaryah Thayyibah mencapai 8,86.

 
SMP Alternatif Qaryah Thayyibah juga maju dalam berkesenian. Di bawah bimbingan guru musik, Soedjono, anak-anak sekolah bergabung dalam grup musik Suara Lintang. Kebolehan anak-anak itu dalam menyanyikan lagu mars dan himne sekolah dalam versi bahasa Inggris dan Indonesia bisa didengarkan ketika membuka alamat situs sekolah www.pendidikansalatiga.net/ qaryah. 

 

Grup musik anak-anak desa kecil itu telah mendokumentasikan lagu tradisional anak dalam kaset, MP3, maupun video CD album Tembang Dolanan Tempo Doeloe yang diproduksi sekaligus untuk pencarian dana. Seluruh siswa bisa bermain gitar, yang menjadi keterampilan wajib di sekolah itu. 

 

Sulit dibayangkan anak- anak petani sederhana itu masing-masing memiliki sebuah komputer, gitar, sepasang kamus bahasa Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris, satu paket pelajaran Bahasa Inggris BBC di rumahnya. Semua itu tidak digratiskan. Anak-anak memiliki semua itu dengan mengelola uang saku bersama-sama sebesar Rp 3.000 yang diterima anak dari orangtuanya setiap hari. Uang sebesar Rp 1.000 dipergunakan untuk mengangsur pembelian komputer. Untuk sarapan pagi, minum susu, madu, dan makanan kecil tiap hari Rp 1.000, sedangkan Rp 1.000 lainnya untuk ditabung di sekolah. Tabungan sekolah itu dikembalikan untuk keperluan murid dalam bentuk gitar, kamus, dan lain-lainnya.

 
Tidak mengherankan jika anak-anak dan orangtua mereka bangga dengan sekolah itu. Betapa tidak, di sekolah yang berdekatan dengan rumah di sebuah desa kecil mereka mendapatkan banyak hal yang tidak diperoleh di sekolah-sekolah yang dikelola dengan logika dagang.

 
Ismanto (43) menceritakan, anaknya sempat down saat mendaftar SLTP di Salatiga dua tahun lalu. Uang masuknya Rp 200.000, belum termasuk buku dan seragam. Tidak ada seorang murid pun ke sekolah dengan berjalan kaki selain anaknya, Emi Zubaiti (13). Kini Emi menjadi seorang anak yang pandai dalam berbagai mata pelajaran, pintar bernyanyi, dan percaya diri. Ia tidak pernah membayangkan bisa menyekolahkan Emi, anak pasangan tukang reparasi sofa dan bakul jamu gendong, mendapat sekolah yang baik.

 
Bahkan Ismanto ikut menikmati komputer yang dikredit dari uang saku anaknya. Dibimbing anaknya, sekarang Ismanto mulai belajar komputer. "Tidak pernah terpikir, saya bisa membelikan komputer. Kini saya malah bisa ikut menikmati," kata Ismanto. (P Bambang Wisudo/ Rien Kuntari)

   


  


http://www.geocities.com/jipsumbar

http://jipdiknassumbar.cjb.net

   

Situs ini menampung sumbangan tulisan, berupa makalah, kajian, serta artikel dalam kerangka inovasi pendidikan. Silahkan kirim tulisan  anda kepada web master :

[email protected]
Jika pada browser Internet Explorer anda muncul pesan script error atau script debugging,  
klik disni

 

Hosted by www.Geocities.ws

1