CHAPTER ONE
Anak Laki-laki Yang Bertahan Jayus
Kurang Lebih 10 Tahun Yang
Lalu di Privet Drive.
(Kalau gak salah lho…)
Pagi itu langit terasa lebih cerah.
Privet Drive yang biasanya sepi dan hanya berhiaskan
kegiatan bapak-bapak yang hendak berangkat kerja menjadi
sangat ramai. Kenapa? Karena ada beberapa ekor burung hantu
yang sibuk mondar-mandir kurang kerjaan mengitari jalan
perumahan Privet Drive. Hal ini tentunya sangat mengherankan,
mencengangkan dan luar biasa anehnya. Jangan-jangan para
burung hantu itu sedang lembur ya? Bukankah burung hantu itu
lebih sering berkeliaran di malam hari saat bapak-bapak
penghuni Privet Drive sedang bobo manis? Bukankah para
burung hantu itu juga lebih senang menemani bapak-bapak itu
pada saat mereka ronda keliling?
Entah kenapa para burung hantu itu berkeliling di pagi hari?
Kenapa yah?
Hmm…
Tapi setelah beberapa saat terheran-heran dengan kehadiran
para burung hantu itu, para penghuni Privet Drive juga jadi
masa bodoh.
“Ala, paling cari sensasi. Hari gini siapa sih yang gak cari
sensasi? Paling-paling cuma kepengen masuk infotainment. Ada
aja idenya, yang ribut dengan orang tua lah, yang sibuk
ngurus cerai lah, yang ketangkep bawa narkoba lah… ada aja…”
Begitu salah satu Bapak penghuni Privet Drive berkomentar.
“Emang gue pikirin.” Begitu pula ucap salah seorang penghuni
lain.
“Burung hantunya enak gak yah disate?” begitu ucap seorang
penjual sate.
Tapi burung-burung hantu itu memang benar-benar tukang iseng.
Ada yang sibuk main kartu remi, ada yang sibuk jualan siomay,
ada yang buka salon khusus burung hantu dan ada yang
menyewakan jasa ojek payung pada ibu-ibu Privet Drive supaya
tidak kepanasan kalau pergi ke pasar. Hihihi, memang burung
hantu itu banyak yang lucu-lucu.
Sayangnya saking banyaknya burung hantu, ibu-ibu penghuni
Privet Drive yang ditinggal suaminya bekerja juga jadi
kerepotan. Kenapa? Yah, bukan masalah besar sih kalau para
burung hantu itu cuma terbang-terbang keliling tanpa
mengganggu penghuni sekitar, yang jadi masalah ya kotoran
mereka itu lho! Duh, dasar burung iseng, seenaknya saja
buang kotoran, uaaahhh! Penulis aja mesti mengambil jarak
agak jauh dan mengibas-ngibaskan tangan saking baunya.
Mr. Ganno adalah salah satu penghuni baru Privet Drive.
Dan pagi ini dia sedang bersiap-siap berangkat kerja,
pakaiannya lumayan necis. Mr. Ganno adalah seorang pria
tampan dan gagah yang berusia sekitar 20-an, bertubuh
langsing dan lumayan dikagumi ibu-ibu komplek karena cakep,
konon ia sering disamakan dengan Papa-nya Dulce Maria dari
telenovela Carita De Angel (Hihihi, emang jaman segitu sudah
ada Dulce Maria? Entahlah. Namanya juga FF jayuz, nggak usah
diprotes). Orangnya tidak aneh-aneh dan normal-normal saja.
Dia bekerja sebagai tenaga marketing sebuah biro travel.
Seperti para penghuni Privet Drive lain yang rajin bangun
pagi untuk berangkat kerja dan hari itu terkejut dengan
kehadiran para burung hantu, Mr. Ganno juga terheran-heran
dengan banyaknya simpatisan demo burung hantu. ‘Wah, wah.’
Pikirnya. ‘Bahkan burung hantu pun agaknya bersimpati pada
perjuangan Inul. Sampai-sampai pada turun ke jalan semua,
apa burung hantupun suka ngebor yah?’ Hihihi. Jayuz juga yah
orang ini (Omong-omong, apa jaman dulu juga sudah ada Inul?
Sekali lagi, ini FF jayuz! Suka-suka yang ngarang dong!
jangan diprotes! Rewel amat sih kamu! Udah baca aja! Hihihi).
“Meong…”
Sebelum sampai ke mobilnya untuk menaruh berkas-berkas yang
hendak ia bawa, Mr. Ganno menjumpai seekor kucing hitam yang
berdiri kaku di pojokan rumahnya. Sepertinya ia mengamati
rumah tetangganya, rumah Mr. Dursley.
