|
Saudariku
Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab" ( 4 )
Oleh : syaikh
Abdul Hamid Al Bilaly
G.
KISAH-KISAH NYATA
- Kematian Yang Tiba-tiba
Seorang
anggota parlemen dalam kondisi kesehatan yang prima, penuh
energi dan memiliki etos kerja sangat tinggi, orangnya masih
muda. Namun, tiba-tiba virus ganas menyerang otaknya. Tak
berlangsung lama, virus itu berubah menjadi segumpal daging.
Anggota parlemen itu akhimya tak berdaya dan meningal dengan
cara yang amat mengenaskan.
- Kematian Tak Kenal Orang Sehat atau
Sakit
Seorang
komandan tinggi di jajaran Angkatan Bersenjata, ia tak
pernah mengeluhkan suatu penyakit apapun, tubuhnya padat
berisi, otot-ototnya kekar, lincah dan gesit dalam melakukan
tugas di teritorialnya. Seperti biasa, pada suatu malam,
ia pergi tidur. Di pagi hari, sang ibu membangunkannya. Tak
ada jawaban. Apa yang tejadi? Ternyata tubuhnya sudah dingin
dan terbujur kaku. Tidur itu menghantarnya pada kematian dan
tak pemah kembali lagi.
- Temanku Mati Terbakar
Abu
Abdillah berkata: "Aku tak tahu, bagaimana harus menuturkan
kisah ini padamu. Kisah yang pemah kualami sendiri beberapa
tahun lain, sehingga mengubah total perjalanan hidupku.
Sebenarnya aku tak ingin menceritakannya, tapi demi tanggung
jawab di hadapan Allah, demi peringatan bagi para pemuda
yang mendurhakai Allah dan demi pelajaran bagi para gadis
yang mengejar bayangan semu, yang disebut cinta, maka
kuungkapkan kisah ini. Ketika itu kami tiga sekawan. Yang
mengumpulkan kami adalah kesamaan nafsu dan kesia-siaan. Oh
tidak, kami berempat. Satunya lagi adalah setan. Kami
pergi berburu gadis-gadis. Mereka kami rayu dengan kata-kata
manis, hingga mereka takluk, lain kami bawa ke sebuah taman
yang jauh terpencil. Di sana, kami berubah menjadi
serigala-serigala yang tak menaruh belas kasihan mendengar
rintihan permohonan mereka, hati dan perasaan kami sudah
mati. Begitulah hari-hari kami di taman, di tenda, atau
dalam mobil yang di parkir di pinggir pantai. Sampai suatu
hari, yang tak mungkin pernah saya bisa melupakannya,
seperti biasa kami pergi ke taman. Seperti biqsa pula,
masing-masing kami menyantap satu mangsa gadis, ditemani
minuman laknat. Satu hal kami lupa.saat itu,
makanan.
Segera salah Seorang di antara kami bergegas
membeli makanan dengan mengendarai mobilnya. Saat ia
berangkat, jam menunjukkan pukul enam sore. Beberapa jam
berlalu, tapi teman kami itu belum kembali. Pukul sepuluh
malam, hatiku mulai tidak enak dan gusar. Maka aku segera
membawa mobil untuk mencarinya. Di tengah perjalanan, di
kejauhariaku melihat jilatan api. Aku mencoba mendekat.
Astaghfirullah, aku hampir tak percaya dengan yang
kulihat.Ternyata api itu bersumber dari mobil temanku yang
terbalik dan terbakar. Aku panik seperti orang gila.Aku
segera mengeluarkan tubuh temanku dari mobilnya yang masih
menyala. Aku ngeri tatkala melihat separuh tubuhnya masak
terpanggang api. Kubopong tubuhnya lalu kuletakkan di
tanah. Sejenak kemudian, dia berusaha membuka kedua belah
matanya, ia berbisik lirih: "Api..., api...!" Aku
memutuskan untuk segera membawa ke rumah sakit dengan
mobilku. Tetapi dengan suara campur tangis, ia mencegah:
";Tak ada gunanya.. aku tak akan sampai...!l Air mataku
tumpah, aku harus menyaksikan temanku meninggal dihadapanku.
