 |
| Info
Teknologi |
|
Korea, raksasa internet berikutnya
satulelaki. com - Adalah Korea Selatan (Korsel), bukan Singapura, atau Taiwan atau Hong Kong dan bahkan Jepang, yang akan menjadi raksasa internet berikutnya di Asia, menyusul booming besar-besaran penggunaan dan industri internet di negara itu selama tiga tahun terakhir.
Sampai 1997, tak seorang pun di muka bumi ini akan berani bertaruh bahwa Korsel akan menjadi yang pertama di Asia memasuki pintu gerbang kejayaan new economy. Waktu itu Korsel masih bergelut dengan kesulitan akibat jatuhnya nilai tukar won yang berlanjut ke krisis ekonomi. IMF pertama kali turut campur di Asia melalui negara semenanjung Korea itu.
Korsel kini sudah memiliki 10 juta warga negara yang terkoneksi ke internet, naik tajam dari sekedar 1,6 juta pada 1997. Atau rata-rata 3 juta pelanggan baru per tahun. Pada akhir 2001, jumlahnya diperkirakan mencapai 20 juta orang, lebih dari setengah jumlah populasi negeri ginseng itu.
Inilah sejumlah data lain yang memperlihatkan kebangkitan macan Asia tersebut, kali ini dalam new economy, seperti dikutip majalah Fortune edisi Mei lalu:
Sebanyak 3.500 perusahaan start-up high tech diluncurkan untuk tahun 1999 saja, sampai-sampai Jalan Tehran di kota Seoul yang disesaki 80% perusahaan-perusahaan start-up itu sudah dijuluki Silicon Valley-nya Korsel;
Angka absolut pelanggan ponsel lebih besar daripada fixed-line atau PSTN, menyebabkan lebih dari setengah populasi Korsel menggenggam ponsel, suatu perbandingan yang melebihi proporsi Amerika Serikat;
Sekitar 70% pasar ponsel dengan teknologi CDMA lari ke Korsel;
Pasar akses internet dengan broadband (high speed) tumbuh sangat cepat, dengan dua juta pelanggan diharapkan bisa dirangkul akhir 2000 dan lima juta pelanggan pada akhir 2001;
Jumlah pembentukan perusahaan baru secara umum mencapai 3.600 pada bulan Januari 2000 dengan 50.000 lainnya diharapkan terbentuk sampai akhir tahun 2000;
Dari angka 50.000 itu, 4.000 di antaranya merupakan perusahaan-perusahaan teknologi informasi, atau rata-rata 10 perusahaan high tech baru setiap harinya selama tahun 2000 ini;
Betapa hebatnya perkembangan internet juga bisa dilihat dari sulitnya menemukan ruang iklan kosong di majalah, koran, billboard dan TV karena banyaknya perusahaan dotcom yang mengiklankan diri;
Harga saham-saham internet Korea di Kosdaq (Nasdaq-nya Korsel) berlipat ganda sampai 15 kali tahun lalu saja;
Meski sempat terguncang dengan pecahnya bubble di Nasdaq April lalu, tetap saja volume transaksi perdagangan online Korea mendekati 50% dari omzet total pasar, sejauh ini merupakan proporsi yang tertinggi di dunia;
Para pengamat memperkirakan kebangkitan kembali macan Korea terjadi karena tiga sebab utama:
Pertama, karena kesadaran pendidikan dan teknologi yang tertinggi di Asia, di luar Jepang. Secara rutin mahasiswa dan pelajar Korea menduduki ranking teratas dalam berbagai loma matematika dan ilmu pengetahuan lainnya. Jumlah mahasiswa Korea mencapai 8% dari total mahasiswa asing di seluruh universitas di Amerika. Juga sudah menjadi ciri pelajar-pelajar Korea menjadikan negara-negara berbahasa Inggris, seperti Australia dan Filipina, sebagai sasaran pendidikan tinggi di luar Amerika.
Dikabarkan dana defisit yang mesti ditanggung pemerintah Korea dalam rangka memajukan pendidikan generasi muda negeri ini adalah sebesar 45 juta dolar AS.
Korea juga sudah tidak canggung lagi bersaing di industri ini. Bukan saja bolehnet dan bolehmail yang diluncurkan di Indonesia baru-baru ini menjadi contoh, melainkan juga dialpad.com, suatu situs yang memungkinkan orang-orang di luar Amerika melakukan hubungan telepon ke Amerika dengan biaya lokal, yakni koneksi ke ISP terdekat.
Kedua, terdapat dukungan pemerintahan Presiden Kim Dae Jung terhadap pemasyarakatan teknologi informasi dan internet dengan cara memerintahkan perusahaan-perusahaan BUMN untuk mencapai target setidak-tidaknya setengah dari penjualan diraih melalui online.
Kim juga meluncurkan suatu program bantuan berbunga rednah yang memungkinkan keluarga-keluarga miskin untuk membeli komputer desktop seharga 900 dolar AS, atau setara kira-kira Rp8 juta, dengan cicilan selama 36 bulan.
Ketiga, datangnya krisis finansial yang menyebabkan terjadinya banyak PHK 'berhasil' memaksa banyak programmer dan ahli rekayasa untuk bergabung dengan sejumlah internet start-ups. Belakangan, yang bergabung bukan saja mereka yang di-PHK, melainkan juga sejumlah besar orang berbakat yang mengundurkan diri secara sukarela. Perusahaan Samsung Display Devices saja, misalnya, kehilangan 20% insiyurnya.
Untuk tingkatan yang lebih rendah lagi, manager kelas menengah kebanyakan mendirikan internet café yang jumlahnya kini mencapai 15.000 unit di seluruh Korsel sehingga bersamaan dengan dukungan pemerintahan Kim bagi kredit murah pembelian komputer menciptakan kondisi yang kondusif bagi pengembangan e-culture bagi generasi muda.
Keempat, terdapat dukungan infrastruktur dan bisnis yang kompetitif. Biaya untuk broadband atau high speed access, misalnya, hanya 40 dolar AS sebulan, lebih murah daripada Amerika. Sedangkan fee untuk perdagangan online juga lebih murah di Korsel daripada di negara-negara lain. [mgh ]
|
|
| Pilihan
Berita Lainnya |
Pilihan Berita :
|
|
 |
 |
|
 |