|

[home]
[pakguruonline]
[siswaonline]
[mailinglist
pakguruonline] [al-haq]

REORIENTASI
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN
DI ERA GLOBAL
Oleh:
Sujarwo, M.Pd *)
Abtract
Pendidikan
merupakan sarana yang sangat strategis dalam
melestarikan sistem nilai
yang berkembang dalam kehidupan. Proses
pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan dan
pemahaman peserta didik, namun lebih diarahkan pada
pembentukan sikap, perilaku dan kepribadian peserta
didik, mengingat perkembangan komunikasi, informasi dan
kehadiran media cetak maupun elektronik tidak selalu
membawa pengaruh positif bagi peserta didik. Tugas
pendidik dalam konteks ini membantu mengkondisikan
pesera didik pada sikap, perilaku atau kepribadian yang
benar, agar mampu menjadi agents
of modernization bagi
dirinya sendiri, lingkungan, masyarakat dan siapa saja
yang dijumpai tanpa harus membedakan suku, agama, ras
dan golongan. Pendidikan diarahkan pada upaya
memanusiakan manusia, atau membantu proses hominisasi
dan humanisasi, maksudnya pelaksanaan dan proses pendidikan
harus mampu membantu peserta didik agar menjadi manusia
yang berbudaya tinggi dan bernilai tinggi (bermoral,
berwatak, bertanggungjawab dan bersosialitas). Untuk
mewujudkan capaian tersebut, implementasikan
pendidikan harus didasarkan pada fondasi
pendidikan yang memiliki
prinsip learning to know, learning to do,
learning to be, dan learning to live together.
Seiring dengan perkembangan global pergeseran
orientasi pendidikan dalam mewujudkan kualitas sumber
daya manusia yang unggul harus dilakukan secara
fundamental dan populis dengan mendasarkan pada sistem
nilai yang dimiliki.
Kata
Kunci: Fondasi Pendidikan, Pengembangan Pendidikan,
Kualitas SDM
Pendahuluan
Era
globalisasi yang melanda dunia termasuk Indonesia
berlangsung sangat cepat yang menimbulkan dampak global
pula yang sekaligus menuntut kemampuan manusia unggul
yang mampu mensiasati dan mengantisiapasi
kemungkinan-kemungkinan yang sedang dan akan terjadi.
Globalisasi akan semakin membuka diri bangsa dalam
menghadapi bangsa-bangsa lain. Batas-batas politik,
ekonomi, sosial budaya antara bangsa semakin kabur.
Persaingan antar bangsa akan semakin ketat dan tak dapat
dihindari, terutma dibidang ekonomi dan IPTEK. Hanya
negara yang unggul dalam bidang ekonomi dan penguasaan
IPTEK yang dapat mengambil manfaat atau keuntungan yang
banyak. Globalisasi di bidang ekonomi ditandai dengan
adanya persetujuan GATT pada putaran Uruguay di
Marrakesh yang telah diratifikasi WTO yang dilanjutkan
dengan kesepakatan APEC di Bogor tahun 1994 dan di Osaka
tahun 1995 yang mengupayakan terbentuknya kawasan
perdagangan bebas di Asia-Pasifik pada tahun 2020, dan
terbentuknya kawasan perdagasan bebas (AFTA) ASEAN yang
telah dilaksanakan sejak tahun 2003. Globalisasi tidak
hanya terjadi di bidang ekonomi, namun juga terjadi
hampir di seluruh bidang kehidupan manusia, bidang
sosial, ekonomi, pendidikan, hankam, budaya. Bahkan
perkembangan global yang paling cepat adalah bidang
teknologi informasi. Penguasaan teknologi informasi
merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh
masyarakat yang akan memenangkan persaingan di kompetisi
global. Kondisi tersebut menuntut sumber daya manusia
yang memiliki keunggulan komperatif dan keunggulan
kompetetif. Manusia global adalah manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa (bermoral),
mampu bersaing, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,
