FORUM SILATURAHMI REMAJA DAN ANAK MUSLIM (FOSIL RAM) BANDUNG ...... AJANG KREATIVITAS REMAJA ...... CHANGE OR DIE ....

 

FORUM SILATURAHMI

REMAJA DAN ANAK MUSLIM

TRAINING FOR MENTOR ANGKATAN I ... 21-22 dan 29 JUNI 2003 .... PENDAFTARAN TFM I KLIK DISINI
KISAH HIKMAH

BULETIN

ULIL ALBAB

ARTIKEL ISLAM DUNIA REMAJA MENTORING ALA FOSIL RAM BERITA
PROFIL
 
PROGRAM KERJA
TRAINING FOR MENTOR (TFM) ANGKATAN I
OASIS SMP 35

BINTALIS 

SMU PASUNDAN 3

SEMICIL
 
DATABASE MENTOR
 

LINK LAIN

 

MATERI PENGAYAAN MENTORING UNTUK MENTOR DAN TUTOR

Manajemen Selera

DR. SETIAWAN BUDI UTOMO

KaderisasiFenomena kontroversial goyang 'ngebor' memicu protes dari berbagai kalangan yang peduli moral, kreasi seni bebas nilai dan trend joget sensual justru semakin banyak dipertontonkan beberapa artis dengan penuh rasa bangga

 

Mengumbar selera = mengikuti hawa nafsu

Selera merupakan kecendrungan dan pilihan hidup yang perlu disaring dan dikendalikan. Sebagai kecenderungan jiwa, selera dapat berupa kebaikan atau keburukan. Kecenderungan kepada keburukan itulah yang seringkali disebut hawa nafsu.

 

Saat berbicara tentang hawa nafsu, Al Quran selalu memformulasikan dalam bentuk pencelaan. Salah satunya, hawa nafsu dianggap dapat menjadi sesembahan selain Allah.

 

Al Quran dan Sunnah juga mengingatkan agar kita tidak mengikuti hawa nafsu, apalagi mengumbarnya. Rasulullah saw, bersabda :

 

"Tidaklah beriman salah seorang dari kalian, sehingga hawa nafsunya (seleranya) tunduk terhadap apa yang aku bawa." 

 

Dalam hadits lain dikatakan :

 

"Dikolong langit ini, tidak ada tuhan yang disembah lebih besar dosanya dalam pandangan Allah selain dari hawa nafsu yang dituruti (diumbar)"

(HR. Ahmad)

 

Selera liar mampu mengubah jiwa manusia dari baik menjadi buruk, tauhid menjadi syirik, atau dari sunnah menjadi bid'ah. Oleh sebab itu para ahli bid'ah disebut dengan hamba hawa nafsu. Allah Ta'ala mengumpamakan para ahli bid'ah yang selalu memperturutkan hawa nafsunya dan seleranya mengubah-ubah ketetapan ilahi dengan tamsil anjing, keledai atau binatang ternak (QS. Al A'raf : 175 - 177 dan QS. Al Mudatstsir : 50 - 51)

 

Allah Ta'ala memperingatkan Nabi Muhammad saw agar istiqomah dan menolak selera sesat dan hawa nafsu orang-orang musyrik. Allah Ta'ala berfirman :

 

"Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah : "Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu sekalian." 

(QS. Asy Syura : 15)

 

Juga agar tidak mengikuti hawa nafsu orang-orang Yahudi dan Nashrani (QS. Al Baqarah : 120 dan 145). Allah swt juga memperingatkan jebakan hawa nafsu dalam penegakan hukum (QS. An Nisa : 135)

 

Mengumbar selera dengan memperturutkan hawa nafsu akan meyesatkan seseorang dari jalan Allah, menyebabkan datangnya kutukan dan azabNya (QS. Shad : 26) dan dianggap sebagai orang yang zhalim (QS. Ar Ruum ayat 29). Rasulullah saw. juga memperingatkan  bahaya mengumbar hawa nafsu :

 

"Ada tiga perkara yang membinasakan dan tiga perkara lain yang menyelamatkan. Adapun yang membinasakan yaitu : kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan 'ujub (bangga) terhadap diri sendiri. Sedangkan yang menyelamatkan yaitu : bertaqwa kepada Allah, baik dalam keadaan rahasia atau terang-terangan, adil ketika marah atau ridha (senang) dan berlaku sederhana, baik ketika miskin ataupun kaya"

(HR. Ahmad)

 

Karakter seseorang juga ditentukan oleh kemampuannya dalam memenej seleranya :

 

Rasulullah saw bersabda :

 

"Orang yang kuat (cerdas) adalah orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya dan yang beramal untuk kepentingan hidup setelah mati. Sedangkan orang yang lemah (bodoh) adalah orang yang mengikuti keinginan hawa nafsunya dan hanya dapat mengharapkan kebaikan Allah (HR. Turmudzi)

 

Karena itu manajemen selera juga mencerminkan keimanan seseorang. Rasulullah saw bersabda :

 

"Tidak sempurna iman seorang mu'min hingga keinginan hawa nafsunya mengikuti apa (wahyu) yang aku datangkan untuk kalian."

(HR. Abu Dawud)

 

Kesulitan menata selera

Ses
eorang akan cenderung memperturutkan hawa nafsunya karena beberapa sebab, antara lain, tidak terbiasa melatih diri mengendalikan selera sejak kecil, lingkungan keluarga, media dan pergaulan dan minimnya pembinaan rohani dan keagamaan.

