Fenomena
kontroversial goyang 'ngebor' memicu protes dari
berbagai kalangan yang peduli moral, kreasi seni
bebas nilai dan trend joget sensual justru semakin
banyak dipertontonkan beberapa artis dengan penuh
rasa bangga
Mengumbar selera = mengikuti
hawa nafsu
Selera merupakan kecendrungan
dan pilihan hidup yang perlu disaring dan
dikendalikan. Sebagai kecenderungan jiwa, selera
dapat berupa kebaikan atau keburukan. Kecenderungan
kepada keburukan itulah yang seringkali disebut hawa
nafsu.
Saat
berbicara tentang hawa nafsu, Al Quran selalu
memformulasikan dalam bentuk pencelaan. Salah
satunya, hawa nafsu dianggap dapat menjadi
sesembahan selain Allah.
Al
Quran dan Sunnah juga mengingatkan agar kita tidak
mengikuti hawa nafsu, apalagi mengumbarnya.
Rasulullah saw, bersabda :
"Tidaklah
beriman salah seorang dari kalian, sehingga hawa
nafsunya (seleranya) tunduk terhadap apa yang aku
bawa."
Dalam
hadits lain dikatakan :
"Dikolong
langit ini, tidak ada tuhan yang disembah lebih
besar dosanya dalam pandangan Allah selain dari hawa
nafsu yang dituruti (diumbar)"
(HR.
Ahmad)
Selera
liar mampu mengubah jiwa manusia dari baik menjadi
buruk, tauhid menjadi syirik, atau dari sunnah
menjadi bid'ah. Oleh sebab itu para ahli bid'ah
disebut dengan hamba hawa nafsu. Allah Ta'ala
mengumpamakan para ahli bid'ah yang selalu
memperturutkan hawa nafsunya dan seleranya
mengubah-ubah ketetapan ilahi dengan tamsil anjing,
keledai atau binatang ternak (QS. Al A'raf : 175 -
177 dan QS. Al Mudatstsir : 50 - 51)
Allah
Ta'ala memperingatkan Nabi Muhammad saw agar
istiqomah dan menolak selera sesat dan hawa nafsu
orang-orang musyrik. Allah Ta'ala berfirman :
"Maka
karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan
tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan
janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah
: "Aku beriman kepada semua kitab yang
diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya
berlaku adil diantara kamu sekalian."
(QS.
Asy Syura : 15)
Juga
agar tidak mengikuti hawa nafsu orang-orang Yahudi
dan Nashrani (QS. Al Baqarah : 120 dan 145). Allah
swt juga memperingatkan jebakan hawa nafsu dalam
penegakan hukum (QS. An Nisa : 135)
Mengumbar
selera dengan memperturutkan hawa nafsu akan
meyesatkan seseorang dari jalan Allah, menyebabkan
datangnya kutukan dan azabNya (QS. Shad : 26) dan
dianggap sebagai orang yang zhalim (QS. Ar Ruum ayat
29). Rasulullah saw. juga memperingatkan
bahaya mengumbar hawa nafsu :
"Ada
tiga perkara yang membinasakan dan tiga perkara lain
yang menyelamatkan. Adapun yang membinasakan yaitu :
kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan 'ujub
(bangga) terhadap diri sendiri. Sedangkan yang
menyelamatkan yaitu : bertaqwa kepada Allah, baik
dalam keadaan rahasia atau terang-terangan, adil
ketika marah atau ridha (senang) dan berlaku
sederhana, baik ketika miskin ataupun kaya"
(HR.
Ahmad)
Karakter
seseorang juga ditentukan oleh kemampuannya dalam
memenej seleranya :
Rasulullah
saw bersabda :
"Orang
yang kuat (cerdas) adalah orang yang dapat
mengendalikan hawa nafsunya dan yang beramal untuk
kepentingan hidup setelah mati. Sedangkan orang yang
lemah (bodoh) adalah orang yang mengikuti keinginan
hawa nafsunya dan hanya dapat mengharapkan kebaikan
Allah (HR. Turmudzi)
Karena
itu manajemen selera juga mencerminkan keimanan
seseorang. Rasulullah saw bersabda :
"Tidak
sempurna iman seorang mu'min hingga keinginan hawa
nafsunya mengikuti apa (wahyu) yang aku datangkan
untuk kalian."
(HR.
Abu Dawud)
Kesulitan
menata selera
Seseorang akan
cenderung memperturutkan hawa nafsunya karena
beberapa sebab, antara lain, tidak terbiasa melatih
diri mengendalikan selera sejak kecil, lingkungan
keluarga, media dan pergaulan dan minimnya pembinaan
rohani dan keagamaan.
Selera
yang wajar sekalipun, bila tidak dikelola dapat
menjadi dosa bila menyebabkan seseorang lalai
terhadap agama dan kewajiban kepada Allah swt.
Firman Allah swt :
"Katakanlah
: "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu,
saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu,
harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang
kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat
tinggalmu yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai
daripada Allah, RasulNya dan jihan di jalanNya,
tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.
Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada
orang-orang fasik."
(QS.