Mr. Ganno sedikit tidak menyukai Mr. Dursley. Selain
orangnya sombong, dia juga sangat aneh. Kabarnya pasangan
Dursley sudah punya satu momongan yang diberi nama Dudley.
‘Puah, nama apa itu Dudley?’ batin Mr. Ganno sambil mencibir
ke arah rumah keluarga Dursley. ‘Bayangin aja, Dudley
Dursley. Whuah! Batapa jayuznya ngasih nama! Kalau aku punya
anak laki-laki, akan aku beri nama… hmm… Barry Prima!’
Hihihi, ternyata Mr. Ganno juga sama aja jayuznya.
“Ha! Selamat pagi, Mr. Dursley!”
Sapa Mr. Ganno sok akrab sebelum masuk ke mobilnya. Sang
tetangga, Vernon Dursley, mengangguk angkuh dan melambaikan
tangan.
“Pagi, Mr. Ganno. Berangkat ke kantor pagi ini?”
“Iya. Anda sendiri kok belum berangkat?”
“Sebentar lagi, boss kayak aku kan memang harusnya datang
belakangan.”
“Oh iya ya… kalau tidak salah anda bekerja di pabrik bor kan?
Apa tuh namanya, Gelinding?”
“Grunnings, yang benar Grunnings. Iya, Pabrik pembuat bor.”
Mr. Dursley melengos kesal dan masuk rumah kembali.
Mr. Ganno kembali melirik ke arah sang kucing.
Kucing yang berdiri di pojokan itu masih saja duduk tenang
di sana sambil mengamati rumah keluarga Dursley. Mr. Ganno
mengamati sang kucing dengan heran, ‘Kucing ini kok
gerakannya aneh bener yah? Jangan-jangan sedang sakit? Kalau
dilihat sih tubuhnya agak kurus, gerakannya kaku dan tidak
sehat.’
Agak lama Mr. Ganno mengamati sang kucing, sebelum akhirnya
memutuskan untuk mendekatinya. Kucing hitam itu langsung
mengeluarkan keringat deras waktu sadar Mr. Ganno sudah
berada disebelahnya. Mendadak sontak, Mr. Ganno mengangkat
sang kucing sambil menjimpit tengkuknya! Ia pun segera
membawa sang kucing hitam masuk ke rumah. Kontan aja sang
kucing ngamuk-ngamuk dan meronta-ronta.
“Meong! Meong! Meong!”
“Eh kucing nakal… jangan meronta-ronta dong. Mau diberi
makan nggak?” ujar Mr. Ganno sambil terus menenteng sang
kucing dengan santai memasuki rumah. “Kayaknya masih ada
sarden di dapur.”
“Meong! Meong! Lepaskan!! Dasar Muggle!!”
“He??!!” kaget juga Mr. Ganno mendengarkan suara sang kucing.
Apa gak salah tuh barusan? Kayaknya si kucing ini bisa
ngomong? Dia mendekatkan wajah sang kucing ke wajahnya
sendiri dengan terheran-heran. “Kamu ngomong apa barusan?”
tanya Mr. Ganno galak pada sang kucing.
“Muggle… err… maksudnya meong! Meong!” jawab sang kucing
sambil berkeringat dingin. “Tadi cuma ngomong meong kok.”
“Oh ya sudah. Sutralah.” dengan cuek Mr. Ganno membawa sang
kucing ke dapur.
Di sana sudah ada Mrs. Ganno. Pasangan muda ini adalah
pasangan serasi, sang suami ganteng, sang istri cantik.
Sayangnya mereka belum dikaruniai sepasang putra pun. Yah,
mungkin memang belum saatnya. Tapi Mr. dan Mrs Ganno sudah
memegang janji bersama, pokoknya dua anak cukup, laki
perempuan sama saja. Hihihi, kok mirip iklan KB ya?
“Apa itu sayang?” tanya Mrs. Ganno yang sedang merebus
indomie seleraku.
“Kucing kampung. Rada kurus, kasihan, mungkin dia laper.
Sardennya masih kan? Kasih makan sarden aja yah. Saking
lapernya gerakannya jadi aneh bener.”
“Masih kok.” Mrs. Ganno pun membukakan sekaleng sarden untuk
sang kucing hitam yang kembali berkeringat deras itu.
‘Duh, dasar Muggle bebal. Terpaksa deh makan sarden.’ Batin
sang kucing menangis dalam hati. ‘Daripada membuka
penyamaran.’
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Malamnya.
Seorang laki-laki yang sudah tua berjalan dengan santai di
trotoar Privet Drive. Oh ya, sudah tua sekali dia,
sangat-sangat tua. Jelas dia bukan penghuni kompleks sini.
Tadi aja sempat dilirik sama tukang ronda dengan curiga,
dikira maling ayam, untungnya si tukang ronda akhirnya beli
wedang ronde sembari mengobati rindu, jadinya cuek aja.