Di tengah kepanikanku, tiba-tiba ia berteriak lemah: "Apa
yang mesti kukatakan padarnya? Apa yang mesti kukatakan
padaNya?" Aku memandanginya penuh keheranan. "Siapa?"
tanyaku. Dengan suara yang seakan berasal dari dasar Sumur
yang amat dalam, dia menjawab: "Allah!" Aku merinding
ketakutan. Tubuh dan perasaanku terguncang keras. Tiba-tiba
temanku itu menjerit,gemanya menyelusup ke setiap relung
malam yang gulita, lain kudengar tarikan nafasnya yang
terakhir. Innanlillaahi wa innaa ilaihi raaji
'uun.
Setelah itu, hari-hari berlalu seperti sedia
kala, tetapi bayangan temanku yang meninggal, jerit
kesakitannya, api yang membakaryal dan lolongannya "Apa yang
harus kukatakan padaNya? Apa yang harus kukatakan padaNya?",
seakan terus membuntuti setiap gerak dan diamku. Pada
diriku sendiri aku bertanya: "Aku,... apa yang harus
kukatakan padaNya?" Air mataku menetes, lain sebuah
getaran aneh menjalari jiwaku. Saat puncak perenungan
itulah, sayup-sayup aku mendengar adzan Shubuh
menggema: "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyhadu Anla
Ilaaha Illa Allah... Asyhadu Anna Muhammadar XasuluNah...
Hayya 'Alash Shalaah..." Aku merasa bahwa adzan itu hanya
ditujukan pada diriku saja, mengajakku menyingkap fase
kehidupanku yang kelam, mengajakku pada jalan cahaya dan
hidayah. Aku segera bangkit, mandi dan wudhu, menyucikan
tubuhku dari noda-noda kehinaan yang menenggelamkanku selama
bertahun-tahun.
Sejak saat itu, aku tak pernah lagi
meninggall
- Kesudahan Yang Berlawanan
Tatkala
masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku
dalam lingkungan yang balk. Aku selalu mendengar do'a ibuku
saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula
ayahku, ia selalu dalam Shalatnya yang panjang. Aku heran,
mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim
dingin yang menyengat tulang. Aku sungguh heran. Bahkan
hingga aku berkata kepada' diri sendiri: "Alangkah sabarnya
mereka...setiap hari begitu...benar-benar
mengherankan!" Aku belum tahu bahwa di situlah
kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang
pilihan...Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk
bermunajat kepada Allah.
Setelah menjalani pendidikan
militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi
diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat
selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah
tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari
kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku
agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing. Di
sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur'an. Tak ada
lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku
benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga
yang dulu kami nikmati. Aku ditugaskan mengatur lalu
lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan
jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan
bantuan. Pekejaan baruku sungguh menyenangkan Aku lakukan
tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi
tinggi. Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan
ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian...banyak
waktu luang...pengetahuanku terbatas. Aku mulai
jenuh...tak ada yang menuntunku di bidang agama.
Aku'sebatang kara. Hampir tiap'·hari yang kusaksikan hanya
kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau
bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan
rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang
hingga kini tak pernah kulupakan.
Ketika kami dengan
seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan.Kami asyik
ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang
amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Teryata, sebuah
mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah
berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk
menolong Korban. Kejadian yarng sungguh tragis. Kami
lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis
kedua nya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami
bujurkan di tanah.
Kami cepat-cepat menuju mobil
satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat
mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada
dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan
kalimat syahadat. : Ucapkanlah "Laailaaha
Illallaah…Laailaaha Illallaah…" perintah temanku. Tetapi
sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur
lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding. Temanku
tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang
sekarat...Kembali ia menuntun korban itu membaca
syahadat. Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan
pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah
menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan
kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya
mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi... keduanya tetap
terus saja melantunkan lagu. Tak ada gunanya... Suara
lagunya semakin melemah...lemah dan lemah sekali. Orang
pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak
ada gerak... keduanya telah meninggal dunia.
Kami
segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk,
ia tak berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada
kebisuan, hening. Kesunyian pecah ketika temanku memulai
bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su'ul
khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: "Manusia akan
mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup
itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama
di dunia". Ia bercerita panjang lebar padaku tentang
berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia
juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya
sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin. Perjalanan
ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang
kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala
ingat bahwa kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku
menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi
pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu'
sekali.Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa
itu.
