CHAPTER THREE
Onde Onde Misterius
Kejadian dengan kacang-kacang yang melarikan diri ke Bantul
membuat nama Shaven Terpot terkenal di seantero pabrik
kacang. Saking terkenalnya, banyak wartawan koran gosip yang
memburu-buru bocah tengil itu kesana kemari. Dasar kegeeran,
diapun sok cuek menanggapi koran-koran itu dengan ucapan “No
Comment.” Konon Shaven diajari mengucapkan ‘No Comment’ itu
oleh Desy Ratnasari yang seperti Shaven dulu juga sering
nongol di acara infotainment.
Tapi koran-koran gosip terus memburu Shaven tanpa mengenal
lelah, apalagi setelah didoping oleh obat kuat seperti M190
Bisya! Atau Sakatombe Jreng-jrengejrengejreng (dibaca sambil
meliukkan pinggul ala Inul, para pembaca dipersilahkan
mencoba di depan keramaian… kalo gak tau malu… hihihi…).
Walhasil Mr. dan Mrs. Ganno terpaksa harus menyembunyikan
bocah itu di dalam rumah selama berminggu-minggu untuk
menghindari gosip yang mungkin muncul. Akhir-akhir ini
banyak isyu gak jelas yang bermunculan dan membuat kacau.
Bahkan beberapa kali nama Shaven muncul di koran dan
dikait-kaitkan dengan pemboman pabrik kacang di Irak.
Emangnya teroris ^^;.
Saat diperbolehkan keluar rumah kembali, liburan musim panas
sudah dimulai. Kejadian aneh-aneh kembali dimulai. Penulis
males seperti saya pun akhirnya tergerak untuk kembali
mengetik. Huwaahhh…
*penulis tekuk-tekuk tangan sembari menggebrak-gebrak
keyboard*
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Harry Potter dan Shaven Terpot sering berjalan-jalan bersama
keliling komplek. Kadang jalan, kadang naik sepeda. Eh
sepedanya bagus lho, sepeda roda dua, kudapat dari ayah,
karena rajin sekolah. Hihihi.
Seperti hari itu mereka bersepedaan berdua dengan mesra,
seperti layaknya Romi dan Yuli, err... perumpamaannya kurang
cocok yah... seperti layaknya Tom and Jerry... err... in
juga kurang cocok, hmm... kalau begitu mereka layaknya Bona
dan Rong Rong, hihihi. Pokoknya mereka lagi asyik
bersepedaan keliling komplek, sesekali mencari layangan
putus. Konon si Harry senang sekali dengan kegiatan luar
ruangan, berhubung dia sering dijahatin kalo di rumah.
“Jadi September mendatang si Dudley masuk ke Saltings ya?”
tanya Shaven suatu ketika.
“Smeltings. Iya, sekolahnya paman Vernon dulu.” Jawab Harry.
“Ow. Dan Piers?”
“Piers Polkiss? Setali tiga uang. Dia juga masuk ke
Smeltings.”
“Dan kita berdua masuk Stonewall High.”
“<keluh> Iya. Stonewall.” Harry melanjutkan lagi. “Dudley
bilang di hari pertama masuk sekolah di Stonewall, kepala
kita akan dimasukkan ke toilet.”
“Hahahaha! Cool!”
Harry melirik orang aneh disebelahnya. “Ya. Cool.”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Suatu hari, Bibi Petunia mengajak Dudley berjalan-jalan ke
London untuk membeli pakaian seragam Smeltingnya. Dia
menitipkan Harry pada keluarga Ganno. Hari itu kebetulan
Shaven sedang memotong rumput di halaman rumahnya, Harry pun
dengan senang hati membantu.
“Pos pos!”
Pak Pos bermotor oranye terlihat meninggalkan kotak surat di
depan rumah keluarga Ganno sambil melambaikan tangan pada
Shaven. Shaven pun membalas dengan mesra. Shaven menghampiri
kotak surat dan mengambil beberapa surat tagihan, majalah
Donal Bebek, satu kartu pos dan satu paket...
Eh? Paket? Paket apaan? Buat siapa nih? Eh? Buat Shaven
Terpot??
Dengan semangat 45, Shaven lari dan segera membuka paket itu
begitu sampai di dalam rumah. Ternyata isinya sekotak
onde-onde!
Harry menghampiri Shaven yang nampak terdiam saja dengan
kiriman paket berisi onde-onde di tangannya. Sebelum Harry
sampai di sebelah Shaven, onde-onde itu tiba-tiba saja
bergerak dan terbang mengelilingi ruangan!
Waaahhh!! Ajaib!!
