Real Time 

Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Halaman Utama | Tugas Akhir | Biodata | Portal | Berita dan Peristiwa
Info Musik

Musik Klasik
Mithos, Kultur, Ekonomi, Ataukah Alirannya ?
Penulis : Sri Widati

Perhatian orang Indonesia terhadap musik klasik masih tergolong rendah. Minimnya pengunjung konser musik klasik menjadi salah satu indikasinya. Apalagi bagi kalangan ABG, musik klasik terdengar asing bahkan ada yang alergi. Kenapa ?

Bukan hanya Beethoven yang legendaris. Bukan hanya grup musik yang bisa melegenda. Bahkan kalimatpun bisa melegenda dan tertanam kuat pada memori orang. Suatu saat stok memori tersebut akan keluar dan menentukan tindakan serta jalan pikiran orang.

'Musik klasik itu sulit untuk dinikmati, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmati. Dibutuhkan sense of art yang tinggi untuk bisa menikmatinya.' Sederet kata-kata di atas adalah kalimat legendaris menakutkan yang menurunkan minat orang dan kawula muda untuk menikmati musik klasik.

Legenda kalimat itupun mendorong orang untuk bertanya," Jadi apaan tuh musik klasik. Sulit dinikmati, ya ?" Kalimat tanya tersebut nyerocos keluar sekalipun orang belum pernah mencoba menikmati nuansa musik klasik.

Kenapa ? Image bahwa musik klasik itu eksklusif bagi kalangan tertentu membentuk berbagai pertanyaan yang mungkin tidak akan terungkap jika seandainya saja pikiran orang tak terbentuk terlebih dahulu.

Fakta 'perih' kelihatan nyata pada saat konser musik Beethoven yang diadakan di Jakarta beberapa hari yang lalu. Konser tersebut seolah membuktikan benarnya asumsi betapa rendahnya peminat musik klasik di Indonesia .

Lebih dari 50 % pengunjung adalah mereka yang disebut sebagai orang asing. Terlihat mobil-mobil kedutaan dengan plat nopol CD memasuki tempat parkir konser. Sementara itu di dalam ruang konser rata-rata orang berambut merah, berbadan tinggi besar, berhidung mancung dan ngomong dalam bahasa asing.

Tidak tercatat data lengkap, berapa orang Indonesia yang menghadiri konser tersebut. Namun tak perlu catatan itu, karena secara kasat mata terlihat jelas bagaimana orang asing memenuhi konser musik klasik Beethoven. Sedangkan pengunjung orang Indonesia minim sekali.

Apakah ini berarti kultur Indonesia belum menganggap penting untuk memberi perhatian khusus terhadap aliran musik klasik, sementara orang asing lebih bisa menganggap penting kelestariannya ?

Dari malam konser tersebut nampak yang hadir 75 % adalah mereka yang paruh baya ke atas. Ada nenek-nenek, ada kakek-kakek, ada juga ekskutif muda. Namun sedikit sekali kawula muda atau ABG yang menampakkan batang hidungnya di konser tersebut. Kenapa ?

Apakah memang musik klasik lebih pas bagi kalangan paruh baya ? Kesenjangan usiakah yang menyebabkan tak lakunya musik klasik di kalangan anak muda Indonesia ?

Di malam konser tersebut musik klasik mengalun agung memenuhi ruang Mutiara Gran Melia, Jakarta. Namun beberapa orang di luar konser mengatakan apa artinya alunan musik ini ? Di mana letak nikmatnya ?

Hanya orang tertentukah yang bisa memahami dan menikmati musik klasik ?Ini jugakah sebabnya, kenapa minat orang Indonesia terhadap musik klasik begitu rendahnya ?

Setiap kali Yudianto Hinupurwadi (konduktor) konser selesai memimpin satu lagu, pengunjung bertepuk tangan sopan dan teratur. Memang akan jauh berbeda dengan konser Ricky Martin yang dipadati oleh ABG, disertai gemuruh sorakan penonton dan lambaian tangan untuk si macho.

Begitu juga ketika Ananda Sukarlan selesai memainkan pianonya, penonton bertepuk tangan sopan dan teratur, tidak ada sorak sorai maupun lambaian tangan seperti yang terjadi dalam konsernya Crisye.

Beda dengan konser musik pop ? Memang. Inikah alasan bagi kawula muda sehingga mereka bersemangat menghadiri konser musik pop atau rock sekalipun harus antri panjang, namun enggan untuk menghadiri konser musik klasik ? Benarkah hal itu juga yang menyebabkan kurangnya minat kawula muda untuk menikmati musik klasik ?

Harga tiket masuk konser ini terhitung mahal. Hanya ada 3 kelas yang disediakan , Rp 100.000,-, Rp 500.000,- dan Rp 1.000.000,- Bagi kondisi perekonomian Indonesia sekarang ini, hanya kalangan tertentulah yang bisa menjangkaunya. Apakah ini juga menyebab minimnya perhatian orang Indonesia terhadap musik klasik ? Sedangkan bagi orang asing tak terasa mahal, karena hanya sekian dollar saja. Gampanglah untuk mengeluarkan dari kocek.

Jadi karena apa maka perhatian orang Indonesia terhadap musik klasik nampak demikian rendahnya ? Karena kultur yang berbeda karena mithos, karena alasan ekonomi ataukah memang karakter musik klasik yang sulit untuk dinikmati ?

Pada malam tersebut, kembali Yudianto Hinupurwadi memimpin konser dan pengunjungpun berdiri serta memberi tepuk tangan manis. Plok....plok....plok.....plok...




Pilihan Berita Lainnya

Pilihan Berita :




Isi Dong !!!

Tulis Buku Tamu whatsnew.gif (278 bytes)
Lihat Buku Tamu


Isi Siteku

1. Tugas Akhir
2. Rincian Pengalaman
3. Persahabatan (Cinta)
4. Profil Usaha
5. Masa Kecil
6. Organisasi
7. Hobby & OlahRaga


whatsnew.gif (278 bytes) Cari dlm Site
Cari luar Web
 


Foto dan Peristiwa


Kasus Halmahera Utara


Tekno & Info Lain


Akses Internet Murah
Protokol Aplikasi Wereless
Rancangan Pesawat Boeing


Hikmah


Nilai Sebuah Do'a
Kesalahan yang dimaafkan


Kata Mutiara


Kata Mutiara 1
Kata Mutiara 2


Serba-Serbi

Anda Ingin Tahu tentang permasalahan Seks atau info intim yang lain, cari tahu silahkan lanjut .......



Halaman Utama

Mohon Saran dan Masukan Pembaca Semuanya dengan Mengisi Buku Tamu, Trim's


Halaman ini terakhir diperbarui pada 06/03/00

Design Webmaster TPI-D6 © June 1999-2000

Kontak Aku

Hosted by www.Geocities.ws

1