CHAPTER FOUR
Menara Kembar
BOOM.
Bunyi suara keras mengetuk pintu terdengar lagi. Dudley
terbangun dengan kaget, celananya terlihat basah karena
ompol, untunglah dia pake pampers sehingga ompolnya gak
menyebar kemana-mana. Dengan wajah sayu karena masih
mengantuk, Dudley bertanya lugu. “Sapa sih yang kentut?”
Tiba-tiba tedengar bunyi berdebam di belakang Shaven dan
Harry. Rupanya Paman Vernon bak Spider-Man dengan sigap
sudah turun ke ruangan bawah. Dia memegang sepucuk pistol
air di satu tangan dan pemukul lalat di tangan lain. Luar
biasa gagahnya.
“Sapa tuh!!” teriaknya. Paman Vernon bergaya mirip Jaja
Miharja. “Sapa tuhh!?”
Tidak terdengar suara apapun. Semuanya senyap. Lalu…
BUMMM!!
Pintu depan yang kokoh terlempar masuk ke dalam rumah dan
terjatuh bagaikan kartu domino yang baru saja dilempar oleh
pemain domino yang sedang memainkan domino di ajang
permainan domino (Argh!! sekali lagi ada kata pengulangan
kata, penulis bakalan… Arghhh!! Pokoknya arghhh!!).
Dua orang pria bertubuh besar seperti buto ijo berdiri di
tempat dimana tadinya terdapat pintu besar. Yang satu
wajahnya lumayan sangar, gondrong, brewok dan griwut-griwut.
Bukan wajah yang menunjukkan karakter seorang anggota DPR,
tapi kalo dilihat sekilas lumayan mirip Surya Paloh. Matanya
yang tajam menyorot tajam bagaikan pisau tajam sedang
menyayat tajam benda yang bisa dipotong oleh pisau tajam (Argghhhhhhhhhhhhhhhh!!!).
Pria bertubuh besar yang satu lagi berkulit hitam dan gundul,
rada susah dibedakan ini orang apa tiang listrik saking
itemnya, untung kadang murah senyum. Wajahnya lumayan jenaka
tapi sorot matanya serius. Ini adalah penampilan debutnya,
jadi dia merasa perlu menunjukkan karakter serius sebagai
upaya meraih simpati publik agar bisa terus dijadikan
karakter utama.
Si bongsor brewok masuk ke dalam gubuk derita dengan sedikit
usaha ekstra, maklumlah, lubang pintu yang didesain kecil
sesuai anggaran itu memang sengaja dibuat khusus untuk
ukuran orang bertubuh normal, bukan yang ala bagong begini.
Begitu masuk pun, si bongsor musti rada membungkuk,
untunglah dia tidak tinggal di sini, bisa kena osteoporosis.
Suara guntur di luar sana berulang-ulang membahana seakan
sang petir sedang asyik menggoreng sayur (sumpah mati, ini
perumpamaan nan sangat ngawur). Si bongsor menatap mereka
yang berada di dalam gubuk satu demi satu, tak lama kemudian,
temannya yang berkulit hitam menyusul masuk.
JDUG!
Aduh… tuh kan, gak membungkuk sedikit sih, kejedot deh. Tapi
si kulit hitam cuek, tentunya karena malu luar biasa. Hihihi.
Si kulit hitam langsung nyerocos. “Adah nyang bisah
membikinken segelas teh? Bibir inyong rada-rada bekuh
gara-garah perjalanan jauh…”
Dengan santai si bongsor brewok duduk di samping Dudley yang
melongo sejuta perkara. Dia menatap Dudley tanpa berkedip.
“Apa liat-liat? Naksir yah?” tanya si bongsor pada Dudley.
“Ng… ng… ng…”
“Boo!”
“Emaaaaaakkk!!!” ditakuti-takutin seperti itu, Dudley
langsung ngacir dan sembunyi di belakang ibunya, yang juga
sedang meringkuk ketakutan di balik Paman Vernon.
“Apa nyang ini nyang namanya Haryo Petir?” tanya si kulit
hitam sambil menunjuk Harry.
Harry dan Shaven meringkuk di depan perapian dan berpelukan
mesra, lumayan ketakutan, walau gak sampe ngompol kayak
Dudley.
“Harry Potter… bukan Haryo Petir.” Si bongsor brewok
membenarkan. “Emangnya orang Jogja? Ngawur aja! Bisa
diprotes si JK kamu…”
“Kalau nyang ini pasti Shaven!” si kulit hitam menunjuk
Shaven Terpot dengan bangga. Raksasa berkulit legam itu
tersenyum lebar. “Terakhir kali ketemu kalian berdua, kalian
masih orok, masih pake pampers! Tapi coba liat kalian
sekarang! Wah-wah, benar-benar mirip kayak bapak ibunya!
