APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

CHAPTER TWO
Kacang Yang Hilang





Sudah hampir sepuluh tahun sejak keluarga Ganno mendapatkan seorang bayi dengan tulisan nama ‘Shaven Terpot’ tertera di kain selimut sedang bobo manis sok imut di depan pintu rumah mereka. Hampir bersamaan dengan keluarga Dursley juga mendapati keponakan mereka, Harry Potter dititipkan kepada mereka entah oleh siapa.

Sebagaimana keluarga Dursley yang ‘merawat’ Harry, ...err... yah, kalau itu bisa dikatakan merawat, keluarga Ganno juga merawat Shaven, karena pada dasarnya Mr. dan Mrs. Ganno adalah orang baik, mereka tetap mempertahankan nama keluarga Terpot, mereka hanya menambahkan marga Ganno di belakang nama Terpot, sehingga kini, bocah jayuz itu bernama Shaven Terpot-Ganno, aih-aih, alangkah jayuznya itu nama. ( ^^; )

Setelah sepuluh tahun berlalu, tidak banyak yang berubah di Privet Drive. Semuanya masih sama saja, Mr. Ganno masih tetap rajin berangkat pagi-pagi ke kantor, oh iya, sekarang Mr. Ganno sudah naik pangkatnya lho di kantor. Mrs. Ganno masih setia membuatkan sarapan untuk Mr. Ganno. Tentu saja sarapannya berubah, Mr. Ganno kan sudah naik pangkat, masa sarapannya sama aja? Gengsi dong. Kalo dulu Mrs. Ganno hanya membuatkan indomie rasa ayam bawang buat Mr. Ganno, sekarang dia membuatkan indomie rasa soto mie... hihihi... sama aja ya... cuma ganti rasa...

Mr. Ganno mengambil berkas-berkasnya di mobil, hari ini hari sabtu dan dia libur. Perutnya juga sudah kenyang setelah makan indomie, sekarang enaknya ngapain yah, nggak ada kerjaan. Dia melirik ke arah rumah keluarga Dursley. Rumah keluarga paling menyebalkan di Privet Drive. Anaknya yang sekarang udah gede juga nakalnya minta ampun. Kalo main layangan suka nekat masuk rumah orang. Kalo cuma masuk sih gak masalah, lha si Dudley itu kadang-kadang mampir sambil minta snack atau minta minum. Hihihi, ini anak mau main layangan apa mau bertamu.

Mr. Ganno masih tidak melihat kehadiran Harry Potter pagi ini, apa bener tuh anak tinggal disini yah? Konon si Shaven bersahabat dengan Harry, tapi dia jarang-jarang melihat Harry disana, apa di sembunyiin sama Mr. Dursley? Kenapa disembunyiin yah? Mr. Ganno jadi penasaran, soalnya akhir-akhir ini sering nonton sinetron yang ceritanya penganiayaan anak, kayak Ratapan Anak Tiri-lah, Apa Salahku-lah. Ah, mumpung lagi jadi tokoh utama, sebaiknya dia menyelikidi... eheh... menyelidiki deng, wah... Srimulat sekali dagelannya. Dengan mengendap-endap bak double-o-seven (err... tau double-o-seven kan? Bolong-bolong tujuh! Si James Bond! Ealah, masa gitu aja nggak ngerti? Masa gitu aja musti dikasih tau sih? Jadi pembaca yang kreatif dong, jangan penulis terus yang-... *jleb* penulis yang sok gaya disate pake tusuk gigi oleh pembaca).

Sambil mengendap-endap dengan hati-hati (sempat digigit anjing belasan kali dan dipukulin satpam puluhan kali), akhirnya Mr. Ganno berhasil sampai di sebuah jendela yang terletak agak di pinggir rumah. Dengan penuh penasaran, Mr. Ganno mengeluarkan jurus andalan ‘intip-gaya-maling-ayam’. Di dalam rumah ternyata ada beberapa orang pemain band sedang memainkan sebuah lagu.

“Lirikan matamu menarik hati,
oh senyumanmu manis sekali,
sehingga membuat aku tergoda...
sebenarnya aku ingin sekali,
mendekatimu memadu kasih,
namun sayang-sayang, malu rasanya,
biar kucari nanti caranya...”

Lho? Kok penghuni rumahnya lain? Malah rombongan kelompok dangdut begini? Mr. Ganno keluar pekarangan rumah dan melirik tulisan di dekat pintu, ternyata ada tulisannya: ‘Rumah A. Rafiq’. Owalah, ternyata Mr. Ganno salah masuk pekarangan. Pantesan aja! Tiwas sudah mengendap-endap ala 007, ternyata dia salah rumah! Ya jelas aja yang diintip lain.

