 |
| Info Artikel Politik |
|
KKN Musuh Nomor Satu
Adil - Alangkah menyedihkannya apabila berita tentang maraknya KKN di dalam pemerintahan
sekarang ini betul-betul kenyataan.
Sofjan Wanandi, Ketua DPUN, mengatakan dengan nada pembelaan bahwa KKN yang ditengarai
media massa baru merupakan indikasi. Sekalipun kata-kata Sofjan Wanandi memang bernada
defensif, akan tetapi dengan adanya pengakuan bahwa memang benar sudah ada indikasi KKN
dari pemerintah Gus Dur ini, maka layak apabila media massa terus melakukan investigasi
secara menyeluruh.
Kita tidak boleh lupa bahwa ambruknya setiap pemerintahan, baik di negara berkembang
maupun negara maju, tentu diakibatkan karena skandal KKN. Salah satu agenda reformasi yang
disepakati bersama oleh seluruh mahasiswa maupun rakyat Indonesia, adalah bahwa
pemberantasan KKN merupakan tugas utama yang harus dilakukan oleh pemerintahan pascapemilu
kemarin.
Saya sendiri hampir setiap hari mendengarkan cerita yang tidak habis-habisnya mengenai KKN
yang berlangsung di berbagai departemen. Juga di berbagai BUMN, bahkan di berbagai
perbankan, BPPN, dan lain-lain. Semuanya diceritakan oleh orang-orang yang tampaknya
memang mengetahui apa yang sedang terjadi. Setiap kali saya mendengar kasus KKN di
ceritakan oleh seseorang, setiap kali pula saya merasa bahwa masa depan reformasi sekarang
memang berada dalam bahaya.
Sekalipun majalah sebesar Tempo sudah membuka dengan data yang solid mengenai berbagai
kasus KKN yang sudah dan sedang berlangsung di tubuh pemerintah, tampaknya seluruh kasus
KKN itu masih harus dibuktikan lewat proses hukum yang wajar. Sudah tentu mustahil dapat
membawa seluruh kasus KKN yang berlangsung pada pemerintah sekarang ini mengingat
persediaan hakim, jaksa, dan juga penjara yang serba sangat terbatas.
Namun sebelum proses hukum membuktikan berbagai kasus skandal KKN itu, sesungguhnya dengan
melihat berita di media massa yang sudah demikian menyeluruh dan tanpa henti maka
ibaratnya kasus KKN itu telah menjadi sebuah berita yang mutawatir. Istilah itu meminjam
ilmu musthalah hadits, di sana dikatakan sebuah hadis yang mutawatir itu pasti merupakan
hadis yang autentik karena saking banyaknya riwayat yang telah meriwayatkan sesuatu hadis.
Dengan begitu mutawatirnya media massa baik cetak maupun elektronika dalam menggelar kasus
KKN pada zaman pemerintah sekarang ini, hampir bisa dipastikan memang KKN itu benar-benar
ada dalam kenyataan.
Oleh karena itulah, bagi rakyat yang sudah lama menderita maupun para mahasiswa yang
memperjuangkan reformasi, tentu perkembangan negatif yang kita saksikan sekarang ini
benar-benar memprihatinkan. Keberhasilan proses reformasi pada hakikatnya ditentukan oleh
mampu tidaknya pemerintah dalam menanggulangi KKN sebagai penyakit kronis, bagaikan kanker
ganas dan terminal yang akhirnya menjatuhkan sendi-sendi negara.
Inilah satu hal yang perlu kita waspadai dan betul-betul kita prihatinkan. Tampak sentimen
pasar begitu sensitif terhadap kondisi Indonesia. Agaknya, pasar juga tidak bisa ditipu
dengan topeng-topeng politik yang mencoba menyesatkan keadaan sebenarnya. Bahwa rupiah
terus merosot nilainya berhadapan dengan dolar --sementara semua ekonom menyatakan sulit
memahami merosotnya rupiah-- maka dapat disimpulkan bahwa pasar sedang mencoba menghajar
pemerintahan Gus Dur agar kembali ke rel yang benar.
Dapat dibayangkan kalau dolar tetap nongkrong di atas Rp 8.000 bahkan sampai Rp 10.000,
maka sesungguhnya gejala-gejala bahwa usia politik pemerintahan Gus Dur tidak akan
berlangsung lama, sudah tampak di depan mata kita. Tanpa rekayasa apapun juga akan terjadi
sebuah proses alami yang otomatis, setiap pemerintah yang sudah mengalami titik jenuh
dengan masalah KKN dengan sendirinya akan jatuh. Ini merupakan bagian dari sunnatullah
juga.
Dengan demikian, saya menganjurkan agar media massa tetap memegang objektivitas dan
melakukan informasi investigatif agar penyakit negara yang demikian destruktif itu masih
dapat diselamatkan. Barangkali, hanya dengan peran media massa itulah masyarakat bisa
menaruh dan menunggu datangnya harapan mereka. Wallahu a'lam.
|
|
| Pilihan
Berita Lainnya |
Pilihan Berita :
|
|
 |
 |
|
 |