Hahahaha…! Lho, Shaven… kamu kok lebih mirip buah melinjo?”
Paman Vernon maju. Dia tidak takut, dia dilahirkan sebagai
orang paling berani kentut di muka umum di keluarganya, dan
dia tidak takut pada raksasa manapun, baik yang brewok
maupun yang mirip karung beras. Jempol kakinya menggigil
tapi dia tidak takut. “Saya minta anda berdua segera keluar
dari tempat ini, Bapak-bapak! Anda berdua sudah masuk tanpa
diundang!”
“Aesh! Diem aja lah, Dursley! Nafasmu itu bau terasi!”
bentak si kulit hitam. Si brewok dengan mudah menyita pistol
air dan pemukul lalat dari tangan Paman Vernon dan
melemparkannya ke pojok ruangan. Beberapa ekor tikus yang
tadinya hidup damai ngamuk-ngamuk karena benjol kena
lemparan.
Paman Vernon jadi nginyem. Kalah arang.
“Nah – Harry.” Kata si brewok, dia memunggungi keluarga
Dursley yang saling berpelukan kayak Teletubbies. “Selamat
ulang tahun buat kamu yah. Kamu juga Shaven, selamat ulang
tahun! Dippy! Mana kuenya?”
“Err… tadi sih ada… cuma kayaknya abis di perjalanan. Abis
laper…” si kulit hitam malu-malu mengakui.
“Walah!” si brewok geleng-geleng kepala. “Untung aku bawa
cadangan. Sorry kalo rada rata, tadi kegiles pantat. Tapi
rasanya masih enak kok.”
Dari kantung dalam jas panjang hitamnya, si brewok menarik
sebuah kotak yang sepertinya baru saja terlindas truk
gandeng. Harry dan Shaven membuka kotak itu dengan tangan
gemetar. Di dalamnya ternyata terdapat cake coklat dengan
hiasan tulisan berwarna hijau, ‘Selamat Ulang Tahun Harry
Potter & Shaven Terpot’.
Shaven menatap ke arah kedua raksasa itu dengan heran.
Seumur-umur dia belum pernah liat yang ginian, apa mereka
ini yang dinamakan jin iprit? Harry menatap Hagrid dengan
takut-takut, maunya sih mengucapkan terima kasih, tapi yang
keluar dari mulutnya malah… “Siapa kalian?”
Kedua raksasa itu tertawa terbahak-bahak.
“Ah iya. Aku belum memperkenalkan diriku sendiri. Namaku
Rubeus Hagrid, penjaga kunci merangkap tukang kebun di
Hogwarts.” Kata si brewok sambil tertawa.
“Kalo aku Dippodus Hagrid, biasa dipanggil Dippy. Pekerja
freelance di Hogwarts, kadang jadi janitor, kadang jadi
tukang kebun, kadang jadi tukang reparasi, pokoknya segala
macam pekerjaan asal halal. Maklumlah, cari kerjaan sekarang
susah.” Si kulit hitam menyusul. “Oh iya. Kami berdua ini
saudara kembar lho. Mirip kan? Ada yang bilang kami ini
susah dibedakan.”
Dudley, Paman Vernon, Bibi Petunia, Shaven dan Harry pun
terpaksa melongo. Saudara kembar?? Kembar dari mananyaaaa??
Hagrid dan Dippy mengajak Harry dan Shaven bersalaman.
Tangan mereka yang benar-benar besar seperti melumat
tangan-tangan kecil Harry dan Shaven.
“Ma-maaf… tapi Rubeus Hagrid dan Dippodus Hagrid? Kami
benar-benar tidak mengenal kalian.” Kata Harry berusaha
sopan.
“Mungkin ada kenal dengan Wijanarkus Inggrid yang presenter
itu?” tanya Shaven.
“Hush! Itu Inggrid Wijanarko! Jauh amat plesetannya!” sergah
Harry.
“Kalau dengan Ermus Kullid yang penyanyi?” tanya Shaven lagi.
“ITU ERMY KULIT!! Plesetannya yang deket dikit napa?!”
hardik Harry gondok.
“Yeee… namanya juga nanya, sapa tau sodara.” Shaven protes.
“Bagaimana kami bisa memanggil kalian?” giliran Harry yang
bertanya.
“Panggil saja aku Hagrid.” Kata si brewok itu lagi.
“Semuanya memanggilku begitu. Seperti yang aku ceritakan
tadi, aku pemegang kunci di Hogwarts. Kalian berdua sudah
tahu banyak tentang Hogwarts kan tentunya?”