Akhirnya Mr. Ganno bisa mengintip ke dalam rumah keluarga Dursley. Benernya ini gak baik lho, ngintip rumah tetangga, jangan ditiru yah, sodara-sodara. Please dont try this at home.

“Bangun! Cepet bangun!!”

Terdengar teriakan dari dalam rumah. Petunia Dursley, istri Vernon Dursley nampak sedang menggedor-gedor pintu lemari dibawah anak tangga. Mr. Ganno terheran-heran, waduh? Ada apa gerangan di bawah anak tangga? Jangan-jangan si Harry? Buset, masak kamarnya di lemari sih? Mestinya kan dirumah-rumahan anjing. Hihihi, malah tambah parah. Petunia berjalan ke arah dapur dan menyalakan api di kompor. Tidak berapa lama kemudian, Petunia kembali menghampiri tempat di bawah tangga.

“Sudah bangun belum, oi?”
“Belum, oi!”

Mr. Ganno tertawa cekikikan. Hihihi, si Harry Potter kurang ajar juga.

“Sudah bangun belum?” tanya Petunia sekali lagi.
“Hampir.” Jawab Harry.
“Cepetan, aku lagi masak daging, kamu yang ngurusin, dan awas kalo dagingnya gosong! Itu untuk ultah Duddy! Semuanya harus sempurna untuk ulang tahun Duddy!”

Terdengar erangan dari dalam. “Huh!”

“He? Kamu ngomong apa?” bibi Harry yang galak itu segera menghardiknya.
“A-anu... tadi aku ngomong... Huhip... Huhip... Huhray! Huhray! Dudley ultah!”

Akhirnya seorang anak berkacamata keluar dari lemari di bawah anak tangga. Seorang anak berkacamata dengan wajah kusut dan pakaian seadanya, rambutnya hitam dan matanya hijau terang. Nampaknya ia malas sekali menyambut hari ini. Harry Potter adalah seorang anak yang bertubuh kecil dan nampak kurus, dengan pakaian bekas berukuran besar yang dipakainya, ia jadi kelihatan lebih kurus dari seharusnya. Yang agak aneh, dia memiliki bekas luka berbentuk kilat di atas dahi.

Mr. Ganno jadi teringat. Shaven juga memiliki tanda yang sama... tapi di pantat... apa ada persamaan antara dua anak itu? Suatu ketika Shaven pernah menanyakan hal itu padanya tapi dijawab Mr. Ganno dengan santai.

“Ayah, kenapa aku punya tanda berbentuk kilat di pantat?”
“Kalau kamu punya tanda berbentuk kilat di pantat, Ayah punya tanda berbentuk balon Zeppelin di tempat yang sama.”

Dan sejak saat itu, Shaven tidak pernah menanyakan hal itu lagi pada Mr. Ganno.

Tak lama kemudian, keluarga Dursley berkumpul. Vernon yang selalu menyuruh Harry merapikan rambut, Petunia dan Dudley sendiri. Tak lama kemudian, seorang anak juga memasuki ruangan. Mr. Ganno terkejap, sepertinya ia pernah melihat anak itu, dimana yah? Pake topi bertuliskan ‘Juice’, dengan pandangan mata bandel dan wajah sumringah, menyebar senyum kemana-mana, rambutnya sedikit ikal dengan potongan cepak dan bola matanya berwarna hitam.

Mulut Mr. Ganno langsung menganga lebar. Itu kan SHAVEN! Ngapain dia nongol didalam situ?? Buset, bapaknya aja musti mengendap-endap kayak maling, eh si Shaven bisa seenaknya main selonong masuk ke dalam rumah keluarga Dursley. Dasar anak gila, siapa sih bapaknya? Eh dia sendiri ya? Hihihi. Tiba-tiba ada sepotong tangan menyentuh pundak Mr. Ganno.

“Ngapain disin-...”
“Huwaaaaaaaa!!” Mr. Ganno langsung berteriak kaget.

Ternyata yang datang itu istrinya sendiri, Mrs. Ganno.

