|

|
|

[home]
[pakguruonline]
[siswaonline]
[mailinglist
pakguruonline] [al-haq]
SEVEN
HABITS, KAIZEN, DAN
AJARAN ISLAM
Oleh : Jen Z.A. Hans, Ph.D *)
Struktur sosial ekonomi masyarakat kita
berbentuk piramida, yang didominasi oleh kelas bawah, diikuti oleh kelas menengah dan
kelas atas. Bentuk struktur sosial yang kita
inginkan adalah belah ketupat yang didominasi oleh
kelas menengah, dengan sedikit kelas atas dan kelas
bawah di kedua ujungnya. Transformasi
struktur sosial ekonomi dari berbentuk piramida ke belah ketupat dihadapkan dengan kendala pola
pikir determinisme yang mendominasi kalangan
menengah ke bawah. Dua pola pikir determinisme yang banyak dianut adalah: Pertama, "genetic
determinism", yang pada dasarnya mengatakan
bahwa kita menjadi memble karena kita mewarisi
gen-gen ke-memble-an di dalam chromosom sel-sel
tubuh kita dari nenek moyang kita secara
genetis (faktor keturunan); Kedua,
"environmental determinism", yang
mengatakan bahwa kita menjadi memble karena faktor
lingkungan. Kedua aliran determinisme sering
dijadikan excuse untuk menjelaskan posisi kita yang berada di bawah. Kalau ditelusuri, pola pikir
determinisme berasal dari pakar perilaku
Ivan Pavlov.
Adalah Ivan Pavlov yang mula-mula mengemukakan teori
mengenai terdapatnya hubungan langsung
antara Stimulus dan Respons. Melalui percobaannya dengan
anjing yang dikondisikan secara berulang-ulang
setiap kali anjing disodori sekerat daging
sambil dibunyikan bel (stimulus), lidah anjing dijulurkan
dan air liurnya keluar (respons). Setelah
terkondisi, anjing tetap saja mengeluarkan
air liurnya ketika bel dibunyikan walaupun tidak
disertai dengan sekerat daging. Nah, Ivan
berpendapat bahwa manusia tidak ubahnya seperti
anjing yang cenderung memberikan respons tertentu
untuk setiap stimulus yang datang. Itulah sebabnya
anak-anak sekolah (mahasiswa) pelaku tawuran
kalau ditanya mengapa mereka tawuran pada umumnya
menjawab bahwa mereka merasa tersinggung (respons)
atas perbuatan atau perkataan yang dilakukan atau
diucapkan oleh pihak lawan (stimulus).
Victor Frankl dalam bukunya "Men Search for
Meaning" membantah teori
Pavlov dengan mengatakan bahwa manusia
sangat berbeda dengan anjing. Bagi manusia,
antara stimulus dan respons terdapat "freedom
to choose" (kemerdekaan
untuk memilih). Kita memiliki kebebasan untuk
memilih respons terhadap setiap stimulus
yang datang, karena Allah Sang Pencipta melengkapi
manusia dengan Furqon (berupa Al Qur'an
yang membedakan antara respons yang haq dan
yang batil), "independent will" (kehendak
merdeka), "self awareness (kesadaran diri),
"conscience (kata hati), dan imagination (imajinasi).
Respons yang kita pilih tergantung pada makna yang kita asosiasikan pada stimulus
yang datang.
Perbedaan antara orang-orang yang berada di
kelas menengah ke bawah dan mereka yang
berada di kelas menengah ke atas yang terpenting
adalah dalam kebiasaannya. Benar bahwa
orang-orang yang termasuk kelas menengah ke atas adalah orang-orang yang beruntung, karena
keberuntungan diperoleh ketika persiapan
bertemu dengan kesempatan. Disadari atau tidak, yang
dinamakan kesempatan atau peluang selalu
berada di sekeliling kita setiap saat. Hanya
mereka yang telah dan selalu mempersiapkan diri
sajalah yang dapat mengenali dan menangkap setiap
peluang yang datang. Bagi mereka yang tidak mempersiapkan
diri, boro-boro menangkap peluang, bahkan peluang
yang nyata-nyata disodorkan ke depan hidungnya pun
disia-siakan karena tidak menyadari bahwa
yang ada di depan hidungnya itu adalah peluang.
