[home] [pakguruonline] [siswaonline] [mailinglist pakguruonline] [al-haq]


 
  

'Sistem SKS tak Perlu Dicurigai tetapi Diwaspadai
  
Oleh Romi Sudhita *)


  
BELAKANGAN ini Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) cukup banyak mengeluarkan kebijakan yang mengarah kepada terciptanya perubahan, pembaruan di bidang pendidikan. Beberapa di antaranya sebut saja; Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS); dihapusnya Ujian Akhir Nasional (UAN) lalu diganti menjadi Ujian Nasional (UN); dikenalkannya multi quotient yang meliputi Intelligent Quotient (EQ), Social Quotient (SQ), dan Religious Quotient (RQ) sebagai sebuah pendekatan komprehensif di bidang kemampuan yang mesti dimiliki oleh siswa; diujicobakannya Kurikulum 2004 yang bernapaskan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi); dan terakhir pemerintah merencanakan pula penerapan sistem SKS di Sekolah Menengah (SM).
  
Bagi kebanyakan perguruan tinggi di Indonesia yang sudah menyelenggarakan sistem SKS (secara penuh ataupun paket) sepertinya tenang-tenang saja, biasa-biasa saja, dan tidak menunjukkan adanya ''gejolak'' yang cukup berarti. Tetapi, bagi Sekolah Menengah (SM) yang baru kali pertama ditonjok untuk menyelenggarakan sistem SKS jelas akan mengalami sedikit kebingungan meski ada pula yang lancar ibarat menelusuri sebuah jalan bebas hambatan. Dari sudut kelembagaan diperkirakan akan muncul varietas yang cukup menambah persoalan karena yang namanya SM bukan saja SMA tetapi masih ada juga SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), baik yang menyelenggarakan pendidikan di bidang studi ekonomi, teknik, maupun kerumahtanggaan (dulu masing-masing bernama SMEA, STM, dan SMKK).
 
Sebetulnya ada dua sebutan terhadap singkatan SKS. Pertama,  SKS yang berarti Sistem Kredit Semester, dan kedua, SKS yang berarti Satuan Kredit Semester. Karena di sini sudah jelas-jelas disebutkan kata Sistem (di belakang SKS) tentu yang dimaksudkan SKS di sini adalah Satuan Kredit Semester. Untuk mendapatkan pengertian apa itu SKS bagi Sekolah Menengah penulis mengalami kesulitan mendapat rujukan atau sumber informasinya. Setelah dicoba memodifikasi dengan yang berlaku di perguruan tinggi, penulis memberanikan diri untuk mengemukakan bahwa Sistem Kredit Semester merupakan sistem penyelenggaraan pendidikan yang merangkum beban studi siswa, beban kerja tenaga pengajar, dan beban lembaga penyelenggara pendidikan yang dinyatakan dalam satuan kredit semester.
 
Satuan Kredit Semester (SKS) merupakan satuan untuk menyatakan besarnya (bobot) untuk masing-masing mata pelajaran dan kegiatan akademik lainnya. Bobot satu SKS, misalnya, akan diperoleh siswa setelah mengikuti tiga macam kegiatan yaitu (1) kegiatan tatap muka, pelajaran teori/praktikum/kerja lapangan, (2) kegiatan terstruktur seperti pekerjaan rumah atau PR, dan (3) kegiatan mandiri masing-masing dengan alokasi waktunya sendiri, sesuai ketentuan yang ada di sekolah menengah. Gambaran kegiatan seperti ini rupa-rupanya sudah ada di sekolah menengah yang berstatus negeri maupun swasta. Lalu apa pula tujuan sistem SKS? 
  
Memenuhi Tuntutan Pembangunan
  
Tujuan umum sistem SKS adalah agar sekolah-sekolah menengah di seluruh Indonesia dapat lebih memenuhi tuntutan pembangunan karena di dalamnya dimungkinkan penyajian program pendidikan yang bervariasi dan fleksibel. Sehingga, dapat memberi kemungkinan lebih luas kepada siswa untuk memilih program menuju suatu jenis jenjang profesi tertentu yang dituntut oleh pembangunan. Sedangkan tujuan sistem SKS secara khusus meliputi, pertama, memberi kesempatan kepada siswa yang cakap dan giat belajar agar dapat menyelesaikan studi secepatnya. Kedua, memberi kesempatan kepada siswa agar dapat mengikuti kegiatan pendidikan yang sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya. Ketiga, memberikan kemungkinan agar sistem evaluasi kemajuan belajar siswa dapat diselenggarakan dengan baik.
  
Mencermati tujuan sistem SKS ini, tampaknya ada faktor keberhimpitan dengan pandangan Mendiknas Bambang Sudibyo yang menyatakan bahwa tujuan diterapkannya sistem SKS di Sekolah Menengah adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Selain itu sistem ini memberi peluang mempercepat kelulusan bagi yang pintar.
  