Hihihi, asal banget yah.
Albus Dumbledore nama laki-laki tua ini.
Matanya yang berwarna biru disembunyikan di balik kacamata
hitamnya. Dia juga mengenakan sepasang sepatu kets dan
pakaian tennis berwarna putih, di tangannya tergenggam raket
tennis berikut bolanya. Selain itu… eh, duh salah deskripsi
nih, Hihihi.
Matanya berwarna biru terang, menatap tajam dari balik
kacamata yang menuruni lekuk hidungnya yang berbentuk aneh,
panjang dan bengkok. Pak tua ini mengenakan jubah berwarna
ungu panjang dan memakai sepatu bot dengan gesper tinggi.
Pandangannya begitu dalam dan bijaksana.
Pandangan pak tua itu langsung jatuh ke arah seekor kucing
hitam bertingkah kaku di ujung jalan. Dia langsung tertawa
cekikikan dengan geli. Sang kucing itu pun melengos gondok.
Albus Dumbledore mengeluarkan sebuah kotak korek api perak
dari dalam jubahnya. Ia membukanya dan mengangkatnya ke atas.
Satu persatu lampu jalan seakan tersedot ke arah benda itu.
Setelah semua lampu padam, dia lalu memasukkan kembali benda
itu kedalam jubahnya. Untunglah kejadian ini tidak ketahuan
pihak PLN, soalnya bisa dituduh mencuri listrik.
Konon ada dua orang yang kebetulan berada di situ dan
menyaksikan semua keajaiban yang dilakukan oleh Albus
Dumbledore, satunya remaja dan satunya lagi anak-anak.
Setelah menyaksikan adegan magis yang dilakukan sang
penyihir tua, nasib kedua orang itu akhirnya berubah total,
mereka yang tadinya skeptis jadi percaya sama dunia sihir.
Yang gede, bernama Endang Kurnia, kelak akan menciptakan
sebuah lagu berjudul “Mbah Dukun” yang laris manis,
sedangkan temannya yang kecil, bernama Deddy Corbuzier.
Hihihi.
Adegan sesudahnya tentu saja sama persis seperti apa yang
dituliskan di buku Harry Potter yang pertama, jadi kalo mo
detailnya, ya baca aja buku “Harry Potter and The Sorcerer’s
Stone”. Hihihi. Bukan apa-apa sih, penulis kan benernya
orangnya males, capek lah kalo suruh nulis banyak-banyak
apalagi detail.
Singkat cerita, ternyata kucing yang kaku mirip stupa candi
tadi bukanlah kucing beneran, tapi penyamaran Profesor
McGonagall. Tahu kan siapa itu? Nah, setelah datangnya Prof.
Dumbledore ke Privet Drive, Prof. McGonagall akhirnya
membuka penyamarannya. Mereka bercakap-cakap kesana kemari,
antara lain membahas ‘Kau-Tahu-Siapa’ dan peristiwa naas
yang menimpa kedua orang tua penyihir seorang bocah bernama
Harry Potter. Satu-satunya orang yang selamat dari serangan
Vold… err… ‘Kau-Tahu-Siapa’.
Tak lama kemudian, dengan diiringi tarian hula-hula dan pom
pom girl dari cheerleader para penyihir, datanglah sang
raksasa Hagrid sambil mengendarai sepeda motor pinjaman dari
Sirius Black. Konon sepeda motor itu belum lunas cicilannya
di tukang kredit, tapi ya sudahlah, kok penulis ya repot-repotnya
ngurusin ya, dasar penulis usil.
Hagrid menyerahkan Harry Potter kecil kepada Dumbledore, dan
dengan berat hati ketiganya meletakkan Harry di depan pintu
rumah keluarga Dursley. Beberapa saat kemudian, ketiganya
beranjak meninggalkan Privet Drive setelah berdadah-dadah
ria dengan si kecil Harry Potter diiringi tangis memilukan
dari sang raksasa Hagrid. Begitu kira-kira ceritanya, kalau
mau detailnya, sekali lagi… BACA NOVELNYA! Kamu kira gak
capek apa nyalin novelnya lagi kesini. Hihihi.
Tapi tiba-tiba Hagrid menghentikan langkahnya, dan buru-buru
berlari ke motornya.
“Ah iya! Profesor Dumbledore! Ada yang kelupaan!!”
Profesor Dumbledore dan McGonagall berhenti dan menatap
Hagrid dengan heran.
“Apa yang kelupaan, Hagrid?” tanya Dumbledore sambil
mendekati sang raksasa.
Tiba-tiba Hagrid menghadirkan sesosok bayi lagi!
