 |
| Info Kisah Hati |
|
Saya Kehilangan Keperawanan di Usia 18 Tahun
Awalnya saya berpikir mana mungkin saya kehilangan keperawanan saya, karena saya tahu
persis meletakkannya. Dengan kata lain saya tahu apa yang saya lakukan.
Ketika itu tiga hari setelah ulang tahun saya yang ke-18 tahun. Saya dengan kekasih saya
yang kala itu juga seorang perjaka, merencanakan sebuah malam yang romantis dan spesial
untuk melakukan sebuah perayaan. Kami saling mencintai dan selalu dimabuk cinta.
Semuanya berjalan sempurna, dia kekasih yang ideal, sabar, tampan, penyayang, romantis dan
seorang yang pintar. Saya mau menyerahkan apa saja untuknya, termasuk keperawanan saya
karena saya yakin tidak akan punya lagi kekasih seperti dia dan saya sangat percaya dia
akan menjadi suami saya.
Tempat tidur saya menjadi saksi dan saya telah merasa cukup dewasa untuk memakai alat
kontrasepsi. Saya mengingat semua fantasi dan kenikmatan yang pernah saya bayangkan. Dan
pastinya setelah melakukan intercourse ini saya akan lebih merasa bahagia, puas dan lebih
utuh menjadi seorang wanita. Seiring dengan waktu, terjadilah malam yang telah lama saya
impikan itu.
Apa yang terjadi? Ternyata itulah kebohongan terbesar yang pernah saya alami!
Saya tidak berkata bahwa semuanya akan mengalami seperti apa yang saya alami ini. Namun
yang sangat membekas di hati saya, film-film dan drama-drama televisi tidak cukup
bijaksana memberikan gambaran yang akurat tentang kesulitan dan gambaran realita yang
mungkin dihadapi jika kita kehilangan sebuah keperawanan.
Inilah kebenaran yang saya rasakan, ketidaknyamanan, kebingungan, dan kesakitan. Terus
terang saya tidak mengalami orgasme pada saat itu.
Permasalahan yang paling saya rasakan yakni sangat tidak siap menghadapi perasaan
kehilangan setelah saya melakukannya. Seiring dengan perasan itu saya seakan telah
memasuki suatu babak baru dalam kehidupan ini yang benar-benar baru dan membutuhan
kematangan bagi seorang wanita.
Sedang kala itu saya hanya seorang gadis ABG berusia 18 tahun. Saya sangat menyesal telah
memberikan sesuatu yang tak akan mungkin akan saya peroleh lagi seumur hidup saya, sebelum
waktunya.
Tadinya saya berpikir, dengan memiliki kekasih yang sangat mencintai saya maka saya tidak
akan merasakan kehilangan ini. Akhirnya dengan sangat hati-hati saya menjaga rahasia ini.
Saya bicarakan pada kekasih saya betapa saya menyesal telah melakukannya dan betapa saya
tetap mencintainya.
Walaupun ia tetap mencintai saya walaupun apa yang terjadi, begitu sumpahnya pada saya
kala itu, ia memang tetap menemani saya dengan cinta dan sayangnya. Sampai akhirnya ketika
umur saya 20 tahun kami berpisah karena beda prinsip.
Bisa dibayangkan betapa hancur hati saya. Tidak pernah ada di benak saya kalau ia akan
berpisah dan tidak menjadi suami saya, tapi memang begitu kenyataannya. Kini, saya 28
tahun dan kenangan itu sulit lepas dari ingatan saya. Saya belum menikah karena takut
suami saya tahu saya tidak virgin lagi. Saya menulis ini agar tidak ada wanita lain yang
dengan bodohnya mengutamakan kenikamatan itu tapi melupakan konsekwensinya. Sudahlah cukup
saya dan wanita-wanita lain yang merasakannya, jangan ada lagi!
|
|
| Pilihan
Berita Lainnya |
Pilihan Berita :
|
|
 |
 |
|
 |