At Taubah : 24)
Resiko
Kegagalan Mengelola Selera
Resiko mengumbar hawa nafsu antara lain mengurangi
ketaatan kepada Allah, mengeraskan bahkan mematikan
hati manusia. Orang yang mengumbar hawa nafsunya
juga meremehkan dosa-dosa yang telah diperbuatnya.
Rasulullah saw bersabda :
"Sesungguhnya
seorang mu'min melihat dosa-dosanya bagai orang yang
duduk dibawah gunung yang ditakutinya akan jatuh
menimpanya. Sedangkan orang durhaka melihat
dosa-dosanya bagai melihat seekor lalat lewat di
depan hidungnya ..."
(HR.
Muslim)
Akibat
lainnya, seseorang tidak akan mendaptkan hidayah ke
jalan yang lurus. Allah SWT berfirman, "Maka
pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa
nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya
sesat berdasarkan ilmu-Nya. Allah telah mengunci
mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutup
atas penglihatannya. Maka siapkah yang akan
membiarkannya sesat?. Mengapa engkau tidak mengambil
pelajaran." (Q.S Al- Jatsiyah: 23)
Kiat
Islam mengelola selera
Islam
mengajarkan kita untuk dapat menghindari, atau
menyembuhkan penyakit memperturutkan hawa nafsu
dengan cara mengingat bahwa kwbahagiaan hakiki hanya
diperoleh dengan mengikuti syariat Allah. Allah swt
berfirman,
"...
Maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak
akan sesat dan tidak akan celaka." (Q.S
Thaha;123) "... Maka Barangsiapa mengikuti
petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas
mereka dan tidak pula mereka bersedih hati." (Q.S.
Al-Baqarah:8)
Kita
juga diajarakan untuk meminta pertolongan kepada
Allah. Maha benar Allah yang berfirman dalam hadist
qudsi,
"Wahai
hamba-Ku, kamu semua adalah orang-orang yang
terserat, kecuali orang yang Aku beri petunjuk.
Mintalah petunjuk kepadaku, niscaya kamu akan Aku
berikan petunjuk." (HR> Muslim).
Dalam
hubungannya dengan pola konsumsi, selera juga harus
dikendalikan. Islam telah memberikan rambu-rambu
dalam berkonsumsi. Setidaknya terdapat dua batasam
yaitu dalam hal sifat dan cara serta dalam hal
kuantitas atau ukuran.
Dalam
sifat dan cara, seorang muslim semestinya sensitif
terhadap sesuatu yang dilarang oleh Islam.
Mengkonsumsi produk-produk yang jelas keharamannya
harus dihindari. Seorang muslim harus senantiasa
mengkonsumsi sesuatu yang bermanfaat, sehingga jauh
dari kesia-siaan (QS.17:27) apalagi dosa.
Dalam
pembatasan kuantitas. Islam melarang umatnya berlaku
kikir, atau membelanjakan harta secara
berlebih-lebihan (boros) (QS 25 : 67, 5 : 87). Dalam
mengkonsumsi, Islam sangat menekankan kewajaran dari
segi jumlah, yakni sesuai dengan kebutuhan (hajah/need)
secara proporsional. Dalam bahasa yang indah Al
Quran mengungkapkan "dan janganlah kamu jadikan
tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu
terlalu mengulurkannya ..."(QS 17:29)
Islam
juga melarang seseorang hidup bermewah-mewahan dan
berlebih-lebihan atau israf (QS 56:41-46). Kemewahan
yang dimaksud menurut Yusuf Al Qaradhawi adalah
tenggelam dalam kenikmatan hidup berlebih-lebihan
dengan berbagai sarana yang menyenangkan. Selain
menyimpang dari syariat Allah, israf juga tidak
sesuai dengan akal sehat, baik dalam makan, minum,
berpakaian dan lain-lain.
Jalan
menuju ridha Allah dan surga memang bukanlah jalan
yang gampang tetapi penuh dengan pengorbanan jiwa.
Maka, jalan ke surga bukanlah dengan kemewahan dan
hidup santai, tetapi dengan kerja keras dan hidup
dalam kesederhanaan.
Allah
swt berfirman :
"Apakah
kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal
belum datang kepadamu cobaan sebagaimana yang
menimpa orang-orang terdahulu sebelum kamu ? Mereka
ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta
digoncangkan dengan berbagai macam cobaan, sehingga
berkatalah Rasul dan orang-orang beriman menanyakan
"Kapan datangnya pertolongan Allah ?"
Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat
dekat."
(QS.
Al BAqarah : 214)
Selera
Mukmin Selera Mulia
Bersikap
selektif merupakan salah satu inti ajaran Islam.
Orang beriman hanya akan berselera terhadap segala
hal yang disukai Allah dan rasulNya meskipun pada
mulanya ia tidak menyukainya. Nabi bersabda : "Seorang
mu'min tidak akan puas untuk selalu mengejar segala
kebaikan yang bernilai", "Sesungguhnya
Allah Maha Mulia dan menyukai segala perkara yang
mulia serta membenci segala hal yang nista dan
hal-hal rendahan."
Allah
berfirman : "Dan (orang-orang beriman) itu
adalah yang berpaling dari segala hal yang sia-sia
(QS. Al Mu'minun : 3)
Wallahu
A'lam Wa Billahit Taufiq Wal Hidayah
|