“Sa-sayang! Kamu jangan ngagetin dong! Udah tau aku lagi ngintip, malah dikagetnya! Kamu gak tau apa kalo aku jantungan!” amuk Mr. Ganno.
“Lha kamunya juga gila! Ngapain pake ngintip-ngintip segala?” Mrs. Ganno tidak mau kalah.
“Err... kamu ngapain disini?”
“Itu lho, keluarga Dursley mengajak kita jalan-jalan ke kebun binatang.”
“He? Tumben, baik amat mereka?”
“Yah, gara-garanya, kemaren si Shaven mengancam Dudley, kalo gak diajak ke kebun binatang, dia akan menjadikan Dudley penghuni kebun binatang.”
“Waduh, anak kita kok preman amat yah, sayang...”
“Ya sudahlah, asal premannya sama Dudley doang aku gak masalah... dia memang butuh diberi pelajaran... anaknya bandel banget...”
“Ya, sutralah...”
“Ayo kita masuk aja...”
“Yuk...”

Dan masuklah mereka berdua menyusul Shaven ke rumah keluarga Dursley.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Shaven langsung masuk dan bertemu dengan Harry.
“Hai Harry!” sapa Shaven riang.
“...hai Shaven.” Ujar Harry sambil menaruh telur dan daging yang baru saja ia masak ke piring-piring. Ia lalu menatanya di meja yang penuh sesak.
“Disuruh masak lagi yah, Harry?” tanya Shaven sambil melihat anak itu dengan memelas.
“Iya nih... *keluh* ...bantuin dong Shave...”

Shaven langsung menelan beberapa helai bacon yang baru saja dimasak Harry.

“Err... maksudnya dibantuin menata, Shave. Bukan bantuin makan...” protes Harry lembut.
“Ow! Ow! Sorry...” Shaven buru-buru membantu Harry menata piring.

Kedua orangtua Dudley nampaknya sedang berkonsentrasi mempersembahkan hadiah ultah untuk Dudley sehingga mereka tidak memperhatikan Shaven dan Harry. Dudley nampaknya ngamuk-ngamuk karena jumlah hadiahnya tidak sebanyak tahun lalu. Akhirnya setelah dibujuk-bujuk dengan penuh upaya oleh kedua orangtuanya yang berjanji akan membelikan kado lagi hari ini, Dudley mau berhenti merajuk dengan manja.

Mr. dan Mrs. Ganno membunyikan bel pintu dan dipersilahkan masuk. Mereka duduk di dekat Dudley yang sedang asyik membuka-buka kado. Shaven duduk bersebelahan dengan Harry. Setelah ramah tamah dan basa-basi sesaat, kesibukan dilanjutkan lagi.

Tak lama kemudian, telpon berdering dan Bibi Petunia segera mengangkatnya. Rupanya kabar buruk, Mrs. Figg (wanita tua yang biasanya menjadi babysitter si Harry kalo Dudley diajak bepergian keluar rumah) terkena musibah, jempolnya patah waktu dia jalan-jalan naik Harley Davidson. Mrs. Figg seorang ibu-ibu tua yang rada-rada psycho, walaupun mungkin lebih waras daripada keluarga Ganno.

“Waduh, Mrs. Figg cedera?” tanya Paman Vernon cemas.
“Iya. Ini gara-gara dia keseringan ikutan rally sih...” jawab Bibi Petunia. “Sekarang bagaimana enaknya?”
“Kita bisa menghubungi Marge.” Usul Paman Vernon.
“Jangan bodoh, Vernon, dia membenci anak itu.”

Jelas-jelas Paman Vernon dan Bibi Petunia sedang membicarakan tentang Harry. Mr. dan Mrs. Ganno menggeleng-geleng, benar-benar keterlaluan mereka ini. Punya dua momongan tapi ya pilih kasih. Seharusnya mereka bisa merawat Harry dengan baik, sepertinya mereka terlalu memanjakan Dudley.

“Bagaimana dengan temanmu – Yvonne?”
“Liburan di Majorca.”
“Kalian bisa meninggalkan aku disini-...” jawab Harry.
“Kami bisa menjaganya.” ujar Mr. Ganno dengan tulus. “Aku dan Istriku akan-...”

Bibi Petunia melirik Mr. Ganno dengan sadis, ia berbisik dalam hati. ‘Yang bener aja... apa kalian pikir kami pengen pulang dan mendapati rumah kami sudah jadi abu? Kalian jauh lebih berbahaya kalo dibiarkan sendirian dibanding Harry.’

