Real Time 

Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Halaman Utama | Tugas Akhir | Biodata | Portal | Berita dan Peristiwa
Info Kisah Hati
 
Aku Menderita Kanker Payudara pada Usia 19 tahun

Pada usia 19 tahun, Februari 1997, aku didiagnosa menderita kanker payudara. Ini adalah kali kedua kanker primer-Ku. Ketika berusia 9 tahun, aku didiagnosa menderita sarcoma jaringan lunak, di paha kananku. Yaitu kanker otot yang sangat langka. Kanker itu lalu menjalar ke paru-paru.
Setelah kemoterapi, operasi dan radiasi, kanker itu terus tumbuh di paru-paruku. Dokterku mengira aku akan mati. Tetapi, rupanya Tuhan mempunyai rencana lain bagiku.
Mesti penyakit kankerku cukup parah, saat aku kembali ke klinik untuk menerima hasil CT scan, dokter mengatakan semua tumor itu sudah lenyap! Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku tetap mengunjungi dokterku paling sedikit dua kali setahun sejak itu.

Dikemudian hari ternyata kanker itu masih ada! Sekarang menyebar ke payudara menyebabkan aku menderita kanker payudara. Tentu saja jika sekarang kutelusuri lagi, sudah ada tanda-tandanya selama itu. Tetapi saat mereka menemukan kanker itu, ada tumor sepanjang dua inci di payudara kananku dan kanker di pembuluh-pembuluh payudara kiriku.

Maret 1997, aku menjalani mastektomi bilateral (amputasi kedua payudara) dengan rekonstruksi katup TRAM yang bersamaan. Pada saat bersamaan 5 kelenjar getah bening di lengan kananku positif kanker.

Singkatnya aku menjalani kemoterapi, TAXOL dan kehilangan rambutku untuk kedua kalinya. Kali ini, bukannya aku kehilangan berat badan seperti yang kualami waktu kecil, tetapi beratku malah bertambah 10 kg. Walau dokterku berpikir bahwa yang terbaik bagiku adalah menjalani kemoterapi lagi, aku mengalami kekeringan fisik dan emosi. Akibatnya lebih memilih untuk tidak melakukannya.

Dokter menyarankan tamoxifen, karena secara mengejutkan aku adalah positif penerima estrogen, lalu tidak. Ini terjadi sekitar Agustus/September 1997.

Sekitar Januari 1998, aku mengalami peningkatan gejala-gejala, di antaranya kelelahan dan sakit. Walau aku tahu ada sesuatu yang salah, dokter-dokterku tetap menyarankan aku menemui seorang psikiater untuk mengobati depresi, karena mereka tidak tahu apa yang terjadi. Kini, aku sangat depresi, tetapi aku tahu ada sesuatu lain lagi terjadi, seperti apa yang kualami sebelumnya.

Suatu malam, sekitar jam 3 pagi, aku menelpon ibuku sambil menangis dan mengatakan padanya bahwa ada sesuatu yang salah. Dokter pun mulai memeriksa lagi. Mereka mulai dengan serangkaian tes yang mengantar kepada penemuan kanker payudara pada tulang, tepatnya tulang dada. Sekilas seperti operasi masa kecilku untuk mengangkat tumor dari paru-paruku.

Sekitar pertengahan 1998, aku akhirnya mulai meminum tamoxifen. Semakin lama aku meminumnya, semakin depresi. Aku merasa seperti mau mati. Tidak seperti ingin bunuh diri, tetapi hanya seperti ingin tidur dan tidak bangun lagi. Aku tak pernah merasa seperti ini dalam hidupku.

Setelah menemui ahli kandunganku yang mengawasiku untuk kemungkinan kanker rahim, yaitu efek samping tamoxifen yang kecil kemungkinannya, aku membuat keputusan diam-diam untuk berhenti meminum tamoxifen.

Hari itu, tanggal 4 Februari, aku menjalani biopsi (pengambilan sampel jaringan) rahim yang membuatku sadar kalau aku tidak mau terus begitu lagi. Dua minggu kemudian, aku mengatakan pada orangtua dan dokterku bahwa aku sudah tidak minum tamoxifen. Aku tak mau ditanyai setiap hari, "Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang setelah tidak minum tamoxifen?" Aku ingin tahu apakah aku bisa membaik—untuk melihat apakah sebenarnya tamoxifen menyebabkan 'kematian jiwa'ku. Jika tidak, aku akan mempertimbangkan untuk meminumnya lagi (walau operasi pengangkatan rahim mungkin bisa mencegah hal itu, aku amat sangat ingin mempunyai anak).

Tak lama kemudian, aku benar-benar membaik dan merasa seperti dapat melanjutkan hidupku lagi. Sejak diagnosa itu, aku mencoba kembali bersekolah, tetapi karena gejala-gejalaku begitu parah, aku harus mengundurkan diri. Aku mampu mengambil beberapa kelas, tetapi aku baru bisa menyelesaikan satu semester penuh pada tahun 1999.

Sejauh pemahamanku, masih ada kanker payudara di tulangku saat aku menulis kisah ini. Aku tahu ini kedengarannya basi—setiap hari adalah hari perjuangan untuk hidup. Ada hari-hari yang kuinginkan hanya tidur. Ada hari-hari aku bisa melakukan apa saja kecuali tidur. Aku tidak mau begitu saja menyerah dan membiarkan kanker mengambil alih hidupku.

Dengan kemurahan Tuhan, dengan memberi aku kehidupan, untuk membuat rencana masa depan. Kini, aku mendaftar untuk kelas-kelas di semester kedua. Masa-masa ini telah menjadi masa-masa pelajaran bagiku dan aku bersyukur untuk itu semua. Aku hanya bisa berkata tabahlah saudara-saudariku karena sesungguhnya pertolongan Tuhan itu sangat dekat!
(Awal Februari 2000- red. )










Pilihan Berita Lainnya

Pilihan Berita :




Isi Dong !!!

Tulis Buku Tamu whatsnew.gif (278 bytes)
Lihat Buku Tamu


Isi Siteku

1. Tugas Akhir
2. Rincian Pengalaman
3. Persahabatan (Cinta)
4. Profil Usaha
5. Masa Kecil
6. Organisasi
7. Hobby & OlahRaga


whatsnew.gif (278 bytes) Cari dlm Site
Cari luar Web
 


Foto dan Peristiwa


Kasus Halmahera Utara


Tekno & Info Lain


Akses Internet Murah
Protokol Aplikasi Wereless
Rancangan Pesawat Boeing


Hikmah


Nilai Sebuah Do'a
Kesalahan yang dimaafkan


Kata Mutiara


Kata Mutiara 1
Kata Mutiara 2


Serba-Serbi

Anda Ingin Tahu tentang permasalahan Seks atau info intim yang lain, cari tahu silahkan lanjut .......



Halaman Utama

Mohon Saran dan Masukan Pembaca Semuanya dengan Mengisi Buku Tamu, Trim's


Halaman ini terakhir diperbarui pada 06/15/00

Design Webmaster TPI-D6 © June 1999-2000

Kontak Aku

Hosted by www.Geocities.ws

1