 |
| Info Artikel Politik |
|
Mengendalikan Nafsu Politik
Adil - Kiranya tidak perlu diulangi lagi bahwa kekuasaan politik selalu cenderung untuk
korup. Dan kekuasaan politik yang absolut atau tidak terkendalikan, hampir pasti akan
melahirkan tindakan korupsi secara absolut atau mutlak pula. Kearifan seperti ini
tampaknya perlu kita cermati dalam suasana bangsa Indonesia yang sedang bersama-sama
membangun demokrasi politik, sosial, ekonomi, dan hukum agar tercapai keadilan
multidimensional atau keadilan komprehensif.
Di samping itu, kearifan lain adalah bahwa tidak pernah dalam sejarah dunia --sejak Nabi
Adam diutus ke muka bumi, yang menunjukkan bahwasannya kekuasaan yang dipenuhi dengan
nafsu angkara dan keserakahan akan mampu bertahan lama dan dapat bermanfaat buat
masyarakat banyak.
Terlalu banyak contoh dalam sejarah para penguasa di masa lampau, yang karena tidak mampu
mengendalikan nafsu dan keserakahannya maka mereka justru menebar penderitaan bagi
bangsanya. Dan pada akhirnya para pemimpin yang lupa diri itu jatuh dari kekuasaannya
secara tragis. Tidak perlu jauh-jauh, contoh demikian itu pun terjadi di negara kita dalam
tempo yang belum terlalu lama.
Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah majalah asing, yang memuat ulasan singkat
tentang bagaimana penguasa selalu datang dan pergi. Bahkan penguasa yang mencoba bersikap
dan berbuat demokrastis pun, biasanya juga ada batas atau limit --di mana pasti setelah
batas atau limit itu tercapai akan muncul kekuasaan politik baru yang menggantikannya.
Bila para pembaca ADIL mencermati dua hikmah atau kearifan politik tersebut, maka Anda
semua mengetahui bahwa sejauh yang saya lakukan saya selalu meneriakkan perlunya setiap
keserakahan (terutama dalam bentuk korupsi, kolusi, kroniisme, dan nepotisme) harus
dihentikan. Selanjutnya diganti dengan pola permainan politik yang lebih indah, yang
berdasarkan transparansi, dan jauh dari nafsu serta keserakahan yang bagi makhluk bernama
manusia ini memang tidak pernah ada batasnya.
Dalam majalah asing itu ditunjukkan bagaimana para pemimpin Asia telah datang dan pergi.
Tidak cuma itu, bahkan telah terjadi yang seringkali sangat drastis dan dramatis di dalam
ranking pengaruh mereka di kawasan negara-negara Asia.
Ada seorang yang dua tahun silam masih menjadi tokoh paling berkuasa di Asia, ternyata
sekarang sudah tidak masuk lagi dalam daftar tokoh-tokoh berkuasa dan berpengaruh kawasan
tersebut. Malahan dalam banyak hal, mereka sedang dirundung malang. Banyak juga
tokoh-tokoh yang pernah ada di papan atas, dalam waktu satu dua tahun saja telah tiba-tiba
turun menjadi tokoh juru kunci, dan bahkan di masa depan tidak tertutup kemungkinan akan
musnah sama sekali.
Dalam kaitan inilah kita perlu merenungkan beberapa ayat suci Al-Quran yang mengingatkan
betapa sementara dan nisbinya kehidupan kita di dunia ini. Semua akan hilang bersama
waktu. Hanya perbuatan baik hamba-hamba Allah saja yang akan terus bisa menemaui para
hamba Allah itu, tatkala menghadap sang Khalik di hari akhir.
Tampaknya kita semua tanpa terkecuali memang harus selalu mengkaitkan kiprah politik kita,
apakah kita yang berada di legislatif, di eksekutif, yudikatif maupun di bidang pengawasan
serta juga di bidang pers, untuk selalu ingat bahwa dunia yang kita geluti ini sekadar
sawah ladang buat kehidupan yang lebih kekal di akhirat nanti.
Sebuah kekuasaan memang cenderung untuk selalu menambah dan memperbesar kekuasaan itu
sendiri. Sehingga hampir dapat dipastikan --bahkan hampir merupakan sebuah aksioma, bahwa
seseorang yang sedang berkuasa akan menjadi lupa diri, menjadi adigang, adigung, adiguna,
dan seperti contoh-contoh sejarah lama maupun sejarah modern mereka kemudian akan
berkhianat terhadap nuraninya sendiri. Dan bila para politisi sudah berkhianat pada
nuraninya, pada gilirannya, tidak bisa tidak, pasti akan dia berkhianat pada kepentingan
bangsa dan rakyatnya.
Saya sungguh terkejut, karena dalam skala dan kedalaman perilaku korupsi di muka bumi ini
Indonesia menempati urutan yang paling parah, yaitu pada angka 98. Tingkat keparahan dan
kedalaman perilaku korupsi di negara kita hanya bisa dikalahkan atau disaingi oleh sebuah
negara di Afrika yang sangat bobrok, yang memang para pemimpinnya acuh tidak acuh pada
pendekatan moral politik di negara bersangkutan.
Terutama bila pergi ke luar negeri, tatkala kita ditanya oleh tokoh-tokoh asing maupun
para wartawan di mancanegara mengenai skala dan kedalaman korupsi di negara kita, tidak
bisa tidak kita pasti akan klincutan atau penuh dengan perasaan malu karena jawaban apapun
yang kita berikan biasanya diterima dengan senyum hambar oleh sang penanya.
Sebentar lagi kita menyongsong Sidang Tahunan MPR yang pertama kalinya akan diadakan,
berbeda dengan MPR masa lalu yang bersidang hanya sekali dalam lima tahun. Saya sungguh
mendambakan di dalam Sidang Tahunan MPR pada Agustus mendatang, kita semua baik yang di
eksekutif, legislatif, yudikatif, maupun bidang pengawasan, betul-betul mengibarkan
bendera kolektif anti-KKN. Karena dengan itu sajalah, usia politik pemerintahan kita
sekarang ini bisa diperpanjang. Demikian juga yang lebih penting lagi, kehidupan rakyat
bisa pulih dengan cepat.
Lebih dari itu, para investor asing yang sampai sekarang masih berat hati untuk datang ke
Tanah Air kita, tentu akan segera berduyun-duyun mengalirkan investasinya di republik kita
tercinta ini, setelah mereka melihat adanya kepastian hukum dalam pemberantasan KKN dan
kepastian atau stabilitas politik. Wallahu a'lam.
|
|
| Pilihan
Berita Lainnya |
Pilihan Berita :
|
|
 |
 |
|
 |