serta memiliki jati diri. Salah satu wahana yang sangat
strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya
manusia yang unggul adalah melalui pendidikan
Kemajuan
teknologi, ketersediaan modal, barang, sumber daya
manusia (SDM) akan mengalir deras dari berbagai belahan dunia yang tidak mungkin dapat dihindari
oleh negara manapun. Terkait dengan kondisi
tersebut, tuntutan akan reformasi pendidikan (“revolusi
pendidikan”) sangat diperlukan, mengingat model
pendekatan pendidikan kita selama ini dinilai cenderung
bersifat indokrinatif, dogmatis, gaya bank, dan opresif
birokratis, orientasi pendidikan tidak sesuai
dengan jiwa dan semangat reformasi pendidikan yang
mendambakan keunggulan individu, masyarakat dan bangsa
di tengah-tengah era otonomi daerah, era demokratisasi,
era teknologi informasi dan kehidupan global. Akibatnya
kualitas SDM yang dihasilkan dari lembaga pendidikan
kita relative sangat rendah dan tertinggal dengan
negara-negara tetangga
Sementara
kualitas pendidikan yang diandalkan sebagai wahana dalam
menciptakan kualitas sumber daya manusia masih
memprihatinkan. Harian KOMPAS tanggal 5 September 2001
memberitakan bahwa Abdul Malik Fajar paa saat itu selaku
Mendikbud juga mengakui kebenaran penilaian bahwa sistem
pendidikan di Indonesia masih terburuk di kawasan Asia. Political
and Economic Risk Consultancy (PERC)
melakukan survei yang hasilnya dari 12 negara
yang disurvei menyebutkan bahwa Indonesia menduduki
urutan 12, sedangkan Korea Selatan dinilai memiliki
sistem pendidikan terbaik, disusul Singapura, Jepang,
Taiwan, India, Cina dan Malaysia. Sedangkan berdasarkan
hasil survei dari human development indeks tahun
2002, kualitas SDM kita berada di peringkat ke 110 dari
173 negara yang disurvai. Secara kuantitatif masih
banyak anak-anak kita yang tidak mendapat layanan
pendidikan secara memadai.
Sebagai
gambaran tentang kondisi tersebut adalah:
-
Dari sekitar 16,17 juta anak usia dini (0-6 tahun
yang terlayani pendidikannya baru 7,16 juta (27,36%).
Apabila dirinci, usia 0-3
tahun dari 13,50 juta, yang terlayani di bina
keluarga Balita atau yang sejenisnya
baru 2,53
juta (18,59%), Usia 4-6 tahun berjumlah 12,67 juta, yang
tidak terlayani pendidikannya 4,63 juta (36,54%), yakni:
di TK (± 1,6 juta), di RA (±0,4 juta), di kelompok
Bermain (± 4,800 anak), di Penitipan Anak (± 9,200
anak), dan di SD/MI (±2,6 juta),(EFA Indonesia, 2001).
-
Buta
huruf usia 10-44 tahun ada 5,9 juta (4,8% dari total
penduduk usia 10-44 tahun, dan buta huruf usia 45 tahun
ke atas ada 12,7 juta (31,2% dari total penduduk usia 45
tahun ke atas) (EFA Indonesia, 2001).
Berangkat
dari kondisi tersebut, perubahan orientasi pendidikan
kita harus segera dilakukan reformasi (”revolusi”)
secara mendasar (mind set pelaku) pada semua
komponen dalam sistem pendidikan kita. Perubahan
orientasi pendidikan tidak hanya berkutat pada perubahan
kurikulum semata, namun yang terpenting saat ini adalah
adanya “revolusi” sikap mental, pola pikir dan
perilaku pelaku pendidikan (aparat, pengelola dan
pengguna pendidikan) secara mendasar. Kebijakan ini
dilakukan agar dapat mewujudkan pendidikan yang lebih
demokratis, memiliki keunggulan komparatif dan
kompetetif, memperhatikan kebutuhan daerah, mampu
mengembangkan seluruh potensi lingkungan dan potensi
peserta didik serta lebih mendorong peran aktif dari
masyarakat. Untuk mendukung pencapaian kondisi tersebut,
pengelola pendidikan hendaknya memiliki pemahaman konsep
pendidikan yang komprehensif.
