 |
| Info Musik |
Musik Klasik
Mithos, Kultur, Ekonomi, Ataukah Alirannya ?
Penulis : Sri Widati
Perhatian orang Indonesia terhadap musik klasik masih tergolong rendah. Minimnya
pengunjung konser musik klasik menjadi salah satu indikasinya. Apalagi bagi kalangan ABG,
musik klasik terdengar asing bahkan ada yang alergi. Kenapa ?
Bukan hanya Beethoven yang legendaris. Bukan hanya grup musik yang bisa melegenda. Bahkan
kalimatpun bisa melegenda dan tertanam kuat pada memori orang. Suatu saat stok memori
tersebut akan keluar dan menentukan tindakan serta jalan pikiran orang.
'Musik klasik itu sulit untuk dinikmati, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa
menikmati. Dibutuhkan sense of art yang tinggi untuk bisa menikmatinya.' Sederet kata-kata
di atas adalah kalimat legendaris menakutkan yang menurunkan minat orang dan kawula muda
untuk menikmati musik klasik.
Legenda kalimat itupun mendorong orang untuk bertanya," Jadi apaan tuh musik klasik.
Sulit dinikmati, ya ?" Kalimat tanya tersebut nyerocos keluar sekalipun orang belum
pernah mencoba menikmati nuansa musik klasik.
Kenapa ? Image bahwa musik klasik itu eksklusif bagi kalangan tertentu membentuk berbagai
pertanyaan yang mungkin tidak akan terungkap jika seandainya saja pikiran orang tak
terbentuk terlebih dahulu.
Fakta 'perih' kelihatan nyata pada saat konser musik Beethoven yang diadakan di Jakarta
beberapa hari yang lalu. Konser tersebut seolah membuktikan benarnya asumsi betapa
rendahnya peminat musik klasik di Indonesia .
Lebih dari 50 % pengunjung adalah mereka yang disebut sebagai orang asing. Terlihat
mobil-mobil kedutaan dengan plat nopol CD memasuki tempat parkir konser. Sementara itu di
dalam ruang konser rata-rata orang berambut merah, berbadan tinggi besar, berhidung
mancung dan ngomong dalam bahasa asing.
Tidak tercatat data lengkap, berapa orang Indonesia yang menghadiri konser tersebut. Namun
tak perlu catatan itu, karena secara kasat mata terlihat jelas bagaimana orang asing
memenuhi konser musik klasik Beethoven. Sedangkan pengunjung orang Indonesia minim sekali.
Apakah ini berarti kultur Indonesia belum menganggap penting untuk memberi perhatian
khusus terhadap aliran musik klasik, sementara orang asing lebih bisa menganggap penting
kelestariannya ?
Dari malam konser tersebut nampak yang hadir 75 % adalah mereka yang paruh baya ke atas.
Ada nenek-nenek, ada kakek-kakek, ada juga ekskutif muda. Namun sedikit sekali kawula muda
atau ABG yang menampakkan batang hidungnya di konser tersebut. Kenapa ?
Apakah memang musik klasik lebih pas bagi kalangan paruh baya ? Kesenjangan usiakah yang
menyebabkan tak lakunya musik klasik di kalangan anak muda Indonesia ?
Di malam konser tersebut musik klasik mengalun agung memenuhi ruang Mutiara Gran Melia,
Jakarta. Namun beberapa orang di luar konser mengatakan apa artinya alunan musik ini ? Di
mana letak nikmatnya ?
Hanya orang tertentukah yang bisa memahami dan menikmati musik klasik ?Ini jugakah
sebabnya, kenapa minat orang Indonesia terhadap musik klasik begitu rendahnya ?
Setiap kali Yudianto Hinupurwadi (konduktor) konser selesai memimpin satu lagu, pengunjung
bertepuk tangan sopan dan teratur. Memang akan jauh berbeda dengan konser Ricky Martin
yang dipadati oleh ABG, disertai gemuruh sorakan penonton dan lambaian tangan untuk si
macho.
Begitu juga ketika Ananda Sukarlan selesai memainkan pianonya, penonton bertepuk tangan
sopan dan teratur, tidak ada sorak sorai maupun lambaian tangan seperti yang terjadi dalam
konsernya Crisye.
Beda dengan konser musik pop ? Memang. Inikah alasan bagi kawula muda sehingga mereka
bersemangat menghadiri konser musik pop atau rock sekalipun harus antri panjang, namun
enggan untuk menghadiri konser musik klasik ? Benarkah hal itu juga yang menyebabkan
kurangnya minat kawula muda untuk menikmati musik klasik ?
Harga tiket masuk konser ini terhitung mahal. Hanya ada 3 kelas yang disediakan , Rp
100.000,-, Rp 500.000,- dan Rp 1.000.000,- Bagi kondisi perekonomian Indonesia sekarang
ini, hanya kalangan tertentulah yang bisa menjangkaunya. Apakah ini juga menyebab minimnya
perhatian orang Indonesia terhadap musik klasik ? Sedangkan bagi orang asing tak terasa
mahal, karena hanya sekian dollar saja. Gampanglah untuk mengeluarkan dari kocek.
Jadi karena apa maka perhatian orang Indonesia terhadap musik klasik nampak demikian
rendahnya ? Karena kultur yang berbeda karena mithos, karena alasan ekonomi ataukah memang
karakter musik klasik yang sulit untuk dinikmati ?
Pada malam tersebut, kembali Yudianto Hinupurwadi memimpin konser dan pengunjungpun
berdiri serta memberi tepuk tangan manis. Plok....plok....plok.....plok...
|
| Pilihan
Berita Lainnya |
Pilihan Berita :
|
|
 |
 |
|
 |