 |
| Info Intim |
Memahami seluk beluk Penis
Penis adalah organ seksual dan reproduksi pria, terdiri dari kepala, yang disebut ujung
penis, dan batang atau tubuh. Lipatan kulit yang disebut kulit khatan menutupi ujung
penis. Kulit khatan menyerupai selubung dan dapat digulung ke belakang untuk
memperlihatkan kepala penis. Tubuh atau batang penis terbuat dari tiga silinder jaringan
lembut berpori-pori, yang mengandung banyak pembuluh darah.
Seluruh penis mengandung banyak ujung saraf yang membuatnya sensitif terhadap sentuhan,
tekanan dan suhu. Namun ujung penis memiliki jumlah ujung saraf lebih banyak daripada
batang penis, dan karena itu sangat sensitif pada rangsangan fisik. Dua daerah lain yang
sangat sensitif adalah batas yang memisahkan ujung dari tubuh penis, disebut saluran
korona (coronal ridge, bubungan yang menonjol), dan daerah segitiga kecil pada sisi bawah
penis dimana sepotong kulit tipis yang disebut frenulum menempel pada ujung penis. Selama
kenikmatan seksual, pembuluh darah pada jaringan berpori menjadi penuh darah dan
membengkak. Pelebaran yang cepat dan bertenaga dari pembuluh-pembuluh darah ini di
sepanjang penis menyebabkannya mengeras dan bertambah ukurannya.
Peralihan dari penis yang lunak (lembek) ke penis yang lebih keras dan kaku disebut
ereksi. Penis biasanya kembali ke keadaan lebih lunak (tidak-lembek) sejenak setelah
ejakulasi atau setelah penis tidak lagi dirangsang. Penis yang tegak (ereksi) dimasukkan
ke dalam vagina wanita selama tindakan seksual yang disebut hubungan seksual atau
senggama. Saat seorang pria mencapai puncak kenikmatan seksual (orgasme), biasanya
diiringi semburan cairan mani dari mulut ujung penis. Ini disebut ejakulasi. Semen yang
dikeluarkan dari penis selama ejakulasi mengandung sperma, sel reproduktif yang mampu
membuahi ovum atau telur, yaitu sel reproduksi wanita. Bila salah satu dari jutaan sperma
bertemu sebuah telur di dalam tubuh wanita, penyatuan mereka bisa menghasilkan kehamilan.
Penampilan penis sangat beragam dari satu pria ke pria lain. Terdapat perbedaan pada
warna, bentuk, ukuran, dan status kulit khatan (disunat/tidak disunat). Berat badan,
bentuk tubuh dan tinggi seorang pria tidak memiliki hubungan dengan ukuran penisnya, baik
dalam keadaan lunak maupun keras, begitu pula ukuran penis tidak berhubungan dengan ukuran
kaki, tangan atau hidung.
Seni dan media, khususnya majalah pria dan buku-buku serta film erotis, seringkali
melukiskan alat kelamin pria dalam dimensi yang 'lebih besar dari kenyataan', memberikan
pria standar perbandingan yang tidak realistis yang dapat menyebabkan keresahan mereka
akan ukuran penisnya. Kekhawatiran akan ukuran penis umum di antara pria semua umur. Bila
sedang lunak, biasanya penis menggantung lemas dari tubuh dan memiliki panjang rata-rata
8,5 - 12 cm serta diameter 2,5 cm, walau beberapa mungkin lebih kecil atau lebih besar.
Penis yang sama dapat beragam ukurannya bahkan waktu dalam keadaan lunak. Misalnya, udara
dingin, air dingin, ketakutan, amarah atau kecemasan, menyebabkan penis, skrotum (bola di
kedua sisi penis) dan testis tertarik lebih dekat ke arah tubuh, dengan begitu
memperpendeknya. Demikian pula, penis yang lemas sebenarnya dapat memanjang pada kondisi
hangat dan saat seorang pria sedang benar-benar santai. Walau ukuran penis yang tidak
berereksi berbeda-beda dari satu pria ke pria lain, variasi ini tidak begitu jelas pada
keadaan ereksi. Ereksi dapat dianggap sebagai 'penyeimbang yang hebat', karena pria dengan
penis lunak yang kecil biasanya selama ereksi mengalami peningkatan ukuran dengan
persentase lebih besar daripada pria yang memiliki penis lunak lebih besar.
Minat yang besar pada ukuran penis dihubungkan dengan beberapa hal berbeda. Pertama, ini
menunjukkan kepentingan untuk menjadi 'normal'sama seperti orang-orang lain, atau
pastinya tidak lebih buruk. Kedua, ini berhubungan dengan keinginan untuk menjadi cukup
mampu secara seksual. Banyak orang di masyarakat Barat percaya bahwa 'lebih besar sama
dengan lebih baik', dan mitos bahwa penis besar akan memberikan kepuasan seksual yang
lebih kepada wanita tersebar luas. Sesungguhnya, diameter penis memiliki efek fisiologis
kecil untuk sang wanita, karena vagina dapat secara bertahap menyesuaikan dengan lingkaran
penis manapun (ingat, hal ini dirancang, di bawah kondisi yang tepat, untuk memungkinkan
bayi melalui jalan yang sama). Panjang penis, yang menentukan kedalaman masuknya ke dalam
vagina, relatif tidak penting, karena sepertiga bagian pertama vagina-lah yang memiliki
ujung saraf terbanyak dan paling tanggap terhadap rangsangan fisik. Tetapi, ukuran penis
bisa memiliki arti psikologis positif atau negatif untuk seorang wanita. beberapa wanita
menyukai penis lebih besar; yang lain merasa tersingkir dengan apa yang menurut mereka
'terlalu besar' atau 'terlalu kecil'. Ketiga, pria mungkin merasa bahwa penis lebih besar
memberikan mereka elemen status dan membuat mereka lebih menarik secara seksual.
Kadang-kadang, segera setelah kelahiran, kulit khatan diangkat dari penis dalam prosedur
yang disebut penyunatan. Keputusan untuk melakukan sunatan seringkali karena alasan agama,
dan di beberapa kasus langka penting untuk melepaskan kulit khatan yang terlalu ketat
menutup penis. Banyak dokter dan orang tua juga merasa bahwa pengangkatan kulit ini
mendukung kesehatan yang lebih baik, walau dengan sedikit bukti untuk mendukung pernyataan
ini
|
| Pilihan
Berita Lainnya |
Pilihan Berita :
|
|
 |
 |
|
 |