Konsep dan Struktur Operasional
  
Sistem SKS yang benar-benar baru kali pertama dipikirkan oleh para pengambil kebijakan di bidang pendidikan jelas merupakan sebuah pembaruan atau inovasi guna menjawab tantangan zaman yang kian meningkat. Umar Tirtarahardja dalam bukunya ''Pengantar Pendidikan'' beranggapan bahwa setiap inovasi memiliki dua aspek penting, yakni aspek konsepsional, dan aspek struktur operasional.
 
Jika sistem SKS dipandang sebagai suatu inovasi maka aspek konsepsionalnya bisa berupa ide-ide, cita-cita, dan prinsip-prinsip. Sedangkan aspek struktur operasionalnya atau aspek pelaksanaannya dapat berwujud juklak atau petunjuk pelaksanaan dan juknis atau petunjuk teknis. Berbicara soal juklak dan juknis tentu ada faktor-faktor pelaksananya dan tentu ada pula sosok-sosok yang menjadi sasaran penyebarluasan informasi sistem SKS tersebut. Mereka yang pada umumnya digolongkan ke dalam sistem sosial akan berada pada dua kemungkinan yakni menerima atau menolak inovasi. Begitu pula mengenai sistem SKS di Sekolah Menengah, tentu ada kelompok/pihak yang tergolong mudah menerima inovasi dan ada pula yang agak sulit menerimanya.
 
Menurut Abdullah Hanafi dalam ''Memasyarakatkan Ide-ide Baru'' bahwa yang dikatakan penerima inovasi dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu kelompok inovator atau petualang dengan persentase sebesar 2,5%, kelompok adopter pemula atau pelopor sebesar 13,5%, kelompok penganut/pengikut dini atau mayoritas awal sebesar 34%, kelompok penganut/pengikut akhir sebesar 34%, dan golongan kolot atau tradisional sebesar 16%.
 
Sistem SKS sebagai suatu inovasi seyogianya mengikuti tahapan-tahapan; uji coba, desiminasi atau penyebarluasan hasil uji coba; dan tahap pascapenyebaran hasil uji coba inovasi. Dalam tahap uji coba biasanya yang dijadikan objek sasaran adalah kelompok penerima pertama dan kedua yaitu kelompok invovasi dan kelompok adopter pemula. Dalam kenyataan real di lapangan kedua kelompok tersebut bisa saja ditunjuk sekolah-sekolah inti atau sekolah unggulan atau sekolah yang tergolong favorit. Apabila uji coba telah selesai dilaksanakan dan hasilnya -- katakanlah sangat bagus -- maka perlu ditindaklanjuti berupa penyebarluasan (desiminasi) ke sekolah-sekolah lain yang tergolong kelompok penganut dan kelompok pengikut akhir. Kapan dan seberapa lama hal ini akan berlangsung sangat tergantung pada program yang disusun oleh para pengambil kebijakan (Depdiknas). Secara ideal, mereka yang termasuk golongan kolot/tradisional (16%) pada akhirnya bisa menerima inovasi atau bisa menerima dan melaksanakan sistem SKS tersebut.
 
Niat baik pemerintah untuk menerapkan sistem SKS di Sekolah Menengah sebaiknya kita sambut dengan sikap positif dan pikiran yang jernih tanpa ada tendensi kecurigaan tertentu. Malah yang perlu ditonjolkan di sini justru kewaspadaan para pengelola Sekolah Menengah terhadap kemungkinan munculnya permasalahan saat gagasan itu hendak dikenalkan kepada pihak-pihak terkait. Ada beberapa permasalahan yang diperkirakan bakal muncul. Pertama, menyangkut siswa dan orangtua siwa yang belum memiliki kesiapan mental berkenaan dengan sistem SKS sebagai suatu inovasi di bidang pendidikan. Kedua, belum adanya persamaan persepsi antara kepala sekolah, guru-guru dan pegawai administrasi tentang  hakikat dan eksistensi sistem SKS. Ketiga, yang tak kalah menarik justru yang berkaitan dengan masalah-masalah teknis administratif penyelenggaraan sistem SKS seperti; peranan guru akan bertambah menjadi seorang Pembimbing Akademis (PA), pengaturan jadwal mata pelajaran yang jelas-jelas berbeda dengan sistem konvensional, dan pengadaan sarana (pengadaan logistik, peminjam istilah KPU) berupa Kartu Rencana Studi disingkat KRS, Kartu Hasil Studi disingkat KHS, Kartu Perkembangan Studi, dan masih banyak yang lain-lainnya.
 
*) Penulis, dosen IKIP Negeri Singaraja
 
  

 


  


http://www.geocities.com/jipsumbar

http://jipdiknassumbar.cjb.net

   

Situs ini menampung sumbangan tulisan, berupa makalah, kajian, serta artikel dalam kerangka inovasi pendidikan. Silahkan kirim tulisan  anda kepada web master :

[email protected]
Jika pada browser Internet Explorer anda muncul pesan script error atau script debugging,  
klik disni

 

Hosted by www.Geocities.ws

1