Tak lama kemudian Piers Polkiss (sobat si Dudley) datang bersama ibunya naik oplet. Oplet itulah yang akhirnya mereka naiki bersama-sama menuju bonbin (tau bonbin kan? Kebon binatang, sayang). Setelah gagal mendapatkan pengasuh, akhirnya Harry diajak juga pergi ke kebun binatang. Dia dan Shaven tidak lepas dari pandangan sadis Bibi Petunia, Dudley dan Paman Vernon. Mr. dan Mrs. Ganno tepuk tangan gembira dan bernyanyi-nyanyi sepanjang perjalanan, lha gimana lagi, ini juga pertama kalinya buat mereka pergi ke kebun binatang, hihihi kayak anak sekolah darmawisata aja kelakuan mereka.

Selama perjalanan, Shaven dan Harry saling membanding-bandingkan diri mereka, ternyata mereka amat mirip. Shaven dan Harry memang punya banyak kemiripan.

Mereka sering mengalami hal-hal yang aneh-aneh. Seperti misalnya ketika bibi Petunia mencukur rambut Harry hingga nyaris gundul (meskipun meninggalkan kuncung ala Ronaldo untuk menyembunyikan bekas luka di dahinya), tiba-tiba dalam waktu semalam rambut Harry tumbuh kembali.

Hal yang sama juga berlaku pada Shaven. Setelah potong rambut di tukang cukur bawah pohon asem, gak tau kenapa tiba-tiba rambut Shaven bisa tumbuh seperti semula dalam waktu singkat. Mrs. Ganno yang banyak akal malah iseng mencukur rambut Shaven dengan rajin. “Lumayan.” Begitu kata Mrs. Ganno. “Kalau dikumpulkan bisa dijadiin wig, toh rambutmu nggak habis-habis ini.”

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Hari itu adalah hari sabtu yang cerah dan kebun binatang begitu ramai oleh kedatangan keluarga-keluarga yang sedang berpiknik. Pasangan Dursley membelikan Dudley dan Piers es krim coklat yang segede monas sementara mereka meninggalkan Harry dengan tangan kosong. Mrs. Ganno yang kasihan akhirnya membelikan Harry es doger.

Shaven dan Harry menikmati hari itu. Mereka bercanda berdua dan bersenang-senang sepanjang hari, sementara jauh di depan mereka, Piers dan Dudley nampaknya sudah mulai bosan melihat binatang-binatang saat jam makan siang.

Setelah makan siang di restoran, kelarga Dursley dan Harry, Piers dan ibunya serta keluarga Ganno berpisah-pisah di halaman kebun binatang untuk beristirahat sebelum meneruskan lagi berjalan-jalan. Keluarga Ganno lebih memilih duduk-duduk di dekat taman, sementara keluarga Dursley menurut saja kemana Dudley pergi. Keadaan taman di situ sangat asri dan hijau, dengan tumbuh-tumbuhan yang dibentuk menyerupai binatang-binatang, ada tumbuhan yang dibentuk mirip gajah, ada yang dibentuk mirip jerapah, dan ada juga yang dibentuk mirip kuda berkaki tiga. Lho? Kenapa kaki si kuda cuma tiga? Olala, rupanya bapak tukang kebun terlalu pendek memotong tanaman itu sehingga kaki sang kuda kepotong satu. Hihihi.

Dudley dan Piers berlarian kesana kemari dan mendatangi tiap orang yang menjajakan makanan, sebisa mungkin mereka jajan sepuasnya, mereka melihat seorang penjual kacang dalam toples dan segera berlari kesana. Shaven sebenarnya sudah lebih dulu disana, dia pengen makan kacang, tapi bingung memilih kacang yang mana. Dudley dan Piers yang tidak mau ketinggalan juga menyusul Shaven, sementara Harry sedang disuruh Pak Dursley membeli hotdog.

“Membosankan.” Dudley bersungut-sungut dan meninggalkan Shaven di dekat tukang jual kacang garing karena segan berada di dekat Shaven. Tukang kacangnya sendiri sedang ngobrol tidak jauh dari situ dan meninggalkan dagangannya begitu saja.

Kacang-kacang di dalam toples itu bergerak perlahan dan sepertinya menumpuk di satu bagian toples yang paling dekat dengan Shaven. Mereka bergerak dengan sangat pelan dan anggun. Shaven kaget.

Mereka bergerak sendiri! Mereka mengangguk-angguk kearah Shaven.

Shaven terpana. Lalu dia melihat kekanan dan kekiri, kalau-kalau ada yang melihat. Tapi tidak ada yang lihat. Sang penjual kacang garing masih ngobrol sama tukang batagor. Keadaan sepi jali, tidak ada yang memperhatikan mereka. Shaven kembali melihat kearah para kacang dan balik mengangguk.

