By : Fatimah Zuhriya Mubarokah

Aku tahu jatuh itu memang sakit. Tapi, aku baru merasakannya akhir-akhir ini. Ternyata, jatuh itu benar-benar sakit dan memang sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata yang cukup sederhana, karena bagiku itu sedikit kompleks. Mau tahu kapan aku merasakannya itu?
Ini semua berawal dari kelalaianku ketika aku terlena dengan semua yang ada. Aku seakan manusia yang baru lahir ke dunia yang belum mengerti apa-apa, yang begitu ling-lung dengan semua keadaan pada saat itu. Aku seperti dibujuk dan sialnya aku mengikutinya begitu saja. Apa gerangan yang terjadi kepada ku saat itu? Aku pun tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Mungkin ini yang dinamakan hukum alam. Aku juga kurang mengerti dengan semua ini.
Aku jatuh dan benar-benar merasakan sakitnya ketika aku mendapati semua yang ada teramat jauh dari apa yang aku harapkan. Semua itu serasa mencambuk diriku hingga aku tersadar. Semua yang pernah terjadi saat itu sungguh bukan apa yang aku inginkan, justu berbanding terbalik. Aku sempat sejenak berpikir dan sungguh cukup sulit bagiku untuk menelaah semua ini. Pikiranku seakan begitu sulit tuk dijalankan sesuai kodratnya. Pikrankupun seakan tersendat dan berhenti sesaat tanpa alasan yang jelas. Begitu anehnya bagiku ketika itu.
Begitu sialnya diriku yang aku rasa aku kurang mengerti apa itu hidup ketika itu. Memang terdengar cukup aneh mengingat aku sudah lama terlahir di bumi ini. Tapi, seperti yang sudah tertulis sebelumnya, aku seperti anak manusia yang baru lahir sehingga aku seperti belum mengerti apa itu hidup sehingga kau terlena dengan semua yang ada begitu mudahnya. Mengenai lalainya diriku, mungkin itu memang salahku yang tak pernah bisa dan mampu tuk melihat dunia ini dengan sempurna. Mungkin salahnya, aku hanya melihat dunia ini beserta kehidupannya dengan sebelah mata saja yang benar penuh dengan kekeliruan yang teramat dalam.
Ini juga menjadi salahku ketika aku baru menyadari semua hal yang terjadi ini ialah karena ulahku sendiri. Aku menyadarinya, begitu besar lingkaran kesalahan yang kuperbuat dan sekarang lingkaran itu menjadi lingkaran yang sempurna, yang mungkin cukup sulit tuk dihapuskan. Sekarang, tak ada lagi pilihan. Aku harus mencari dan menemukan cara untuk menghapus lingkaran kesalahan itu walau aku yakin itu cukup sulit. Dan tak mengapa bagiku walaupun itu hanya bisa terhapuskan sedikit demi sedikit karena hampir tidak mungkin jika dapat terhapus keseluruhan secara sempurna dalam sekejap saja.
Memang benar kata pepatah yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita, penyesalan itu pasti datang di akhir. Aku begitu sangat menyesal mengingat semua ini terjadi karena ulah dan kesalahanku sendiri yang termakan oleh rayuan dan bujukan yang entah aku pun belum mengerti. Tapi sudahlah, biarpun aku mengungkit-ungkit semua ini, itupun tak akan bisa menghapus lingkaran kesalahan yang pernah kubuat dengan sangat menyesal itu.
Aku pun masih bertanya-tanya cara apa yang tepat untuk bisa menghapus lingkaran itu. Apa mungkin dapat terhapus dengan penghapus kesalahan yang terbuat dari penyesalan hati, kehati-hatian dan ditambah dengan kebaikan tulus dari hati serta semangat yang menggebu-gebu? Mungkin itu dapat membantuku untuk menghapus lingkaran itu secara perlahan namun pasti. Tapi unsur yang terpenting bagiku mungkin ialah kemauan dan keinginan serta tekad yang kuat untuk terus berusaha menghapus lingkaran itu. Aku semakin yakin tuk bisa menghapusnya perlahan-lahan. Dan satu lagi, semua unsur itu harus berasal dari hati yang bersih dan menyatu membentuk penghapus yang elastis agar dapat terhapus secara sempurna.
Ada satu hal yang sangat aku takutkan. Ketika aku tidak mempunyai motivasi bahkan semangat untuk menghapus lingkaran itu dan berusaha untuk menggantinya dengan ukiran keberhasilan yang permanen dan dilindung oleh ratusan juta bahkan lebih semangat dan motivasi yang tak henti-hentinya mengelilingi ukiran itu sebagai pagar pelindung agar tak kan pernah terhapus. Namun, aku masih belum mempunyai bekal semangat dan motivasi yang cukup bahkan hingga sekarang.
Ya, ini lah tugasku sekarang tuk mencari dan mengumpulkan semangat-semangat itu. Aku harus mendapatkannya dari dalam diriku sendiri dahulu. Sebenarnya, aku pun masih belum mempunyai semangat yang kuat dalam diri, namun aku akan berusaha untuk terus membangkitkan semangat itu. Aku harus membangun pembangkit semangat tenaga cinta. Karena ketika tenaga cinta itu bekerja pada suatu hal, maka ketika itu pula semangat pun akan bangkit dengan sendirinya. Aku harus berusaha untuk membangun pembangkit semangat tenaga cinta itu sendiri.
Jadi, yang harus aku lakukan ialah menguatkan niat, kemauan dan tekad yang kuat. Selanjutnya ialah mengumpulkan semangat serta motivasi dengan cara membangun pembangkit semangat tenaga cinta yang berasal dari cinta yang ada pada diriku sendiri. Dari inilah, aku bisa mengumpulkan semangat dan bisa membuat penghapus kesalahan yang terbuat dari penyesalan hati, kehati-hatian dan ditambah dengan kebaikan tulus dari hati serta semangat yang menggebu-gebu. Aku pun akan bisa menghapus lingkaran kesalahan perlahan namun pasti. Selanjutnya, tugasku untuk menggantinya ligkaran yang telah terhapus itu dengan ukiran keberhasilan yang permanen dan dilindung oleh ratusan juta bahkan lebih semangat dan motivasi yang tak henti-hentinya mengelilingi ukiran itu sebagai pagar pelindung agar tak kan pernah terhapus.
Miracle is another name for hardwork