Sejalan
dengan era informasi dalam dunia global ini, pendidikan
merupakan sarana yang sangat strategis dalam
melestarikan sistem nilai yang berkembang dalam
kehidupan. Kondisi tersebut tidak dapat dielakkan bahwa
dalam proses pendidikan tidak hanya pengetahuan dan
pemahaman peserta didik yang perlu dibentuk (Drost,
2001: 11), namun sikap, perilaku dan kepribadian peserta
didik perlu mendapat perhatian yang serius, mengingat
perkembangan komunikasi, informasi dan kehadiran media
cetak maupun elektronik tidak selalu membawa pengaruh
positif bagi peserta didik. Tugas pendidik dalam konteks
ini membantu mengkondisikan pesera didik pada sikap,
perilaku atau kepribadian yang benar, agar mampu menjadi
agents
of modernization bagi
dirinya sendiri, lingkungannya, masyarakat dan siapa
saja yang dijumpai tanpa harus membedakan suku, agama,
ras dan golongan. Pendidikan diarahkan pada upaya
memanusiakan manusia, atau membantu proses hominisasi
dan
humanisasi, maksudnya pelaksanaan dan proses pendidikan
harus mampu membantu peserta didik agar menjadi manusia
yang berbudaya tinggi dan bernilai tinggi (bermoral,
berwatak, bertanggungjawab dan bersosialitas). Para
peserta didik perlu dibantu untuk hidup berdasarkan pada
nilai moral yang benar, mempunyai watak yang baik dan
bertanggungjawab terhadap aktifitas-aktifitas yang
dilakukan. Dalam konteks inilah pendidikan budi pekerti
sangat diperlukan dalam kehidupan peserta didik di era
globalisasi ini
Fondasi
Pendidikan
Pendidikan
merupakan usaha sadar yang terencana, terprogram dan
berkesinambungan membantu peserta didik mengembangkan
kemampuannya secara optimal, baik aspek kognitif, aspek
afektif maupun aspek psikomotorik. Aspek kognitif yang
berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri
dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan,
pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.
Aspek afektif berkenaan dengan sifat yang terdiri dari
lima aspek yakni: penerimaan, jawaban atau reaksi,
penilaian, organisasi, dan internalisasi. Aspek
psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan
dan kemampuan bertindak yang terdiri dari enam aspek,
yaitu: gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar,
kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan,
gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan
interpretatif.
Pengembangan
potensi peserta didik merupakan proses yang disengaja
dan sistematis dalam membiasakan/mengkondisikan peserta
didik agar memiliki kecakapan dan keterampilan hidup.
Kecakapan dan keterampilan yang
dimaksud berarti luas, baik kecakapan personal (personal
skill) yang mencakup; kecakapan mengenali diri
sendiri (self awareness) dan kecakapan
berpikir rasional (thinking skill),
kecakapan sosial (social skill), kecakapan
akademik (academic skill), maupun kecakapan
vokasional (vocational skill). Kegiatan
pendidikan pada tahap melatih lebih mengarah pada konsep
pengembangan kemampuan motorik peserta didik. Terkait
dengan proses melatih ini,
perlu dilakukan pembiasaan dan pengkondisian anak
dalam berpikir secara kritis, strategis dan taktis dalam
proses pembelajaran. Peserta dilatih memahami,
merumuskan, memilih
cara pemecahan dan memahami proses pemecahan “masalah”. Berangkat
dari kondisi tersebut, maka budaya instant dalam
pembelajaran yang
selama ini dibudayakan harus ditinggalkan, menuju proses
pemberdayaan seluruh unsur dalm sistem pembelajaran.
