APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

Bab 4

"Benar tidak apa-apa, Sovia?"

"Tak apa, Hermione. Kau sudah sangat banyak membantu persiapan pernikahan kami. Itu sudah sangat membantu. Seharusnya aku dan Viktor minta maaf karena merepotkanmu. Kau tahu, kan di Bulgaria sini tidak ada penyihir yang mempunyai teknik mendekorasi ruangan sehebat kau. Kau telah melakukan pekerjaan yang fantastis. Waktu aku melihat gedung pestanya, aku tidak percaya bahwa danau, air terjun, dan padang rumput di dalamnya adalah sihir. Kau benar-benar menghadirkan suasana kampung halamanku di dalam gedung pesta," Sovia merangkul Hermione dengan wajah berseri-seri.

"Aku sudah dapat tiket kereta portkey ke Indonesia untuk keberangkatan malam ini," Krum muncul di depan pintu kamar. "Kau bisa berangkat secepatnya untuk menyaksikan final Inggris melawan Pantai Gading nanti malam."

"Terima kasih," Hermione memeluk Sovia. "Terima kasih..."
____________________________________

"Selamat datang pecinta Quidditch dari seluruh dunia di Stadion Gelora Bung Rano!!!" sapa Ari Otot, si komentator official untuk Piala Dunia. "Sungguh luar biasa! Padahal pertandingan baru akan dimulai satu jam lagi. Namun, stadion ini sudah dipenuhi para pendukung yang sangat antusias. Oleh karena itu saya memutuskan untuk menyapa Anda-Anda sekalian lebih awal. Bukankah begitu, Bung Pesta? Oh, iya pada momen spesial ini saya kedatangan rekan saya Bung Pesta untuk menemani saya melaporkan jalannya pertandingan kepada Anda semua,"

"Iya Mas Ari, saya senang sekali diundang jadi komentator untuk momen akbar ini," sambung Pesta. "Apalagi, kita ada di Stadion Gelora Bung Rano, sebuah stadion ekstra megah yang dibangun khusus untuk final Piala Dunia ini. Bagi para pecinta Quidditch dari luar negeri mungkin belum tahu siapa Bung Rano. Bung Rano ialah legenda Quidditch Indonesia. Dia seeker yang luar biasa berbakat dan spektakuler. Belum pernah ada pemain sefantastis dia. Ia pernah membawa timnas Indonesia meraih kemenangan dari timnas Arab Saudi di kualifikasi Piala Dunia empat puluh tahun yang lalu."

"Sayang sekali, ya tim kita tercinta sudah keok di babak penyisihan setelah menerima kekalahan dari Inggris, dipukul mundur Jerman melalui penangkapan Snitch mengagumkan dari si cantik Michelle Ballack, dan kalah lagi dari jagonya reverse-pass Ethiopia," Ari tidak dapat menyembunyikan wajah kecewanya. "Baiklah, mari kita saksikan momen-momen pertandingan Indonesia sebagai tuan rumah."

Pendukung Indonesia yang menonton di stadion (mereka berbalik mendukung Pantai Gading) merunduk malu. Mereka berusaha tidak menatap layar besar yang terpampang di stadion.

"Begini, ya," kata Bung Pesta dalam bahasa Indonesia. "Bukannya kita mau mengenang masa pahit. Tapi ini emang tradisi sebagai tuan rumah. Waktu final, kita harus lihat lagi cuplikan sepak terjang tim kita. Kalo sedih merem aja, deh..."

Layar besar yang ada di stadion berubah gambar dari wajah Celestina Warbeck menjadi gambar anggota timnas Indonesia.

"Ini dia timnas kita Indonesia tercinta yang akan bertanding melawan Jerman dalam babak penyisihan grup," komentar Ari Otot saat itu. "Apa mereka bisa menebus kekalahan di partai perdana mereka? Kita saksikan saja nanti."

"Ini dia Indonesiaaaaa... Rusdy, Andree, Eko, Harianto, Rudy, Asril, dan Jeremiaaaaa... masih dengan formasi sama seperti pertandingan perdana. Sementara itu di sudut sana dengan kostum merah-kuning-hitam, inilah Jerman!! Schneider, Klinsmann, Podolski, Beckenbauer, Kahn, Lamp, dan ini dia si cantik yang sangat berbakat, satu-satunya wanita dalam tim, seeker sekaligus model jubah Madam Malkin Exclusive... MICHELLE BALLACK!!!!"


