|
Oleh
Drs. Fekrynur M.Ed *)
Walaupun dunia pendidikan banyak
menuai kritik, dan bangsa ini harus menelan pil pahit kenyataan
bahwa mutu pendidikan itu belum menunjukkan peningkatan mutu yang
berarti. Berbagai usaha tetap dilakukan untuk memperbaiki mutu.
Seperti diamanatkan u.u nomor 20 tahun 2003, pasal 50 ayat 3:
Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menyelenggarakan
sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang
pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang
bertaraf internasional', maka diujicobakanlah SMA Standar Nasional
Bertaraf Internasional' (SSNTI) di beberapa SMA conventional.
Sekolah piloting, di tingkat SMA ini ada lima (5) buah di
Sumatra Barat. Kelima sekolah itu adalah: SMA Negeri 1 dan 10 Padang,
SMA Negeri 1 Padang Panjang, Bukittinggi, dan Lubuk Sikaping.
Karena keikut sertaan sekolah untuk menjadi sekolah piloting, pada
dasarnya adalah bersifat sukarela, tidak tertutup kemungkinan ada
sekolah lain yang mencoba mengadopsi sistem yang di pakai sekolah
piloting, meski tidak resmi tercatat sebagai sekolah piloting.
SMA piloting menerapkan sekolah dengan bahasa pengantar
Inggris di kelas matematika dan science-nya. Sebagai permulaannya,
SSNTI dicantolkan, di sekolah reguler yang ada dan dimulai di kelas
satu saja, bergandengan dengan beberapa kelas paralel yang ada.
Tahun berikutnya akan ada dua tingkat kelas internasional piloting (kelas
satu dan dua) dan begitu seterusnya. Tahun ajaran 2005/2005 di
Sumatera Barat, direncanakan, akan ada enam (6) sekolah lagi yang
mempunyai kelas internasional ini. Diharapkan sekolah piloting itu
akan berada, menyebar, di berbagai kabupaten dan kota.
Menurut pantauan kami di dua SSNTI di kota Padang; ternyata orangtua
siswa kelas internasional bersedia membayar SPP lebih. Anak mereka
belajar di kelas matematika dan science dalam bahasa Inggris dari
guru mata pelajaran matematika dan science yang dianggap mampu
berbahasa Inggris. Bahkan, mereka ada mendatangkan dosen
perguruan tinggi, tamatan luar negeri, untuk mengajar science dalam
bahasa Inggris di kelas yang diperlakukan, dan ditata kusus
itu.
Kelas internasional tetap memakai kurikulum nasional. Bedanya dengan
kelas reguler; mereka memakai buku sumber mata pelajaran sience,
berbahasa Inggris terbitan Singapura dan Malaysia, yang dipakai di
sekolah sederajat. Konsekuensinya, kadang-kadang guru harus
mengajarkan buku itu melompat-lompat dari satu Bab tertentu ke Bab
lain, karena tuntutan kurikulum Indonesia tidak selalu sinkron
dengan buku teks luar negeri yang ada pada guru itu.
Ruang kelas SSNTI dibenahi oleh komite pendidikan khusus sekolah
yang bersangkutan sesuai dengan kemampuan dana pendukung yang bisa
dihimpunnya sendiri. Sehingga kondisi fisik ruang kelas SSNTI bisa
sangat bervariasi, tergantung kemampuan komite. Ada yang cukup
nyaman dengan pendingin ruangan, namun ada pula yang tidak jauh
berbeda dengan kelas reguler lainnya. Yang istimewa dari kelas SSNTI,
dan kelas akselerasi yang juga ada di sekolah itu, adalah jumlah
jumlah siswa per-kelasnya yang relatif lebih kecil, yaitu antara 25
sampai dengan 30 orang saja.
Siswa SSNTI dirikrut dari siswa baru di kelas satu yang
mendaftar ke dua sekolah, yang kami pantau itu, dengan cara memilih
mereka dari kalangan yang lulus seleksi masuk dengan entry level
passing grade tertinggi. SMA Negeri 10 langsung merikrut di awal
semester satu melalui seleksi nilai unas, angket dukungan orangtua
siswa, dan interview siswa. Sementara, SMA Negeri 1 baru akan
merikrut kembali siswa kelas satu (internasionalnya) setelah program
ini disosialisasikan kepada seluruh siswa di kelas satu (reguler)
yang ada. Adapun kriteria yang dipakai, sama dengan apa yang
diprasyaratkan di SMA SSNTI lain," ujar Drs Maverdi Ayang
Pituan, guru Kimia yang juga waka kurikulum SMA 1 itu.