Sejalan
dengan pencapaian tujuan pendidikan, perlu diupayakan
suatu sistem pendidikan yang mampu membentuk kepribadian
dan ketrampilan peserta didik yang unggul, yakni beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, manusia yang
kreatif, cakap, terampil, jujur, dapat dipercaya,
disiplin, bertanggung
jawab dan memiliki solidaritas sosial yang tinggi. Untuk
mewujudkan manusia yang unggul perlu diberikan landsan
pendidikan yang kokoh. Bangsa kita sebenarnya
telah memiliki pilar pendidikan yang sangat fundamental,
yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantoro, Ing Ngarso
Sun Tulodho, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani,
namun implementasinya dalam pendidikan kita
masih rendah. Konsep ini tidak saya bahas dalam
analisis ini, namun pada tataran ini dipaparkan hasil
konferensi tahunan UNESCO di Melbourne Australia
tahun 1998. Dalam konferensi tersebut dicanangkan
empat pilar pendidikan yang dijadikan fondasi pendidikan
pada era informasi dan jaringan global ini dalam meraih
dan merebut pasar internasional. Keempat pilar tersebut
adalah :
Learning
to Know (belajar
untuk tahu)
Pada proses pembelajaran melalui penerapan
paradigma ini, peserta didik akan dapat memahami dan
menghayati bagaimana suatu pengetahuan dapat diperoleh
dari fenomena yang terdapat dalam lingkungannya. Melalui
proses pendidikan seperti ini mulai sekolah dasar
s/d pendidikan tinggi, diharapkan lahir generasi
yang memiliki kepercayaan bahwa manusia sebagai khalifah
Allah di muka bumi untuk mengelola dan mendayagunakan
alam. Untuk mengkondisikan masyarakat belajar yang
efektif dewasa ini, diperlukan pemahaman yang jelas
tentang “apa” yang perlu diketahui, “bagaimana”
mendapatkan Ilmu pengetahuan, “mengapa’ ilmu
pengetahuan perlu diketahui, “untuk apa” dan
“siapa” yang akan menggunaka ilmu pengetahuan itu.
Belajar untuk tahu diarahkan pada peserta didik agar
mereka memiliki pengetahuan fleksibel,
adaptable, value added dan siap memakai bukan
siap pakai.
Learning
to Do (Belajar
untuk melakukan)
Proses
pembelajaran dengan penekanan agar peserta didik
menghayati proses belajar dengan melakukan sesuatu yang
bermakna ‘’Active Learning‘’. Peserta
didik memperoleh kesempatan belajar dan berlatih untuk
dapat menguasai dan memiliki standar kompetensi dasar
yang dipersyaratkan dalam dirinya. Proses pembelajaran
yang dilakukan menggali dan menemukan informasi (information
searching and exploring), mengolah dan informasi dan
mengambil keputusan (information processing and
decision making skill), serta memecahkan masalah
secara kreatif (creative problem solving skill).
Menurut Dewey bahwa pembelajaran yang dapat dilakukan
dengan: 1). Belajar peserta didik dengan berpikir
kreatif, 2). Keterampilan proses, 3). Problem solving
approach, 4). Pendekatan inkuiri, 5). Program
sekolah yang harus terpadu dengan kehidupan masyarakat,
dan 6). Bimbingan sebagai bagian dari mengajar. Beberapa
bentuk Active Learning ; Kegiatan Active
learning dilakukan dengan kegiatan mandiri, peserta
didik membaca sendiri bahan yang akan dibahas di kelas.
Pembahasan (diskusi) di kelas dengan diawali penugasan
pembuatan artikel, melakukan problem possing, dan
problem solving, Pada kegiatan pembelajaran yang aktif
ini diberikan panduan awal (advance organizer)
yang mengarahkan pada pembahasan materi pembelajaran,
sebelum belajar mandiri dilaksanakan, sehingga
memungkinkan peserta didik aktif baik secara
intelektual, motorik maupun emosional. Dalam pemberian
tugas, peserta didik dituntut mampu merumuskan konsep
baru yang di sintesis dari materi
yang telah dipelajari.
