Kisah Kecil Masa SMP

Posted 2013 by Edi Wijaya

Perjalanan menuju lumpur

    4 Januari 2011, hanya beberapa hari sesudah tahun baru. Hari itu, mata hari sangat terik sekali hingga menyengat kulit siapa saja yang tersentuh olehnya. Aku pun tertidur pulas didepan TV yang memandangiku yang mengoceh tentang apa saja yang mungkin aku tidak tau.

    Tiittt..... Tiiitttt...... HPku berbunyi bagaikan ingin mengatakan padaku kalau ada pesan dari temanku. Dengan muka yang kusut, akupun mengangkat HP itu. "Edi, Ade ulang tahun. Kau mau ikutan gak, kalau mau aku tunggu didekat pohon rumahmu jam 1 nanti. Yopi" bunyi pesan di HPku itu. "Apaa???? Ade ulang tahun? Kok gak ngasih kabar sih kemarin. Mana kado belum dipersiapkan" ujarku merespon pesan di HPku secara spontan. Akupun langsung menuju kamar untuk mengganti bajuku. "Huh, udah keren nih, mendingan langsung kedepan. Kali aja Yopi udah nunggu didepan". Benar sekali, Yopi telah menunggu didepan pohon rumahku. "Motor aku dipakai tanteku" ujarku kepada Yopi. "Ya udah, naik aja sini. Biar cepat. Ade udah nunggu dirumahnya" balasnya kepadaku. Akupun langsung menuju dan naik ke motornya Yopi.

    Terlihat dari kejauhan motor-motor anak-anak ABG berjejer didepan rumah seseorang yang kusangka rumah Ade. "Yop, rumah Ade yang mana yah?" ujarku kebingungan. "Yang ada banyak motor didepannya itu dong" balas Yopi kepadaku. Maklum, aku jarang keluar, banyak rumah temanku yang aku belum tau.

    "Eh, kak Edi datang, silahkan masuk" kata Ade sambil mempersilahkan aku masuk. Ade memang memanggil aku kakak, maklum, aku lebih tua dari dia."Silahkan kak, ambil tekwannya, jangan sungkan-sungkan makannya yah". "Kalau aku embat semuanya, emang gak apa-apa ya?" kata dalam hati. Aku pun langsung makan makanan yang sudah terhidang didepan atas meja makan.

    "Huah, kenyang" sahutku karena sudah kenyang. "Bosan nih, ada ide buat seru gak?" lanjutku. "Jalan-jalan yuk!" sambung Ade. "Boleh juga idenya. Tapi kemana?" tanya Yopi. "Mari kita hunting ke CGC" jawab Ade. "Setuju!" jawab aku dan Yopi serentak. Kamipun bergegas keluar dari rumah Ade menuju arah motor. Ternyata beberapa teman Ade juga ikut, jadi ada 5 motor yang berbaris dengan rapinya melewati tikungan jalan rumah ade dengan pelan-pelan, salah satunya aku yang dibongceng oleh Yopi. "Erlen, mau ikutan gak hunting ke CGC" tanya Ade kepada Erlen saat Erlen kami temui disalah satu door smeer yang akan kami lintas. "Boleh" jawab Erlen yang langsung naik kemotornya yang bersih karena baru saja habis dicuci. Kamipun menuju keluar dari jalan besar Perumnas Talang Kelapa menuju CGC.

    "Breenggg....." suara motor rombongan kami yang berbondong-bondong bersama menuju CGC. Sepertinya keadaan semakin membrutal karena jalan didepan kosong. Para rombongan kami menarik gas dan semakin kencang. Aku melihat spedometer Yopi menunjukkan angka 90. "Beeehhh...... Kencang sekali!" sentakku kaget melihat angka spedometer yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Tekanan angin semakin kuat seiring motor Yopi melaju kencang, aku merasa goncangan aku aku perkirakan berasal dari tekanan angin akibat motor kami terlalu kencang. Aku cukup cemas karena tidak biasanya aku naik motor sekencang ini.

