 |
| Artikel Islami |
MEMBENDUNG ARUS GUSDURISME
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.
WALID BIN MUGHIRAH DAN GUS DUR
1367 tahun yang lalu penguasa negara Quraisy, Walid bin Mughirah tampil sebagai salah
seorang pelopor yang berusaha untuk menenggelamkan aqidah Islam dibawah jejak langkah
Rasulullah saw yang mulai tumbuh dengan suburnya di daerah padang pasir yang tandus karena
jarang tersiram curahan air dari langit. Penguasa Walid dengan bekal kekuasaan, politik
dan pengikutnya yang gersang dari siraman pancaran Ilahi telah menunjukkan sikapnya yang
anti Islam.
Sekarang dialam awal tahun 2000, penguasa negara Pancasila, Gus Dur telah tampil dengan
ide sekularisme-nya yang berusaha untuk merenggangkan dan memisahkan agama dari negara.
Dengan bekal kekuasaan, politik dan pengikutnya, Gus Dur dengan lantangnya sebagaimana
penguasa Quraisy, Walid bin Mughirah, menyuarakan dentuman-dentuman salvo anti negara yang
berdasar pada ajaran-ajaran yang datang dari Allah Pencipta umat manusia termasuk Gus Dur.
Hanya ada sedikit perbedaan dibandingkan dengan masa kekuasaan penguasa Quraisy dibawah
pimpinan Walid bin Mughirah dengan penguasa negara Pancasila dibawah Kabinet Gus Dur-Mega
sekarang ini adalah rakyat negara Pancasila yang mayoritas muslim sudah mencapai taraf
kehidupan yang tinggi, baik dalam bidang pendidikan, teknologi, industri, pertanian,
perhubungan, komunikasi dan informasi teknologi. Adapun Walid bin Mughirah sendiri adalah
seorang kafir, sedangkan Gus Dur adalah seorang muslim yang senang pancasila, sayang
UUD1945, cinta sekularisme, alergi syariat Islam dan phobia Daulah Islam Rasulullah.
AWAL PENJABARAN PRAKTIS SESUAI DENGAN KEMAMPUAN MASING-MASING
Penjabaran praktis ini berdasarkan kepada langkah awal yang telah dicontohkan Rasulullah
saw selama tiga belas tahun di daerah wilayah kekuasan Walid bin Mughirah dengan dasar
pandangan: "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Yang menjadikan manusia dari
segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu yang teramat mulia. Yang mengajarkan dengan pena.
Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya" (Al 'Alaq: 1-5). "Hai
orang yang berselimut: Bangunlah dan berilah peringatan. Besarkanlah Tuhanmu, bersihkanlah
pakaianmu, jauhilah perbuatan ma'siat, janganlah kamu memberi, karena hendak memperoleh
yang lebih banyak. Dan hendaklah kamu bersabar untuk memenuhi perintah Tuhanmu"
(Al-Muddatstsir: 1-7). "Maka jalankanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu dan
berpalinglah dari orang-orang musyrik"(Al-Hijr: 94). "Dan berilah peringatan
kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat"(Asy-syu'ra: 214).
Pembinaan aqidah baik melalui pendidikan formal dan informal untuk diri, keluarga (istri,
anak), tetangga, masyarakat sekitar, organisasi, lembaga kemasyarakatan, partai,
pemerintahan. Dilanjutkan dari hasil pembinaan aqidah ini dengan memberikan contoh kepada
anak, istri, tetangga, masyarakat sekitar dan lingkungan yang lebih luas. Berusaha untuk
berdiri diatas kaki sendiri dengan bekerja semampunya untuk memberikan penghidupan kepada
diri dan keluarga. menjaga dan berusaha semampunya untuk bertindak sesuai dengan apa yang
diperintahkan Allah.
Memberikan penerangan mengenai Islam harus secara terang-terangan baik melalui cara
diskusi, ceramah, tukar pikiran, seminar, perdebatan dan apabila tidak menemukan jalan
penyelsesaiannya dan kesamaan dalam berpijak, maka diharuskan untuk berpisah dan
berpaling, silahkan kalian jalan menurut keyakinan kalian, kami jalan menurut keyakinan
kami.
Usaha untuk pembinaan aqidah ini setiap muslim diwajibkan untuk berusaha sesuai dengan
kemampuannya masing-masing dan tidak mengenal ruang dan waktu, karena dimanapun bumi
Allah. Bumi Allah adalah luas: "..Malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu
luas, sehingga kamu dapat berhijrah dibumi itu?".."(An-Nisaa', 4: 97).
"..Inna akramakum 'indallahi atqakum.." sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. (Al Hujurat,
49: 13).
Tidak melibatkan diri dalam lingkungan kekuasaan penguasa yang menentang kepada Islam.
Bagaimana dengan Penguasa Gus Dur-Mega sekarang yang memang mereka adalah muslim dan tidak
langsung menentang Islam dan memusuhi kaum muslimin?