Aku kembali pada kebiasaanku semula...Aku
seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang
yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu,
aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya
lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia
kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pemah
kudengar dari dua orang yang sedang sekarat
dahulu.
* Kejadian Yang
Menakjubkan... Selang enam bulan dari peristiwa
mengerikan itu...sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi
di depan mataku. Seseorang mengendarai mobilnya denganpelan,
tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju
kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang
kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan
ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi
menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung
tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan, -bukan
yang menemani-ku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat
menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan
segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung
mendapatpenanganan. Dia masih muda, dari tampangnya, ia
kelihatan seorang yang ta'at menjalankan perintah
agama. Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup
panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia
menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam
mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari
mulutnya. Ia melantunkan ayat-ayat suci
Al-Qur'an...dengan suara amat lemah. "Subhanallah! "
dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan
ayat-ayat suci Al-quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya;
tulang-tulangnya patah, bahkan:ia hampir mati.
Dalam
kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat
Al-Qur'an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak
pernah mendengar suara bacaan' al quran seindah itu. Dalam
batin aku bergumam sendirian: "Aku akan menuntun membaca
syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku
terdahulu... apalagi aku Sudah punya pengalaman" aku
Meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti kena
hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qurlan yang merdu itu.
Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup
ke setiap rongga. Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku
menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari
telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku
melompat ke belakang. Kupegang tangannya, detak jantungnya
nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal
dunia. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku
menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku.
Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah
wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula
halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras
mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat
mengharukan.
Sampai di rumah sakit...Kepada
orang-orang di sanal kami mengabarkan perihal kematian
pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang
menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah
kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah
seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera
menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang
yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum
mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan.
Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah,
semua ingin ikut menyalatinya. i
Salah seorang
petugas tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut
mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah
seorang saudaranya mengisahkanl ketika kecelakaan sebetulnya
almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekejaan itu
rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana almarhum juga
menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin.
Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula,
buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia
juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset
pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang
yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk
dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil. Bila ada yang
mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia
menjawab dengan halus. "Justru saya memanfaatkan waktu
pejalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan
Al-Qur'an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian,
aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku
ayunkan," kata almarhum. Aku ikut menyalati jenazah dan
mengantamya sampai ke kuburan. Dalam liang lahat yang
sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke
kiblat. "Dengan nama Allah dan atas ngama
Rasulullah". Pelan-pelan, kami menimbuninya dengan
tanah...Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu,
sesungguhnya dia akan ditanya... Almarhum menghadapi hari
pertamanya dari hari-hari akhirat...
Dan aku...
sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di
dunia.Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku.
Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan
meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan
hidup yang baik (khusnul khatimah) serta menjadikan
kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman
Surga. Amin...
Perjalanan
Yang Jauh Nurah,
saudara perempuanku nampak pucat dan kurus sekali. Tetapi
seperti biasa, ia masih membaca Al-Qur'anul Karim. Tika
ingin menemuinya, pergilah ke mushallanya. Di sana engkau
akan mendapatinya sedang ruku', sujud dan menengadahkan ke
langit. Itulah yang dilakukannya setiap pagi, sore dan di
tengah malam hari. Ia tidak pernah jenuh.
Berbeda
dengannya, aku selalu asyik membaca majalah-majalah seni,
tenggelam dengan buku-buku cerita dan hampir tak pernah
beranjak dari video. Bahkan, aku sudah identik dengan benda
yang satu ini. Setiap video diputar pasti di situ ada aku.
Karena 'kesibukanku' ini, banyak kewajiban yang tak bisa
kuselesaikan bahkan, aku suka meninggalkan
shalat. Setelah tiga jam berturut-turut menonton video di
tengah malam, aku dikagetkan oleh suara adzan yang
berkumandang dari masjid dekat rumahku. Sekonyong-konyong
malas menggelayuti semua persendianku, maka aku pun segera
menghampiri tempat tidur. Nurah memanggilku dari
mushallanya.
