Nasihat agar menghindari rasa hujatan dan mencaci maki, telah diajarkan di dalam Al quran dan beberapa saran

Assalamu Alaikum Wr.Wb,
Saran saran untuk menghindari rasa menghujat/mengkasari umat umat lain walaupun terhadap umat umat kafir. Sebab bentuk menghujat dapat dibalas dengan hujatan. Dalam ajaran Surat Al Maaidah melarang umat umat beriman menghujat berhala karena bila hal ini terjadi, dapat membangun orang orang kafir menghujat Tuhan.
Ini dari nasehat Imam Al-Ghazali untuk menyempurnakan ibadah puasa kita, yang sedikitnya ada 6 perkara menurut beliau:
1. Menundukkan pandangan dan menahannya dari berkeliaran memandang ke setiap hal yang dicela dan dibenci, ke segala hal yang bisa menyibukkan hati dan melalaikan dari mengingat Allah. Nabi SAW bersabda,"Pandangan adalah salah satu anak panah beracun di antara anak panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah maka ia telah diberi Allah keimanan yang mendapatkan kelezatan di dalam hatinya." (HR Hakim)
2. Menjaga lisan dari bualan, dusta, gunjingan, ghibah, kekejian, perkataan kasar, fitnah, pertengkaran dan perdebatan, mengendalikannya dengan diam, menyibukkannya dengan zikrullah dan tilawah Al-Qur'an. Rasulullah SAW bersabda,"Sesungguhnya puasa tidak laina dalah perisai, apabila salah seorang di antara kamu sedang berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan pula bertindak bodoh, dan jika seseorang menyerangnya atau mencacinya maka hendaklah ia mengatakan sesungguhnya aku berpuasa" (muttafaq alaihi)
3. Menahan pendengaran dari mendengarkan setiap hal yang dibenci (makruh) karena setiap yang diharamkan perkataannya diharamkan pula mendengarkannya. Oleh sebab itu Allah SWT menyamakan antara orang yang mendengarkan dan orang yang memakan barang yang haram, sebagaimana firmanNya,"Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram." (Al-Maa'idah: 42)
4. Menahan berbagai anggota badan lainnya dari berbagai dosa, seperti menahan tangan dan kaki dari hal-hal yang dibenci, menahan perut dari berbagai syubhat pada waktu tidak puasa. Tidak ada artinya berpuasa, jika menahan makanan yang halal kalau
kemudian kita berbuka puasa dengan barang yang haram. Barang haram adalah racun yang menghancurkan agama, sedang barang halal adalah obat yang bermanfaat bila dikonsumsi sedikit tetapi berbahaya bila terlalu banyak. Tujuan berpuasa adalah mengurangi makanan yang halal tersebut. Rasulullah SAW bersabda,"Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga." (HR Ibnu Majah dan Nasa'i)
5. Tidak memperbanyak makanan halal sampai penuh perutnya pada saat berbuka puasa. Karena tidak ada wadah yang paling dibenci Allah SWT selain perut yang penuh dengan makanan halal.
6. Hendaknya setelah iftbar (berbuka puasa) hatinya tergantung dan terguncang antara cemas dan harap, sebab kita tidak pernah tahu apakah puasa kita diterima sehingga termasuk golongan MUQORROBIN atau ditolak sehingga termasuk orang-orang yang dimurkai. Sebaiknya kita terus memelihara perasaan demikian di akhir setiap ibadah yang baru kita laksanakan.
Akhirul kalam, saya kutipkan pula Hadist Qudsi,"Allah SWT berfirman,"Setiap amal perbuatan anak Adam melipat-gandakan kebaikan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, sebab puasa adalah milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan balasan kepadanya. Ia meninggalkan nafsu syahwat dan makan karena-Ku". (Muttafaq alaihi).
Oleh-oleh dari majalah TASBIH.
May Allah bleesing us all,May Allah bleesing us all, Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful
Semoga bermanfaaat,
Wassalam Alaikum Wr.Wb,
![]()
Copyright
� 2004 TheIslamTruth. All rights reserved.
Privacy Policy
- Terms of Service
- Guidelines
- Help