 |
| Info Intim |
Krim Testosteron dan Gairah Seks
Apakah benar krim testosteron bisa meningkatkan kembali gairah seks para wanita yang telah
mengalami menopause. Penelitian terbaru di Amerika belum lama ini menunjukkan hasil yang
cukup menakjubkan.
Seorang wanita berusia 51 tahun dan sedang mengalami menopause ternyata bisa kembali
mendapatkan kegairahan yang pernah dimilikinya. Padahal sebelumnya dia tidak pernah
mengalami hubungan seksual lebih dari 20 tahun. Kini setelah seorang lelaki kembali
memasuki hidupnya, dia tetap mampu melakukan aktifitas seks dengan wajar.
Walau sebelumnya sang wanita memiliki problem karena merasa kurang tertarik dan menurut
dokter itu karena masalah hormon. Pasangan baya itu juga berbeda pendapat tentang cara
untuk mencapai keseimbangan.
Untungnya sang wanita membaca dan mau mendiskusikan soal penggunaan salep testosteron 2%
yang diberitakan mujarab dan saat ini masih diresepkan oleh dokter.
Memang benar bahwa menurunnya gairah seks (libido) dan gejala-gejala lainnya menandai masa
menopause. Kadangkala hilangnya nafsu memang terjadi, tetapi di waktu yang lain ini
berkaitan dengan ketidaknyaman selama bersenggama, yang bisa diakibatkan oleh kurangnya
lubrikasi atau menyempitnya vagina.
Disamping manfaatnya terhadap jantung dan tulang, estrogen juga memperbaiki kekeringan
vagina dan membuat lapisan vagina lebih lentur. Karena itu dokter sering menyarankan jika
Anda tidak sedang terapi, bicaralah dengan ginekolog anda tentang baik dan buruknya. Namun
jika Anda sudah pernah menjalani terapi, penambahan testosteron mungkin akan bermanfaat.
Berdasarkan penelitian itu disimpulkan bahwa testosteron adalah hormon paling penting
untuk mempertahankan libido. Dokter di Amerika sudah terbiasa meresepkan Estratest
(preparat tetes estrogen-testosteron) selama bertahun-tahun dan ternyata cocok untuk
pasien-pasiennya yang melaporkan suatu peningkatan dalam gairah seks mereka.
Salep testosteron 2% (testosteron proprionat), yang dioleskan pada alat kelamin luar,
adalah cara lain untuk memasukkan hormon. Sementara itu ada pula studi yang meneliti
penggunaan testosteron yang ditanamkan. Ini karena efektifitas dari salep testosteron
belum teruji 100 %.
Dan tidak berarti bahwa salep itu tidak mujarab, cuma saja tidak ada penelitian yang telah
dipublikasikan untuk membuktikan kebenaran khasiatnya. Satu hal penting yang harus
dijelaskan, testosteron telah menampakkan efektivitasnya pada para wanita yang telah
memasuki menopause. Keterangan ini tidak bisa begitu saja dipakai untuk para wanita
pre-menopause.
Dan hormon ini tidak boleh digunakan pada wanita yang mungkin masih bisa hamil. Catatan
terakhir, ada satu buku yang bisa Anda baca yaitu The Hormone of Desire karya Susan Rako,
MD, seorang psikiatri.
(*/nk)
|
| Pilihan
Berita Lainnya |
Pilihan Berita :
|
|
 |
 |
|
 |