“Err… belum.” Jawab Shaven lugu.
Hagrid nampak terkejut. Wajahnya mirip seperti Spongebob
yang baru saja kesetrum ubur-ubur sekaligus menjumpai
Patrick sedang berpesta dengan Squidward tanpa mengajak
dirinya.
“Maaf…” Harry menyambung. “Tapi kami benar-benar tidak tahu.”
“Dasar dodol.” Dippy menggeleng jengkel dan menatap pasangan
Dursley dengan mata melotot disangar-sangarin. “Kalau
keluarga Ganno sih memang tidak tahu apa-apa, jadi mereka
tidak bisa disalahkan. Tapi pasangan Muggle yang mirip
kaleng sarden ini… grr… seharusnya mereka minta maaf! Kalo
cuma ngumpetin surat sih okelah. Tapi kalo mereka sampai
tidak memberitahu Harry soal Hogwarts itu sudah keterlaluan!
Ampuuuun deh! Benci akuuu! Harry, apa kamu tidak
bertanya-tanya dari mana orangtuamu mempelajari semuanya?”
“Semuanya apa?” Harry tambah bingung.
Shaven sudah mau usul kalau bingung mendingan pegangin
puser, tapi kayaknya usul itu jarang ada yang mau menuruti,
jadi dia mengurungkan niatnya.
“SEMUANYA APA?” Hagrid dan Dippy berdiri serentak dengan
kaget.
Kedua pria bertubuh raksasa itu nampak sangat marah,
emosinya memuncak, pasti darah tinggi mereka sedang kumat.
Keluarga Dursley tambah nginyem di pojokan. Wajah si Dudley
yang kena pepet Paman Vernon dan Bibi Petunia jadi mirip
kardus pipih.
“Berani-beraninya kalian tidak menceritakan apapun –APAPUN!!
Pada Harry Potter?” gertak Dippy.
“Cerita apa?” Harry tambah penasaran.
“Tentang dunia kita, duniamu, duniaku, dunia orangtuamu,
dunia kita!”
“Dunia apaan?” bisik Shaven pada Harry. “Kalau Sinar Dunia
sih merk buku tulis.”
Harry mengangkat bahunya. “Aku juga gak begitu ngerti. Dunia
apaan?”
Hagrid tambah emotion. “DURSLEY! Dasar dondong duren duku!!”
Paman Vernon yang pucat pasi hanya membisikkan sesuatu yang
kedengeran seperti. “Temntpmesr.”
Hagrid menatap Shaven dan Harry bersamaan. “Tapi mustinya
kalian mengenal orangtua kalian. Mereka orang ngetop.
Sengetop Donal Bebek. Mereka terkenal. Kalian juga
terkenal.”
“Ha? Terkenal? Kalo di antara tetangga sih memang kami
terkenal…” Shaven menjawab dungu. “Yang paling nggak satu
blok-lah…”
“Apa? A-ayah dan Ibuku orang terkenal? Apa mungkin mereka
adalah David Beckham dan Victoria Adams?!” Harry tambah
kacau.
Dippy dan Hagrid memandang lembut dua anak kacau itu.
“Mereka tidak tahu, Hagrid.” Kata Dippy.
“Ya. Mereka tidak tahu…” Hagrid mencoba bertanya lebih pelan
pada Harry dan Shaven. “Kalian tidak tahu siapa kalian ini
sebenarnya?”
Tiba-tiba saja Paman Vernon protes. “Woe-woe! Tunggu dulu!
Berhenti sampe di situ! Kularang kalian memberitahu apapun
pada anak itu! Kalo Shaven sih dari sananya juga udah dongo~
tapi kalian dilarang menceritakan apapun pada Ha…”
“Kamu tidak pernah memberitahu dia? Tidak pernah memberitahu
apa yang tertulis di surat Dumbledore yang ditinggalkan
untuknya? Aku berada di sana! Aku melihat Dumbledore
meninggalkan surat, Dursley! Kalian menyimpan semua rahasia
ini selama bertahun-tahun?!”
“Surat? Kata ayahku sih dulu memang ada surat yang
seharusnya diberikan padaku… tapi… kata ayah suratnya luntur
karena kelupaan kesimpen di kantong celana ayah dan kecuci
di mesin cuci… kayaknya suratnya ancur deh…” Shaven
mengingat-ingat.
“Surat apa? Menyimpan rahasia apa?” Harry makin risih.
Paman Vernon tambah panik. “JANGAN! KULARANG KALIAN!”
Bibi Petunia ketakutan.
“Ah… sudahlah kalian berdua! Harry dan Shaven kan belum
menjadi penyihir.” Kata Dippy.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“…belum jadi apa…?” Harry dan Shaven serentak bertanya.