Learning
to be (Belajar
untuk menjadi diri sendiri)
Proses pembelajaran yang memungkinkan lahirnya
manusia terdidik dengan sikap mandiri. Kemandirian
belajar merupakan kunci terbentuknya rasa tanggung jawab
dan kepercayaan diri untuk berkembang secara mandiri.
Sikap percaya diri akan lahir dari pemahaman dan
pengenalan diri secara tepat. Belajar mandiri harus
didorong melalui penumbuhan motivasi diri. Banyak
pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan
dalam melatih kemandirian peserta didik, misalnya;
pendekatan sinektik, problem soving, keterampilan
proses, discovery, inquiry, kooperatif, dan
sebagainya Pendekatan pembelajaran tersebut mengutamakan
keterlibatan peserta didik secara efektif.
Pendekatan-pendektan pembelajaran ini pada dasarnya
suatu proses sosial, peserta didik dibantu dalam
melakukan peran sebagai pengamat yang berhubungan dengan
permasalahan yang dihadapi. Meskipun
guru dapat memberikan situasi masalah, namun
dalam penerapannya, peserta didik mencari, menanyakan,
memeriksa dan berusaha menemukan sendiri hal-hal yang
dipelajari. Para peserta didik mulai berpikir
berdasarkan kemampuan dan pengalamannya masing-masing
secara logis. Strategi pembelajaran inkuiri
merupakan salah satu alternatif pendekatan
pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses
pembelajaran. Strategi pembelajaran keterampilan proses
lebih menekankan pada kegiatan-kegiatan yang berpusat
pada pengembangan kreativitas belajar peserta didik.
Penerapan strategi pembelajaran keterampilan proses
dapat membantu guru dalam menyampaikan materi
pembelajaran dengan
menciptakan kondisi pembelajaran yang bervariasi
dalam menumbuhkan motivasi
peserta didik untuk belajar lebih dalam, mendorong rasa
ingin tahu lebih lanjut dan memotivasi untuk berpikir
kreatif.
Learning
To Live Together (Belajar
untuk Hidup Bersama)
Proses
pembelajaran yang memungkinkan peserta didik menghayati
hubungan antar manusia secara intensif dan terus menerus
untuk menghindarkan pertentangan ras/etnis, agama, suku,
keyakinan politik, dan kepentingan ekonomi. Peningkatan
pendidikan nilai kemanusiaan, moral, dan agama yang
melandasi hubungan antar manusia.
Pendekatan
pembelajaran tidak semata-mata bersifat hafalan
melainkan dengan pendekatan pembelajaran yang
memungkinkan terintegrasikannya nilai-nilai kemanusiaan
dalam kepribadian dan perilaku selama proses
pembelajaran. Salah satu strategi pembelajaran yang
dapat diterapkan adalah dengan pendekatan kooperatif-integrated..
Pembelajaran mempunyai jangkauan tidak hanya
membantu peserta didik belajar isi akademik dan
ketrampilan semata, namun juga melatih peserta didik
dalam meraih tujuan-tujuan
hubungan sosial dan kemanusiaan. Model
pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas yang
bersifat kontekstual, struktur tujuan, dan struktur
penghargaan (reward).
Untuk
mewujudkan makna pendidikan dan fondasi pembelajaran
tersebut diperlukan proses pembelajaran yang efektif.
Keefektifan proses pembelajaran merupakan
pencerminan dalam mencapai tujuan pembelajaran tepat
yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan. Keefektifan proses pembelajaran berkenaan
dengan jalan, upaya, teknik dan strategi yang digunakan
dalam mencapai tujuan pembelajaran secara optimal, tepat
dan cepat (Nana Sudjana, 1996 : 52). Sekolah tidak hanya
berkewajiban untuk memelihara nilai-nilai masyarakat,
namun juga harus memberikan keaktifan kepada peserta
didik dan secara kritis dalam menghadapi masalah-masalah
sosial, dan harus mengadakan usaha pemecahan masalah.