Dengan berat sekali, aku menyeret kaki
menghampirinya. "Ada apa Nurah?," tanyaku. "Jangan
tidur sebelum shalat Shubuh!", ia mengingatkan. "Ah. Shubuh
kan masih satu jam lagi. Yang baru saja kan adzan
pertamal" Begitulah, ia selalu penuh perhatian padaku.
Sering memberiku nasihat, sampai akhimya ia terbaring sakit.
ia tergeletak lemah di tempat tidur.
"Hanah!,"
panggilnya lagi suatu ketika. Aku tak mampu menolaknya.
Suara itu begitu jujur dan polos. "Ada apa saudariku?",
tanyaku pelan. "Duduklah!" Aku menurut dan duduk di
sisinya. Hening... Sejenak kemudian Nurah melantunkan
ayat suci Al-Qur'an dengan suaranya yang merdu. "Tiapjiwa
akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat
sajalah disempumnkan pahalamu." (Al Imran: 185) Diam
sebentar, lalu ia bertanya: "Apakah kamu tidak percaya
adanya kematian?" "Tentu saja percaya!" "Apakah kamu
tidak percaya bahwa amalmu kelak akan dihisab, baik yang
besar maupun yang kecil?" "Percaya. Tetapi bukankah Allah
Maha Pengampun dan Maha Penyayang, sementara aku masih muda,
umurku masih panjang!" "Ukhti, apakah kamu tidak takut
mati yang datangnya tiba-tiba? Lihatlah Hindun, dia lebih
muda darimu, tetapi meninggal karena sebuah kecelakaan.
Lihat pula si fulanah...Kematian tidak mengenal umur. Umur
bukan ukuran bagi kematian seseorang. Aku menjawabnya
penuh ketakutan. Suasana tengah malam yang gelap mencekam,
semakin menambah rasa takutku. "Aku takut dengan gelap,
bagaimana engkau menakut-nakutiku lagi dengan kematian ? Di
mana aku akan tidur nanti ?" Jiwa asliku yang amat penakut
betul-betul tampak. Kucoba menenangkan diri aku benusaha
tegar dengan mengalihkan pembicaraan pada tema yang
menyenangkan, rekreasi. "Oh ya, kukira ukhti setuju pada
liburan ini kita pergi rekreasi bersama?",
pancingku. "'Tidak, karena barangkali tahun ini aku akan
pergi jauh, ke tempat yang jauh... mungkin... umur ada di
tangan Allah, Hanah", ia lalu terisak. Suara itu
bergetar, aku ikut hanyut dalam kesedihan. Sekejap,
langsung terlintas dalam benakku tentang sakitnya yang
ganas. Para dokter, secara rahasia telah mengabarkan hal itu
kepada ayah. Menurut analisa medis, para dker sudah tak
sanggup, dan itu berarti dekatnya kematian. Tetapi, siapa
yang mengabarkan ini semua padanya?, atau ia memang merasa
sudah datang waktunya?, "Mengapa ternenung? Apa yang
engkau lamunkan?", Nurah membuyarkan lamunanku. "Apa kau
mengira, hal ini kukatakan karena aku sedang sakit? Tidak.
Bahkan boleh jadi umurku lebih panjang dari umur orang-orang
sehat. Dan kamu, sampai kapan akan terus hidup? Mungkin
20 tahun lagi, 40 tahun atau... Lalu apa setelah itu?
Kita tidak berbeda. Kita semua pasti akan pergi, entah ke
Surga atau ke Neraka. Apakah engkau belum mendengar
ayat: "Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dimasukkan ke
dalam Surga maka sungguh ia telah beruntung" ( Ali Imran:
185) "Sampai besok pagi," ia menutup
nasihatnya.
Aku bergegas meninggalkannya menuju
kamar. Nasihatnya masih tergiang-ngiang di gendang
telingaku, "Semoga Allah memberimu petunjuk, jangan lupa
shalat!" Pagi hari...Jam dinding menunjukkan angka
delapan pagi.Terdengar pintu kamarku diketuk dari luar.