Shaven mencoba mendengarkan kicauan onde-onde yang
berterbangan. Hati Shaven begitu berdebar-debar. Belum
pernah seumur-umur dia mendapat kiriman apapun. Apalagi
sepaket onde-onde terbang. Siapa yah yang ngirim? Dia tidak
punya teman ataupun saudara. Dia juga jarang jalan-jalan ke
pasar malam buat beli onde-onde, kok sekarang ada kiriman
onde-onde ajaib? Kenapa kok bukan... bolang-baling? Itu lho
kayak Dora Emon... “Bolang Baling Bambu!”... hihihi... ini
sih plesetan.
Tapi onde-onde itu tidak cuma terbang dan berkicau, mereka
juga menyebar-nyebar kertas. Kertas-kertas yang dibawa kaum
onde-onde itu bertebaran di udara, membuat kotor seantero
rumah. Biarpun lumayan banyak dan bisa dijual kiloan, tetap
saja rumah keluarga Ganno bakalan morat-marit karena kertas
dimana-mana.
Tapi kata-kata yang diucapkan oleh kaum onde itu begitu
jelasnya sehingga tidak mungkin dia salah mengenali.
“Andaikata onde-onde berbulu-bulu,
Sudah sering makan dengan rakus,
Ada kabar yuhu-yuhu,
Untuk Shaven Terpot nan jayus.”
Shaven sudah mau protes mendengar puisi nan maksa itu, tapi
para onde segera meneruskan lagi.
“Gak usah protes kalo puisinya maksa,
namanya juga onde-onde yang bicara,
sudah untung dikasih sajak penuh makna,
daripada murung dan gundah gulana.”
Hihihi... bisa aja onde-ondenya sok puitis.
Harry mengambil salah satu kertas yang tadi berterbangan di
udara.
Mr. S. Terpot
7 Privet Drive
Little Whinging
Surrey
Kertas itu ternyata sebuah amplop dengan nama Shaven di
bagian depan, kertas yang cukup tebal dan berat, terbuat
dari kulit lumpia yang kekuning-kuningan, dan alamat Shaven
tertulis dalam huruf ijo yang tercetak tebal kontras dengan
warna kulit lumpia. Tanpa perangko dan tanpa cap kantor pos
manapun, mungkin pengirimnya malas ke kantor pos. Padahal
kan dekat dari sini, cuma lima ribu perak kalau naik becak,
hihihi...
Ketika membalik amplop itu, tangan Shaven bergetar. Harry
yang mengintip dari balik punggung Shaven melihat cap lilin
berwarna ungu dengan hiasan singa, elang, luak (eh Badger
itu bahasa Indonesianya luak kan?) dan ular mengitari huruf
H.
“Shaven!” teriak Mr. Ganno dari dalam dapur. “Indomie-mu
keburu dingin.”
Shaven beralih ke dapur, menatap suratnya dengan takjub. Dia
menyerahkan tumpukan tagihan dan kartupos pada Mr. Ganno,
lalu duduk di kursi dan mulai membuka amplop suratnya.
Mr. Ganno merobek surat tagihan kredit panci, melenguh malas
dan membalik kartu pos di hadapannya.
“Kartu pos dari Mona. Dia sakit.” Ujarnya pada Mrs. Ganno.
“Katanya si Mona nekat makan sambel goreng burung pipit
campur pepes sandal jepit dan akhirnya jatuh sakit.
Sepertinya kita harus merawatnya beberapa hari ini...”
“Dad!” teriak Shaven genit. “Dad, aku dapat sesuatu!”
“Apa itu?” tanya Mr. Ganno.
“Surat dari onde-onde!” jawab Shaven kemudian.
“Ande-ande? Ande-ande lumut?”
“Yee... bukan ande-ande! Onde-onde!”
“Oh, yang buat sanggul rambut?”
“Itu konde!”
“Konde itu bukannya nama minuman dari Jawa? Wedang konde?”
“Itu RONDE!!”
“Ya-ya... jadi inget lagu... olala, Putri Ronderonde...”
“Itu Putri Sarinandeeee!!!”
Harry cekikikan sendiri mendengar percakapan ayah-anak yang
rada susah nyambung itu.
Apa yang ditemukan Shaven memang rada-rada aneh dan unik.
Ada onde-onde terbang yang sibuk ngoceh kesana-kemari
seperti seekor burung yang lincah sambil membawa-bawa
terbang bungkusnya dan beberapa pucuk surat. Saat hendak
disergap oleh Mr. Ganno, onde-onde itu berkelit melarikan
diri dan meneruskan ocehannya kesana-kemari.
“Woiiii... kembali!” teriak Shaven memanggil onde-ondenya.