Salah
satu faktor yang mempengaruhi keefektifan pembelajaran
antara lain kemampuan guru dalam menggunakan strategi.
Penerapan strategi pembelajaran
dipengaruhi oleh faktor tujuan, peserta didik,
situasi, fasilitas dan pembelajaran itu sendiri. Dengan
menerapkan metode yang tepat, proses pembelajaran
akan berlangsung lebih efektif sehingga hasil
pembelajaran akan lebih baik dan mantap. Salah satu
startegi pembelajaran
yang memberikan perhatian pengembangan potensi peserta
didik adalah strategi keterampilan proses (proses
pemecahan masalah).
Upaya
mengembangkan disiplin intelektual dan ketrampilan yang
dibutuhkan peserta didik untuk membantu memecahkan
masalah dalam kehidupannya dengan memberikan pertanyaan
dan kasus yang memperoleh jawaban atas dasar rasa ingin
tahu. Keterlibatan aktif peserta didik secara mental
dalam kegiatan pembelajaran akan
membawa dirinya kepada kegiatan belajar yang
bermakna. Secara kooperatif akan memperkaya cara
berpikir peserta didik dan menolong mereka belajar
tentang hakekat timbulnya pengetahuan yang tentatif dan
berusaha menghargai penjelasan.
Pergeseran
Paradigma Pendidikan
Perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi informasi sangat menuntut
hadirnya perubahan paradigma pendidikan yang
berorientasi pada pasar dan kebutuhan hidup masyarakat.
Sayling Wen dalam bukunya “future of education”
menyebutkan beberapa pergeseran paradigma pendidikan,
antara lain:
-
Pendidikan yang berorientasi pada pengetahuan
bergeser menjadi pengembangan ke segala potensi yang
seimbang.
Pada
pendidikan orientasi pendidikan lebih menekankan
pada pemindahan informasi yang dimiliki kepada
peserta didik (bersifat kognitif). Proses pembelajaran
yang berkembang di negara kita dapat deskripsikan
sebagai berikut: peran guru sangat dominan dalam proses
pembelajaran, kesan yang muncul adalah guru mengajar
peserta didik diajar, guru aktif peserta didik pasif,
guru pinter peserta didik minder, guru berkuasa, peserta
didik dikuasai. Dalam kegiatannya pendidik berusaha
memola anak didik sesuai dengan kehendaknya.
Program pembelajaran, materi, media, metode dan evaluasi
yang diterapkan sepenuhnya disiapkan oleh pendidik.
Mulai tahun pelajaran 2004/2005 Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) mulai diterapkan, implementasi KBK
diharapkan dapat mengembangkan seluruh potensi yang
menjadi sasaran pendidikan secara optimal. Mengingat KBK
mengandung prinsip pembelajaran yang menerapkan
pendekatan, antara lain: 1) student centered, 2)
Integrated learning, 3) individual learning, 4) mastery
learning, 5) problem solving, 6) Experince based
learning, dan 7) peran guru sebagai fasilitator,
pembimbing, konsultan dan sekaligus mitra belajar.
Meskipun dalam pelaksanaannya, KBK masih ditemukan
banyak kelemahan-kelemahan.
-
Dari keseragaman pembelajaran bersama yang
sentralistik menjadi keberagaman yang terdesentralisasi
dan terindividulisasikan. Hal ini seiring dengan
berkembangnya teknologi informasi dimana informasi dapat
diakses secara mudah melalui brbagai macam media
pembelajaran secara mandiri, misalnya; internet,
multimedia pembelajaran, dsb.
-
Pembelajaran dengan model penjenjangan yang
terbatas menjadi pembelajaran seumur hidup. Belajar
tidak hanya terbatas pada jenjang pendidikan dasar,
menengah dan tinggi, namun belajar dapat dilakukan
sepanjang hayat, yang tidak terbatas pada tempat, usia,
waktu, dan fasilitas.
