[home] [pakguruonline] [siswaonline] [mailinglist pakguruonline] [al-haq]


    SEPUTAR PENDIDIKAN
  

Fenomena Urusan Perbukuan di Sekolah

 

Fuad Hasan
(Mantan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan

DUNIA perbukuan dalam suatu masyarakat bisa menjadi indikasi tentang tahap perkembangan kecerdasan (bahkan: tingkat peradaban) masyarakat yang bersangkutan. Sejarah perbukuan memperlihatkan betapa eratnya kaitan antara meningkatnya peredaran buku dan makin berkembangnya kecerdasan dan peradaban masyarakat

  

Sekolah sebagai wujud usaha pembelajaran akrab hubungannya dengan dunia perbukuan; tidak ada sekolah bisa diselenggarakan terlepas sama sekali dari tersedianya buku. Sekolah merupakan wahana pendidikan yang sengaja dirancang (by design) untuk mengaktualisasikan proses pembelajaran yang komponennya adalah pelajar dan pengajar dan buku merupakan sarana belajar yang turut dihadirkan dalam proses tersebut.

Dalam hubungan ini dikenal sekurang-kurangnya dua jenis buku, yaitu buku pelajaran dan buku bacaan. Yang pertama menyajikan porsi tertentu dari keseluruhan materi pembelajaran yang harus dikuasai oleh para murid, sedang yang kedua meliputi berbagai pokok bahasan yang dapat memperkaya pengetahuan para murid.

 

Buku pelajaran merupakan bagian yang menyatu dengan menu kurikuler, sedang yang kedua merupakan bahan pengisi waktu ekstrakurikuler yang diharapkan dapat mendukung proses pembelajaran umumnya. Buku pelajaran mestinya tersedia bagi murid-murid, sedang buku bacaan biasanya tersedia di perpustakaan sekolah. Perpustakaan harus terus-menerus dimutakhirkan koleksinya agar sesungguhnya bisa berfungsi sebagai jantung sekolah.

 

Seiring dengan penyediaan buku pelajaran bagi para murid, adakalanya perlu juga disediakan buku 'pegangan guru', yang oleh guru digunakan sebagai pedoman mengajar. Buku 'pegangan guru' itu bisa berkaitan dengan metodik mengajar yang diterapkan untuk menyampaikan materi pelajaran tertentu.

 

Buku pegangan guru, juga bisa mencantumkan petunjuk untuk merampungkan sehimpunan bahan dalam suatu rentang waktu masa belajar (catur wulan, semester, tahun). Dengan demikian dapat diukur pula sejauh mana seorang guru tertinggal dalam proses pengalihan pelajaran ( transfer of learning), atau cukup tepat waktunya merampungkan materi pelajaran yang diandalkan padanya. Maka buku pegangan guru itu bisa dimanfaatkan sebagai bagian dari usaha untuk menegakkan disiplin dalam proses pembelajaran.

 

Akhirnya jangan dilupakan bahwa kehadiran buku dalam proses pembelajaran di sekolah bukan terbatas sebagai sumber acuan melulu. Lebih dari itu, perkenalan dengan buku merupakan bagian penting dari usaha untuk pengembangan minat baca yang akhirnya diharapkan mendasari berseminya budaya baca.

 

SEKOLAH merupakan lembaga pendidikan yang secara berencana dan bertahap diandalkan bisa efektif sebagai penunjang perkembangan berbagai potensi anak. Anak sekolah berada dalam usia yang peka dan tanggap terhadap usaha formatif, maka tidak keliru kiranya untuk menganggap masa bersekolah itu sebagai formative years. Dalam periode formatif itu buku tentunya bisa berdampak terhadap pembentukan kepribadian anak. Dari sekadar kebiasaan membaca hingga menjelma sebagai kecanduan membaca, terbuka spektrum yang nyaris tak terbatas bagi seseorang untuk menambah pengetahuan dan memperluas wawasannya. Demikianlah berkaitan dengan acara kurikuler maupun ekstrakurikuler kegiatan membaca perlu dirangsang terus, dan hal ini hanya mungkin melalui tersedianya buku; buku pelajaran maupun buku bacaan. Kiranya dapat diterima pernyataan yang menegaskan bahwa bagi manusia dan masyarakat modern, bahan bacaan makin mengemuka sebagai kebutuhan dasar. Orang tidak hanya lapar karena tidak makan, melainkan bisa juga lapar karena tidak adanya bahan bacaan. Maka hanya ada satu kecanduan dan satu kutu yang tidak berbahaya, yaitu kecanduan membaca dan kutu buku.