Presiden Bill Clinton menilai bahwa daya saing
bangsa Amerika mulai tergeser oleh bangsa Jepang dan
negara-negara industri baru di Asia. Salah satu
cara untuk mengembalikan keunggulan bangsa Amerika
menurut Presiden Clinton adalah dengan
menerapkan "The Seven Habits of Highly
Effective People" (Tujuh Kebiasaan Manusia Yang
Sangat Efektif) yang ditulis oleh Dr.Steven
R. Covey. Kalau bangsa Amerika saja yang sudah maju
mau belajar dari Steven R. Covey, pasti ada
hikmahnya bila kita juga mau mempelajari 7 kebiasaan
Covey. Bukankah Rasulullah Saw pernah bersabda:
"Hikmah itu milik orang Islam,
dimanapun kamu mendapatkannya ambillah".
Apakah kebiasaan itu ? Kebiasaan adalah
pertemuan antara "knowledge" (penge-
tahuan),
"skill" (keterampilan) dan
"desire" (keinginan). Menghentikan kebiasaan merokok misalnya, tidak cukup dengan
memiliki pengetahuan tentang terdapatnya hubungan
negatif antara merokok dengan kesehatan dan
mengetahui cara berhenti merokok. Kalau hanya "knowledge"
dan "skill" yang diperlukan, tentu
tidak ada lagi dokter yang merokok. Mengubah
kebiasaan mensyaratkan ketiganya. Percaya atau tidak,
faktor yang ketiga yaitu keinginan, sangat
dipengaruhi oleh makna yang kita asosiasikan pada kebiasaan tersebut. Perokok misalnya
mengasosiasikan merokok dengan kenikmatan, sedangkan
bukan perokok mengasosiasikan merokok dengan
penderitaan. Berikut ini adalah 7 kebiasaan manusia
yang sangat efektif.
Kebiasaan Pertama, Proaktif.
Proaktif bukan sekedar berinisiatif. Proaktif
berarti suatu keyakinan bahwa apa pun yang
kita peroleh dalam hidup merupakan akibat pilihan
respons kita sendiri. Kebiasaan pertama
merupakan kesadaran bahwa antara stimulus
dan respons terdapat "freedom to
choose". Allah berfirman dalam Surat Ar-Rad 13:11
"Sesungguhnya Allah tidak akan
mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka
mengubah keadaan diri mereka sendiri".
Kebanyakan orang berpikir bahwa ketidakbahagiaan mereka disebabkan karena apa yang
terjadi pada diri mereka. Padahal yang
benar adalah karena cara mereka memberi makna atas
apa yang terjadi. Selalu ada pilihan untuk
bereaksi secara positif terhadap situasi
yang bagaimanapun negatifnya. Kemampuan untuk
memilih respons seperti yang dikemukakan di atas,
merupakan fungsi dari kemampuan kita memanfaatkan
karunia Allah berupa Furqon (berupa Al Qur'an yang
membedakan antara respons yang haq dan yang
batil), "independent will" (kehendak
merdeka), "self awareness" (kesadaran diri),
conscience (kata hati) dan "imagination"
(imajinasi). Dengan kata lain, kebiasaan proaktif menyatakan
bahwa kitalah pemrogram kehidupan kita sendiri.
Kebiasaan Kedua, Mulai Dengan Akhir Dalam Pikiran.
Kebiasaan kedua adalah kebiasaan memiliki visi,
misi dan tujuan. Kebiasaan ini menunjukkan
arah dan cara menjalani hidup serta menentukan
hal-hal yang penting dalam hidup. Islam
mengajarkan pentingnya goal setting ketika
Rasulullah Saw menyatakan "setiap perbuatan
tergantung niatnya". Kebiasaan mulai dengan
akhir dalam pikiran mengajarkan agar kita menuliskan
programnya.
Kebiasaan Ketiga. Dahulukan Yang Harus
Didahulukan.
Mendahulukan yang utama merupakan kebiasaan yang
menuntut integritas, disiplin dan komitmen.
