Real Time 

Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Halaman Utama | Tugas Akhir | Biodata | Portal | Berita dan Peristiwa
Info Al-Islam

Gus Dur, Komunisme, dan Kebangkitan Nasional

Barangkali kata-kata pemimpin Rusia 1917-1924 itulah di antara penyebab Presiden Gus Dur harus menunggu dan memilih tanggal 20 Mei 2000 -- bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional -- hanya untuk 'sekadar' menjelaskan argumentasinya menyangkut usulan pencabutan Ketetapan (Tap) MPRS No XXV/1966 (Kompas, 22/4). Perubahan Tap tersebut, bila usulan tersebut disetujui oleh MPR, bagi Gus Dur bisa dijadikan semacam teori dan titik awal dalam melakukan perubahan revolusioner pada tubuh bangsa ini.

Sebagaimana penemuan 'materialisme historis' sebagai 'jalan putar teoritis' bagi Karl Marx untuk mengubah hubungan-hubungan sosial dan menggerakkan massa yang terlibat dalam proses historis, perubahan Tap XXV/MPRS/1966 juga menjadi semacam 'jalan putar teoritis' bagi Gus Dur untuk merombak perilaku, sikap, dan way of life masyarakat negeri ini.

Dalam wacana praksis politis, teori itu bisa memegang suatu peranan praktis. Terdapat suatu praktis teoritis. Dan praktis teoritis perubahan Tap tersebut dijalankan Gus Dur untuk mengkritik ideologi Orde Baru yang membelenggu atau bahkan telah merasuk dalam darah daging masyarakat, baik menurut bentuknya (karena ideologi merupakan pengetahuan yang terbatas jangkauannya, kabur, dan fragmentaris) maupun menurut isinya.

Belenggu pembangunanisme

Hingga saat ini, di antara berbagai teori pemikiran dan gerakan yang ada, mungkin hanya teori Marxisme-lah yang secara radikal bisa menelanjangi borok kapitalisme -- atau dalam versi Indonesianya bernama 'pembangunanisme'. Hanya karena teori atau pelajaran itu telah dibunuh bersamaan dengan pelarangan organisasi PKI pada tahun 1966, maka hilang pula satu materi yang secara tajam dan pedas mampu mengkritisi praktek korup pemerintah dan menggerakkan massa untuk menentangnya. Akhirnya, bangsa ini secara tidak sadar jatuh pada 'penjajahan' pembangunanisme Orde Baru selama bertahun-tahun.

Ekonomi dikendalikan dari atas oleh beberapa orang penguasa dan kroninya, kondisi dan hubungan sosial dibentuk menjadi berkasta-kasta dan tindakan masing-masing kasta selalu diarahkan, pendidikan dibuat sekadar untuk memperkuat legitimasi dari seluruh tindakan bejat pemerintah. Berbagai bentuk tindakan kapitalistik ini dalam jangka yang panjang tak terlawan oleh bangsa ini karena mereka tidak tahu cara kerja dan cara melawan sistem kekuasaan yang korup tersebut.

Lantas, apa beda semua praktek di atas dengan praktek pemerintahan kolonial? Meminjam istilah Homi BhaBha, a subject of a difference that is almost the same, but not quite (hampir sama, tapi tak sepenuhnya). Tidak ada perbedaan, kecuali bila pada zaman kolonial para pelakunya adalah orang asing tapi untuk saat ini penjajahnya adalah orang yang sebangsa dengan kita, satu leluhur, juga mungkin satu agama.

Bagaimana dengan 'Orde Reformasi' dan 'Orde Persatuan dan Kesatuan'? Jurang antara yang kaya dengan yang miskin tetap begitu tajam, kekayaan masih bertumpuk pada segelintir orang, eksploitasi dan penghisapan manusia pekerja terus terjadi secara menggila. Para elite politik tidak berjuang demi rakyat sebagaimana janji mereka waktu pemilu tapi justru bertempur antarpartai untuk memperebutkan berbagai jabatan, bahasa yang digunakan untuk berbicara tentang toleransi beragama sama dengan bahasa Orde Baru, mimpi kita tentang Komunisme dan Marxisme serupa dengan mimpi Orde Baru terhadap paham ini, sehingga sikap dan tindakan terhadap paham ini pun dibangun dalam format yang tidak berbeda dengan pola orde yang lewat.

Proses 'dekolonisasi' dan reformasi yang dilakukan oleh penguasa 'orde' ini terhadap Orde Baru hanyalah, menggunakan kata-kata Frantz Fanon, quite simply the replacing of a certain 'species' of men by another 'species' of men.

Meski kolonialisme Orde Baru telah runtuh, namun weltanschauung dan pola pikir orde itu masih banyak menjangkiti masyarakat. Sistem Orde Baru masih kita pakai, ketetapan-ketetapannya masih berjalan, kebijakan-kebijakannya tetap diteruskan. Hingga Gus Dur pun mengeluh, ''Sekarang kita lihat, anaknya PKI tidak boleh apa-apa, padahal mereka tidak mengenal komunisme sama sekali.'' Perubahan dari satu orde ke orde lain hanya dinikmati oleh para elite. Gedung mewah, kantor megah, dan istana indah, yang dulu ditempati oleh keluarga dan kroni Soeharto, kini ditempati oleh para elite yang dulu 'tidak kebagian jatah'. Sementara rakyat kecil? Tetap sama saja nasibnya berada di Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi, Orde Persatuan dan Kesatuan, atau Orde Kolonial Belanda. Mereka miskin, kumuh, diperas, ditindas, ditakuti, diwaspadai, dituduh sebagai perusuh, dilarang belajar ideologi ini dan itu, serta dirampas hak hukum dan politiknya.

