APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

Bab 3

Hermione buru-buru masuk ke kamarnya dan menyalakan TV.

"Timnas Inggris baru saja berhasil memenangkan partai perdana melawan Indonesia, di Stadion Parkit. Hal ini membuat Inggris menduduki peringkat pertama klasemen sementara grup C. Nanti malam akan diadakan pertandingan kedua grup C, Ethiopia lawan Jerman. Perlu anda ketahui, babak penyisihan ini dilakukan dalam urutan acak. Pertama grup C, lalu grup B, E, D, dan grup A. Dibelakang saya Anda dapat melihat timnas Inggris merayakan kemenangan mereka. Baiklah, kembali ke studio bersama Bung Roger. Silahkan Bung Roger!"

"Terima kasih rekan Ryan yang melaporkan langsung dari Pulau Snitch, Indonesia..."


"Sial, aku tidak nonton pertandingannya!" katanya jengkel. Ia menghempaskan tubuhnya di tempat tidur dan menonton International Sport Channel yang menyiarkan berita piala dunia.

"Meskipun sempat bermain sangat buruk, beater Ronald Weasley berhasil melakukan penyelamatan gemilang," kata Roger Davies si komentator.

Cuplikan Ron memukul Harianto dengan pemukulnya muncul di TV. Awalnya disorot dari depan, lalu dari samping, dan dalam gerakan slow motion. Hermione membekap mulutnya kaget. Selama ini Ron tidak pernah berbuat curang.

"Rekan Roger, saya pernah menonton gosip dan saya mendengar bahwa akhir-akhir ini Weasley agak kacau karena masalah dengan tunangannya," sambung Lee Jordan, partnernya. "Mungkin ini salah satu akibat dari masalahya itu. Emosinya tidak stabil."

Roger tertawa renyah. "Saya juga dengar begitu, Rekan Lee. Tapi sepertinya bukan saatnya kita membahas gosip selebritis. Itu bagian untuk Penelope Clearwater di acara Player's Tattletale setelah acara ini," Roger tersenyum ke arah kamera. "Kembali ke pembahasan pertandingan, Rekan Lee. Ternyata, Weasley jugalah yang menyelamatkan pertandingan. Seeker Indonesia, Jeremia sudah hampir berhasil menyambar snitch, namun Weasley dengan pukulan kerasnya berhasil menghalau bludger yang melesat ke arah seeker Potter dan menghantam Jeremia. Anda dapat melihat dari cuplikannya..."


Cuplikan Ron yang memukul bludger sekuat tenaganya muncul di layar TV dan menghantam lengan Jeremia sehingga ia tergelincir dari sapunya.

"Pukulan luar biasa dari tengah lapangan, pemirsa!" kata Lee bersemangat. "Hal ini sangat menguntungkan. Setelah Jeremia tergelincir, Potter punya peluang untuk menangkap snitch dan ia berhasil! Pertandingan berakhir dengan kemenangan Inggris. Bravo!!"

"Memang bravo untuk Inggris. Namun, pertandingan tadi dianggap kurang menggigit karena hanya berlangsung sebentar dan tidak banjir skor. Sayang sekali, pemirsa." Kata Roger.

"Baiklah kita akan kembali lagi dengan prediksi pertandingan Jerman VS Ethiopia setelah pesan-pesan berikut ini..."


Hermione memejamkan matanya. Ia rindu Ron. Sejak kejadian itu, Ron tidak pernah mau ditemui olehnya. Ia merasa begitu sedih. Dadanya sesak.

"Hermayoni," seorang wanita cantik berambut pirang muncul di pintu kamarnya. "Makan malam sudah siap."

"Oh, iya Sovia," Hermione tersenyum. "Aku akan segera turun."

"Viktor bersikeras membantuku memasak," Sovia tersenyum geli. "Sebelumnya aku minta maaf kalau nanti masakannya agak aneh. Terakhir dia membantu ada sendal yang masuk ke pai daging." Dan Sovia menutup pintu.

Hermione mematikan TV yang sedang menyiarkan iklan Bertie Botts. Setelah merapikan rambutnya, ia begegas turun ke ruang makan, berharap tidak ada benda asing yang masuk ke pai-nya.
____________________________________

"Hebat Weasley!" Lucas Eriksson memeluk Ron untuk yang kesekian kalinya malam itu. "Kau mengagumkan! Maaf, lho Potter kalau aku memujinya terus. Kau juga hebat, menangkap snitch dan sebagainya itu. Tapi, tanpa dia Indonesia mungkin menang."

"Aku tak keberatan tak dipuji," kata Harry rendah hati.