Kebiasaan ketiga merupakan perwujudan dari
kemerdekaan memilih hanya melakukan hal-hal penting
yang telah ditentukan pada kebiasaan kedua.
Allah Swt berfirman dalam Surat Al Mu'minun 23:1-3
"Sungguh berhasil orang-orang mukmin, yaitu
orang-orang yang khusyu' dalam sholat
mereka dan orang-orang yang berpaling dari perbuatan
dan percakapan yang sia-sia",
dan
dalam surat Al-'Ashr 103:1-3

"Demi waktu, sesungguhnya
manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang
beriman dan beramal saleh, saling berwasiat
dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran".
Juga dalam Surat Al Insyirah 94:7-8
"Maka
apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan),
maka kerjakanlah (urusan yang lain) dengan
sungguh-sungguh dan hanya kepada Tuhanmulah
hendaknya kamu berharap".
Kebiasaan ketiga
menekankan pentingnya memanfaatkan waktu.
Kebiasaan Keempat, Berpikir Menang-Menang.
Berpikir menang-menang berasal dari karakter
yang dicirikan dengan kejujuran (menyesuaikan kata
dengan perbuatan), integritas (menyesuaikan perbuatan
dengan kata), kematangan (keseimbangan antara
ketegasan dan toleransi), dan mentalitas kelimpahan
(keyakinan bahwa karunia Allah tersedia tanpa batas
bagi siapapun yang mengikuti sunnatullah atau
"causality law").
Kebiasan Kelima, Berusaha Mengerti Lebih Dulu -
Baru (minta) Dimengerti.
Kebiasaan kelima menunjukkan bahwa "the
secret of living is giving" (rahasia kehidupan
adalah memberi). Rasulullah Saw bersabda bahwa tangan
di atas lebih mulia daripada tangan yang di
bawah. Petani yang berhasil mengetahui rahasia hidup
tersebut, sehingga ketika ia bersawah ia tidak meminta
sawah agar memberinya panenan, tetapi ia terus
memberi dengan menyemaikan benih, menanam, menyirami,
memupuk, menjaga tanaman padi dari serangan
hama dan penyakit sampai tiba saat memanen. Dengan
terus memberi, petani mendapat balasan yang
berlipat ganda, dari satu butir berkembang menjadi
tujuh tangkai dan masing-masing tangkai menghasilkan
seratus butir, berarti 700 kali lipat.
Allah berfirman dalam Surat Al Zalzalah 99:7-8
"Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat
zarrah, niscaya dia akan
melihat balasannya dan barangsiapa mengerjakan
keburukan seberat zarrah, dia akan melihat
balasannya"
dan dalam Surat Ar-Rahman 55:60-61
"Tiadalah balasan kebaikan, melainkan
kebaikan pula, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang
kamu dustakan".
Juga dalam Surat Al Baqarah
2:261

"Perumpamaan orang yang memberi
di jalan Allah, adalah seumpama sebuah biji yang
menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap
tangkai itu berisi seratus biji, dan Allah
melipatgandakan bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan
Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui".
Kebiasaan Keenam, Wujudkan Sinergi.
Bersinergi berarti keseluruhan lebih bernilai
daripada jumlah bagian-bagiannya. Mengenai
pentingnya bersinergi, Khalifah Umar bin Khattab
pernah berujar bahwa kejahatan yang terorganisir
dapat mengalahkan kebaikan yang tidak
terorganisir. Yang harus diingat adalah agar dapat bersinergi
setiap anggota memiliki lima kebiasaan di atas
yaitu proaktif, mulai dengan akhir dalam
pikiran, dahulukan yang utama, berpikir
menang-menang dan berusaha mengerti lebih dulu baru
dimengerti. Allah Swt mengingatkan agar kita
hanya bersinergi dalam melakukan kebaikan bukan
dalam berbuat dosa dan permusuhan (Al
Maidah 5:2).
"Tolong-menolonglah
kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah,
Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya"
Kebiasaan Ketujuh, Mengasah Gergaji.
