[home] [pakguruonline] [siswaonline] [mailinglist pakguruonline] [al-haq]


 

Mengutamakan Daya Nalar dalam Pendidikan

 

''KEBINGUNGAN'' sistem pendidikan yang kita laksanakan sesungguhnya sudah teramat sering menjadi perbincangan. Gonta-ganti kebijakan saban ganti kabinet atau ganti menteri, merupakan faktor yang paling sering menjadi alasan. Toh kondisi itu hingga saat ini masih kita alami. Dalih  semacam ''untuk penyempurnaan sistem pendidikan'' atau ''demi peningkatan kualitas SDM masa depan'' tak cukup mampu mengubah dunia persekolahan kita. Insan-insan pendidikan yang langsung terlibat dalam pelaksanaan proses belajar-mengajar tetap menghadapi serba keterbatasan. Di samping menghadapi masalah kualitas SDM pengajar juga sarana-prasarana PBM (proses belajar-mengajar) yang tidak memadai. Laboratorium bahasa, misalnya, sudahkah ada di setiap sekolah? Sehingga, sangat ''tidak adil'' apabila kita menuntut siswa terampil menggunakan bahasa dengan minimnya sarana pendukung ke arah itu.

Sistem evaluasi yang juga tidak mengarah ke sana juga berperan penting. Padahal, dari keterampilan penggunaan bahasa sesungguhnya bisa didapatkan cara mengasah daya nalar siswa. Sistem evaluasi multiple choise, misalnya, sangat mengungkung siswa untuk mengasah keterampilan bahasa, daya nalar maupun logikanya. Sementara sistem menjawab esai tidak dominan dalam evaluasi belajar.

Maka wajar apabila kemudian muncul persoalan daya nalar siswa, menjelang pelaksanaan Ujian Nasional (UN) dan sistem penerimaan mahasiswa baru (SPMB) seperti yang tengah dihadapi kalangan pelajar hari-hari ini (BP, 23/5). Siswa konon hanya pintar menghafal rumus-rumus, namun sulit mengaplikasikan rumus itu ketika dalam suasana ujian. Padahal, metode penalaran merupakan salah satu cara terbaik mengerjakan soal-soal UN dan SPMB dengan cepat. Karena daya nalar akan menuntun siswa untuk mengerjakan soal-soal  dengan mengutamakan rasio, rumus-rumus hanyalah pegangan yang bisa disederhanakan lewat penalaran. Ini akan membuat siswa terbantu apabila tidak terlalu hafal rumus-rumus yang rumit, banyak dan panjang, sehingga tidak tersesat mengerjakan soal-soal. Sehingga, mata pelajaran semacam  metematika, fisika, kimia misalnya, dapat ''ditaklukkan'' dan tidak lagi menjadi momok.

Apa yang ditawarkan dunia persekolahan kita selama ini tampaknya kurang memikirkan hal itu. Yang lebih mengemuka adalah jejalan teori dan rumus-rumus, yang membuat siswa terlalu sibuk menghafal. Ketika hafalan itu terlupakan, habislah mereka di waktu ujian. Kegagalan, pada gilirannya tetap ditanggung siswa. Kalaupun kegagalan itu hendak ditutupi, seringkali dicarikan solusi pada pengkatrolan nilai-nilai. Sekolah atau guru yang tidak berkenan dicap gagal mendidik siswanya akan ''menyulap'' angka-angka, sehingga seakan sukses mengantarkan siswanya meraih capaian tinggi.

Angka-angka memang masih menjadi indikator utama dalam evaluasi PBM kita. Kurang memberi ruang pada terasahnya  pengetahuan dasar, konsep dan daya nalar. Akibatnya, proses yang mencekoki siswa dengan hafalan dan rumus-rumus terus berlangsung. Siswa terbiasa ditekankan terpaku pada buku. Padahal, di luar itu semestinya sangat banyak ''ilmu hidup'' yang bisa mengasah kecerdasan pengetahuan dan kecerdasan emosi mereka, apabila sekolah menanamkan konsep jelas tentang pendidikan dan arah capaian yang dituju.

Sekolah, pada gilirannya hanyalah bagaimana siswa menjadi pintar menguasai isi buku dan ilmu dari guru. Sementara mereka kurang terasah keterampilannya menggunakan daya nalar untuk ''membaca'' berbagai ilmu.

Ke depan, sistem pendidikan -- apa pun kurikulumnya -- seharusnya lebih menekankan daya nalar ini. Untuk itu, salah satu yang harus dikembalikan adalah evaluasi yang harus didominasi sistem esai. Dengan sistem menjawab esai ini guru dapat lebih mengetahui kecerdasan siswanya. Sedangkan dari sisi siswa, mereka dapat lebih mengeksplorasi kemampuannya dalam suatu ilmu, lewat jawaban, argumentasi maupun logika berpikir. Dengan demikian, dunia persekolahan kita akan terhindar dari kebiasaan spekulasi di kalangan siswa di saat mereka menghadapi momentum evaluasi, semacam ulangan umum, ujian akhir maupun ujian masuk. Karena sistem evaluasi semacam multiple choise cenderung menjadikan anak didik menjadi spekulan-spekulan, untung-untungan dalam meraih keberhasilan studinya.

 

Tajuk Surat Kabar Bali Post, Rabu 25 Mei 2005

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/5/25/o1.htm
  

 


  


http://www.geocities.com/jipsumbar

http://jipdiknassumbar.cjb.net

   

Situs ini menampung sumbangan tulisan, berupa makalah, kajian, serta artikel dalam kerangka inovasi pendidikan. Silahkan kirim tulisan  anda kepada web master :

[email protected]
Jika pada browser Internet Explorer anda muncul pesan script error atau script debugging,  
klik disni

 

Hosted by www.Geocities.ws

1