“Apa sih yang diomongin sama onde-ondenya?” kening Mr. Ganno
berkerut, diapun berkonsentrasi, mencoba mendengarkan apa
yang sedang diocehkan oleh onde-onde itu, mendadak sontak
wajah Mr. Ganno berubah pucat pasi saat menangkap kata-kata
yang diucapkan sang onde-onde, pucatnya sama persis waktu
mendapati Shaven pipis di WC umum tapi kelupaan membuka
celananya.
“S-s-sayaaaaang!” Mr. Ganno pun memanggil istrinya.
Shaven mencoba menangkap sang onde-onde nakal yang masih
saja terbang kesana-kemari, Harry juga terpaksa ikut-ikutan
mengejar benda unik itu. Karena sibuk mengejar, Shaven dan
Harry tidak memperhatikan apa yang sedang diucapkan oleh
sang onde-onde. Mrs. Ganno penasaran, dia mencoba
mendengarkan apa yang diucapkan sang onde-onde... dan
wajahnya juga berubah menjadi pucat pasi. Ia langsung
memeluk sang suami tercintanya dengan shock.
"Sayangku! Oh demi dewa – Onde-onde itu...!" teriak Mrs.
Ganno histeris.
“Ya... ya... begitu mengerikan...” Mr. Ganno memeluk sang
istri dengan sedih.
Mereka saling berpandangan, kelihatannya lupa bahwa Harry
dan Shaven masih saja sibuk gedebugan mengejar onde-onde
kesana-kemari.
"Sayangku! Oh demi dewa – Onde-onde itu...!" teriak Mrs.
Ganno histeris lagi.
“Ya... ya... begitu mengerikan...” Mr. Ganno menangis.
Mrs. Ganno menatap suaminya gamang. “Onde-onde itu...
onde-onde itu ngomong apa yah? Aku kok gak ngerti sama
sekali.”
Gubrags!
Mr. Ganno jatuh ngejengkang. Ternyata sedari tadi Mrs. Ganno
gak ngerti toh, tiwas udah pasang action memelas dengan
segenap upaya. Hihihi.
“Kalian berdua! Keluar!” ujar Mr. Ganno dengan parau pada
Shaven dan Harry. Dia memandangi onde-onde yang meringkuk di
pojokan sambil menggigiti ujung meja. Hihihi, itu onde-onde
apa tikus?
Shaven tidak beranjak dari tempatnya. Dia masih kebingungan
melihat kenapa sang ayah jadi tegang.
“Kenapa Dad?” tanyanya kemudian.
“Err, kayaknya ayahmu serius sekali yah?” ujar Harry.
“Ada sesuatu yang aneh dengan onde-onde itu, tapi ayah butuh
waktu konsultasi dengannya.” Jawab Mr. Ganno mengincar sang
onde-onde bak Tommy Lee Jones sedang menatap Harrison Ford
dalam film The Fugitive. “Kalian keluar dulu.”
Dengan kebingungan, Shaven dan Harry menurut saja, mereka
keluar dari ruang tamu, begitu juga Mrs. Ganno.
“Err... sayang?” tanya Mr. Ganno sambil bengong.
“Ya, honey?” istrinya yang lugu menjawab ketika hendak
melangkah keluar menyusul Harry dan Shaven.
“Kamu mau kemana?”
“Katanya disuruh keluar?”
“YA MEREKA ITU YANG KUSURUH KELUAR! KAMU DISINI AJAAA!”
“Ow!”
Hihihi. Dasar Mrs. Ganno kadang-kadang suka gak nyambung.
Dari luar ruangan, Shaven dan Harry memutuskan untuk
nguping. Abis gimana lagi cara mencari tahu apa yang sedang
terjadi di dalam ruangan kalau pintunya kemudian ditutup
rapat.
“Sayang,” Mrs. Ganno terbata-bata mengucapkan kata-katanya,
“Yang dia ocehkan itu... jangan-jangan... apa mungkin
mereka...? Oh mengerikan!! Sungguh mengerikan!! Tak kuduga
nasib kita akan seperti ini!! Celaka! Celakalah!! Ini
namanya azab! Azab ini namanya!!”
“Kamu ngomong apa sih??” Mr. Ganno bingung. “Kok nggak jelas
gitu?”
“Yah, ini kan sekedar aksi aja, siapa tau setelah baca fan
fiction ini ada yang tertarik menarikku kembali dalam fan
fiction-fan fiction lain, maklumlah, sekarang rada susah
dapat kerjaan sayang...” hihihi. Emangnya aktris sinetron
Indonesia, dasar Mrs. Ganno memang kadang-kadang suka
ngawur.