Rasulullah mengajarkan agar kita terus mengasah
gergaji fisik, mental, sosial/ emo- sional, dan
spiritual kita ketika beliau bersabda: "Orang Islam
adalah orang yang begitu sibuk memperbaiki diri,
sehingga tidak memiliki waktu tersisa untuk mencari-
cari aib orang lain. Orang Islam adalah orang yang hari ini lebih baik daripada kemarin dan
hari esoknya lebih baik dari hari ini. Amal
perbuatan yang paling disukai Allah adalah amal yang
dilakukan terus menerus walaupun sedikit."
Orang Jepang sangat menekankan pentingnya
melakukan perbaikan diri secara terus
menerus (Kaizen).
Dalam buku "Strategic Management", Dess
dan Miller mengemukakan tiga metode Kaizen.
Pertama, Experimentation.
Filosofi experimentation adalah "if you
fail at the first time, try, try, and
try again" "I will persist until I
succeed". Ada empat langkah experimentation:
-
Know
what you want (SMART =3D Specific, Measurable, Achievable,
Reasonable, and Time-limit).
-
Action (if you don't do anything you will be
a dreamer or a member of NATO, no action
talk only).
-
Observe whether your action leads you to what
you want or not.
-
If not, change your approach. Repeat the
process over again until you get what you
want.
Contoh paling bagus untuk experimentation adalah
keberhasilan Thomas Alpha Edison setelah
melakukan 10 ribu kali percobaan untuk menemukan
bola lampu, dan Kolonel Sanders yang telah
ditolak sebanyak 1009 kali sebelum memulai bisnis
Kentucky Fried Chicken-nya. Allah Swt berfirman
dalam Surat Al Baqarah 2:153

"Hai orang-orang
yang beriman, mintalah kepada Allah dengan sabar
dan salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang
yang sabar".
Orang yang sabar adalah
orang yang tabah melakukan experimentation untuk terus
meningkatkan kualitas iman, hidup, pikir, kerja
dan karyanya (5k). Mana yang lebih sabar,
tukang bakso yang sejak umur 17 tahun mulai mendorong
gerobak bakso dan masih mendorong gerobak bakso
yang sama setelah mencapai usia 40 tahun,
atau tukang bakso yang ketika usia 17 tahun
mendorong gerobak bakso, setelah berusia 40 tahun
memiliki waralaba bakso di setiap mal ?
Kedua, Benchmarking.
Daripada melakukan "trial and error"
melalui experimentation, ada cara lain yang
lebih mempercepat perjalanan menuju tempat yang kita
inginkan yaitu dengan "benchmarking". Benchmarking disebut juga
"role modelling" atau "reverse
engineering". Empat langkah benchmarking:
-
Know what you want (SMART =3D Specific,
Measurable, Achievable, Reasonable, and
Time-limit).
-
Find a model (someone, organization, or firm)
that has got what you want.
-
Observe what the model does.
-
Do the same thing as the model does or do it
even better until you get what you want.
Bangsa Jepang dikenal sebagai the greatest
benchmarker in the world. Hampir semua
penemuan yang berguna bagi ummat manusia yang
dilakukan melalui metode experimentation oleh bangsa
Amerika atau Eropa seperti mobil, komputer, telepon,
dan televisi telah di-benchmarking oleh bangsa Jepang
sehingga bangsa Amerika dan Eropa sendiri merasa
terkaget-kaget melihat merk Jepang seperti
Honda, Toyota, Mitsubishi, Sony dan Hitachi membanjiri
pasar mereka. Singapore, Korea dan Taiwan
mengikuti jejak yang telah dilakukan Jepang. Fadel
Muhammad dengan Bukaka Tekniknya memiliki ruang yang disebutnya "Sontek Room" untuk
menyontek penyontek sehingga garbarata buatan
Bukaka Teknik mulai digunakan di bandara negara yang
diconteknya. Allah menyuruh kita menerapkan
benchmarking dalam Surat Al Ahzab 33:21
"Sungguh
pada diri Rasulullah itu terdapat teladan (role
model) yang baik bagimu, bagi orang orang
yang mengharap rahmat Allah dan hari kemudian dan banyak mengingat Allah".
Rasulullah sendiri,
seperti dikemukakan di atas, menyuruh agar
kita mengambil hikmah dari siapapun dan dari manapun,
karena hikmah itu milik orang Islam.