“Penyihir, tentu saja!” kata Hagrid. Dia dan Dippy duduk di
sofa dengan santai. “Kalian adalah calon penyihir-penyihir
hebat! Setelah melalui beberapa latihan, aku yakin dengan
bakat lahir kalian, kalian akan menjadi penyihir hebat. Yah…
paling tidak kalau Dippy bilang sih, kalian berbakat jadi
tukang tambal ban.”
Shaven akhirnya memberanikan diri membuka surat yang terbuat
dari kulit lumpia yang sejak kemarin selalu berusaha
disampaikan padanya. Surat itu bertuliskan namanya dalam
tinta hijau terang,
To Mr. Terpot,
The Floor,
Gubuk Derita On The Rock,
The Sea.
Shaven mulai membaca suratnya.
“HOGWARTS SCHOOL of WITCHCRAFT and WIZARDRY
Headmaster: ALBUS DUMBLEDORE
(Order of Merlin, First Class, Grand Sorc., Chf. Warlock,
Supreme Mugwump, International Confed. of Wizards)
Dear Mr. Terpot,
We are forced to inform you that you have been accepted
reluctantly at Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry.
Please find enclosed a list of all necessary books and
equipment.
Term begins on September 1. We await your owl by no later
than July 31.
Yours sincerely,
Minerva McGonagall,
Deputy Headmistress”
Seribu pertanyaan meledak dalam kepala kecil Shaven seperti
korek api menyalakan obat nyamuk bakar di gudang petasan.
Dia bingung apa yang harus ditanyakan, seperti misalnya…
kenapa kok suratnya pake bahasa Inggris? Dia kan kurang
lancar berbahasa Inggris. Shaven dan Harry yang sama-sama
membuka surat saling berpandangan untuk yang kesekian kali
dan melongo untuk yang kesekian kali pula. Kalo keseringan
melongo, mereka lebih cocok jadi aktor Dumb & Dumber
sebenarnya.
Setelah beberapa saat kemudian, barulah Harry yang
mengajukan pertanyaan. “Apa maksudnya, mereka menunggu
burung hantuku?”
“Weladalah, lutung pake sarung! Ampir aja lupa!!” kata
Hagrid. Dia menepuk tangan ke dahinya sendiri dengan sangat
keras. Paman Vernon tadinya hendak menyarankan pada Hagrid
kenapa gak sekalian saja menggunakan palu, tapi langsung
diurungkan niatnya. Dari balik jas panjangnya, kali ini
Hagrid mengambil seekor burung hantu. Burung hantu beneran –
idup, ngos-ngosan – gimana gak ngos-ngosan kalo sepanjang
hari dikempit di ketiak si Hagrid? Hagrid juga mengambil
pena dan satu gulungan perkamen. Hagrid pun segera menulis
surat, Shaven mengintip surat itu, buset, tulisannya
benar-benar cakar ayam.
“Dear Professor Dumbledore,
Surat Harry dan Shaven sudah diterimakan.
Aku akan mengajak Harry membeli barang-barangnya,
Sedangkan Dippy akan membawa Shaven.
Di sini cuaca jelek, ujan terus.
Salam kompak selalu.
Empat kali empat enambelas,
Sempat tidak sempat harap dibalas.
Hagrid.”
Hagrid menggulung surat itu, memberikannya pada sang burung
hantu yang langsung menggigit gulungan surat itu dengan
paruhnya. Hagrid membawa burung hantu ke lubang pintu dan
melemparnya ke arah badai dengan santai. Dia lalu kembali
dan duduk di sofa.
Harry dan Shaven melongo. Bujubuset! Kayak sulap di
kelurahan aja!
“Sampai mana tadi?” tanya Hagrid, tapi saat itu, Paman
Vernon yang masih sedikit malu-malu kucing mendekat ke arah
perapian.
“Dia tidak akan pergi kemana-mana.” kata Paman Vernon.
Hagrid melenguh kayak sapi. “Coba lihat saja, bagaimana
Muggle perkasa kayak kamu akan menghentikan dia?”
“Mu-… Apa?” tanya Shaven, dia tertarik dengan kata yang baru
saja disebut Hagrid.
“Seorang Munyel.” Bisik Dippy pada Shaven yang berdiri di
sebelahnya. “Itu sebutan untuk manusia non penyihir, kayak
keluarga Dursley nyang nyebelin itu, mereka Munyel-Munyel
paling menyebalkan nyang pernah aku lihat.”
“Muny… Apa tadi sebutannya?” Shaven bertanya.
“Munyel.”
“Munyel?”
“Iyah. Munyel. Kenapa?”
“Bukannya kalo di buku-nya JK itu sebutannya Muggle?”
