 |
| Info Sehat |
Hubungan antara Rasa Permusuhan dan Penyakit Jantung
Wanita dan pria muda dengan tingkat agresi yang tinggi, kemarahan, dan bentuk rasa
permusuhan lain lebih memungkinkan mengalami pengerasan pada pembuluh darah arteri jantung
pada usia dini, demikian menurut sebuah laporan yang dirilis Rabu lalu dalam The Journal
of the American Medical Association.
"Bahkan ketika anda masih muda, semakin tinggi rasa permusuhan anda, semakin besar
kemungkinan anda mengalami pengapuran (kalsifikasi) arteri koroner anda, yang merupakan
tahap awal penyakit jantung," kata Dr. Carlos Iribarren, yang menjadi ketua tim riset
yang membandingkan antara rasa permusuhan dan penyakit jantung pada para partisipan.
Studi ini melibatkan 374 wanita dan pria yang berusia 18 hingga 30 tahun pada awal program
ini di tahun 1985. Mereka menjalani tes psikologi yang sudah baku untuk mengukur rasa
permusuhan ini. 5 tahun dan 10 tahun setelah tes pertama, mereka sekali lagi mengerjakan
tes rasa permusuhan Cook-Medley yang berisikan 50 pertanyaan benar-salah.
Para ilmuwan kemudian menggunakan tomografi sinar-elektron untuk mengukur pengapuran atau
pengerasan arteri jantung. Mereka membandingkan hasil pengukuran tersebut dengan hasil tes
rasa permusuhan tersebut, kata Dr. Iribarren, yang bekerja di Kaiser Permanente Medical
Care Program di Oakland, California.
"Para peneliti ini menemukan bahwa subyek yang mempunyai nilai rasa permusuhan di
atas rata-rata mempunyai risiko sekitar 2,5 kali untuk mengalami pengapuran arteri koroner
dibandingkan orang yang nilainya di bawah rata-rata," demikian dikatakan dalam sebuah
kalimat di JAMA (Journal of American Medical Association) tersebut.
Studi tersebut memperhitungkan faktor seperti rokok, makanan dan latihan, yang juga
mempunyai andil terhadap pengerasan arteri tersebut. Dokter mengatakan, mereka berharap
riset ini akan mengilhami orang muda yang memperlihatkan rasa permusuhan terus-menerus
untuk belajar mengendalikan amarahnya dan barangkali mengurangi risiko serangan jantung
suatu saat dalam hidupnya. Tetapi, mereka menganjurkan agar dilakukan lebih banyak riset
lagi.
"Uji coba klinis diperlukan untuk mengetes apakah berkurangnya sikap dan perilaku
permusuhan merupakan sarana efektif untuk mencegah aterosklerosis dan dengan demikian
mengurangi beban penyakit koroner," demikian dikatakan Dr. Iribarren.
Artikel tersebut menggambarkan rasa permusuhan sebagai kepribadian dan karakter dengan
unsur-unsur sebagai berikut : amarah, sinisme, dan ketidakpercayaan terhadap orang lain,
dan perilaku agresif, baik yang diungkapkan maupun disimpan dalam hati. Kuesioner rasa
permusuhan ini meminta jawaban benar atau salah terhadap kalimat seperti "Menurut
saya, sebagian besar orang akan berbohong untuk maju," "Sebagian besar orang
bersikap jujur terutama karena takut tertangkap" dan "Kalau seorang pria berada
bersama seorang wanita, dia biasanya berpikir tentang hal-hal yang berhubungan dengan seks
wanita tersebut."
Studi-studi lain tentang masalah yang sama juga memperlihatkan hubungan antara tingginya
tingkat rasa permusuhan dan pengerasan arteri koroner, tekanan darah tinggi dan tingkat
kematian lebih dini.
Beberapa teori telah diajukan untuk menjelaskan mengapa rasa permusuhan dapat mempertinggi
risiko kardiovaskuler. Misalnya, perilaku tidak sehat seperti merokok dan penggunaan
alkohol sering dikaitkan dengan rasa permusuhan. Akan tetapi, para ilmuwan mengingatkan
bahwa efek zat kimia dan hormon dari rasa permusuhan juga mungkin berperan.
"Hormon stres menyebabkan tekanan darah naik dan memperbesar kecenderungan
terbentuknya platelet (yang tak lain dari sel-sel darah yang berfungsi dalam penggumpalan
darah) melekat satu sama lain," kata Dr. Iribarren. "Perubahan dalam tubuh ini
kemudian mungkin mengakibatkan pengerasan arteri, termasuk penimbunan kalsium."
Studi ini dibiayai oleh National Heart, Lung, and Blood Institute, bagian dari National
Institutes of Health.
|
| Pilihan
Berita Lainnya |
Pilihan Berita :
|
|
 |
 |
|
 |