 

Ulasan di atas disajikan sebagai bahan renungan sehubungan dengan ramainya perbincangan tentang masalah perbukuan di sekolah. Dalam ketergesaan untuk mengatasi persoalannya sering dibuat pernyataan serbapukul rata. Masalah perbukuan di sekolah sepertinya sulit diatur (atau diatur lagi, diatur lagi, dan diatur lagi). Nyatanya, berapa kali sudah diatur ulang, selalu mencuat lagi adanya persoalan yang lama maupun yang baru. Dan dalam perbincangan kita terkadang melupakan fungsi buku sebagai pembangkit minat baca, yang akhirnya mendasari budaya baca sebagai bagian dari perkembangan peradaban masyarakat manusia. Peralihan peradaban suatu masyarakat dari tahap tradisi lisan menuju tradisi tulisan tentu saja sangat ditunjang oleh kehadiran bahan bacaan yang bisa disebarluaskan peredarannya, antara lain berupa buku. Begitulah hendaknya perkenalan murid dengan buku harus diarahkan pada terbentuknya kebiasaan membaca, yang pada sendirinya membuka peluang tak terhingga bagi terjadinya proses pembelajaran.

 

Pembatasan masa pakai buku

 

Membatasi masa pakai buku pelajaran tidak menjadi persoalan yang esensial dan substansial. Mungkin saja pembatasan itu dikaitkan dengan terjadinya kerusakan buku, atau karena materi dalam buku itu sudah tertinggal oleh perkembangan baru, atau karena kekeliruan teknis lainnya.

 

Dari perbincangan di berbagai media massa belakangan ini terkesan bahwa kebijakan untuk menetapkan masa pakai buku itu lebih berkaitan dengan masih adanya pihak-pihak yang tahu bagaimana menyiasati peluang meraih untung setinggi-tingginya melalui penyediaan buku di sekolah-sekolah. Urusan penyediaan buku ini menyangkut serangkaian mata rantai yang cukup panjang, sehingga adanya mata rantai yang berperilaku menyimpang bisa berakibat ketidakberesan dalam penyediaan buku di sekolah.

 

Sebetulnya bukan lagi-lagi perlu disusun peraturan mengenai urusan persediaan buku di sekolah. Nyatanya, penyakitnya itu-itu juga, yaitu masih adanya mata rantai dengan 'akal bulus' yang secara mulus dapat menyiasati peraturan yang diterapkan. Untuk itu harus dicari jalan bagaimana memperpendek mata rantai pengadaan dan distribusi buku ke sekolah. Maka persoalannya kembali pada keikhlasan semua pihak untuk berorientasi pada kepentingan murid dan orang tua murid sebagaimana dirumuskan dalam peraturan yang berlaku. Moralitas untuk mengikuti rule of the game yang berlaku, itu yang harus jadi perhatian.

 

Penilaian buku pelajaran perlu dilakukan dengan saksama dan disertai perkiraan masa berlakunya sebagai buku pelajaran. Buku bacaan juga perlu disediakan di perpustakaan sekolah. Namun, mengingat berbagai keterbatasan maka prioritas utama harus ditujukan pada cukupnya penyediaan buku pelajaran di sekolah

Media Indonesia, Senin, 31 Januari 2005

 


  


http://www.geocities.com/jipsumbar

http://jipdiknassumbar.cjb.net

   

Situs ini menampung sumbangan tulisan, berupa makalah, kajian, serta artikel dalam kerangka inovasi pendidikan. Silahkan kirim tulisan  anda kepada web master :

[email protected]
Jika pada browser Internet Explorer anda muncul pesan script error atau script debugging,  
klik disni

 

Hosted by www.Geocities.ws

1