Jalan putar teoritis

Sebelum Gus Dur dapat mengubah hubungan-hubungan sosial dan menggerakkan massa yang terlibat dalam proses historis, ia perlu menemukan teori ilmu pengetahuan tentang masyarakat dan perubahan-perubahan sosial. Gus Dur perlu mengubah world view yang menyebabkan masyarakat terbelenggu, tidak kritis, dan buta. Hingga mereka tidak mengerti bahwa diri dan pola pikirnya terjajah dan mereka juga bingung bagaimana harus keluar dari penjajahan yang begitu cerdik memoles dirinya sebagai pembela rakyat dan demi pembangunan.

Rangkaian tindak dan praktek pembangunanisme yang dilakukan pemerintah yang lalu sebetulnya sudah sejak lama dikritik oleh Marxisme di berbagai belahan dunia sebagai suatu tindakan yang 'membunuh' masyarakat. Namun praktek itu selama bertahun-tahun beroperasi mulus di Indonesia tanpa disadari, karena masyarakat sudah phobia untuk mempelajari komunisme dan Marxisme. Seandainya Marxisme tidak dilarang dan seumpama kita mau belajar bagaimana Marxisme mengkritisi praktek kapitalis, maka mungkin kita tidak selengah masa Orde Baru.

Ketetapan XXV/MPRS/1966 itulah yang menyebabkan masyarakat tidak bisa belajar bagaimana bersikap kepada pembangunanisme. Sebaliknya, sikap kita terhadap komunisme sebagai sebuah wacana dibuat begitu keras dan fanatis dalam menolak. Kini kita hendak melepaskan diri dari jerat Orde Baru. Namun dalam satu hal penting, yaitu menyikapi sesuatu yang bisa menguliti Orde Baru, justru kita ingin tetap bertahap pada ketetapan Orde Baru. Kita tidak membedakan antara PKI dan komunisme.

''Saya ingin mendudukkan masalahnya secara tepat, bahwa UUD 1945 tidak pernah melarang komunisme... Kalau mau marah kepada PKI, silakan. Tetapi komunisme sebagai paham itu jangan digebyah uyah. Kalau masyarakat tidak setuju dengan paham komunisme, maka didiklah warga masyarakat melalui pendidikan dan berbagai hal yang bisa dilakukan,'' kata Gus Dur (Kompas, 22/4).

Barangkali Gus Dur menganggap bahwa sumber krisis dan keterbelakangan bangsa ini adalah tiadanya ruang keterbukaan yang diawali dengan sikap antipati terhadap komunisme dan yang berbau komunisme. Lebih dahsyat lagi, Tap XXV/MPRS/1966 mengunci kuat-kuat ketertutupan itu, mengeksploitasi rakyat dengan ancaman Tap itu, dan membangun world view masyarakat sejalan dengan Tap itu.

Jalan untuk membebaskan bangsa ini bagi Gus Dur adalah mengubah Tap tersebut. Perubahan Tap tersebut menjadi 'jalan putar teoritis' yang bisa digunakan untuk membangun bangsa ini secara revolusioner, sebagaimana Marx melahirkan sebuah pemikiran dan gerakan revolusioner yang sangat berpengaruh dengan penemuan 'jalan putar teoritis' yang berupa 'materialisme historis'.

Dengan teori revolusioner ini Gus Dur ingin mulai mengajak rakyat bangkit, membangun Indonesia secara kritis, dan melihat masa lalu secara adil. Itulah sebabnya mengapa ia perlu 'memproklamasikan' temuannya pada Hari Kebangkitan Nasional. Gus Dur ingin membongkar pembangunanisme dan membebaskan masyarakat dari belenggu Orde Baru dengan mencoba menampilkan lawannya sehingga masyarakat bisa membaca orde itu secara kritis.

Dengan merombak Tap XXV/MPRS/1966 Gus Dur juga ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa belajar Marxisme tidaklah tabu, kita bisa mengambil beberapa teori darinya yang barangkali bisa diterapkan di Indonesia, sambil mengkritisi kekurangan-kekurangannya. Dengan Komunisme itu pula bangsa ini bisa melahirkan praktek revolusioner berupa pemerataan penghasilan, keadilan, kemakmuran, kesejahteraan umum, menghilangkan perbedaan hak antara yang kaya dengan yang miskin, dan membuat semua orang menjadi saudara. Inilah awal dari kebangkitan nasional.


Pilihan Berita Lainnya

Pilihan Berita :




Isi Dong !!!

Tulis Buku Tamu whatsnew.gif (278 bytes)
Lihat Buku Tamu


Isi Siteku

1. Tugas Akhir
2. Rincian Pengalaman
3. Persahabatan (Cinta)
4. Profil Usaha
5. Masa Kecil
6. Organisasi
7. Hobby & OlahRaga


whatsnew.gif (278 bytes) Cari dlm Site
Cari luar Web
 


Foto dan Peristiwa


Kasus Halmahera Utara


Tekno & Info Lain


Akses Internet Murah
Protokol Aplikasi Wereless
Rancangan Pesawat Boeing


Hikmah


Nilai Sebuah Do'a
Kesalahan yang dimaafkan


Kata Mutiara


Kata Mutiara 1
Kata Mutiara 2


Serba-Serbi

Anda Ingin Tahu tentang permasalahan Seks atau info intim yang lain, cari tahu silahkan lanjut .......



Halaman Utama

Mohon Saran dan Masukan Pembaca Semuanya dengan Mengisi Buku Tamu, Trim's


Halaman ini terakhir diperbarui pada 05/26/00

Design Webmaster TPI-D6 © June 1999-2000

Kontak Aku

Hosted by www.Geocities.ws

1