Di depan pintu gerbang itu, para Pangeran menyambut kedatangan para tamu termasuk saya yang ikut menghadiri jamuan makan malam. Menaiki kereta dengan ditarik kuda-kuda pilihan membawa kami dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menuju Istana Air Warungboto. “Selamat malam Tuan,” ujar seorang Bangsawan Kerajaan Belanda yang ikut menyambut kedatangan para tamu. Saya ikut dalam rombongan sebagai utusan Sri Sultan Hamengkubuwono II, dan langsung diantar menuju ruang jamuan makan malam. Perlahan alunan gending membuat malam itu semakin syahdu dengan tarian yang indah.
“PLAK,” tangan teman saya mampir di bahu saya menyadarkan khayalan saya tentang Istana Air Warungboto pada masa itu. Saya sengaja menggunakan sedikit khayalan dalam menggambarkan keberadaan Istana Air Warungboto demi menggelitik imajinasi, mencoba menerka sejauh mana kita mengenal jejak sejarah Istana Air Warungboto. Bangunan depan menjadi titik awal kami melakukan ekspedisi di area tersebut, dari sini keseluruhan bangunan terlihat jelas sampai bagian belakang. Di tempat ini tembok-tembok tebal menyisakan reruntuhan yang diselimuti tanaman perintis menempel pada tembok yang terkelupas. Dibagian samping terdapat tembok pembatas dengan satu pintu yang bagian atasnya melengkung, antara lobi dan ruang penghubung. Masih di area yang sama kami berjalan melalui sebuah tangga yang sempit menjadi ruang penghubung antara bagian atas dan bawah. Di tempat ini terdapat dua lorong tangga terdiri dari tujuh anak tangga yang bagian atasnya melengkung.
MELEWATI LORONG TANGGA. Kami menuju ke bawah, di sinilah inti keindahan dari Istana Air Warungboto. Terhampar taman yang indah dengan dua buah kolam sebagai penghias utama. Kolam berbentuk lingkaran berdiameter 4,5 meter, bagian tengahnya memiliki air mata air atau umbul dengan kedalaman kurang lebih 1,5 meter. Kolam kedua berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 10 x 4 meter, kedua kolam tersebut dihubungan sebuah saluran air yang membagi air bagi kedua kolam tersebut. Begitu juga dengan tembok-tembok tebal gagah tinggi menjulang mengelilingi area kolam membuat kami semakin kagum. Bayangkan di tahun 1800-an sang perancang bangunan memiliki ide membuat area yang luas menjadi ruang pribadi.
Saya berdiri dekat pintu tembok sembari melemparkan pikiran saya ke masa lalu, gemericik air dengan suasana taman yang indah dan bersih. Para dayang bermain air dengan kain batik yang menutupi tubuh mereka, rambut panjang terurai dan saya membayangkan saya berada di antara mereka dengan duduk santai ditemani minuman manis dan buah-buahan segar :) . Masih dengan cara yang sama tangan teman saya mampir di bahu saya membuyarkan semua. “Ayo mas bro,” kita lanjutkan ekspedisi ini ajak teman saya.
BERSAMA GELIAT WAKTU, tembok-tembok gagah itu runtuh akibat terjadinya gejolak alam dan tingkah laku manusia. Di sebelah selatan area taman terdapat reruntuhan batu yang menghilangkan jejak bangunan sehingga kita tidak mengetahui sama sekali. Kami terus bergerak ke menuju kebawah, sebidang tanah yang cukup luas menjadi area lapangan voli. Teman saya bertanya, “Apakah lapangan voli ini juga peninggalan sejarah yang masih tersisa? (Foto dan teks oleh Aan Ardian/www.kotajogja.com)