“Eh iyaa!! Muggle!! Walah, kamu kok lebih tau dari aku yah?”
Perhatian Shaven dan Dippy kembali lagi pada ‘drama’ yang
terjadi antara Keluarga Dursley, Harry Potter dan Hagrid.
“Kami sudah bersumpah saat menerima Harry kalau kami akan
menghentikan semua omong kosong itu.” Kata Paman Vernon.
“Pokoknya kami tidak mau dia menjadi penyihir!”
Singkat cerita, Paman Vernon dan Bibi Petunia akhirnya
mengakui kalau mereka sengaja menyembunyikan kenyataan yang
selama ini menyelubungi rahasia masa lalu Harry. Bibi
Petunia akhirnya juga membuka cerita masa lalunya tentang
bagaimana dia iri pada saudarinya (Lily – Ibu Harry) karena
sejak kecil Lily dianggap sebagai idola di rumah mereka
sedangkan dia hanya dianggap idola oleh segelintir satpam
komplek. Lily akhirnya bertemu dengan James Potter, mereka
menikah dan lahirlah Harry Potter. Bibi Petunia kesal karena
sejak Lily dilenyapkan oleh ‘seseorang’, merekalah yang
harus merawat anaknya yang sama anehnya dengan James dan
Lily. Sekali lagi… kalo mau cerita lengkapnya, baca aja buku
Harry Potter yang pertama, capeklah penulis kalo musti
menulis lengkap di sini. Hihihi…
Sekarang giliran Shaven.
“Shaven… orang tuamu sebenarnya adalah dua orang penyihir
yang tidak kalah hebatnya dengan James dan Lily Potter.”
Ujar Dippy menerangkan. “Mereka berdua, Aragorn dan Arwen
Terpot adalah pimpinan kelompok penyihir underground yang
mengadakan perlawanan terhadap seorang penyihir jahat.
Mereka menghilang dan tidak pernah dijumpai lagi saat
akhirnya berhadapan dengan penyihir itu.”
“Lho? Bukannya mereka beralih profesi menjadi pemaing
kethoprak wayang orang?” tanya Shaven. “Seperti yang ditulis
oleh penulis di bab satu cerita ini?”
“Itu juga benar… <keluh>… ceritanya sedikit panjang…” kata
Dippy. “Merepotkan memang ketidak-konsistenan penulis yang
dodol itu.”
“Lah? Tapi… apa yang sebenarnya terjadi?” Shaven terus
mengejar.
Emosi menghilang dari wajah Hagrid. Dia menjadi sedikit
gelisah.
“Aku tidak mengira akan melakukan ini.” Katanya pelan dan
khawatir. “Aku tidak membayangkan apapun waktu Dumbledore
bilang kalian hanya tahu sedikit saja tentang dunia sihir
dan masa lalu kalian. Ah, Shaven… Harry… aku tidak tahu
apakah kami orang yang tepat untuk menceritakan ini pada
kalian… tapi seseorang harus melakukannya… kalian tidak bisa
begitu saja pergi ke Hogwarts tanpa tahu apa-apa.”
Hagrid menatap keluarga Dursley dengan jijik.
“Yah… mungkin aku dan Hagrid bisa menceritakan sedikit kisah
yang kami ketahui. Sedikit saja sih, karena semuanya masih
misterius. Tapi… semuanya dimulai dari…” Dippy menghentikan
ceritanya.
Dippy dan Hagrid berpandangan dengan kacau, mereka melenguh
hampir bersamaan seperti suporter sepakbola yang gawang tim
kesayangannya kebobolan duabelas gol. Dippy akhirnya membuka
suara. “Semua dimulai… dari seseorang… sebenarnya semua
orang di dunia kami mengenalnya…”
“Siapa?” tanya Harry.
“Yah- kalau bisa sih aku tidak ingin menyebutkan namanya.
Tidak ada yang mau menyebutkan namanya.” Kata Dippy.
“Kenapa tidak?” Harry kembali bertanya.
“Onde monde, Harry! Orang-orang masih ketakutan. Auh… ini
susah sekali. Jadi begini, ada seorang penyihir hebat yang
berubah menjadi… jahat. Lebih jahat dari gerombolan siberat.
Jahat sekali pokoknya. Dan namanya adalah… namanya adalah…”
Dippy meneguk ludah, tapi tidak ada kata-kata yang terucap.
“Bisa ditulis aja kan?” usul Shaven.
“Gak bisa. Menulis ‘Apel’ aja musti beberapa kali ulang,
apalagi menulis nama penyihir yang satu ini. Dippy rada
payah kalo suruh mengeja.” Bisik Hagrid. “Suatu kali dia
pernah disuruh Professor Dumbledore menulis ‘Ini Ibu Budi’
eh… yang ditulis malah… ‘Ienie Iebuw Buwdi’. Hihihi… Dippy
memang suka asal.”
