
Suasana sunyi saat hujan tak menghujam lagi. Hanya menyisakan butiran-butiran hujan pada sore itu. Menyegarkan suasana dan terhentak aku pada hal itu. Apakah peraduan ini kuutarakan pada titik hujan? Kuning kemerahan di ujung jalan mulai lenyap dan menuju suasana baru. Menghantarkan sang surya berdansa di tengah indahnya senja. Kukukuhkan jiwaku bersama sahabat sejatiku. Diselimuti kabut tipis yang dingin bersandar padanya. Mengisi setiap ruang hampa di teras rumah. Aku memutar kembali memoriku hanya untuk sebuah sinema kehidupan yang takkan terlupakan. Ibu bersamamu aku merangkai kasih, canda tawa dan rintihan tetesan sedih yang syahdu. Kau peluk lembut tubuhku. Menghilangkan rasa gelisah pada waktu itu.
*** Dengan gagah, sang fajar menampakkan wujudnya di ufuk timur. Memberi cahayanya melalui celah-celah jendela yang rapuh. Menghiasi setiap sudut kamar. Angin berhembus lembut menerpa tubuh. Memberikan sapaan hangat di jiwa. Memaksa untuk membuka lebar sang kelopak mata dan melihat indahnya dunia. “Galih, bangun nak… Makanan sudah siap.” Jerit lembut Ibuku dari ruang makan yang terngiang hingga kamar kecilku. “Iya bu, Galih bangun.” Sahutku dengan nafas yang masih belum stabil. Aku mulai menegakkan badanku yang masih terasa lemas. Mencoba untuk bertahan. Baju seragam sekolah yang akan aku pakai telah tergantung rapi di lemari. Ku langkahkan kakiku berporos ke pintu keluar kamar menuju ruang makan. Bertemu Ibu. “Pagi bu. Apa menu hari ini?” Sapaku. “Pagi anakku. Hari ini Ibu masak nasi goreng pedas kesukaanmu. Duduklah, ayo kita makan!” Jawabnya sembari aku menghampiri Ibu dan mencium lembut pipinya dengan penuh kasih sayang. “Wow, makasih bu.” Sambar ku dengan senang. Kami menikmati sarapan pagi pertama itu berdua. Ditengah ruang makan yang sederhana di rumah kami yang baru.
Aku dilahirkan di keluarga yang sederhana. Ayahku hanyalah seorang karyawan honorer yang terkadang gajinya tidak tetap. Hidupku bisa dibilang sempurna. Ibuku adalah Ibu rumah tangga yang anggun dan sopan. Setiap hari, dia selalu memberikan lelucon lucunya kepadaku hingga aku tertawa terbahak-bahak. Tapi belakangan ini, Ibuku mulai kehilangan semua hal itu. Perasaan riang, lelucon lucu, perlahan mulai memadam dari dirinya. Coba saja ayahku tidak tertidur waktu gempa itu, pasti dia tidak akan tewas tertimpa reruntuhan bangunan rumah lamaku dan hidupku tidak terasa pahit seperti ini. “Ayo habisin makannya.?” Ucap Ibu. “Iya bu. Oh ya, hari ini Ibu mau kemana?” Ujarku. “Ibu nggak kemana-mana kok. Kalo Ibu pergi, siapa yang bakalan jaga rumah?” “Hehe, Galih berangkat dulu ya bu” Sambungku terburu-buru sambil mencium tangan halus Ibu. “Mau kemana nak?” Jawab Ibu bingung. Aku baru saja melepas masa SMP ku. Meninggalkan semua kenangan indah bersama sahabat karib di masa itu. Membuka lembaran baru untuk melangkah kedepan menapaki masa SMA yang indah. Kutawarkan diriku di salah satu SMA ternama demi membahagiakan Ibuku yang telah lama sendiri. “Aku harus berhasil menjalani tes hari ini, demi dirimu Ibu.” Ucapku dalam hati sambil berlari meninggakan rumah indahku.
