Perempuan
yang Datang Pada Senja Hari
Cerpen Tri Wibowo BS
11
Mei 2002, Sabtu menjelang maghrib, di beranda
Masjid, engkau datang dengan seulas senyum. Seperti
biasa, kerudung putih yang dipadukan baju hitam
membuatmu cantik sekali. Seperti bergemuruh dadaku
ingin menumpahkan ribuan kata pujian, mungkin juga
rayuan. Hanya saja lidahku kelu kala ku tatap teduh
matamu.
Baiklah,
tak perlu aku awali pembicaraan sebentar lagi
dengan dengan kata-kata gombal berbunga-bunga tentang
keindahanmu, sayang. Aku hanya ingin mengatakan bahwa
kau telah membuatku terjebak dalam harapan yang tak
pasti. Enam bulan aku mencoba menundukkan perasaan
cintaku padamu. Tapi aku tak bisa mengalahkan rasa
cinta ini. Maka kuputuskan aku harus menyudahi anganku
ini.
Yah,
seperti biasa, kau tetap tersenyum ramah.
Jadi,
baiklah aku mulai. Langsung saja, �aku suka
padamu �.� Mungkin kau sudah lama tahu isyarat
cintaku, tapi mungkin kau juga kaget saat aku langsung
menyatakannya tanpa melalui proses pendekatan lawan
jenis sebagaimana lazimnya insan yang jatuh cinta. Dan
mungkin karena itulah kau hanya diam saja memandangku.
�Jadi
kenapa?� apakah di benakmu tersimpan tanya itu?
Baiklah, sayang, kalau itu pertanyaanmu, aku jawab
saja: �Kau tahu puisi Sapardi? Aku ingin mencintaimu
dengan sederhana? Tidak? Baiklah, tak usah kau
pikirkan itu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana�
kau tahu sayang, proses pendekatan acap memerlukan
kebohongan dan kepura-puraan. Kalau aku mesti
mendekatimu, aku harus selalu berlaku baik di matamu.
Tak boleh sedikitpun kekuranganku yang tampak saat aku
berada di dekatmu. Aku tak ingin semua kepura-puraan
itu karena aku nanti menjadi orang lain. Ah, aku jadi
berkhotbah, sayang. Kau tak suka ya? Baiklah, singkat
saja, aku tak mau berpura-pura menjadi Arjuna yang
begitu baik di hadapanmu. Aku hanya ingin kau lihat
diriku seperti yang kau lihat dan kau pikirkan, bukan
seperti yang ingin ku harapkan kau pikirkan�
Tetapi
kau tak bereaksi. Mengapa? Apakah tak memuaskan
jawabanku? Ataukah kau tertegun karena heran? Ayolah,
bicaralah sayang, barang sepatah dua patah kata.
�Terus
apa maumu selanjutnya?� mungkin di benakmu
tersimpan tanya itu. Ah, kalau itu mungkin tanyamu,
baiklah: �Kau sudah tahu aku suka padamu. Jadi aku
ingin tahu apakah kau suka padaku? Tolong jawab ya
atau tidak saja, sayang. Aku tak ingin dengar
alasan-alasan di balik jawabanmu�
�Mengapa?�
mungkin di benakmu tersimpan tanya itu,
karena kau tak juga bicara. Baiklah sayang, aku jawab
saja. �Menurutku, ya dan tidak sudah mewakili
seluruh
perasaanmu padaku. Oke, sederhana bukan? Ya, aku ingin
mencintaimu dengan sederhana. Jadi, apa jawabanmu?�
Kulihat
wajahmu masih cerah. Aduhhhh. Kenapa kau tak
kelihatan bingung dan panik? Kenapa kau tak berdiam
seperti gadis-gadis yang bingung dengan muka merah
ketika harus memilih? Mengapa kau tetap tersenyum
ramah tanpa beban? Oh. Aku mengerti sekarang, kau
sudah tahu aku akan bertanya begitu kan? Kau sudah
punya jawaban dari rumah kan? Kalau begttu, ayolah
sayang. Keluarkan saja, aku ingin dengar dari bibir
mungilmu, melesat melalui manik-manik gigimu yang
berderet seperti untaian mutiara. Ah, kalau saja aku
pujangga, aku akan menyusun banyak lagi kata indah,
menorehkan berbait-bait puisi untuk menceritakan
keindahanmu kepada seluruh dunia, kepada rerumputan
yang sedari tadi asik mengamati polah kita dan kepada
langit senja yang memerah. Hmm, senja merah itu,
mungkinkah dia mentertawakan aku hingga ia menjadi
merah? Duhai, wahai, amboi, apa lagi yang mesti
kulukiskan untuk menggambarkan kegelisahanku menanti
jawabmu.