Drs. Suardi Dahlan, M.Pd., Kepala SMA Negeri 1 Padang dan rekannya,
Drs. Saparni Budaya Putra, M.Pd. membenarkan kenyataan seperti yang
diungkapkan waka SMA Negeri 10, Drs. Hendrizal;"Kebanyakan guru
science dan matematika kita masih merasa perlu pelatihan penguasaan
bahasa Inggris." Oleh sebab itu mereka bersepakat akan segera
mengadakan pelatihan bahasa Inggris tambahan untuk para guru science
dan matematika di kedua sekolah itu. "Proposal untuk
pelaksanaan pelatihan guru itu telah masuk", ujarnya.
"Kita berkomitmen akan memakai instruktur bahasa Inggris yang
berpengalaman dan qualified", tukuk Budaya Putra.
Dikatakan mutu SMA kita rendah, antara lain, karena lulusannya tidak
memenuhi mutu dan harapan mereka yang menampungnya. Tamatan SMA
tidak bisa diterima langsung masuk perguruan tinggi, baik di
dalam apalagi di luar negeri, antara lain disebabkan penguasaan
bahasa Inggris dan ilmu pengetahuan yang rendah. Siswa yang
dinyatakan tamat atau lulus SMA tidak mencapai penguasaan iptek dan
skill seperti yang dituntut kurikulum. Kita berharap siswa tamatan
SSNTI ini akan menjawab sebahagian tantangan itu; insya Allah.
GURU
SBI
Untuk 'mendirikan' satu sekolah berstandar internasional [SBI], dari
tiap jenjang pendidikan dasar dan menengah, di tiap daerah kabupaten
dan kota, sesuai tuntutan undang-undang nomor 20 tahun 2003,
tentulah bukan suatu hal yang mudah. Sampai sekarang (November 2005) 'pembinaan'
yang dilakukan oleh Pemda Propinsi Sumatra Barat melalui satuan kerja
peningkatan mutu SMA baru dilakukan: 'pembinaan' kemampuan berbahasa
Inggris guru MIPA dari sebelas (11) sekolah; mengikuti apa yang
dilakukan tahun sebelumnya dengan guru MIPA di lima (5) sekolah
piloting yang telah ada sekarang. Sementara, Sumbar memiliki 219 buah
SMA swasta dan negeri, menyebar di 19 kabupaten dan kota. Semua
peserta dari sebelas sekolah itu dikatakan telah memenuhhi kriteria
lulus TOEFL dengan skor (minimal) 425.
Ke-sebelas sekolah itu adalah: SMA IV Angkek Canduang (Arnoviza Adnan,
Maidar Huriyati, Gusti Ekaputri dan Yusni Miwarti). SMA 1 Guguk (Syahyunizul,
Setia Budi, Irfan, Rita Yudianti, dan Yelmi Elita). SMA 1
Swl-Sjj. (Edijar, Dwi Sunaryo, Afrida Laily Alindra, Mira Hellia
dan Nur' ainun Hasan Lady). SMA 1 Gn. Talang, (Widatiti, Brilyant
Sastrawati, Nifestri, Daswir, dan Irmawini). SMA 1 Nan Sabaris, (Lisdarta,
Nining Sayekti, Misdawati, Muslim, dan Nelizarti). SMA 2 Painan, (Sofri
Yeni, Salim Muhaimin, Masdalena Juita, Sri Aswati, dan Hasniyeti).
SMA 1 Lembah Malintang, ( Ilham, Wahdina, Rifna Nst, Rosma, dan Maryus).
SMA 2 Padang, (Rusman, Yulianis, Rismarmi, Herry Yenti Siska, dan
Herdalena). SMA 2 Payakumbuh, ( Irma Takarina, Melzarina, Rex Frineti,
Rika Febrina, dan Media Mega). SMA 1 Pariaman, ( Eni Suryaningsih,
Wahidayati Ali, Elvi Junaida, Nazwir, dan Almita). SMA 1 Sawahlunto, (Benzuheri,
Fitsalmiati, Msera Nufia, Yesi Zastati, dan Misra Yenti.)
Kabupaten kota yang belum punya guru SBI sampai tahap ini adalah Kota
Solok, kab. Dharmasraya, kab. Solok Selatan, dan kab. Mentawai.