-
Dari pengakuan gelar kearah pengakuan
kekuatan-kekuatan nyata (profesionalisme)
Dilihat
dari kualitas pendidik, secara kuantitatif jenjang
pendidikan yang dimiliki guru-guru
SD, SLTP, SMU/SMK cukup menjanjikan, Sebagian besar sarjana atau D2. Hal ini
ditunjukkan dengan gelar yang dimiliki pada pendidik,
namun secara kualitas, sungguh memprihatinkan. Secara
kualitatif bisa dilihat, motivasi belajar dan motivasi
berprestasi dalam meningkatkan profesionalisme di
kalangan pendidik sangat rendah. Sebagian besar guru
malas belajar, malas mencari pengetahuan baru, dan
berkarya (baca: tekun membaca, mengikuti pelatihan,
menulis karya ilmiah). Pola pikir yang berkembang pada
pendidik saat ini lebih loyal pada integrasi gaji dari
pada loyalitas profesional, dengan nafsu mengejar
pangkat, golongan, posisi dan tunjangan. Di antara
pendidik ada yang melanjutkan kuliahnya ke jenjang
pendidikan yang lebih tinggi (S1, S2 dan S3), bukan
untuk meningkatkan kualitas diri dan profesi, namun demi
“gengsi, posisi dan gaji”, kesempatan kuliah yang
seharusnya digunakan untuk meningkatkan kualitas diri
dan profesi secara mandiri mulai menghilang. Kondisi
demikian sungguh memprihatinkan. Namun seiring dengan
kemajuan teknologi informasi dan persaingan global,
kompetensi dan profesionalisme akan menjadi tolok ukur
keberhasilan seseorang dalam memenang persaingan hidup.
Prestasi kerja menempatkan seseorang pada posisi kerja
yang sesungguhnya (“saat ini muncul image posisi kerja
adalah uang”)
-
Pembelajaran yang berbasis pada pencapaian target
kurikulum bergeser menjadi pembelajaran yang berbasis
pada kompetensi dan produksi. Pencapaian target
kurikulum bukan satu-satunya indikator keberhasilan
proses pendidikan, keberhasil pendidikan hendaknya di
lihat dari konteks, input, proses, output dan outcomes,
sehingga keberhasilan pendidikan dapat dimaknai secara
komprehensif. Masih banyak lembaga pendidikan kita yang
masih menekankan pada pencapaian target kurikulum,
contoh dilapangan: kita lihat kurikulum pendidikan dasar,
pada jenjang pendidikan dasar (masa kanak-kanak dan SD)
merupakan jenjang pendidikan yang menyenangkan (masa
bermain), coba kita lihat setelah anak mulai masuk di TK
atau di SD kesempatan bermain bagi anak sangat dibatasi.
Sistem pembelajaran yang diterapkan membatasi gerak anak
dengan dinding dan keangkuhan guru yang sangat kokoh di depan kelas.
Anak-anak mulai dipola sekehendak gurunya yang dengan
dalih agar sesuai dengan
kurikulum yang telah dirumuskan oleh pejabat
pendidikan, meskipun dengan menerapkan kurikulum
berbasis kompetensi (KBK). peserta didik SD yang
seharusnya masih menggunakan konsep pendidikan bermain
sambil belajar. Dengan, namun mulai menghilang, yang
muncul belajar sambil bermain. Sehingga anak-anak SD
kurang mengenal nama-nama benda, tumbuhan, binatang yang
ada disekitarnya.
Kondisi
ini wajar, karena beban pelajaran yang dipersyaratkan
dalam kurikulum yang harus ditanggung peserta didik di
SD begitu berat (9 mata pelajaran), belum lagi
masih banyaknya pekerjaan rumah (PR) yang
sebagian besar bersifat menghafal (mengkhayal)
hal-hal yang terpisah dari kemampuan dan tuntutan
kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sejak masa kanak-kanak
para peserta didik telah dikondisikan dengan pencapaian
target kuantitif yang sangat berat. Untuk mengurangi
jumlah pengkhayal dalam pendidikan, sebaiknya pada
jenjang pendidikan dasar mulai dipikirkan menerapkan
kurikulum dasar yang berbasis pada mata pelajaran
Matematika, bahasa, sains, jasmani dengan memperhatikan
pemberdayaan sistem nilai yang berkembang di daerahnya.