"Pada jam ini biasanya aku belum mau bangun" pikirku. Tetapi
di luar terdengar suara gaduh, orang banyak terisak. "Ya
Rabbi, apa yang tejadi?" "Mungkin Nurah...?, "firasatku
berbicara. Dan benar, Nurah pingsan, ayah segera
melarikannya ke rumah sakit. Tidak ada rekreasi tahun
ini. Kami semua harus menunggui Nurah yang sedang
sakit. Lama sekali menunggu kabar dari rumah sakit dengan
harap-harap cemas. Tepat pukul satu siang, telepon di
rumah kami berdering. Ibu segera mengangkatnya. Suara ayah
di seberang, ia menelpon dari rumah sakit. "Kalian bisa
pergi ke rumah sakit sekarang!," demikian pesan ayah
singkat. Kata ibu, tampak sekali ayah begitu panik, nada
suaranya berbeda dari biasanya. "Mana sopir...?" kami
semua terburu-buru: Kami menyuruh sopir menjalankan mobil
dengan cepat. Tapi ah, jalan yang biasanya terasa dekat bila
aku menikmatinya dalam pejalanan liburan, kini terasa amat
panj ang, panjang dan lama sekali. Jalanan macet yang
biasanya kunanti-nantikan sehingga aku bisa menengok ke
kanan-kiri, cuci mata, kini terasa menyebalkan. Di
sampingku, ibu berdo'a untuk keselamatan Nurah. "Dia anak
shalihah. Ia tidak pernah menyia-nyia kan waktunya. Ia
begitu rajin beribadah", ibu bergumam sendirian.
Kami
turun di depan pintu rumah sakit. Kami segera masuk ruangan.
Para pasien pada tergeletak lunglai. Di sana sini terdengar
lirih suara rintihan. Ada yang baru saja masuk karena
kecelakaan mobil, ada yang matanya buta, ada yang mengerang
keras. Pemandangan yang membuat bulu kudukku
merinding. Kami naik tangga eskalator menuju lantai atas.
Nurah berada di ruang perawatan intensif. Di depan pintu
terpampang papan peringatan: "Tidak boleh masuk lebih dari
satu orang!" Kami terperangah. Tak lama kemudian, seorang
perawat datang menemui, kami. Perawat memberitahu kalau kini
kondisi Nurah mulai membaik, setelah beberapa saat
sebelumnya tak sadarkan diri.
Di tengah kerumunan
para dokter yang merawat, dari sebuah lubang keciljendela
yang ada di pintu, aku melihat kedua bola mata Nurah sedang
memandangiku. Ibu yang berdiri di sampingnya tak kuat
menahan air matanya. Waktu besuknya habis, ibu segera keluar
dari ruang perawatan intensif. Kini tiba giliranku masuk.
Dokter memperingatkan agar aku tidak banyak mengajaknya
bicara. Aku diberi waktu dua menit. "Assalamu 'alaikum!,
bagaimana keadaanmu Nurah?, tadi malam, engkau baik-baik
saja. Apa yang terjadi denganmu?", aku menghujaninya dengan
pertanyaan. "Alhamdulillah, aku sekarang baik-baik saja,
jawabnya dengan berusaha tersenyum. "Tapi, mengapa
tanganmu dingin sekali, kenapa?" aku menyelidik. Aku
duduk di pinggir dipan. Lalu kucoba meraba betisnya, tapi ia
segera menjauhkannya dari jangkauanku. "Ma'af, kalau aku mengganggumu!", aku
tertunduk. "Tidak
apa-apa. Aku hanya ingat firman Allah Ta'ala: "Dan
bertaut betis(kiri) dengan betis(kanan), kepada Tuhanmullah
pada hari itu kami dihalau". (Al-Qiyamah: 29-30) Nurah
melantunkan ayat suci Alquran. Aku menguattkan diri.
Sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak menangis dihadapan
Nurah, aku membisu. " Hanah, berdoalah untukku. Mungkin
sebentar lagi aku akan menghadap. Mungkin aku segera
mengawali hari pertama kehidupanku diakhirat…Perjalananku
amat jauh tapi bekalku sedikit sekali". Pertahananku
runtuh. Air mataku tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya. Ayah
mengkhawatirkan keadaanku. Sebab mereka tak pernah melihatku
menangis seperti itu. Bersamaan dengan tenggelamnya
matahari pada hari itu. Nurah meninggal dunia…. Suasana
begitu sepat berubah. Seperti baru beberapa menit aku
bebincang-bincang dengannya. Kini ia telah meninggalkan kami
buat selama-selamanya. Dan, ia tak akan pernah bertemu lagi
dengan kami. Tak akan pernah pulang lagi. Tidak akan
bersama-sama lagi. Oh Nurah… Suasana dirumah kami
digelayuti duka yang amat dalam. Sunyi mencekam. Lalu pecah
oleh tangisan yang mengharu biru. Sanak kerabat dan tetangga
berdatangan melawat. Aku tidak bisa membedakan lagi,
siapa-siapa yang datang, tidak pula apa yang mereka
percakapan. Aku tenggelam dengan diriku sendiri. Ya
Allah, bagaimana dengan diriku? Apa yang bakal terjadi pada
diriku? Aku tak kuasa lagi, meski sekedar menangis. Aku
ingin memberinya penghormatan terakhir. Aku ingin
menghantarkan salam terakhir. Aku ingin mencium
keningnya. Kini, tak ada sesuatu yang kuingat seai satu
hal. Aku ingat firman Allah yang dibacakannya kepadaku
menjelang kematiannya. "Dan bertaut betis (kiri) dengan
betis (kanan)". Aku kini benar-benar paham bahwa,"Kepada
Tuhanmullah pada hari itu kamu dihalau" "Aku tidak tahu,
ternyata malam itu, adalah malam terakhir aku menjumpainya
di mushallanya. Malam ini, aku sendirian di mushalla
almarhumah. terbayang kembali saudara kembarku, Nurah yang
demikian baik kepadaku. Dialah yang senantiasa menghibur
kesedihanku, ikut memahami dn merasakan kegalauanku, saudari
yang selalu mendo'akanku agar aku mendapat hidayah Allah,
saudari yang senantiasa mengalirkan air mata pada tiap-tiap
pertengahan malam, yang selalu menasihatiku tentang mati,
hari perhitungan….ya Allah! Malam ini adalah malam
pertama bagi Nurah dikuburnya. Ya Allah, rahmatilah dia,
terangilah kuburnya. Ya Allah, ini mushaf Nurah, …ini
sajadahnya…dan ini..ini gaun merah muda yang pernah
dikatakannya padaku, bakal dijadikan kenangan manis
pernikahannya. Aku menangisi hari-hariku yang berlalu
dengan sia-sia. Aku menangis terus-menerus, tak bisa
berhenti. Aku berdo'a kepada Allah semoga Dia merahmatiku
dan menerima taubatku. Aku mendo'akan Nurah agar mendapat
keteguhan dan kesenangan di kuburnya, sebagaimana ia begitu
sering dan suka mendo'akanku. Tiba-tiba aku tersentak
dengan pikiranku sendiri. "Apa yang terjadi jika yang
meninggal adalah aku? Bagaimana kesudahanku?" Aku tak
berani mencari jawabannya, ketakutanku memuncak. Aku
menangis, menangis lebih keras lagi. Allahu Akbar, Allnhu
Akbar...Adzan fajar berkumandang. Tetapi, duhai alangkah
merdunya suara panggilan itu kali ini. Aku merasakan
kedamaian dan ketentraman yang mendalam. Aku jawab ucapan
muadzin, lalu segera kuhamparkan lipatan sajadah,
selanjutnya aku shalat Shubuh. Aku shalat seperti keadaan
orang yang hendak berpisah selama-lamanya. Shalat yang pemah
kusaksikan terakhir kali dari saudari kembarku
Nurah. Jika tiba waktu pagi, aku tak menunggu waktu sore
dan jika tiba waktu sore, aku tidak menunggu waktu
pagi.
Bersambung ke tulisan ke-5
"Saudariku Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab"(1) "Saudariku Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab"(2) "Saudariku Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab"(3) "Saudariku Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab"(4) "Saudariku Apa yang Menghalangimu untuk Berhijab"(5)
|
Copyright © Al-Sofwa 1999
Jl. Raya Lenteng Agung Barat, No.35 Jagakarsa, Jakarta - Selatan (12610) Telpon: (021)-788363-27 , Fax:(021)-788363-26 E-mail: [email protected]
|