Timnas Inggris sedang berpesta dia di aula yang ada di markas Inggris. Wartawan-wartawan juga ada di situ untuk meliput kegembiraan tim Inggris. Ditambah lagi, orang-orang penting di Kementrian Sihir juga ikut hadir. Meriah sekali pesta itu.

"Oh, iya. Aku sudah berjanji akan mengenalkanmu dengan enam gadis cantik, kan?" Eriksson mengedip. "Sebentar, ya akan kupanggilkan."

"Ron! Apa yang kau lakukan?" tanya Harry setelah Eriksson menghilang. "Untuk apa enam gadis cantik itu?"

"Untuk menggantikan cewek itu," kata Ron keras sambil meneguk wiski apinya.

"Kau masih tunangan Hermione!"

"So what? Alih-alih kesini, ia malah pergi ke Bulgaria untuk bersenang-senang dengan si Vicky. Untuk apa kupikirkan dia? Bagiku hubungan kami telah berakhir. Titik habis." Wajah Ron memerah dan hidungnya berasap.

"Dengar, ia pasti punya alasan mengapa dia tidak bisa ikut," kata Harry. "Aku yakin kalau urusannya sudah selesai ia akan datang kesini."

"Oh yeah? Urusan," Ron berkata ketus. "Pasti urusannya adalah berlibur dengan Viktor Krum sambil menikmati romantisme Bulgaria. Basi."

"Ron, kumohon! Hubungan kalian sudah lama sekali," kata Harry. "Sejak kita kelas tiga, ingat? Yah, meskipun kalian menyembunyikan hubungan itu dariku dengan sangat rapi... aku kesal sekali waktu itu... kalian tidak bisa putus begini saja. Ingat, kan kau pernah nyeleweng dengan Lavender waktu kelas enam?"

"Sudahlah, Harry! Jangan sebut dia lagi! Kalau dia bisa bersenang-senang dengan si Krum, aku juga bisa bersenang-senang dengan cewek lain. ENAM cewek sekaligus, malah!" bentak Ron.

Saat itu Eriksson muncul dengan enam cewek cantik, plus seorang kameraman dan seorang reporter, Rita Skeeter. Ia masih seperti dulu, kecuali kerutan yang makin bertambah di wajahnya.

"Keberatan jika kita membagi momen berbahagiamu dengan media?" tanya Eriksson.

"Ron! Jangan! Ingat, dia Rita Skeeter! Hermione bisa saja nonton..." bisik Harry.

"Apa peduliku?" balas Ron. "Tentu saja, aku tak keberatan."

"Bagus," kata Rita Skeeter bersemangat. "Girls, coba kelilingi Weasley. Kamera stand by. Satu... dua..."
____________________________________

"Vicky, jangan nyalakan TV, please..."

"Tapi, Sovia aku ingin nonton perkembangan terakhir dari piala dunia," Krum berkata memelas. "Aku tidak berhasil main di piala dunia tahun ini. Masa, sih kau tega membiarkan aku kelewatan berita sama sekali?"

"Hermione, apa kau keberatan kalau ia nonton berita olahraga?" tanya Sovia. "Atau kau mau nonton opera sabun?"

"Emm... berita olah raga saja, kalau boleh memilih." Kata Hermione. Siapa tau bisa melihat wajah Ron...

"Terima kasih!" kata Krum riang sambil bergegas menyalakan TV yang ada di ruang makan dan mengganti channel-nya ke International Sport Channel.

Wajah Ron memenuhi TV. Hermione menahan napas.

"Pemirsa, saya reporter senior Rita Skeeter akan meliput gosip terhangat dari piala dunia," wajah Rita sekarang muncul di layar. "Akhir-akhir ini telah santer terdengar gosip keretakan hubungan beater top Ron Weasley dengan tunangannya Hermione Granger. Selama ini kedua belah pihak enggan mengkonfirmasinya, tapi orang terdekat mereka yang enggan disebutkan namanya menyebutkan bahwa hal itu tidak benar..."

Dapur hening. Krum dan Sovia sembunyi-sembunyi melirik Hermione.

"Namun, malam ini ternyata gosip itu terbukti," kamera menyorot Ron dengan enam gadis cantik di sekelilingnya. "Weasley ternyata telah menggaet enam gadis cantik, bukan hanya satu. Apakah ini tandanya hubungan mereka benar-benar berakhir? Mari kita tanya langsung ke orangnya."

Dada Hermione terasa sesak.

"Selamat malam, Mr Weasley," sapa Rita. "Langsung saja ke permasalahannya. Sebenarnya, apa sih, status hubungan anda dengan Miss Granger?"

"Hubungan kami sudah usai," kata Ron. Pelan namun menusuk.