Meskipun hanya melihatnya di layar, para laki-laki yang hadir di stadion itu bersuit-suit kepada sosok Michelle yang terbang dengan sapunya dan menatap penuh damba kearah wanita cantik setengah Veela itu. Namun mereka langsung ber-'huuuu...' sebal ketika melihat gambar Michelle di layar digantikan sosok wasit Zabuki Moranage dari Zimbabwe yang hitam legam dan berotot.

"Oh, tidak! Pinalti dari Harianto berhasil dihadang dengan baik sekali oleh kiper Klaus Schneider! Untuk yang kesekian kalinya tembakan Indonesia ditahan dan skor masih berimbang nol-nol di pertandingan alot yang sudah berjalan satu jam ini...."

"... akhirnya, Indonesia berhasil menyamakan kedudukan lagi setelah tertinggal jauh dari Jerman. Skor sekarang menjadi 50-50!! Tidak! Tidak! Jangan sekarang!" Ari mengerang. "Nampaknya sudah tak tertahankan lagi kedua seeker telah melihat snitch. Mereka melesat, tapi nampaknya Jeremia lebih unggul selangkah. Berhasilkah Indonesia keluar sebagai pemenang?" Ari nampak mengeluarkan teropongnya.

"Apa itu?! Michelle mengedipkan mata dengan manisnya kearah Jeremia? Oh.. Jeremia terlalu terpesona sehingga ia bengong. HEI!! JANGAN MELAMUN!! Sementara Michelle memanfaatkan kesempatan itu untuk menyambar snitch.. dan kita kalah lagi...... wasit! Apa itu curang? Mengedip-ngedip itu curang atau tidak? Oh, kata wasit sah-sah saja mengedip-ngedip. Baik, pertandingan berakhir dengan skor 200-50 bagi Jerman..."


"Kekalahan memalukan," Pesta memalingkan wajahnya dari layar besar. "Dan cuplikan yang lebih parah lagi dari partai Indonesia-Ethiopia,"

"Sebaiknya tradisi flash back ini dibuang saja," Bisik Ari pedih kepada Pesta.

"... oh, nampaknya nafsu haus akan kemenangan menguasai Indonesia. Walaupun sudah pasti tidak dapat melangkah ke babak selanjutnya, mereka ingin mengalahkan Ethiopia agar bisa tersingkir dengan terhormat," komentar Ari. "Namun, ini pertandingan yang parah karena Indonesia bermain sangat kasar. Sudah lima pemain terkena kartu ungu. LIMA DARI TUJUH! Ini jumlah penerima kartu ungu terbanyak selama Piala Dunia. Nabutu, chaser Ethiopia melakukan tembakan pinalti. Gol... 40-10 untuk Ethiopia..."

"... terjadi lagi!" jerit Ari. "Kali ini keeper Rusdy terkena kartu ungu. Dia merebut pemukul dari Beater Asril dan memukul Bludger ke arah chaser Doremi! Parah sekali! Ini pertandingan yang memiliki pelanggaran terbanyak... Doremi melakukan tembakan pinalti... gol lagi! 50-10 untuk Ethiopia..."

"... jangan lagi! Seeker Jeremia kena kartu ungu! Pelanggarannya ialah ia memegang ekor sapu seeker Ethiopia. Satu pinalti lagi dan—ini rekor—semua pemain Indonesia kena kartu ungu! Sekali lagi pelanggaran, maka akan kena kartu itu. Kartu mengerikan itu... saya tak sanggup menyebutnya... kartu yang belum pernah dikeluarkan selama Piala Dunia... oh! Oh! OH!! Gol lagi!! 60-10.."


"Sudahlah! Cukup flash back-nya, maaf. Pertandingan final Inggris melawan Pantai Gading akan segera dimulai," sela Ari. "Lebih baik kita bersiap-siap. Coba, suporternya.. semua menjerit! Menjerit semua! Kita meriahkan final Piala Dunia ini. Semua berseru 'ole! Ole! Ole!'. Ayo semua!!"

"OLE! OLE! OLE! OLE! OLE!" sekitar delapan puluh ribu penonton bersorak sekuat tenaga, memekakkan telinga. Gemuruh itu membuat stadion Gelora Bung Rano seakan meledak.