Para kacang mendekat kepinggir toples dan membentuk satu tulisan dengan menggabungkan diri mereka.

Tulisannya: “Halo”.
“Ha-halo....” Bisik Shaven ke dalam toples dengan sedikit terkagum-kagum.

Para kacang membentuk emoticon: “^^;”

“Ka-Kalian dari mana sih asalnya?” tanya Shaven.

Para kacang mengetuk-ketuk ujung toples yang berlabel. Shaven melirik label itu.

“Kacang Garing Bantul cap Burung Bulbul”

“Oh, kalian dari Bantul yah. Err... Bantul itu di mana?”

Kacang-kacang garing itu menunjuk kesalah satu arah di ujung toples. Mereka dihasilkan di pabrik, bukan dari Bantul. “Oh, I see... I see...” ujar Shaven. “Jadi kalian belum pernah ke Bantul yah?”

Kacang-kacang itu kompak menggeleng berirama dengan sedih. Persis kayak rombongan Soneta-nya Rhoma Irama kalo lagi main di panggung, gayanya kaku dan sok dikompak-kompakin. Tiba-tiba terdengar teriakan membahana dari Piers yang membuat Shaven dan para kacang melompat kaget.

“Dudley! Mr. Ganno! Marilah kemari hei-hei hei-hei, hei kawan, akulah disini, hei-hei hei-hei... eh kok malah nyanyi... Dudley! Mr. Ganno! Kemarilah! Lihat kacang-kacang ini! Kalian gak bakalan percaya deh! Ajaib!”

Dudley langsung berlari secepat mungkin dan maju ke depan mereka.

“Minggir dong!” kata Dudley sambil mendorong Shaven kesamping. Secara tidak sengaja, Shaven yang tidak siap didorong terjatuh. Apa yang terjadi selanjutnya sungguh diluar dugaan. Stoples berisi kacang-kacang yang mengajak omong Shaven tadi tiba-tiba lenyap dan kacangnya berhamburan ke jalan! Dudley dan Piers yang kaget melihat toples itu lenyap, lebih ketakutan lagi melihat kacang-kacang yang bebas melarikan diri dan berlompatan dengan riang gembira. Ini kejadian ajaib! Kalo ada koran gosip pasti langsung dipotret! Kedua anak nakal itu langsung melarikan diri ketakutan dan menyusul Harry masuk gedung, meninggalkan Shaven yang masih terbengong-bengong.

Shaven berdiri dengan lemas dan kebingungan. Masak sih toplesnya bisa lenyap mendadak? Mana mungkin? Apa toplesnya punya jurus ‘ngilang-deh-gue-sekejap-saja’? Atau mereka punya ilmu ‘hilang-toples-dari-pandangan-muncul-toples-dalam-lemari’? Entahlah. Yang lebih kaget lagi, tau-tau kacang-kacang yang amburadul itu beriringan kayak semut baris meninggalkan sang penjual kacang garing yang bengong. Kacang-kacang itu pergi dengan riang gembira. Selain beriringan seperti semut, ada juga yang melompat-lompat kayak lalat dan terbang kayak katak, eh kebalik deng. Orang-orang yang melihat kacang-kacang itu jadi ketakutan dan pontang panting berlari kesana kemari, ada yang masuk ke restoran (karena kebetulan emang laper), ada yang masuk WC (karena kebetulan emang perutnya mules kebanyakan makan cabe) dan ada juga yang cuek bebek (karena kebetulan emang masih keluarga sama bebek. Hihihi).

Begitu rombongan kacang garing itu melewatinya, Shaven bersumpah kalo mendengar mereka berbisik-bisik dengan senang. “Wah, akhire iso balik neng Bantul... matur nuwun yo Mas...” (terjemahan: ‘wah akhirnya bisa pulang juga ke Bantul, makasih ya mas. Kita bener-bener berterimakasih lho sama mas-nya. Masnya baik deh, udah ganteng, baik lagi... kapan-kapan kita mampir deh ke rumah masnya kalo pulang lagi kesini...’ hihihi, terjemahannya kok panjang amat).

Sementara itu, Penjual kacang garing bener-bener kaget setengah mati, dia bingung dimana toples kacangnya sekarang berada. “To-toplesnya... toplesnya kemana yak?? Masa bisa ngilang?? Waduuhh! Itu belum lunas tiga kali bayaaarr!! Eh, lho, tapi... huwaaaaa... kacang-kacang saya juga lenyap!! Waduh tekor deh dagangan hari ini... huwaaaaaaa... kacang saya lenyaaaaap...”