"Oooh... turut sedih saya mendengarnya," kata Rita. "Kalau boleh tahu, apa sih, penyebabnya?"

"Dia meninggalkan saya untuk laki-laki lain," kata Ron agak ketus. "Tapi, sudahlah. Sekarang aku sudah mendapatkan penggantinya. Enam sekaligus. ENAM! Apa lagi yang kuinginkan? Biar saja dia kabur dengan cowok lain. Aku tak peduli..."

"Ron!" seru Harry. "Cukup!" Harry menyeret Ron dan menghilang dari kamera.

"Eh... baiklah pemirsa, itu tadi berita dari Ron Weasley. Sekarang beralih ke gosip selanjutnya..."


Air mata Hermione tak terbendung lagi. Hatinya hancur. Ia berlari ke kamarnya.

"Hermione!" panggil Sovia. Sovia hendak menyusul Hermione, namun Krum menggeleng.

"Biarkan ia menenangkan diri dulu." Kata Krum.
____________________________________

"Belanda memasuki lapangan. Inilah dia... Van der Saar, Van Persie, Van Nistelrooy, Van Tastik, Van Houten, Van Damm, dan terakhir seeker Van Jang!!!" Ari Otot kembali menjadi komentator. "Sementara dari Brasil... kita sambut Dioda, Ricardinho, Ronaldinho, Kaka, Lucio, Pareira, daaan... seeker Garrincha!!!"

"WUAAAAAAA!!!!!" sorak penonton.

"Wasit kita pada partai Brasil VS Belanda kali ini adalah Ken Chang dari Cina," kata Ari. "Apakah mampu Brasil yang disebut sebagai tim underdog mengalahkan Belanda yang lebih diunggulkan? Kita lihat saja pada pertandingan malam ini. Mana suporter tim sambal?"

Lautan pendukung berjubah kuning-hijau bersorak keras.

"Brasil dijuluki tim sambal karena suporternya yang berpenampilan hot seperti sambal. Mana pendukung Belandaaaaa??"

Pendukung Belanda bersorak-sorai.

"Oke, wasit telah meniup peluitnya tanda pertandingan dimulai," seru Ari. "Quaffle ada di tangan Belanda, tepatnya dibawa oleh Van Persie. Berusaha direbut oleh Kaka namun Van Persie berhasil berkelit. Van Persie masih membawa quaffle. Permainan individual, nampaknya! Ia terus melesat... ah! Sayang sekali ia dihantam bludger keras dari Lucio."

Quaffle terlepas dari tangan Van Persie yang terkena bludger di punggungnya.

"Kaka dengan sigap menyambar quaffle, berusaha dihadang oleh Ruhut Van Nistelrooy. Pemain Belanda keturunan Batak ini masih menghalangi Kaka. Kaka berusaha berkelit dengan terbang lebih tinggi dari chaser-chaser lawan. Menuju ke gawang Van der Saar. Chaser-chaser Belanda terbang tinggi mengejarnya. Namun... ah! Quaffle dijatuhkan oleh Kaka kepada Ronaldinho yang menunggu dibawahnya! Menakjubkan! Porskoff Ploy yang sangat pas dan indah!"

"Ronaldinho dengan bebas melesat menuju gawang Van der Saar! Wow! Beater Parreira menyelamatkan Ronaldinho dari ancaman bludger tepat pada waktunya. Goool!! Gol untuk Brasil!!"

Para pemain Brasil berpelukan di atas sapu mereka. Layar skor besar sekarang bertuliskan
10 Brasil vs Belanda 0.

"Pertandingan dimulai lagi. Ruhut Van Nistelrooy membawa quaffle, dioper dengan cepat kepada Nickel Van Tastik. Van Tastik melesat dan... wow! Indah! Ia melakukan bergantung ala kukang untuk menghindari bludger! Dioper kepada Romeo Van Persie, namun berhasil direbut Ricardinho. Sekarang berbalik, Ricardinho membawa quaffle, menghindari bludger dari Van Houten. Kaka terbang di sebelah kanan Ricardinho dan Ronaldinho juga terbang di sebelah kiri Ricardinho," Ari memperhatikan pertandingan itu dengan seksama. "Rupanya mereka membentuk Formasi Serang Hawkshead, yaitu terbang dengan formasi seperti mata panah. Efektif membuat chaser-chaser Belanda terbang menepi. Namun, beater Van Damm tidak putus asa. Ia memukul bludger ke Kaka, namun Kaka tidak bergeming meskipun kena di pinggangnya. Mereka bertiga melesat menuju area cetak gol."