*** Pagi itu, celotehan kecil mulai terdengar ditelingaku. Memecahkan semua pikiran. Sebuah gedung tinggi tampak berdiri kokoh didepanku. Menatapku sinis. Anak-anak bermain dengan asiknya. Di tengah samudra pasir yang menyilaukan. “Wow, besar sekali sekolah ini. Ibu pasti bangga jika aku bisa menjadi salah satu murid di sekolah ini.” Pikirku dengan menatap tegas sekolah itu. Aku langsung mencari ruangan yang akan ku pakai untuk tes nanti. Tak lama kemudian suara lantang bel sekolah memecahkan suasana. Memaksa para semut untuk memasuki singgahsananya. Menjalani tes yang entah apa hasilnya nanti. Hanya detik jam yang terdengar, membuat suasana menjadi sunyi senyap. Di dalam ruangan tes, aku melihat berbagai macam ekspresi muka dari setiap peserta tes. Dengan semangat yang membara, mereka duduk di kursi rapi dengan tangan yang dilipat di atas meja menunggu santapan lezat yang harus mereka lahap dengan cermat. Cemas. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan. Meminta rahmat dan hidayahNya agar aku dapat melaksanakan tes itu dengan lancar. “Ya Allah, berilah rahmat dan hidayahMu kepada hambaMu ini ya Allah. Hamba ingin sekali masuk disekolah ini dengan beasiswa. Hamba ingin membuat Ibu bangga dan bahagia. Hamba ingin membalas semua pengorbanan yang telah Ibu lakukan demi hamba. Ya Allah, kabulkanlah doa hamba. Amin.” Ucapku dalam hati dengan lembut dan penuh perasaan. Tanganku mulai berdansa di atas lembaran kertas soal. Mengerahkan seluruh pasukan. Menggenjot habis otakku. Satu per satu soal terselesaikan. Kembali, aku melihat musuh-musuhku. Serius. Tak ada satupun dari mereka merasa lengah terhadap suasana sekitar yang sunyi mencekam. Begitupun diriku. Tak akan kusiakan sedetik waktu pun untuk berpikir. Demi mencapai tujuan yang mulia. “Lanjut, matematika.” Ucapku dengan semangat dan nada yang lembut. Jam telah menunjukkan pukul 12 siang, pertanda bahwa waktu tes telah selesai. Semua peserta mengumpulkan lembar jawaban ke pengawas dengan percaya diri yang tinggi. “Baiklah anak-anak, tes selesai. Kumpulkan lembar jawaban kalian. Dan sebelum meninggalkan kelas, cek semua peralatan kalian. Jangan sampai ada yang ketinggalan.” Seru pengawas tes kepada semua peserta. Aku berjalan kedepan, mengumpulkan lembar jawabanku. Berharap semua akan baik-baik saja. Ku langkahakan kakiku ke luar kelas. Suasana kembali seperti sebelumnya. Riuh pikuk. Sedih senang terpancar dari setiap muka peserta setelah tes itu selesai. Aku hanya bisa berharap angin dapat berhembus menyampaikan pesan ku kepada-Nya.
*** Peristiwa itu terjadi pada 22 Desember 2001, rekanku berteriak sampai aku menoleh “Bunda, selamat hari Ibu.” Sambil memeluk erat Ibunya. Baru ku menyadari bahwa hari ini adalah hari Ibu, dan aku terdiam. Sang surya masih belum menampakkan wujudnya. Suasana mencekam masih terasa sangat di dalam hati. Suara rintihan tiba-tiba terdengar di telinga hingga membangunkanku dari tidur nyenyakku. Ternyata, suara itu berasal dari kamar Ibuku. Dengan perlahan aku mendudukkan tubuhku dikasurku dan bertanya-tanya, ada apa sebenarnya. “Suara apa itu? Sepertinya suara Ibu. Apa yang terjadi pada Ibu?” Ucapku resah.
Perlahan aku mencoba untuk melangkahkan kakiku satu per satu tanpa membuat kegaduhan pada subuh hari itu. Udara dingin menusuk hingga ke jantung. Semakin mendekat. Rintihan itu semakin jelas. Aku membuka pintu kamar Ibu dengan perlahan. Ku arahkan mataku tepat ketengah kamar Ibu. Subhanallah, aku melihat Ibu dengan tubuh yang berbalut mukenah duduk dan mengadahkan tangannya untuk memohon sesuatu kepada Tuhan.(BERSAMBUNG)(HR).
Indonesia is one of the countries that rich of the culture. One of the Indonesian’s cultures is Pantun. But, recently there are many of our cultures was claimed by another country.
Read MoreKran air adalah alat yang digunakan untuk menutup dan membuka katup saluran air sesuai dengan kebutuhan kita.
Read MoreMembahas tentang hobi, mungkin banyak sekali hobi yang saya milii, seperti menggambar, komputerisasi dan masih banyak lagi.
Read More