“Eh, tapi beneran nih...” lanjut Mrs. Ganno sambil gemetaran
(Apakah dia gemetar ketakutan karena adanya onde-onde yang
terbang itu? Olala, ternyata Mrs. Ganno gemetaran karena dia
sedang mencabuti kubus-kubus es batu yang ngendon lama di
freezer...hihihi...) “Coba dengar apa kata mereka, onde-onde
itu nyebutin alamat kita dengan jelas! Mereka juga tahu
dimana si Shaven ngumpetin kolornya yang udah bolong-bolong!
Menurutmu apa mereka mengamati dan menyelidiki rumah kita?”
“Mengamati... menyelikidi... mungkin bahkan mengikuti kita
kemana-mana...” Mr. Ganno mengangguk.
“Menyelidiki.” Mrs. Ganno membenahi ucapan suaminya.
“Lha ya itu yang betul!”
“Tadi bilangnya menyelikidi.”
“Salah! Yang betul menyelidiki.”
“Lha iya, tadi kan bilangnya menyelikidi...”
“Itu salah! Yang betul menyelidiki...”
“Weladalah, suamiku tersayang kok Srimulat sekali...”
“Menyelikidi!”
“Walah! Salah lagi kan, ...menye... ayo ikuti... menye...”
“Menye...”
“Li-“
“Li-
“Diki...”
“Diki.”
“Menyelidiki!”
“Menyelikidi... wazzahhh... menyelimimiki... hayaaa~”
“Suamiku...” tanya Mrs. Ganno serius. “Lalu apa yang harus
kita lakukan? Mengirim onde-onde ini kembali pada
pengirimnya yang semula? Padahal kita tidak tahu siapa
pengirimnya. Apa mungkin Pak Toyib sang penjual gorengan?”
“Tadinya aku pikir ini juga ulah Pak Toyib, ternyata bukan.
Pak Toyib tidak menjual onde-onde, melainkan hanya tempe
mendoan dan pisang goreng. Sedangkan bolang-baling dan
onde-onde bukan keahlian Pak Toyib.” Jawab Mr. Ganno.
Dua mahkluk kecil Shaven dan Harry masih saja asyik
mengintip. Kadang cekikikan, kadang pingsan. Apalagi kalo
pas Shaven kentut, uwah, si Harry langsung terkapar.
“Lebih baik kita cuekin saja, sayang.” Ujar Mr. Ganno pada
akhirnya. “Yah, kita cuekin saja deh. Daripada kalo
didengerin malah bikin puyeng kepala... Itu jalan yang
terbaik. Kita diemin aja biar nyaho~...”
“Akan tetapi Fernando Jose, Maria Mercedes adalah gadis yang
baik. Warisan itu telah jatuh ke tangannya.”
“Fernando Jose? Maria Mercedes?” Mr. Ganno bingung. “Kamu
ini ngomong apa? Kok nggak nyambung?”
Sunyi sesaat.
Mrs. Ganno langsung bolak-balik naskah. “Errr... hihihi,
mohon maap, sodara-sodara... itu tadi salah naskah. Yang itu
tadi buat telenovela.”
Harry dan Shaven yang udah serius-serius nguping jadi
gedubrakan jatuh ngejengkang.
“Kita mungkin tidak bisa mengawasi dan membantu Shaven
selama krisis onde-onde ini, Sayang.” Kata Mr. Ganno. “Kita
harus pergi untuk merawat Mona dan kita tidak bisa mengajak
Shaven.”
“Tapi...”
“Ada baiknya kita menitipkannya pada keluarga Dursley selama
kita pergi.”
“Tapi...”
“Aku tahu... memang menyebalkan, tapi kita harus
melakukannya, Sayang.”
“Tapi Fernando Jose...”
“APAAN SIH!”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Sorenya, Mr. Ganno duduk bersama Shaven di beranda rumah.
“Jadi, Dad.” Shaven bertanya. “Dimana surat-suratku? Siapa
yang mengirim?”
“Dad juga tidak begitu tahu soal itu, aneh juga, onde-onde
yang bisa berbicara itu sepertinya amat mengenal kondisi
rumah kita dan keadaanmu sampai sedetail-detailnya, ajaib
banget. Tapi onde-ondenya sudah dibungkus dan kulit
lumpianya sudah dimasak. Lumayan buat oleh-oleh untuk Tante
Mona yang sedang sakit.” Jawab Mr. Ganno.
“Dad dan Mom mau pergi ke tempat Tante Mona yah?”
“Iya. Maaf Shaven, tapi kami harus merawatnya. Kamu
sementara kami titipkan pada Keluarga Dursley.”
Shaven mengeluh. Tapi paling tidak dia bisa tinggal bersama
Harry untuk beberapa hari.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Rumah Keluarga Dursley ada empat kamar. Satu untuk Paman
Vernon dan Bibi Petunia, satu untuk tamu, satu untuk Dudley
dan satu lagi tempat Dudley biasa menyimpan mainan dan
benda-benda yang tidak muat masuk ke kamar tidurnya seperti
pohon rambutan dan lapangan tenis.