"Bagus! Pecinta Quidditch dari seluruh belahan dunia, Let's Make Friends! Ayo berteman dengan siapa saja, meski berbeda bangsa, warna kulit, dan sebagainya! Ayo berteman! Peluk orang disamping anda! Tidak peduli itu cewek cantik atau orang buruk rupa," Bung Pesta nyengir kepada Ari. "Tapi peluk saja! Mari berteman dan sebarkan perdamaian antar penyihir!"

Semua orang berpelukan.

"Oke, mana suporter Inggris??"

"HUEEEEE!!" para Hooligan bersorak ramai.

"Yang mana pendukung Pantai Gading?"

Lautan pendukung berwarna oranye-putih-hijau bersorak-sorai.

"Sebelum itu, mari kita saksikan atraksi maskot-maskot tim kita ini. Ini dia maskot tim Inggris!!" kata Bung Pesta.

Semua mata tertuju ke bawah, kearah lapangan berumput. Sekumpulan peri-peri hutan dan Hobbit muncul sambil menari-nari. Lalu, muncul kurcaci berpakaian warna-warni. Tak lama berkumpul segala macam hewan-hewan sihir yang hidup di Inggris, semua mengenakan atribut timnas Inggris. Mereka berputar putar dalam formasi tidak beraturan dan mereka membentuk...

"Bendera Inggris!" seluruh stadion bertepuk tangan. "Hebat! Mereka bisa melatih makhluk-makhluk itu membentuk formasi! Lalu apa lagi? Oooh... lihat! Itu lambang England Quidditch Association! Itu rumit! Membentuk tiga singa yang berdiri diatas sapu. Lalu.. yaa.. tulisan 'VIVA ENGLAND'.. hebat! Terima kasih, maskot Inggris. Selanjutnya, maskot Pantai Gading!"

Semua mata kembali tertuju pada lapangan berumput, menunggu datangnya maskot Pantai Gading. Sejenak, mereka menggerutu karena maskotnya tidak muncul-muncul.

"Siapa bilang dibawah?" kata Ari. "Mereka di atas."

Kepala-kepala menengadah. Tujuh ekor gajah dewasa berjubah seragam Pantai Gading berdiri diatas sapu terbang ekstra besar mereka. Mulut-mulut ternganga takjub.

"Ini gila!" bisik Bung Pesta.

Gajah-gajah itu terbang dengan gesit mengelilingi stadion dan melakukan manuver-manuver, seperti Wronski Feint (penonton minggir dengan was-was, takut gajah itu tidak bisa naik ke atas tepat pada waktunya), formasi mata panah, bergelantungan di sapu dengan belalainya, dan yang paling fantastis bersalto di udara.

"Terima kasih, maskot Pantai Gading," kata Ari ditengah seruan membahana. "Mari kita mulai pertandingan final ini."

"Oke, ARE YOU READY GUYS??"

"AYE! AYE, MISTER!"

"I CAN'T HEAR YOUUU!!!"

"AYE! AYE! MISTER!!!"

"UUUHHH... ini dia dari sudut kanan, timnas Inggris!" Jerit Ari. "Wood, Walcott, Lovegood, Weasley, Weasley, Bulstrode, daaaaannnn.. POTTER!!"

Lautan Hooligan bersorak-sorai. Mereka melompat-lompat dan mengibarkan bendera Inggris. Orang-orang penting kementrian sihir yang duduk di boks VVIP tidak bisa menyembunyikan keriangan mereka. Bahkan, Dumbledore menancapkan bendera Inggris yang bisa berputar-putar di pucuk topi kerucutnya.

"Sementara dari sudut kiri, kita sambut timnas Pantai Gading!" Balas Bung Pesta. "Toure, Drogba, Kone, Eboue, Boka, Akale, daaaan... YAPI-YAPO!!"

Kelebatan warna oranye-putih-hijau-hitam melesat mengelilingi lapangan. Para pendukung menyambut dengan sorakan keras. Gajah-gajah di lapangan bawah berdiri pada kaki belakangnya dan meraung.

"Dan ini dia wasit kitaaaa.. wasit dari Meksiko... Fernando Jose de Gamboa Villanueva Montana de Occampo-Rodrigueeeeezzzz!!"

"Dan pertandingan akan dimulai, setelah pesan-pesan berikut..."

Kembali         Next       Previous

Hosted by www.Geocities.ws

1