Ketiga, Outsourcing.
Metode Kaizen
yang ketiga merupakan suatu kesadaran bahwa betapa
pun hebatnya seseorang tidak akan unggul dalam semua
aspek kehidupan. Begitupun suatu organisasi
atau perusahaan tidak mungkin unggul dalam semua hal.
Oleh karena itu kadang-kadang diperlukan
melakukan "oursourcing" yaitu mengambil
"source from outside" atau meminta bantuan
pihak lain atau men-subkontrak-kan hal-hal yang
dapat dilakukan oleh pihak lain sepanjang memenuhi
tiga kriteria berikut: kualitasnya tinggi (high
quality), harganya murah (low price), dan
pengirimannya tepat waktu (just-in-time delivery). Allah Swt menyuruh kita melakukan
"outsourcing" ketika berfirman dalam Surat
An Nahl 16:43
"Bertanyalah kamu kepada mereka
yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui".
Alangkah indahnya ajaran Islam. Wajar jika Allah
Swt dalam Surat Ar-Rahman berulang-ulang
mengajukan pertanyaan:
"Dan nikmat Tuhanmu yang
mana lagikah yang kamu dustakan?"
Dan
dalam Surat Ibrahim 14:7
"Sungguh jika kamu bersyukur,
niscaya Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika
kamu mengingkarinya, sungguh azab-Ku amat keras"
Lagu yang sering dinyanyikan anak saya dari
Bimbo layak untuk direnungkan: "Ajarilah aku ya
Allah, mengenali karunia-Mu, begitu banyak yang Kau
beri, begitu sedikit yang kusadari. Ajarilah aku Ya
Allah, berterima kasih kepada-Mu, agar aku dapat selalu, mensyukuri nikmat-Mu".
Daftar Pustaka:
-
Stephen R. Covey : 1990, 7 Habits of Highly
Effective People 1992, Principle-Centered Leadership
1994, Daily Reflections for Highly Effective People:
Living the 7 Habits of Highly Effective People Every
day.
-
John Naisbit, 1982, Megatrends: Ten New
Directions Transforming Our Lives.
-
Al Qur'an dan Hadits
Rasulullah.
*) Ketua
Program Magister Management STIE IPWI
Lahir di Cirebon, 8 April 1958. Menyelesaikan
pendidikan sarjana di Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta (1976-1981), pasca dan purna sarjana di
University of Kentucky USA (1984-1990) dan mengikuti
berbagai pelatihan di dalam dan luar negeri antara
lain Manajemen Qolbu (KH Abdullah Gymnastiar),
Personal Power (RH Wiwoho), Leadership 21 (Jansen
Sinamo), Life Revolution Seminar (Tung Desem
Waringin), dan Unleashed The Power Within (Anthony
Robbins). Otodidak dengan buku-buku dan Audiobooks
antara lain Hermawan Kartajaya, KH Abdullah
Gymnastiar, Gede Prama, RH Wiwoho, Stephen R. Covey,
Earl Nightingale, Denis Waitley, Napoleon Hill, W.
Clement Stone, David J. Schwartz, Norman Vincent
Peale dan Anthony Robbins.
Pengalaman
mengajardi Universitas Gadjah Mada, Universitas
bengkulu, dan beberapa program Magister Manajemen di
Jakarta.
Pengalaman bekerja
sebagai Kadiv. Pengembangan Usaha PT. Lamindo Sakti,
Direktur Program Magister Manajemen STIE IPWIJA, dan
Direktur Pemasaran PT. Nadia Tamaraya.
Pengalaman memberi
pelatihan untuk para manajer Hotel Aryaduta Pekan
Baru, LP3I, Bank Syariah Mandiri, PT. Anta Express
Tour & Travel Service Tbk, dan lain-lain.

http://www.geocities.com/jipsumbar
http://jipdiknassumbar.cjb.net
Situs
ini menampung sumbangan tulisan, berupa makalah,
kajian, serta artikel dalam kerangka inovasi pendidikan.
Silahkan kirim tulisan anda kepada web master
:
[email protected]
Jika
pada browser Internet Explorer anda muncul pesan
script error atau script debugging,
klik disni
|
|