�Tapi
aku mau dengar dulu mengapa kau bisa menyukaiku,
mencintaiku?� mungkinkah kau hendak mengajukan tanya
itu, hingga kau tak segera menjawab tanyaku. Apakah
kau hendak mengui kesabaranku dengan berdiam? �Kau
tahu sayang, ketika pada suatu hari hatiku bergetar
melihat dirimu, aku tahu aku mulai menyukaimu. Ketika
pada suatu hari aku ingin menatap wajahmu setiap hari,
aku tahu aku mulai merindukanmu. Ketika pada suatu
hari aku merasa ingin memelukmu dan menghapus air
matamu ketika kau menangis, memberimu kekuatan agar
engkau bisa bangkit kembali, menentramkanmu ketika
engkau cemas dan risau, memberimu harapan saat kau
diambang keraguan dan patah asa, dan tatkala ku lihat
senyala pijar lentera di matamu, ku tahu aku mulai
mencintaimu � Ehm.. ehmm� romantiskah jawabanku
sayang? Tidak? Hahahaha� yah, baiklah, seperti
ungkapan cinta picisan ya? Tapi sejujurnya itulah yang
aku rasakan. Ada seperti yang ingin dilepaskan kalbu
ketika aku mendengar suaramu, mungkin rindu, asa, atau
angan, atau rayuan. Jadi aku jadi yakin bahwa aku jadi
jatuh cinta sejadi-jadinya, kepadamu seorang. Kau tahu
sayang, seperti ada kilatan sepi yang menyayat di hati
kala aku melihatmu tapi tak mampu mendekatimu.�
Oalah
gusti..gusti,, kenapa aku jadi gombal dan nyinyir
begini? Bergenit-genit-ria begini? Tapi mungkin hanya
Tuhan, malaikat dan setan yang tahu kalau aku
menanggung kegalauan dan perasaan suka ini selama
berbulan-bulan.
Aduh,
kau lihat, lihatlah�matahari sudah terbenam.
Larik sinarnya sudah tak bersemangat. Sebentar lagi
maghrib menderas. Jadi apa jawabanmu sayang?
�Apa
yang bisa kau janjikan kepadaku kalau kau
mencintaiku, dan ingin memilikiku?� adakah di
benakmu
tersimpan tanya itu, hingga kau tak juga menjawab
tanyaku hingga detik ini? Oh, apa yang akan aku
janjikan? �Hanya satu. Kau tahu, mudah bagi kita
untuk
jatuh cinta. Kurasa kau tahu betul setiap manusia yang
saling jatuh cinta akan memandang dunia ini begitu
indah � dunia milik kita berdua, begitu kata syair
sebuah tembang. Yah, siapa yang bisa menyangkal, saat
kita diliputi cinta, hati menjadi riang, dada lapang,
dan hidup tak lagi gamang? Tapi, aku percaya bahwa itu
semua tak cukup. Kau tahu ada hak mutlak bagi kita,
yang tak bisa kita tolak, yang kita sebut bosan,
jenuh, atau jemu. Tuhan menganugerahi kita dengan hak
untuk menjadi bosan. Sayang, aku percaya cinta kadang
membosankan jika hidup lalu menjadi rutinitas, cinta
bisa terkikis oleh aliran arus hari-hari panjang penuh
beban tanggung jawab yang melelahkan. Mungkin bahkan
hilang saat kita melangkah memasuki hari depan yang
tak kita ketahui bentuknya. Jadi, singkat saja, aku
hanya bisa berjanji untuk merawat cinta ini, agar tak
layu kelak.�
Kulihat
kau menggigit bibir, memeluk tas tanganmu lalu
menatapku dengan tajam. Tapi, ah, wajahmu masih saja
cerah dan ramah, dan matamu berpendar seperti
kunang-kunang di malam gelap. Adakah ini karena aku
begitu mencintaimu sehingga tak kulihat setitikpun
awan kelam pada dirimu? Ataukah ini hanya anganku
belaka yang mengangankan bidadari? Sayang, tahukah
kau, keindahanmu kadang menyiksaku. Kulitmu yang putih
tampak semakin putih karena warna langit semakin
menghitam. Aku berharap kau menatap mataku yang
berusaha kubuat seteduh mungkin, demi menutupi
risauku. Ayolah sayang, langit sudah gelap.