 

Selera yang wajar sekalipun, bila tidak dikelola dapat menjadi dosa bila menyebabkan seseorang lalai terhadap agama dan kewajiban kepada Allah swt. Firman Allah swt :

 

"Katakanlah : "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggalmu yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah, RasulNya dan jihan di jalanNya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang fasik."

(QS. At Taubah : 24)

 

Resiko Kegagalan Mengelola Selera

Resiko mengumbar hawa nafsu antara lain mengurangi ketaatan kepada Allah, mengeraskan bahkan mematikan hati manusia. Orang yang mengumbar hawa nafsunya juga meremehkan dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Rasulullah saw bersabda :

 

"Sesungguhnya seorang mu'min melihat dosa-dosanya bagai orang yang duduk dibawah gunung yang ditakutinya akan jatuh menimpanya. Sedangkan orang durhaka melihat dosa-dosanya bagai melihat seekor lalat lewat di depan hidungnya ..."

(HR. Muslim)

 

Akibat lainnya, seseorang tidak akan mendaptkan hidayah ke jalan yang lurus. Allah SWT berfirman, "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya. Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka siapkah yang akan membiarkannya sesat?. Mengapa engkau tidak mengambil pelajaran." (Q.S Al- Jatsiyah: 23)

 

Kiat Islam mengelola selera

 

Islam mengajarkan kita untuk dapat menghindari, atau menyembuhkan penyakit memperturutkan hawa nafsu dengan cara mengingat bahwa kwbahagiaan hakiki hanya diperoleh dengan mengikuti syariat Allah. Allah swt berfirman, 

 

"... Maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." (Q.S Thaha;123) "... Maka Barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati." (Q.S. Al-Baqarah:8)

 

Kita juga diajarakan untuk meminta pertolongan kepada Allah. Maha benar Allah yang berfirman dalam hadist qudsi, 

 

"Wahai hamba-Ku, kamu semua adalah orang-orang yang terserat, kecuali orang yang Aku beri petunjuk. Mintalah petunjuk kepadaku, niscaya kamu akan Aku berikan petunjuk." (HR> Muslim).

 

Dalam hubungannya dengan pola konsumsi, selera juga harus dikendalikan. Islam telah memberikan rambu-rambu dalam berkonsumsi. Setidaknya terdapat dua batasam yaitu dalam hal sifat dan cara serta dalam hal kuantitas atau ukuran.

 

Dalam sifat dan cara, seorang muslim semestinya sensitif terhadap sesuatu yang dilarang oleh Islam. Mengkonsumsi produk-produk yang jelas keharamannya harus dihindari. Seorang muslim harus senantiasa mengkonsumsi sesuatu yang bermanfaat, sehingga jauh dari kesia-siaan (QS.17:27) apalagi dosa.

 

Dalam pembatasan kuantitas. Islam melarang umatnya berlaku kikir, atau membelanjakan harta secara berlebih-lebihan (boros) (QS 25 : 67, 5 : 87). Dalam mengkonsumsi, Islam sangat menekankan kewajaran dari segi jumlah, yakni sesuai dengan kebutuhan (hajah/need) secara proporsional. Dalam bahasa yang indah Al Quran mengungkapkan "dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya ..."(QS 17:29)

 

Islam juga melarang seseorang hidup bermewah-mewahan dan berlebih-lebihan atau israf (QS 56:41-46). Kemewahan yang dimaksud menurut Yusuf Al Qaradhawi adalah tenggelam dalam kenikmatan hidup berlebih-lebihan dengan berbagai sarana yang menyenangkan. Selain menyimpang dari syariat Allah, israf juga tidak sesuai dengan akal sehat, baik dalam makan, minum, berpakaian dan lain-lain.

 

Jalan menuju ridha Allah dan surga memang bukanlah jalan yang gampang tetapi penuh dengan pengorbanan jiwa. Maka, jalan ke surga bukanlah dengan kemewahan dan hidup santai, tetapi dengan kerja keras dan hidup dalam kesederhanaan.

 

Allah swt berfirman :

 

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana yang menimpa orang-orang terdahulu sebelum kamu ? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan berbagai macam cobaan, sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman menanyakan "Kapan datangnya pertolongan Allah ?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat."

(QS. Al BAqarah : 214)

 

Selera Mukmin Selera Mulia

 

Bersikap selektif merupakan salah satu inti ajaran Islam. Orang beriman hanya akan berselera terhadap segala hal yang disukai Allah dan rasulNya meskipun pada mulanya ia tidak menyukainya. Nabi bersabda : "Seorang mu'min tidak akan puas untuk selalu mengejar segala kebaikan yang bernilai", "Sesungguhnya Allah Maha Mulia dan menyukai segala perkara yang mulia serta membenci segala hal yang nista dan hal-hal rendahan."

 

Allah berfirman : "Dan (orang-orang beriman) itu adalah yang berpaling dari segala hal yang sia-sia (QS. Al Mu'minun : 3)

 

Wallahu A'lam Wa Billahit Taufiq Wal Hidayah

 

Statistik

 

Redaksi

 

Info Iklan

BROKEN LINK ?!! PLEASE REPORT TO US

© 2003 by BINA TARBIYAH Coorporation

Hosted by www.Geocities.ws

1