    Terlihat kuda CGC dari kejauhan, sepertinya hanya tinggal beberapa detik lagi kecemasan ini berlangsung. "Kita hampir sampai!" sahut Yopi. Tak lama kemudian, kami melewati kuda-kuda CGC yang sepertinya menyalami kami ketika masuk ke kawasan elit itu. Motor Yopi kian melambat, lambat, lambat dan stop. "Sampai juga kita disini" ujarku. "Iya yah, jadi kita mau ngapain lagi" jawab Ade. "Mutar-mutar sekali di sekitar sini dan pulan" jawab salah satu teman Ade yang aku tidak kenal. Kami pun melanjukan perjalanan dengan berkeliling satu kali dan menuju keluat dari kawasan elit itu.

    Ketika disimpang lampu merah itu, tak jauh dari sana kami melihat ada polantas yang berdiri didepan. "Ada polisi! Balik arah!" teriakku spontan. Aku tidak tau apakah teriakan aku terdengar ketelinga polisi itu tapi yang pasti terdengar ke telinga teman-teman ku. Kami pun melawan aruh menuju kembali ke CGC. Ku melihat wajah rombongan kami yang cemas, dan mungkin wajahku juga terlihat cemas.

    "Jadi kita mau kemana nih, didepan ada polisi, kalau lewat KM12 mungkin juga ada polisi" kata Ade. "Ada jalan rahasia di pinggir sana" Ade menunjuk ke arah tanah yang belum teraspal pada saat itu. "Ya udah, terobos aja dari pada ditilang, orang tua dirumah nanti marah-marah" kata Erlen. Kamipun berangkat menuju ke arah jalan itu. Terlihat banyak bangunan yang masih dalam proses pembangunan yang tertutupi rumputan dari kejauhan mataku memandang. Kami melewati berbagai becekan lumpur melalu pinggirannya serta jalan naik turun yang terberkesudahan.

    Trennggg....... Tantangan berat didepan mata, jalanan lumpur yang siap untuk menarik ban dan menelenggelamkan yang melintasnya terbentang sudah menunggu. Diryon datang dengan ide cemerlangnya, dia turun dari motornya untuk menutupi becek lumpur itu dengan beberapa kayu panjang dan ranting pohon didepannya. "Udah selesai, lanjut!" kata Diryon. Beberapa bangunan yang masih dalam tahap konstruksi terlihat seiring kami melanjukan perjalanan dan melewati pepohonan, sepertinya pinggiran kami adalah hutan. Pohon demi pohon kami lewati. Terlihat sudah rumah-rumah orang.

    "Fhiiuuwww..... Akhirnya sampai juga" kata Yopi. Kamipun berpisah kerumah masing-masing, terlihat ban motor teman-temanku penuh lumpur akibat berbagai tantangan yang kami lewati. Yopi mengantarkan aku hingga  kedepan rumahku. "Terima kasih!" kataku kepada Yopi sambil turun dari motornya. "Sama-sama" kata Yopi membalasku. "Leganya bisa pulang dengan aman" kataku dalam hati sambil mencoba untuk membuang ingatan kejadian siang tadi. Tak terasa jam di tanganku menunjukkan angka lima, sudah sangat sore. Akupun kembali kedepan TV sambil memainkan game di Nintendo DS adikku seolah tak ada kejadian apapun yang terjadi tadi siang.

    Sungguh momen yang tak terlupakan bagiku. Andai momen itu bisa diputar lagi. Namun, semua sudah berlalu lebih dari 2 tahun yang lalu. Mereka sudah banyak yang berpencar. Ada yang sudah keluar kota Palembang, ada yang beda sekolah, dan ada yang lagi di asrama seperti aku sekarang ini. Namun, aku berharap suatu saat kami bisa bertemu untuk reunian kembali.