 |
| Info Kisah Hati |
|
Cinta Tidak Harus Memiliki
Pengalamanku bergaul bersama dengan pria berikut ini memang bisa dijadikan pelajaran untuk
wanita lainnya. Bahwa masih banyak hal-hal lain yang berguna dan bisa dilakukan selain
hanya bercinta.
Masa mudaku yang dihabiskan di sebuah kota besar di Pulau Jawa memang menuntutku untuk
selalu kerja keras dan tanggap dengan lingkungan. Apalagi keluargaku cenderung untuk
memberikan disiplin yang keras kepada semua anak-anaknya, tak terkecuali dengan anak
wanita.
Semua mendapat hak dan kewajiban yang sama, termasuk soal sekolah dan kegiatan ekstra
kulikuler. Orangtua memberikan kebebasan kepada anak-anaknya termasuk aku untuk mendalami
berbagai kegiatan yang menarik dan tentunya sesuai dengan minat dan bakat.
Tentu saja kesempatan bagus ini aku manfaatkan dengan baik. Maka di sekolah aku terkenal
sebagai anak yang aktif dan selalu ikut berbagai kegiatan. Mulai dari Pramuka, Marching
Band hingga kelompok vokal dan Paskibraka. Pokoknya bagiku berlaku kata pepatah selagi
muda, kejarlah ilmu setinggi mungkin.
Namun semua hal pasti ada sebab dan akibatnya. Begitu juga dengan aku, karena terlalu
aktif dengan kegiatan di dalam dan luar sekolah, aku lupa dengan kegiatan umum remaja
lainnya, yaitu pacaran. Terus terang hingga duduk di bangku SMU aku belum terlalu tertarik
dengan lawan jenis. Padahal banyak teman-teman yang mulai serius melirik sana-sini untuk
memulai pacaran. Sedang aku menganggap cowok sebagai teman saja, walau ada juga beberapa
teman yang terlihat menaruh hati padaku.
Aku sadar wajah dan posturku cukup lumayan, pasti ada saja dong yang berusaha memberi
perhatian lebih. Sayangnya mereka itu hanya ku anggap sebagai angin lalu saja. Dan
kebetulan orangtuaku turut mendukung keputusanku untuk tidak pacaran dulu sebelum lulus
sekolah (kuliah) atau bekerja.
Selepas sekolah aku memilih kuliah di kota lain. Di kota kecil di Jawa ini aku masih kuat
dengan prinsipku itu walau sulit juga menampik godaan yang datang. Akhirnya prinsipku
bobol juga di tahun kedua. Saat itu ada kakak kelas yang benar-benar menarik perhatianku.
Pokoknya dia benar-benar tipe idealku. Sayangnya aku terlalu angkuh untuk menerima
kehadirannya. Maka gelar cewek dingin pun tertuju ke arahku.
Namun yang namanya cinta memang sulit dielakan. Aku pun terjerat dengan namanya cinta.
Selama tiga tahun aku merajut benang-benang asmara bersama cowok itu. Walau kami sadar,
hnaya kerelaan yang tinggi dari masing-masing pihak yang akan meluruskan hubungan kami.
Bagaimana tidak kami memiliki latar belakang yang bertolak belakang, selain itu kami pun
berbeda agama. Masalahnya hati sudah cocok satu sama lain.
Akhirnya akal sehat mengalahkan semua angan-angan kami. Kami berpisah dengan baik-baik.
Setelah bekerja mantan cowoku menikah dengan orang lain, yang katanya pilihannya sendiri.
Mereka pun telah dikarunai dua orang anak. Sayangnya hubungan itu tidak cukup harmonis,
mereka berpisah.
Mantanku mencoba menghubungiku untuk memulai hubungan masa silam yang dulu pernah terjalin
indah. Sayang posisiku sudah tidak bebas lagi, karena aku sudah mempunyai cowok baru yang
terbilang aman-aman saja dari segi bobot, bibit dan bebet.
Tentunya ajakan mantan cowokku itu aku tolak. Walau dia cinta pertamaku tetapi aku harus
bisa berpijak dengan kenyataan. Ahkirnya hubunganku dengan mantan cowok hanya sebatas
sahabat dan sampai kini masih berlanjut dengan saling berkirim surat. Tampaknya cara ini
cukup indah dari hubungan kami dulu.
Tetapi rupanya dewi asmara belum berpihak kepadaku. Pacarku yang sekarang pun telah
menentukan pilihannya. Dia mengikuti kata hatinya dengan menjadi seorang rohaniwan dan
tidak mungkin menikah. Memang berat keputusan yang diambil olehnya. Tapi aku sadar itu
adalah haknya dan pilihannya juga untuk orang banyak.
Kini karena hidup dalam satu kota aku masih sering bertemu dengannya. Melakukan diskusi
dengannya dan ini menurutku sekali lagi merupakan hal yang indah. Walau dalam hati ada
perasaan getir juga. Mengapa ini selalu terjadi padaku?
Aku selalu berpikir mungkinkah aku ditakdirkan untuk seperti ini. Kebahagianku justru ada
pada pengalaman-pengalaman itu. Kini hari-hariku kuisi dengan berbagai kegiatan yang
berguna untuk orang lain selain disibukan pula dengan kerja sehari-hari. Apakah salah aku
memutuskan untuk tetap begini sampai tua nanti. Mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Aku yang berbahagia
|
|
| Pilihan
Berita Lainnya |
Pilihan Berita :
|
|
 |
 |
|
 |