“Baiklah…” Dippy menyerah. “Namanya Voldemort. Jangan
membuatku mengulang namanya sekali lagi karena…”
“Siapa?” Shaven bertanya.
“Voldemort.” Jawab Dippy.
“Aduh, aku gak denger… siapa?”
“Voldemort.”
“Valdemar?”
“VOLDEMORT!! Dih! Bolot amat sih..... Ups…” Dippy baru sadar
kalau dia malah mengulang-ulang menyebutkan namanya. Hihihi.
Hagrid mengambil alih dan menerangkan. “Penyihir ini,
sekitar 20 tahun yang lalu, berkampanye untuk mencari
pengikut. Lumayan banyak yang bergabung dengannya, apalagi
saat itu partainya lumayan mendapat dukungan dalam pemilu.
Yang bergabung dengannya sebagian karena takut, sebagian
karena pengen menguasai kekuatannya, sebagian lagi karena
menganggur dan susah cari kerja, gajinya pun konon rada
lumayan, maklumlah penyihir swasta. Masa-masa itu adalah
masa-masa yang kelam. Tidak tahu siapa yang bisa dipercaya,
tidak ada yang berani berteman dengan penyihir yang aneh,
apalagi dengan Si Sirik, Juwita aja ogah. Penyihir ini
perlahan berkuasa. Tentu saja banyak yang melawannya, banyak
yang dibunuh dan banyak pula yang dihilangkan kekuatan dan
ingatannya, seperti pada kasus orang tua Shaven, Aragorn dan
Arwen Terpot. Sampai saat ini, kami masih belum tahu di mana
mereka berada, kami hanya tahu dari gossip yang beredar
kalau mereka sudah beralih profesi, sangat mungkin mereka
sudah dicuci otak oleh Jahat-Amat-Sih-Nih-Orang dan
melupakan jati diri mereka yang sebenarnya.”
“Aragorn dan Arwen Terpot mendanai gerakan perlawanan
terhadap Yah-Gitu-Deh-Namanya. Mereka memiliki perusahaan
penghasil selai nanas besar dan lumayan disegani. Menyadari
sumber dana itu, Idih-Siapa-Sih-Tuh akhirnya mengirim sihir
luar biasa kuat yaitu sihir ‘Gulungtikarus Perusahaanus Gak
Majus Majus’. Sihir ini berhasil membuat Aragorn dan Arwen
bangkrut.” Lanjut Hagrid. “Aragorn dan Arwen melarikan diri
ke Hogwarts dan bergabung dengan James dan Lily Potter.
Kenapa Hogwarts? Karena Albus Dumbledore sang kepala sekolah
adalah tokoh paling ditakuti oleh Ya-Dia-Itu. Dia tidak
melanjutkan pengejarannya pada Aragorn dan Arwen ataupun
pada James dan Lily. Paling tidak untuk saat itu.”
“Karena dekat dengan Dumbledore, keempat orang ini tidak
berhasil dibujuk oleh Pokoknya-Itu-Namanya ke sisi
kegelapan. Entah karena mungkin gatel dengan gangguan
keempat tokoh penyihir hebat ini, pada perayaan Halloween
sepuluh tahun lalu, Pokoknya-Penjahat-Paling-Hebat ini
datang ke desa tempat tinggal orang tua kalian yang
kebetulan bertetangga dan berhadapan langsung dengan orang
tua kalian. James dan Lily Potter… yah… tidak selamat dalam
peristiwa itu, sementara Aragorn dan Arwen Terpot…
menghilang entah kemana.” Dippy menjelaskan.
Dippy dan Hagrid berpelukan dan mengeluarkan dua lembar sapu
tangan yang ada tulisan ‘Welcome’. Hihihi… ini sapu tangan
atau keset sih? Mereka berdua sedih karena harus mengingat
tragedi sepuluh tahun yang lalu.
“Maaf.” Kata Dippy. “Tapi kami sedih sekali. Mereka berempat
adalah orang-orang yang baik dan manis… hiks… apalagi si
Aragorn Terpot pinjem duit buat kredit panci belum
dibalikin, oalah sedihnya aku… hiks…”
“Si-Penjahat-Keji-Lagi-Bau-Ketek itu tidak berhenti begitu
saja. Entah kenapa dia juga berusaha membunuh kalian
berdua.” Wajah Hagrid menegang. “Mungkin dia ingin
membersihkan keluarga kalian hingga tidak ada yang tersisa.