Tentu saja yang ditentang disini adalah idea, pemikiran, konsepsi dan sistem yang dipakai
oleh Penguasa Gus Dur-Mega sekarang. Misalnya idea, faham, pemikiran, konsepsi
nasionalisme, kebangsaan dan pancasila, itu yang perlu ditentang dan diluruskan, kalau
memang Gus Dur-Mega bertahan dengan faham nasionalisme-kebangsaan-pancasila-nya, silahkan
kita ajak berdebat secara terbuka, biar kita mengetahui siapa yang kuat hujah dan
dasarnya.
Mengadakan konsolidasi, kerjasama, persatuan diantara golongan, organisasi, partai-partai
yang ada hubungannya dengan Islam untuk sama-sama membicarakan strategi dan siasat baru
dalam menghadapi masa depan Islam yang mampu menjawab tantangan kehidupan di masa depan.
Organisasi-organisasi Islam yang ada diusahakan untuk mulai mengadakan suatu usaha dalam
bentuk lingkaran, agar bisa mencapai kesamaan tujuan bersama dalam menerapkan apa yang
telah diperintahkan Allah SWT dan dicontohkan Rasul-Nya Muhammad saw.
Selama kaum muslimin masih percaya kepada Allah, Kitab-KitabNya dan Rasul-RasulNya, maka
selama itu masih bisa diusahakan untuk bersatu dan melahirkan fakta perjanjian pertahanan,
sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah.
Yang menjadi bumerang perpecahan diantara kaum muslimin adalah bukan karena masalah
perbedaan kepercayaan kepada Allah, Kitab-KitabNya dan Rasul-RasulNya, melainkan karena
adanya perbedaan pandangan, pikiran, metode, tujuan dalam masalah politik, kekuasaan,
pemerintahan dan negara. Yang kesemua perbedaan-perbedaan tersebut sebenarnya bukanlah
masalah yang sangat prinsipil, melainkan masalah-masalah yang masih bisa diselesaikan
dengan jalan musyawarah dan tukar pikiran yang sehat serta penuh dengan kebijaksanaan.
Jadi untuk mencegah timbulnya jalur-jalur perpecahan, maka perlu adanya kesamaan visi
membangun persatuan dengan berlandaskan keadilan, amanah dan perdamaian yang bertujuan
untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap ridha Allah SWT.
MEMBANGUN PERTAHANAN BERSAMA
Usaha membangun pertahanan bersama ini bisa dilaksanakan, apabila langkah awal dalam
pembinaan aqidah diatas telah berhasil. Artinya bahwa seluruh nilai-nilai Islam telah
mewarnai perilaku, pikiran dan perasaan individu dan masyarakat.
Memang untuk mencapai kearah berhasilnya pembinaan aqidah ini bukanlah melalui jalan-jalan
yang datar dan licin, melainkan melalui jalur-jalur yang terjal dan memayahkan. Karena itu
realita dari pembinaan aqidah ini adalah barometer yang menunjukkan berhasil atau tidaknya
aqidah itu tertanam dalam setiap umat Islam.
Apabila benih-benih aqidah ini telah tertanam dengan akar menghunjam kedalam jiwa cukup
kuat, maka pada saat itulah perlu membangun perjanjian pertahan berasama sebagaimana yang
telah dicontohkan Rasulullah saw, yaitu dengan melahirkan Piagam Madinah atau Undang
Undang Madinah, sebagai pakta perjanjian pertahanan bersama (antara kaum Muhajirin, Anshar
dan kaum Yahudi) sebagai tali ikatan pertahanan untuk mempertahankan aqidah Islam, rakyat
dan Daulah Islam Rasulullah di Yatsrib dari serangan pihak kaum Quraisy dan kaum
sekutunya.
Untuk penjabaran dari apa yang dicontohkan Rasulullah saw itu pada saat sekarang adalah
kita usahakan untuk membentuk pakta pertahan bersama dari seluruh komponen kekuatan rakyat
Indonesia untuk bersama-sama membangun kesepakatan dalam rangka membangun persatuan dengan
berlandaskan keadilan, amanah dan perdamaian yang bertujuan untuk beribadah, bertaqwa dan
mengharap ridha Allah SWT, dengan membangun kembali satu masyarakat muslim dan non muslim
didalam satu kekuasaan pemerintahan dimana Allah yang berdaulat, yang menerapkan
musyawarah dan menjalankan hukum-hukum Allah dengan adil, berdasarkan akidah Islam dengan
menghormati agama lain, dengan konstitusi yang bersumberkan dari Al Quran dan Sunnah, yang
tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras.
MEMPERTAHANKAN AQIDAH DAN UMMAH
Seperti yang telah dicontohkan Rasulullah, dimana setelah dilakukan perjanjian pertahanan
bersama, maka lahirlah perintah Allah untuk mempertahankan aqidah dan ummah serta Daulah
dari serangan kaum yang telah mendeklarasikan perang dan permusuhan, "Dan perangilah
dijalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas,
karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampui batas" (Al
Baqarah, 2:190).
Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[email protected] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca
tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang
Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad
Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk,
amin*.*
Wassalam.
Ahmad Sudirman
http://www.dataphone.se/~ahmad
[email protected]
|
| Pilihan
Berita Lainnya |
Pilihan Berita :
|
|
 |
 |
|
 |