Proses pembelajaran yang dilakukan dengan
pendekatan kontektual.
-
Pendidikan sebagai investasi manusia dengan hight
cost, yang dapat dinikmati oleh kelompok masyarakat
menengah ke atas, khususnya pendidikan tinggi.
Strategi
Pengembangan Pendidikan Di Era Global
Untuk
membekali terjadinya pergeseran orientasi pendidikan di
era global dalam mewujudkan kualitas sumber daya manusia
yang unggul, diperlukan strategi pengembangan
pendidikan, antara lain:
-
Mengedepankan model perencanaan pendidikan (partisipatif)
yang berdasarkan pada need assessment dan
karakteristik masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam
perencanaan pendidikan merupakan tuntutan yang harus
dipenuhi.
-
Peran pemerintah bukan sebagai penggerak, penentu
dan penguasa dalam pendidikan, namun pemerintah
hendaknya berperan sebagai katalisator, fasilitator dan
pemberdaya masyarakat.
-
Penguatan fokus pendidikan, yaitu fokus
pendidikan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat,
kebutuhan stakeholders, kebutuhan pasar dan
tuntutan teman saing.
-
Pemanfaatan sumber luar (out sourcing),
memanfaatkan berbagai potensi sumber daya (belajar) yang
ada, lembaga-lembaga pendidikan yang ada,
pranata-pranata kemasyarakatan, perusahaan/industri, dan
lembaga lain yang sangat peduli pada pendidikan.
-
Memperkuat kolaborasi dan jaringan kemitraan
dengan berbagai pihak, baik dari instansi pemerintah
mapun non pemerintah, bahkan baik dari lembaga di dalam
negeri maupun dari luar negeri.
-
Menciptakan soft image pada masyarakat
sebagai masyarakat yang gemar belajar, sebagai
masyarakat belajar seumur hidup.
-
Pemanfaatan teknologi informasi, yaitu:
lembaga-lembaga pendidikan baik jalur pendidikan formal,
informal maupun jalur non formal dapat memanfaatkan
teknologi informasi dalam mengakses informasi dalam
mengembangkan potensi diri dan lingkungannya (misal;
penggunaan internet, multi media
pembelajaran, sistem informasi terpadu, dsb)
Daftar
Pustaka
Depdiknas,
2002. Pedoman Pengembangan Pembekalan Kecakapan Hidup
di SMU. Jakarta: Depdiknas
Drost,
J.I.G.M.S.J. 2001. Sekolah Mengajar atau Mendidik.
Yogyakarta:
Kanisius
Muslimin,
et al. 2000. Pembelajaran
Kooperatif. Surabaya:Unesa-University Press.
Nana
Sudjana. 1996. Model-Model Mengajar CBSA.
Bandung: Sinar Baru
Silberman,
M. 1996. Active Learning : 101 Strategi to Teach Any
Subject. Boston: Allyn and Bacon
*)
Sujarwo, M.Pd. adalah Dosen
Pendidikan Luar
Sekolah FIP Universitas Negeri Yogyakarta
Alamat:
Ngegoh, Alastuwo, Kebakkramat, Karanganyar, Solo Jawa
Tengah/ Pembina UKM Penelitian UNY
E-mai
: [email protected]
Karya
Terbaru: Pembelajaran Kreatif kritis dalam perpektif
Global.
Pemberdayaan
anak jalanan melalui pembelajaran Tematik

http://www.geocities.com/jipsumbar
http://jipdiknassumbar.cjb.net
Situs
ini menampung sumbangan tulisan, berupa makalah,
kajian, serta artikel dalam kerangka inovasi pendidikan.
Silahkan kirim tulisan anda kepada web master
:
[email protected]
Jika
pada browser Internet Explorer anda muncul pesan
script error atau script debugging,
klik disni
|