Tapi dia gagal melakukannya. Kalian berdua selamat, walaupun
Dia-Yang-Namanya-Susah-Dieja meninggalkan kenang-kenangan
berupa tanda mirip petir di dahi Harry dan tanda yang sama
di pantat Shaven. Penjahat-Keji-Tapi-Ngetop itu berhasil
melenyapkan orang tua kalian, menghancurkan rumah kalian,
tapi gagal membunuh kalian berdua. Itu sebabnya kalian
berdua menjadi terkenal. Seumur-umur belum pernah ada yang
selamat dari ancamannya. Tidak ada seorang pun yang selamat
kecuali kalian berdua. Dia sudah membunuh penyihir-penyihir
terhebat sepanjang masa seperti keluarga McKinnons, Bones,
Prewetts, Kusnadis dan Bajuris. Kalian masih orok, tapi
berhasil selamat. Karena peristiwa tersebut, kalian berdua
jadi bocah-bocah yang paling ngetop seantero jagad.”
Harry jadi teringat sebuah kenangan menyakitkan, cahaya
hijau menyilaukan dan tawa yang mengerikan. Shaven malah
teringat kata-kata makian karena pipisnya tanpa sengaja
mengenai seseorang yang penampilannya tidak begitu jelas.
Hagrid dan Dippy saling pandang dan dengan sedih menatap
mereka berdua. “Kami menyelamatkan kalian dari puing-puing
rumah kalian atas perintah Dumbledore. Lalu membawa kalian
ke…”
“Cerita murahan!” tukas Paman Vernon. Shaven terkejut,
apalagi Harry. Mereka lupa kalau keluarga Dursley juga masih
ada di sini, kenapa gak ke laut aja sih? Paman Vernon yang
nampaknya sudah kembali pede-nya menatap Hagrid dan
menggenggam tinjunya. “Dengar Harry… aku gak peduli kalau
kamu anehnya kayak penulis sekalipun, tapi bapak ibumu itu
biangnya aneh, kalo menurutku sih dunia ini lebih mending
kalo gak ada mereka, dan segala urusan sulap menyulap ini
menambah…”
Dippy melompat mendekati Paman Vernon dan menarik celana
kolor berwarna pink dari dalam jasnya. “Aku peringatkan
kamu, Dursley. Satu kata lagi dan…”
Melihat Dippy menggoyang-goyangkan celana kolor super apek
di tangannya dengan gerakan mengancam, Paman Vernon jadi
nginyem lagi. Dia mundur teratur dan dengan lagak tidak
peduli mengisi buku TTS di pojokan.
“Begitu lebih baik.” Kata Hagrid.
Harry yang penasaran terus bertanya. “Tapi, apa yang terjadi
pada Vol-… maaf… maksudku… Dia-Yang-Namanya-Voldemort… eh…
pokoknya Dia-Itu-Deh.”
“Pertanyaan bagus, Harry. Dia lenyap. Hilang. Entah dimana.
Dia hilang tepat pada malam dia mencoba membunuh kalian
berdua. Itu juga menambah kadar ketenaran kalian. Itu juga
sebagian dari misterinya. Dia bertambah kuat setelah
menyingkirkan empat penyihir paling berbakat di Hogwarts,
lalu –puff- dia pergi tanpa pamit. Entah pergi kemana.” Kata
Hagrid.
“Ada yang bilang dia sudah mati. Ada yang bilang dia jualan
rujak di pojok perempatan. Entahlah. Beberapa pengikutnya
kembali ke sisi kami, sebagian seperti dalam kondisi
terhipnotis, tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya dia
kembali nanti. Sebagian besar dari kami beranggapan kalau
dia sudah kehilangan kekuatan dan menyingkir untuk sementara
karena terlalu lemah untuk melanjutkan aksinya. Pada malam
naas itu, entah apa yang terjadi, sesuatu dari diri kalian
berdua menyebabkan Dia-Yang-Namanya-Rada-Panjang mundur dari
dunia sihir.” Lanjut Dippy.
“Hagrid. Kayaknya gak mungkin aku ini seorang penyihir.”
Kata Shaven.
Hagrid dan Dippy tertawa renyah seperti krupuk.
“Bukan penyihir eh? Apa akhir-akhir ini kalian berdua belum
pernah mengalami kejadian aneh saat sedang ketakutan atau
marah teramat sangat?” tanya Hagrid.
Shaven tertegun. Kejadian dengan toples kacang itu! Dia
sedang dalam kondisi ketakutan karena menahan ompol!
“Jelas kan?” kata Dippy. “Shaven Terpot, bukan penyihir eh?
Tunggulah beberapa hari lagi, kamu akan jadi sangat terkenal
di Hogwarts.”