Mr. dan Mrs. Ganno yang menyaksikan kejadian itu langsung pingsan.

Tak lama kemudian, sang penjaga kebun binatang memberi Mrs. Ganno teh poci nan segar dan berbau harum khas Brebes untuk menenangkan syarafnya, tidak lupa dia juga memberikan nasi goreng dan sate kambing sebagai tambahan, hihihi... ini mau menenangkan syaraf apa menyuguhkan makanan, yah. Dia minta maaf berulang-ulang oleh ulah kacang-kacang yang nakal itu. Mr. Ganno hanya bisa terkejut dan tak henti-hentinya kentut. Apa dia kaget juga? Oh tidak, dia hanya kebanyakan makan krupuk di warung tadi. Sampai di oplet sewaan, Mr. Ganno bertanya pada Shaven dengan pertanyaan aneh.

“Ayah tadi melihat kacang-kacang itu mengajak ngomong kamu pake bahasa Indonesia... bener?”
“Apa, Yah?” tanya Shaven lagi. “Kacang-kacang itu... ngapain?”

Shaven dan ibu angkatnya saling berpandangan. Lalu mereka melihat lagi bersamaan ke arah Mr. Ganno, lalu kembali berpandangan. Dan setelah beberapa kali adegan itu terulang, Mrs. Ganno dan Shaven malah tertawa terbahak-bahak. Mereka pikir Mr. Ganno sudah gila. Hihihi. Mr. Ganno pun ngamuk-ngamuk.

“Lho? Kan beneran tadi mereka ngajak kamu omong-omong!” amuk Mr. Ganno.
“Iya dear, tapi mereka nggak make bahasa Indonesia, tapi pake bahasa Jawa!” hibur sang istri.
“Eh?” Mr. Ganno bengong. “SAMA AJA!! Pokoknya tidak wajar kalo kacang bisa ngajak omong!!”

Hihihi. Dasar satu keluarga kacau semua.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Sudah hampir sepuluh tahun Shaven tinggal dengan keluarga Ganno, dibandingkan Harry yang tinggal dengan keluarga Dursley, nasib Shaven jauh lebih baik. Tapi sebaik-baiknya keluarga Ganno, mereka bukanlah orangtua Shaven. Entah bagaimana nasib orangtua Shaven yang sebenarnya. Mr. Ganno hanya sering menyebutkan bahwa dia dan istrinya menemukan Shaven berada disebuah keranjang didepan pintu rumah mereka. Mr. Ganno nampaknya percaya bahwa dia dibawa kesitu oleh seekor burung bangau yang terbang dan mengantarkan bayi-bayi. Hihihi.

Ketika usianya lebih muda dari sekarang, Shaven sering ketemu dengan orang-orang yang berpakaian aneh-aneh di jalan. Kadang mereka mengenakan topi tinggi, baju jubah, dengan warna-warna yang aneh, boleh dibilang, kayak baju penyihir! Tapi tiap kali mereka bertemu Shaven, mereka selalu melarikan diri dan nampak ketakutan bertemu dengannya. Kira-kira kenapa yah? Apa mungkin mereka tahu sesuatu yang dia tidak tahu? Kenapa mereka pake baju yang aneh-aneh, dan kenapa mereka tidak mengikuti trend mode? Apa mereka tidak tahu kalo di mall terdekat sedang ada diskon pakaian hingga 70%? Kalo tahu ada diskon pasti mereka tidak akan mengenakan pakaian aneh-aneh semacam itu.

Di sekolah, Shaven hanya berteman dengan Harry Potter. Dengan hadirnya si kacau di samping Harry, rombongan Dudley yang gemar nyansakin Harry jadi rada kibat-kibit. Si Shaven itu kacaunya ampun-ampunan, mendingan gak cari masalah. Tapi kalo lagi sendirian, jelas Harry selalu jadi sasaran Dudley dan gangnya. Dan kalo Dudley dan gangnya lagi sendirian, mereka jadi sasaran Shaven.


-BERSAMBUNG-

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Shaven-Note:
1. Episode ini merupakan parodi dari bab kedua novel “Harry Potter and The Sorcerer’s Stone” yang berjudul “The Vanishing Glass”.
2. Chapter ini juga sudah pernah dimuat di forum lama. Cuma edit dikit, dikit banget. Hehehe...

Kembali      Next       Previous

Hosted by www.Geocities.ws

1