Gara-gara kedatangan Shaven ke rumah keluarga Dursley, satu
kamar terpaksa dikorbankan untuk bocah jayuz itu dan Harry
Potter. Kamar itu adalah kamar bermain Dudley. Setelah
dititipkan dengan paksa pada Keluarga Dursley, Shaven dan
Harry memindahkan barang-barang dari ‘kamar Harry’ yang
berada di bawah tangga ke kamar bermain Dudley.
Dudley yang takut setengah mati pada Shaven hanya bisa
merengek pada ibunya. “Jangan biarkan dia lama-lama tinggal
disini... aku butuh kamar itu...”
Untuk pertama kali dalam sejarah, Harry dan Shaven bisa
menarik nafas lega dan tidur tenang di rumah Keluarga
Dursley.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Keesokan paginya, saat sarapan bersama, semua yang hadir di
meja makan hanya terdiam saja tanpa mengatakan sepatah
katapun, termasuk penulis yang diberi jatah roti tawar selai
nanas oleh Harry.
Seperti yang pasti sudah kalian semua ketahui, seperti
halnya Shaven, ternyata Harry juga mendapat kiriman surat
ajaib yang seabrek-abrek, walaupun cara pengirimannya tidak
menggunakan paket onde-onde dan kulit lumpia, tapi tetap
saja surat-surat itu membuat Paman Vernon seperti kebakaran
jenggot karena sepertinya dia dan Bibi Petunia tahu dari
mana surat untuk Harry dan Shaven itu berasal. Beberapa kali
Paman Vernon musti bergulat dengan Dudley, Shaven dan Harry
untuk berebut surat-surat itu, beberapa kali pula tukang
lumpia yang biasa mangkal di komplek sebelah ikut bergulat
dengan mereka untuk mendapatkan kulit lumpia gratis.
Hari Jumat, tidak kurang dari 12 surat dan 10 kulit lumpia
dikirim ke rumah keluarga Dursley. Surat-surat, paket
onde-onde dan kulit lumpia makin hari makin membuat rumah
keluarga Dursley kumuh. Paman Vernon sudah mencoba menutup
semua celah dan lubang yang mungkin dimasuki surat sekecil
apapun, saking semangatnya, Paman Vernon bahkan menutup
lubang WC! Dih, gak berani bayangin gimana kalo mereka
kebelet ‘ke belakang’!
Hari Sabtu, masalah kiriman surat dan kulit lumpia mulai
membuat Keluarga Dursley kewalahan. Entah dari mana
datangnya surat-surat untuk Harry dan Shaven itu. Paman
Vernon sudah menyampaikan pidato protes berapi-api kepada
pihak kantor pos yang tidak tahu menahu mengenai pengiriman
itu sementara Bibi Petunia kerepotan memasak lumpia yang
seakan tidak ada habisnya. Bahkan Dudley jadi sangat
terkagum-kagum dengan ulah pengirim surat yang makin hari
makin ngotot mengirimkan suratnya pada Harry dan Shaven.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Minggu pagi, Paman Vernon duduk di meja makan kelihatan
sangat sakit dan kelelahan, tapi sepertinya senang.
“Tidak ada tukang pos di hari minggu.” Getarnya gembira.
“Tidak ada surat hari in...”
BRUAAALLL!!
Dari dalam cerobong asap, surat-surat berterbangan ke
seluruh penjuru rumah keluarga Dursley. Bibi Petunia dan
Dudley melarikan diri ke ruang tengah, Harry dan Shaven yang
sedang asyik bereksperimen dengan ulat bulu di tanaman milik
Bibi Petunia juga ditarik keluar oleh Paman Vernon.
“Grrr... cukup sudah!!” maki Paman Vernon kesal. “SEMUANYA
KELUUAARR!!”
Paman Vernon membanting pintu.
“Cukup sudah!” katanya. Dia berusaha setenang mungkin tapi
kumisnya yang mirip Jojon bergerak-gerak saking emosinya.
“Aku ingin kalian semua kembali kesini dalam lima menit!
Kita akan meninggalkan tempat sial ini! Kita akan pergi!
Kemas beberapa potong pakaian, gak perlu bawa satu lemari,
cukup bawa satu kontainer! Jangan lupa bawakan donat untuk
penulis!(hihihi...) Gak boleh ada yang protes!"
Beberapa saat kemudian, keluarga Dursley plus Shaven
Terpot-Ganno sudah meluncur dalam mobil Paman Vernon melalui
jalan tol Cawang. Dudley tersedu sedan di kursi belakang
karena Paman Vernon memukulnya berulang kali setelah dia
berusaha memasukkan kulkas ke dalam ranselnya.