Tapi Paman Vernon segera meloncat. “He, aku tidak peduli
dengan bocah itu, tapi Harry harus tetap pergi ke Stonewall
High dan harus berterima kasih padaku. Aku sudah membaca
surat-surat itu… Harry harus mengumpulkan berbagai macam
tetek bengek seperti buku dan tongkat sihir dan…”
“Kalo Harry mau pergi, seorang Muggle sepertimu tidak akan
menghentikannya.” Gerutu Hagrid. “Menghentikan putra Lily
dan James Potter ataupun putra Aragorn dan Arwen Terpot
pergi ke Hogwarts adalah penghinaan! Namanya bahkan sudah
tertera di daftar hadir sejak dia lahir. Harry dan Shaven
akan pergi bersekolah di sekolah sihir paling hebat di
seluruh dunia. Tujuh tahun menimba ilmu dan mereka akan
menjadi penyihir-penyihir hebat. Mereka akan bergabung
dengan kawan-kawan sebaya dan berada di bawah pengawasan
langsung kepala sekolah sihir terhebat yang pernah dimiliki
Hogwarts, Albus Dumble…”
“AKU TIDAK MAU MEMBAYAR SESENPUN PADA ORANG TUA TOLOL UNTUK
MENGAJARI BOCAH INI TIPUAN SULAP!!” Paman Vernon berteriak.
Tapi saat itu Paman Vernon sadar, dia sudah terlalu jauh
melangkah. Dippy kembali mengacungkan celana kolor pinknya
dan memutar-mutarnya dengan ganas. “JANGAN PERNAH…” Giginya
bergemeretuk saking marahnya. “MENGHINA… ALBUS… DUMBLEDORE…
DI… HADAPANKU!”
Celana kolor itu melayang di udara dan mengenai Dudley yang
sedang asyik menyantap roti milik Harry dan Shaven
diam-diam. Suara petir menggelegar dan sinar terang membuat
silau siapapun yang sedang menatap celana kolor pink itu.
Terdengar suara pekikan dan Dudley berputar-putar di tempat
dengan histeris. Di hidungnya kini tumbuh ekor babi! Lho?
Kok ekornya tumbuh di hidung? Yah… namanya juga cerita
parodi… suka-suka penulisnya lah…
Paman Vernon meraung, menarik Bibi Petunia dan Dudley ke
ruangan lain. Dia menatap Hagrid dan Dippy ketakutan dan
menutup pintu keras-keras.
Dippy menggeleng-geleng kepala sambil mengelus-elus
kepalanya yang gundul.
“Wah-wah. Aku kehilangan kesabaran.” Katanya menyesal.
“Untung saja sihirku tidak begitu becus. Mau mengubah dia
jadi kuda nil, eh yang keluar malah ekor babi. Yah… pokoknya
semua bereslah…”
Dippy dan Hagrid menatap Shaven dan Harry.
“Kami akan sangat berterimakasih kalau kalian tidak
menceritakan peristiwa ini kepada siapapun di Hogwarts.”
Kata Hagrid. “Kami… er… yah… tidak seharusnya menggunakan
sihir, walaupun untuk mengirimkan surat dan mengikuti kalian
kami diperbolehkan menggunakan sedikit sihir.”
“Kenapa kok gak boleh?” tanya Shaven.
“Err… kami berdua pernah bersekolah di Hogwarts. Tapi
dikeluarkan hampir bersamaan. Hagrid dikeluarkan di tahun
ketiganya dan aku menyusul tidak lama kemudian. Tapi kami
berdua masih diijinkan bekerja di Hogwarts. Untunglah
Dumbledore orangnya sangat baik.” Dippy menerangkan.
“Kita harus segera bergegas kalau tidak mau terlambat.” Kata
Hagrid. “Kita harus mengantarkan mereka berdua belanja dulu
di kota, Dippy.”
“Ah iya.” Dippy mengangguk. “Supermarket sweeps!”
Shaven dan Harry saling berpandangan dengan penuh semangat.
Penulis jadi rada curiga dengan dua orang itu, kok sering
banget mesranya, jangan-jangan ini bukan cerita dunia sihir
tapi Brokeback Mountain? Hihihi…
-BERSAMBUNG-
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
shaven-note:
1. Episode ini merupakan parodi dari bab keempat novel
“Harry Potter and The Sorcerer’s Stone” yang berjudul “The
Keeper of The Keys”
2. Wah-wah… episode kali ini benar-benar membutuhkan waktu
lama untuk ditulis. Apalagi aku sempat kena sakit bulan ini,
benar-benar menyebalkan, tapi Thank God, rampung juga.
3. Enjoy.
Kembali
Next
Previous |