Kulihat
kau menarik nafas, tapi kenapa tak panjang?
Dan kau juga tak menghembuskannya kuat-kuat seperti
kulihat dalam sinetron tentang gadis yang akan
memutuskan sesuatu. Aduh, kenapa aku sekarang begitu
memperhatikan setiap detail gerakanmu, bahkan aku kini
begitu peduli melihat kerdipan matamu? Kenapa aroma
tubuhmu pun menjadi sesuatu yang khusus? Kenapa
jemarimu lentikmu melambungkan anganku? Kenapa alis
matamu begitu halus, dan kenapa bulu matamu begitu
rapi dan lembut menghiasi bola matamu? Mengapa
kuperhatikan itu semua? Mengapa? Apakah orang yang
jatuh cinta merasakan seperti yang kurasakan?
�Baiklah,
aku kan jawab�� begitu katamu tiba-tiba,
agak pelan, seperti tertahan. Aku tersentak dari
lamunanku akan keindahan dirimu, lalu menantikan
dengan berdebar. Sungguh beruntung degup jantungku tak
terdengar siapapun karena suara hembusan angin
menjelang maghrib yang menabrak perdu dan rerumputan
itu meredamnya. Tapi, ya Tuhan, kau tetap ramah dan
tersenyum. Duh Gusti, kerling matamu dan semburat rona
merah di pipimu, duhai Tuhanku, apa lagi yang mesti
kubayangkan? Ah, lekaslah dengan jawabanmu sayang.
Ayolah jangan ditunda lagi, sebab penundaan berarti
memperpanjang penantian yang perih, memanjangkan
anganku, memanjangkan deretan kata rayuan untukmu yang
mungkin terasa gombal dan hambar. Sayangku, apapun
jawabanmu pasti melegakan karena usai sudah
ketidakpastianku. Marilah, cepat, aku simak jawabanmu.
Detik demi detik berjingkat di udara, menunggu.
�Tidak�
katanya, sambil tersenyum manis sekali.
Langit
telah gelap, dan tak ada angin lagi yang
tersisa. Hanya udara mengambang gamang di awang-awang,
seolah enggan bergerak. Apakah ini hanya khayalanku
saja atau memang demikian keadaannya? Terus terang aku
agak susah menentukannya, sebab kupercaya perasaan
kita menentukan suasana apa yang kita rasakan.
Tapi
kukira, kata �tidak� mu itu sayang, telah
menjadi sihir yang memberhentikan waktu,
memberhentikan angin dan memalaskan udara. Ah,
sebentar lagi azan maghrib. Kira-kira lima menit lagi.
Tapi aku enggan berdiri, aku enggan berkata, sebab
kata �tidak� mu itu tidak lantas membuat dirimu
menjadi terkutuk di mataku. Kata �tidak� mu itu
malah
membuat sosokmu semakin berpendar di mataku, semakin
cemerlang raut wajahmu. Aku tertegun oleh garis-garis
manis di mukamu karena kata �tidak� mu itu telah
mempertajam penglihatanku. Tetapi mengapa kau
bertambah cantik petang ini? Bukankah semestinya
sekarang aku marah padamu dan membencimu karena kau
berkata tidak padaku? Tapi mengapa aku tak jua bisa?
Hanya sunyi terasa di dada, tapi tak kunjung tiba rasa
marah. Hanya perih terasa di hati, tapi tak kunjung
datang benci menikam-nikam hati. Ya Tuhan, aku tak
bisa membenci gadis ini!
Namun
yang jelas usai sudah penantianku. Telah usai
getar harapan dan angan tentang dirimu walau aku
mesti bersiap menerima rintik kecewa dan getir.
Baiklah, tak ada lagi kata yang mesti disusun, dihias
dan diucapkan. Ayolah sayang kita pulang, hari sudah
malam. Tapi aku tak bisa mengantarmu pulang. �Tak
mengapa,� katamu, �cukup sampai di halte itu saja.�
Baiklah, setidaknya aku ada sedikit kesempatan
berjalan beriringan denganmu, walau hanya seratus atau
dua ratus langkah.
Temaram
lampu kota dan sorot mobil seperti bersaing
berebutan menerobos retina mataku. Dan kau pun pergi
dengan seulas senyum dan lambaian tangan. Yang
tertinggal hanyalah suara gemuruh mesin dan roda mobil
angkutan dan hembusan uap knalpot di hadapanku,
menyisakan ruang sepi di batinku.
Malam
ini tiada bulan�
Klp Gading, Mei 2002
Sumber
: www.Cybersastra.Net