Entah sudah berapa jam mereka berkendaraan, pokoknya lama
sekali. Bibi Petunia tidak berani bertanya apapun pada Paman
Vernon. Mereka tidak berhenti di warung untuk minum atau
makan. Ketika hari mulai gelap, Dudley melolong pedih, dia
baru saja melalui hari terburuk sepanjang hidupnya. Dia
lapar, melewatkan lima acara TV yang paling dia sukai dan
dia belum pernah bepergian lama tanpa sekalipun membaca
entry baru di forum HarpotIndo ataupun membaca lanjutan
kisah The Rays of Avera di forum Aestera.net (hehehe...).
Paman Vernon berhenti (akhirnya... penulis juga mulai capek
mengejar mobil Paman Vernon yang zigzag gak karuan) di
sebuah hotel kumuh dan kecil di luar kota yang mungkin
menjadi lokasi film ‘Psycho’. Dudley, Shaven dan Harry
berbagi kamar dengan dua tempat tidur dan satu kasur
tambahan, tentunya dengan seprei yang diragukan kualitas
higienisnya. Seperti biasa, setelah dua menit menyentuh
kasur, Dudley langsung ngorok. Shaven tidur tidak lama
setelah Dudley, kalo soal tidur dia juga sama hebatnya.
Hanya Harry yang masih terjaga sampai pagi dan sibuk
bertanya-tanya dalam hatinya...
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Paginya.
Keluarga Dursley, Harry dan Shaven sedang sarapan dengan
bubur ayam dan lontong sayur ketika sang pemilik hotel
bertampang lebih parah dari Tukul Arwana menghampiri mereka.
“Err... anu... monghon maap. Tapi anu... apa ada di antyara
kaliyan yang memiliki nama yaitu H. Potter dan S. Terpot?
Lha ini ada syurat-syurat gak tau darimana... ada numpukh di
halamant belakangh. Kami radah kerepotanh mengurusnyah.”
Pemilik itu mengangkat dua surat di genggaman tangannya.
Satu surat biasa, satu lagi kulit lumpia. Paman Vernon
terbelalak menatap alamat tertulis di surat dengan tinta
hijau terang.
Mr. H. Potter
Room 17
Railview Hotel
Cokeworth
Mr. S. Terpot
Room 17 Extra Bed
Railview Hotel
Cokeworth
Harry dan Shaven sudah siap mengambil surat itu tapi Paman
Vernon langsung mencegah mereka. Pemilik hotel menatap Paman
Vernon heran.
“Saya yang akan mengurus surat-surat itu.” Kata Paman
Vernon. Dia bangkit dan mengikuti sang pemilik hotel.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
“Apa tidak sebaiknya kita pulang saja ke rumah, Sayang?”
usul Bibi Petunia. Tapi Paman Vernon cuek bebek.
Berjam-jam berlalu, Paman Vernon bagaikan mengajak Bibi
Petunia, Dudley, Harry dan Shaven berkeliling dunia, keluar
masuk hutan rimba, naik turun gunung dan lembah, pergi ke
Timbuktu, pokoknya ke seluruh tempat terpencil yang sebisa
mungkin jauh dari peradaban.
“Apa Daddy sudah mulai gila?” tanya Dudley pada Bibi Petunia
saat Paman Vernon memarkir mobil di tepi pantai yang sepi,
mengunci mereka semua dari luar dan menghilang entah kemana.
Hujan mulai turun. Tetesan air hujan segede jagung
membombardir atap mobil. Dudley mulai merengek. “Ini hari
Senin.” Kata Dudley pada ibunya. “Ada acara Extravaganza di
TransTV. Aku pengen nonton Aming, ayo cari tempat yang ada
tv-nya!”
Senin. Harry tertegun, kalau ini hari Senin, maka besok
pasti hari Selasa! Bener kan? Iya dong! Pinter! Kalau
sekarang Senin, gak mungkin besok hari Jumat! Harry dan
Shaven berpandangan. Kalau sekarang hari Senin, maka besok
hari Selasa, dan mereka berdua akan merayakan hari ulang
tahun mereka yang ke-11. Walaupun ulang tahun Harry tidak
pernah menyenangkan, Shaven dan Harry selalu merayakannya
berdua. Tahun lalu, Paman Vernon memberi kado kaos kaki
bekas dan gantungan baju pada Harry, masih mending dibanding
Shaven yang sangat bahagia sewaktu mendapat kado kardus
indomie bolong dari Mr. Ganno. Hihihi...