“Si-…siapa ini??” tanya McGonagall tergagap-gagap. “Di-…dia…
a-apakah… jangan-jangan… ti-tidak mungkin…”
“Ya, betul sekali, Profesor McGonagall. Ini Shaven, Shaven
Terpot!” sahut Hagrid. “Anak ini juga selamat dari serangan
‘Kau-Tahu-Siapa’!”
“Shaven Terpot!! Jadi rumor itu benar adanya??” Profesor
Dumbledore berdecak keheranan. Ia tidak menduga sama sekali
kejadian ini. “Anak dari Aragorn dan Arwen Terpot!! Pasangan
penyihir kenamaan yang beralih profesi sebagai pemain wayang
orang!!”
Prof. McGonagall menatap si bayi lucu yang sedang tersenyum
penuh kenakalan dengan tak percaya. “A-anak ini… keturunan
dua pasangan jayuz itu? Astaga! Nampaknya ‘Kau-Tahu-Siapa’
benar-benar sial bertemu dengan anak ini. Bagaimana
‘Kau-Tahu-Siapa’ bisa lolos dari dia? Ceritakan padaku,
Hagrid!”
Tapi bukan Hagrid yang menjawab pertanyaan itu, Profesor
Dumbledore-lah yang menjawabnya dengan wajah muram, baru
sekali ini dia pusing tujuh keliling, dulu di kampungnya,
kalo ada orang pusing, biasanya disuruh pegangin puser dan
menghadap ke arah barat, apa yah sekarang dia musti pegang
puser juga? Kalo Harry sih bisa diyakini kelak akan menjadi
seorang ksatria sihir yang bisa diandalkan. Lha kalo yang
ini, kayaknya cuma bakal bikin sengsara orang se-Hogwarts.
“Dia berhasil selamat karena pipis.”
“Pi-pipis??” McGonagall melotot.
Dumbledore mengangguk dan mendesah. “Anak ini hampir mati
dicekik Voldemort, untunglah dalam moment-moment yang
menegangkan, tau-tau bayi ini pipis dan airnya nyemprot ke
baju Voldemort. Voldemort marah-marah dan segera kabur untuk
mencuci baju. Gagal membunuh Shaven, Voldemort beralih ke
Harry kecil. Aku denger cerita ini dari radio. Tadinya aku
pikir hanya rumor biasa.”
“……”
Akhirnya ketiganya terdiam. Diiringi sound effect musik
mendayu-dayu dan background daun-daun berterbangan,
ketiganya akhirnya bermain suit untuk memutuskan nasib
Shaven. Hasil suit memutuskan, McGonagall-lah yang akan
menentukan nasib hidup sang bayi yang masa depannya
dipertanyakan itu.
Sambil melirik penuh makna ke rumah keluarga Ganno,
McGonagall meletakkan bayi itu di depan pintu rumah pasangan
Mr. dan Mrs. Ganno. Mereka pasti surprise sekali besok pagi.
Ia juga meletakkan sepucuk surat di balik selimut sang bayi
Shaven, lalu mengundurkan diri dan kembali bergabung bersama
Hagrid dan Profesor Dumbledore.
Sebelum benar-benar pergi. Dumbledore mengamati dua bayi
yang nantinya akan tinggal berseberangan itu. Dua anak yang
kelak akan menjadi sangat terkenal. Yang satu akan menjadi
terkenal berkat buku karangan JK Rowling dan film layar
lebar dengan sekuel-sekuelnya, yang satu lagi cuma dikenal
orang-orang tertentu yang hobi bikin fanfic. Hihihi…
Orang tua bijaksana itu mendesah dan memutuskan untuk segera
pergi meninggalkan Privet Drive. Bukan karena buru-buru,
tapi gara-gara si Hagrid kentut seenaknya. Buset baunya.
Prof McGonagall yang tidak tahan dengan bau kentut si Hagrid
juga segera kabur sambil mengubah wujudnya menjadi seekor
kucing.
Hagrid yang ditinggal sendirian pulang mengendarai motor
pinjamannya.
-BERSAMBUNG-
shaven-note:
1. episode ini merupakan parodi dari bab pertama novel
“Harry Potter and The Sorcerer’s Stone” yang berjudul “Anak
Laki-Laki Yang Bertahan Hidup”
2. kalo ada yg mau ngasih [C&C] alias komen dan kritik, ato
ada saran, pujian, makian, makanan, hadiah, kado, ato apa
kek, ke penulis, silahkan di topik [C&C] yah. Jangan di
bawah sini, soalnya ini parodi bakalan diterusin sepanjang
buku harpot [!]
3. cerita ini benernya udah pernah dimuat di forum lama,
cuma aku ganti di beberapa bagian aja. mudah-mudahan kali
ini bisa berlanjut.
Kembali
Next |