
“Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan yang mengabulkan segala permintaan hambanya. Hamba bersimpuh kepadaMu mempersembahkan doa setulus hati. Ya Allah, Berikanlah anakku kekuatan dalam menghadapi segala cobaan. Teguhkanlah hatinya dalam memilih perbuatan. Ya Allah, Saat malam datang, terangilah dia dengan cahaya terangmu agar dia tidak tersesat dalam gelap dan kembali menemukan jalan lurusMu. Ya Allah, Ketika siang menjelang, kuatkanlah hatinya agar dia dapat menjalani ujian yang ada dan menikmati indahnya dunia dengan petunjukMu. Ya Allah, Hamba hanyalah perantara bagiMu. Akan hamba kerahkan semua tenaga demi anak hamba. Ya Allah, Hamba hanyalah manusia biasa yang tidak dapat berbuat banyak. Hanya kepadaMu hamba meminta pertolongan. Kabulkanlah doa hamba ini. Aamiin.”
Ibu memohon kepada Allah dengan tetesan air mata yang perlahan-lahan turun membasahi pipinya. Saat itu aku tidak bisa berkata apa-apa. Kakiku terpaku, kata-kata itu membuat badanku gemetar. Perlahan air mataku mulai menetes. Aku mencoba menmbendung perasaan sedih itu tetapi aku tidak bisa. “Ibu...” Jerit lirihku. Aku langsung berjalan pelan menuju Ibu. Kakiku masih gemetaran. Tangisan pun tak dapat dibendung dari diriku. Air mata mengalir sangat deras. Ku peluk tubuhnya yang basah karena air mata dengan erat. Aku bersujud dihadapannya. “Ibu, maafin Galih.” Ucapku tersendu-sendu dengan air mata yang membasahi setiap sudut muka, memohon maaf kepada Ibu. “Iya nak.” Jawab Ibu dengan nada sedih dan nafas yang terengah-engah. “Shshsh, Galih nggak bisa bahagian Ibu. Maafin Galih bu. Galih terlalu banyak salah sama Ibu. Galih janji nggak akan nyusahin Ibu lagi. Maafin Galih bu.” Sambungku. “Iya nak, Ibu juga minta maaf kalo Ibu salah. Shsh, kamu harus bisa jaga diri ya nak. Selalu inget sama Allah. Jadilah anak yang shaleh, yang berbakti sama orang tuanya. Ibu sayang Galih.” Ucap Ibu dengan sangat sedih hingga meneteskan air mata yang begitu banyak. Subuh itu, aku menghabiskan waktu ku bersama Ibu. Berdua. Tak lama kemudian, terdengar suara ayam berkokok. Sang dewa matahari mulai menampakan sinarnya memberikan warna keemasan yang memancar dari balik jendela rumah. “Bu, Galih mandi dulu ya?” Ujarku. “Loh ini kan masih pagi, lih. Mau kemana kamu?” Jawab Ibu bingung. “Nggak ada apa-apa kok bu.” Jawabku biasa. “Oh ya, nanti Ibu bakalan pergi ke rumah temen Ibu.” “Ngapain bu?” Tanyaku bingung. “Ibu mau nganterin baju yang Ibu penjem darinya kemarin.” Jawab Ibu. Burung berkicau merdu membuat melodi syahdu pada pagi itu. Aku bersiap menuju tempat tes kemarin karena hari ini adalah hari pengumumannya. Ibu masih sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk sarapan. “Bu, Galih beragkat ya?” Sahutku. “Mau kemana nak? Nggak sarapan dulu?”Jawab Ibu dengan lantang. “Nggak bu.” Sambungku sambil mencium tangan Ibu dan langsung berlari keluar rumah. “Maafin Galih ya bu, Galih nggak kasih tahu Ibu kalau Galih ikut tes beasiswa SMA. Soalnya kalo Galih nggak lulus, Galih takut Ibu kecwa.” Ucapku dalam hati.
Angin mengantarkan ku ke tempat dimana aku mengikuti tes masuk SMA kemarin. Ramai. Seperti pasar yang tidak pernah sepi pelanggan. Aku melihat semua orang dengan berbagai macam gerak-gerik. Mengerumuni salah satu papan di sudut lapangan sekolah. Aku bergegas menuju kerumunan itu. Dengan penuh harapan. Ternyata mereka semua mengerumuni sebuah kertas penentuan hidup dan mati mereka. Di antara mereka ada yang senang, tetapi di antara mereka juga ada yang sedih. “Permisi.” Ucapku melewati kerumunan itu berusaha untuk menjadi yang terdepan. “Pengumuman Hasil Seleksi Beasiswa Masuk SMA. Dimana namaku? Mana?.” Ucapku tegang. Mataku tertuju pada huruf “G” dan kutelusuri sampai selesai, ternyata namaku diurutan ke-22 pada alfabetis itu. “Aku lulus. Yeee, Terima kasih ya Allah. Pasti Ibu sangat senang. Aku akan kasih ini sebagai kado untuknya. Kado di hari Ibu.” Jeritku dengan semanagat yang membara. Setelah melihat pengumuman itu, aku berlari kencang menuju rumah. Berniat untuk memberi tahu Ibu tentang kabar gembira itu. Luapan kegembiraan diwajahku tidak dapat dibendung. Perasaan ku menggebu-gebu. Angin berhembus kencang di tubuhku. Debu menempel bagaikan parasit di kakiku.
Sesampainya di depan rumah, perasaan ku berubah. Perasaan senangku tiba-tiba sirna. Aku bingung. Ramai. Semua orang mengerumuni rumahku. Raut muka sedih muncul dari setiap wajah mereka. “Apa yang terjadi?” Tanyaku kepada salah satu orang disana. Tetapi tidak satupun dari mereka menjawab pertanyaan ku. Aku langsung masuk ke dalam rumah. Semakin mendekat. Rintihan tangis terdengar. Langkahku tiba-tiba berhenti. Tubuhku membeku. Mataku berlinang air mata. Melihat sekujur tubuh yang kaku terbaring di tengah ruang tamu dirumahku. Wajahnya pucat. Matanya terpejam. Tanpa gerak. “ Ibuuuuuuuu.”Jeritku tegang. “Jangan tinggalin Galih bu. Galih nggak mau Ibu pergi. Galih masih butuh Ibu. Oh ya, Selamat hari Ibu. Ibu, Galih dapet beasiswa SMA loh bu. Ibu senengkan. Galih akan belajar dengan giat. Ibuuu.” Ucapku dengan air mata yang telah membasahi muka. Aku hanya terpaku disebelah mayat Ibuku yang telah terbujur kaku. Yang tidak akan bangkit lagi.
*** Memori itu masih membekas di pikiranku. Sekarang, aku hanya terduduk sepi di atas kursi roda Ibu. Melihat pemandangan alam yang indah. Ditemani dengan sang matahari yang selalu menjaga ku. Sendiri. (HR).
Indonesia is one of the countries that rich of the culture. One of the Indonesian’s cultures is Pantun. But, recently there are many of our cultures was claimed by another country.
Read MoreKran air adalah alat yang digunakan untuk menutup dan membuka katup saluran air sesuai dengan kebutuhan kita.
Read MoreMembahas tentang hobi, mungkin banyak sekali hobi yang saya milii, seperti menggambar, komputerisasi dan masih banyak lagi.
Read More