“Haha! Sudah kutemukan! Akhirnya! Tempat yang luar biasa
sempurna! Ayo semuanya! Keluar!” ujar Paman Vernon sambil
tersenyum lebar ketika dia kembali.
Cuaca sangat dingin diluar mobil. Paman Vernon menunjuk ke
arah batu-batuan besar di lautan. Nangkring di ujung
bebatuan itu terdapat sebuah gubuk yang mungkin jadi
inspirasi lagu ‘Gubuk Derita’-nya Hamdan ATT. Gubuk itu
sepertinya juga berfungsi sebagai mercusuar, meski
keefektifannya masih diragukan mengingat kondisi gubuk yang
parah.
“Kayaknya malam ini bakal ada badai besar!” kata Paman
Vernon ceria sambil menepuk-nepuk tangan dengan senang.
“Sungguh sangat menguntungkan bapak ini mau menyewakan
perahunya pada kita.”
Seorang pria tua bergigi ompong bercelana bolong dan
sepertinya hobi makan kacang polong menunjuk ke arah benda
mengambang dengan pita merah jambu (walah genitnya...).
Sekilas lihat benda mengambang itu mirip sepatu bot bekas
yang dijahit jadi satu, tapi jangan salah, benda itu adalah
perahu, sodara-sodara. Sepintas lirik saja sudah bisa
dipastikan kalau perahu itu sebenarnya tidak pantas pakai,
kalo ibarat makanan kaleng sudah kadaluarsa.
“Terima kasih, Bapak. Anda baik sekali.” Ujar Shaven sopan.
“Saya sih tidak masalah, siapa juga yang mau menyewa perahu
bocor. Hehehe...” si bapak tua pemeran pembantu bergigi
ompong itu terkekeh-kekeh bahagia mengantungi beberapa
lembar duit pemberian Paman Vernon.
Perjalanan mengarungi pantai sungguh amat dingin. Sumpah!
Dingin banget, saking dinginnya ingus Dudley yang baru
keluar dari idung aja langsung berubah menjadi es batu asin.
Hiyeeeeeek!! Jorooooookkk!! Setelah perjalanan berjam-jam,
akhirnya mereka sampai di sebuah gubuk bertingkat yang di
atas atapnya terdapat lampu sorot besar.
Suasana di dalam gubuk sungguh sangat menyeramkan dan
menyedihkan. Bau-bauan yang kurang sedap memancar bak obat
nyamuk beraroma terasi bakar rangkap tiga. Selain itu,
macam-macam bentuk mahkluk hidup mendiami gubuk ini, cicak,
kecoak, jangkerik, kura-kura, lele, bawal, udang, gurameh
(hihihi, emangnya pemancingan). Tapi beneran deh, gubuk ini
kacau balau. Langit-langitnya banyak yang bocor, dindingnya
sudah lapuk. Kondisinya menyedihkan, mungkin hanya penulis
sendiri dengan dana terbatas yang mungkin mengontrak rumah
ini. Konon setelah menyaksikan sendiri kondisi rumah yang
sangat layak dijadiin lokasi syuting film horror itu, tim
Bedah Rumah siap diturunkan.
Paman Vernon sangat bangga sudah menemukan rumah di ujung
dunia ini, karena mereka bisa menghindar dari hujan
surat-surat yang berdatangan baik untuk Harry maupun Shaven.
Dia bahagia sekali.
Malam tiba, hujan badai gaduh menantang. Hujan deras
disertai angin besar menghajar tempat itu, mirip suasana
kalau Dudley baru saja kentut. Bibi Petunia menemukan
selimut yang sudah bolong-bolong sebagai alas tempat tidur
Dudley. Si tukang iseng itu sendiri tidur di sofa yang
ternyata juga sudah hampir habis dimakan ngengat, untungnya
ngengat dan Dudley bersahabat, jadi mereka bisa tidur
bersama dengan damai tanpa kurang suatu apa. Bibi Petunia
dan Paman Vernon sendiri memilih tidur di kamar sebelah dan
meninggalkan Shaven serta Harry yang tidur di kasur lipat
milik Shaven di depan perapian basah yang bahkan seorang
Sinterklas pun enggan memasuki saking kumuhnya.
Badai makin mengamuk di luar sana, suasana semakin seram,
semakin malam suasana jadi semakin ngeri, apalagi kalo
nonton film horror, wuih tambah ngeri. Apalagi sebelum tidur
tadi, di TV ada acara ‘Percaya Nggak Percaya Dong’, sebuah
acara yang dibalut muatan misteri seperti acara ‘Dunia Lain
Dong’. Shaven dan Harry tidak bisa tidur. Mereka berdua
memutuskan untuk main kartu, tadinya sih mau ngajakin
Dudley, tapi si gendut satu itu suka curang kalo main. Kartu
asnya suka diumpetin, kadang malah kelupaan ngumpetin
dimana, suatu ketika pernah ketauan ternyata diumpetin di
celana dalam dan lupa diambil tiga hari tiga malam! Nah lo~
hiyek banget kan? Jijay.