"Kaka dan Ronaldinho memisahkan diri, sementara Ricardinho yang membawa quaffle memasuki area cetak gol. Membidik... gooolllll!!!! Gooooll! Gol lagi untuk tim sambal!!" Ari berseru keras. "Skor menjadi 20 untuk Brasil dan kosong untuk Belanda. Pertandingan yang penuh taktik, ini seru sekali!"

Pendukung Belanda mulai mengeluarkan suara-suara kesal, sementara pendukung Brasil menari samba dengan penampilan hot mereka.

"Quaffle pada Van Persie, Van Tastik, Van Persie lagi, Van Nistelrooy, Persie, Nistelrooy, Van Tastik, Van Nistelrooy, Van Tastik, Van Nistelrooy, Van Persie," Ari geleng-geleng kepala. "Sungguh cepat. Pusing saya! Van Persie, Van Tastik, Van Persie, Van Nistelrooy, Van... ouh! Berhasil direbut Ronaldinho!! Ronaldinho menuju gawang Van der Saar, beater Lucio menyelamatkan Ronaldinho dari bludger. Bludger tersebut mengenai seeker Van Jang. Ronaldinho dikejar Van Tastik... oh! Tidak! Wasit meniup peluitnya. Itu pelanggaran! Van Tastik tadi melakukan blagging atau memegangi ekor sapu lawan."

"Wasit Ken Chang memberi hadiah kartu ungu untuk Van Tastik dan pinalti untuk Brasil," kata Ari. "Ronaldinho bersiap melakukan pinalti... wasit meniup peluit... daaaannn... ah, sayang sekali Van Der Saar berhasil menghadang quaffle."

"Van der Saar melempar quaffle pada Van Nistelrooy, diteruskan pada Van Tastik, Van Nistelrooy, Van Tastik, Van Persie, Van Tastik, Van Persie, Van Nistelrooy... permainan cepat lagi. Bikin pusing. Tapi apa boleh buat, saya digaji untuk ini," keluh Ari. "Van Persie, Van Tastik, Van Persie, Van Nistelrooy, Van Tastik, Van Persie, Van Tastik, Van Nistelrooy... berusaha menjebol gawang Brasil yang dijaga Nelson Dioda... goool!!! Angka pertama bagi Belandaaaa!!!"

Papan skor berubah menjadi 20 Brasil vs Belanda 10.

"Pertandingan dimulai lagi. Quaffle pada Kaka, direbut Van Nistelrooy. Oh, rupanya Belanda mulai panas. Van Nistelrooy, Van Persie, Van Nistelrooy, Van Tastik, Van Persie, Van Tastik, Van Persie, Van Nistelrooy... lagi-lagi permainan cepat. Daripada saya pusing ngomentarin, lebih baik kita lihat para seeker," kata Ari cuek. "Seeker Garrincha dan Van Jang bergerak-gerak cepat mencari snitch kesana kemari... LIHAT!! Sepertinya ada kesulitan pada Garrincha!!!"

Seluruh mata beralih memandangi seeker Brasil itu.

"Garrincha berlaku aneh! Ia terbang meliuk-liuk, menghentak-hentak, sambil memegangi lehernya!" kata Ari panik. "Apa yang terjadi? YA TUHAN!! Dia jatuh dari sapunya!! Tolong dia!"

Petugas keamanan segera meluncurkan mantra yang membuat laju jatuhnya Garrincha melambat. Garrincha jatuh dengan lembut ke tanah. Ia masih memegangi lehernya, matanya melotot, dan wajahnya agak ungu. Petugas kesehatan segera mengerumuni Garrincha.

"Apa yang terjadi? Apakah ia dikutuk?" Ari mengambil teropong untuk mengamati kejadian dibawah sana. "Ya Tuhan! Dia batuk-batuk dan sesuatu keluar dari mulutnya! Apa itu? Snitch?! SNITCH!! BRASIL DAPAT SNITCH!!!"

Wasit meniup peluit tanda pertandingan usai. Skor menjadi 170 untuk Brasil. Gegap gempita kegembiraan pendukung Brasil memenuhi stadion. Pemain yang lain turun dan menggendong Garrincha di bahu mereka.

"Gimana, sih sampai snitch-nya masuk mulut?" tanya Lucio.

"Tadi aku berhasil menangkap snitch dengan mudah karena dia terbang dekat mukaku. Begitu aku tangkap, aku langsung teriak girang. Eeeh... snitch-nya lepas dari tangan dan masuk mulut, menyumbat tenggorokan. Untung nggak ketelen..." kata Garrincha yang disambut tawa rekan satu timnya.
 

Kembali      Next       Previous

Hosted by www.Geocities.ws

1