Sementara, lima (5) sekolah piloting yang telah jalan sekarang
terdapat di: Kab. Pasaman (SMA 1 Lubuk Sikaping), Kota Bukittinggi (SMA
1), Kota Padangpanjang (SMA 1), dan Kota Padang ( SMA 1 dan SMA
10).
Dengan melalui pelatihan itu, apakah semua guru peserta telah utuh 'menjadi
guru SBI'? Tentu saja belum. Itu baru suatu permulaan. Kita memerlukan
pelatihan-pelatihan yang lebih banyak, perikrutan guru dengan seleksi
yang benar, pembinaan SDM guru yang terpola dan terarah.
Ada pertanyaan dari rekan saya di mailinglist group "pakguruonline"
(http://groups.yahoo.com/group/pakguruonline)
Apakah nanti SBI yang kita angan-angankan itu tidak sekedar menjadi
"sekolah berbahasa Inggris" saja? Harapan kita tidak. Kita
tetap mengharapkan sekolah itu benar-benar bertaraf internasional,
dalam arti: siswa tamatannya dapat diterima di perguruan tinggi asing
karena memenuhi kesetaraan mutu dengan lulusan dari sekolah input
lokal dari perguruan asing tersebut, sebutlah University Malaya,
National University Singapore, Melbourne University Australia,
misalnya. Disamping, mereka juga bisa berkomunikasi dengan bahasa
Inggris sejak dari bangku SMA. Namun kalaupun hanya sekolah
berbahasa Inggris yang akhirnya dapat dicapai; bukankah itu juga
sudah merupakan suatu kemajuan? Ada berapa sekolahkah di Indonesia
yang PBM-nya dengan pengantar bahasa Inggris? Bukan rahasia lagi,
kalau pejabat-pejabat kita sekarang, yang telah tamat pendidikan
tinggi sekalipun, tapi tidak bisa 'ngomong Inggris'.
Sekarang kita baru memulai dengan guru MIPA. Kita akan lanjutkan
dengan meng-Inggriskan guru matapelajaran lain, sehingga akhirnya
semua guru mampu mangajar dengan media bahasa Internasional di SBI.
Mutu pelajaran yang diajarkan: MIPA, dan matapelajaran lainnya tentu
harus ditingkatkan pula supaya lulusan kita benar-benar bisa bersaing
dengan lulusan SLTA di negara lain.
Diyakini bahwa, bila semua guru telah bisa mengelola pembelajaran
dengan Bahasa Inggris dengan baik, diharapkan bahwa guru-guru tersebut
tidak lagi hanya terpaku atau berkiblat kepada kurikulum nasional
secara sempit, tetapi sudah akan mampu pula mengambil pedoman kepada
buku-buku text internasional, baik yang diaksesnya melalui toko buku,
maupun dari sumber digital elektronik. Ini target kita dalam hal
peningkatan mutu guru. Mustahil guru yang seperti itu tidak akan
membawa dampak positif kepada mutu lulusan sekolahnya, di SBI.
Penghargaan atau reward untuk para guru yang mau mengajar di kelas SBI
mestinya harus dipikirkan dan diberikan oleh pihak terkait. Ini
penting; supaya tidak ada guru yang berpikir; buat apa
susah-susah mengajar pakai bahasa Inggris, toh pemerintah
tidak membedakan perlakuannya; alias dapat penghargaan yang sama saja
dengan yang mengajar pakai bahasa nasional.
Pelaksanaan pelatihan, workshop atau diklat untuk meng-Inggriskan para
guru semestinya juga mendapat perhatian yang lebih serius dari pejabat
pembina. Jangan terkesan pelatihan itu sekedar untuk menghabiskan
anggaran. Instruktur yang diminta untuk menjadi penyaji dalam
pelatihan mestilah yang benar-benar qualified dan berpengalaman.
Lama pelatihan, jadualnya dan persiapannya mestilah matang, dan
dilaksanakan dengan sunguh-sungguh, jauh dari kesan asal jadi.
Terima kasih.
*)
Staf Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Barat.
--------------------
Catatan
:
Tangggapan
dari anggota mailinglist "pakguruonline" tentang artikel SMA
SBI (Sekolah Berwawasan Internasional) yang tersebut diatas dapat
dilihat dengan mengklik url berikut :
1.
Re- Workshop Guru Science Sekolah Internasional,
massage 1023
2.
Re- Workshop Guru Science Sekolah Internasional,
massage 1034
3.
Re- Guru SBI Sumbar,
massage 1041
4.
Re- Workshop Guru Science Sekolah Internasional
, massage 1047,
|