Suara ngorok si Dudley juga sama aja, saingan sama suara
petir dan tabuhan gendang panggung dangdut di ujung
cakrawala, buset deh, kirain udah ke ujung dunia, eh, masih
kena kejar panggung dangdut pula. Tuh, kedengeran
suaranya...
“Digoda? Mauuuuu doooooong...”
Jam tangan Shaven menunjukkan waktu jam dua pagi, jelas itu
salah karena jam itu sudah mati sejak minggu kemarin,
satu-satunya petunjuk waktu bagi mereka berdua adalah jam
digital di tangan Dudley yang menjdi petunjuk bahwa sepuluh
menit lagi mereka berdua akan berumur sebelas tahun. Harry
bertanya-tanya apakah keluarga Dursley akan ingat hari ulang
tahunnya. Sementara Shaven sudah tertidur pulas kembali
kalau tidak tersenggol-senggol Harry yang gelisah. Hihihi,
Shaven-mah kalo sudah kena bantal langsung pules, tadi kan
cuma aksi aja nemenin Harry.
Lima menit menjelang hari ulang tahun. Shaven mendengar
suara aneh di luar. Mudah-mudahan konser dangdut di sebelah
sana sudah mau selesai, gak tahan lagi denger suara
penyanyinya yang kenes itu.
‘Kucoba-coba melempar
manggis,
manggis kulempar mangga kudapat,
kucoba-coba melamar gadis,
gadis kulamar janda kudapat.
Jamane, jamane, jaman edan..
Ono wong tuwo rabi perawan.
Prawane yen bengi nangis wae.
Amergo wedi karo manuke...
Manuke, manuke cucakrowo,
Cucakrowo dowo buntute,
Buntute seng akeh wulune,
Yen digoyang... serr... aduh enake...’
(<ehem> maaf para pembaca, penulis kalo udah nyanyi
‘Cucakrawa’ terkadang suka rada berserk, hihihi. Oh iya,
anu, kalo gak ngerti liriknya yang pake bahasa jawa,
mendingan nanya sama yang bisa aja yah... hihihi, penulis
lagi males nerjemahin nih.)
Empat menit lagi, hem, kayak apa yah suasana Privet Drive
sekarang? Mungkin sudah berubah jadi pasar malam, gak cuma
ada onde-onde, tapi juga ada bolang-baling, martabak, tahu
petis dan lain-lain. Begitu pikir Shaven dalam hati. Memang
kurang relevan dengan situasi menegangkan yang saat ini
dihadapi, tapi yah memang dari awalnya dia udah bodor.
Tiga menit lagi.
He? Ada bunyi apa itu di luar? Mengetuk-ngetuk bebatuan
dengan keras?
Dua menit lagi.
Dan bunyi berderak apa pula itu di luar? Apakah batu-batuan
yang jatuh ke laut?
Shaven dan Harry cekikikan, mereka tertawa karena menyadari
kenyataan lucu, mereka dilahirkan pada waktu yang hampir
bersamaan, tinggal berdekatan dan sekarang merayakan ulang
tahun pun bersama. Satu menit lagi dan usia mereka bertambah
menjadi sebelas tahun.
30 detik…
20…
15…
26…
29…
Eh salah kok malah balik lagi ke 26… mohon maaf, penulis
kadang kurang konsen, Hihihi.
10…
9…
Shaven melirik iseng ke arah Dudley, mungkin dia akan
melempar anak itu keluar rumah, sebagai kado ultah bagi
dirinya sendiri.—
3…
2…
1…
KA-BOOM.
Seluruh tempat itu bergetar. Shaven dan Harry bangkit
bersamaan. Mereka menatap dengan tegang ke arah pintu yang
terus menerus bergetar. Seseorang ada di luar, dan
jelas-jelas sedang berusaha masuk, mungkinkah itu tukang
pos? Kok iseng amat nganterin kiriman sambil ribut-ribut
gedor-gedor pintu?
Atau pengantar pizza?
Atau tukang koran?
Atau tukang listrik lagi ngecek meteran?
Atau tukang kredit panci?
Yang jelas…
Jawabannya ada di edisi selanjutnya…
Eng ing eng…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
PS: Jawabannya sudah pasti Hagrid. Gak perlu nunggu edisi
selanjutnya kan? Kalian juga pasti udah tahu. Hehehe…
-BERSAMBUNG-
Kembali
Next
Previous |