|
Bab 2
"Selamat malam pemirsa,
berjumpa lagi dengan saya Indie Bareng dan rekan saya Indra
Mesti dalam acara World Cup Hour. Malam ini kami sudah
menyiapkan berita-berita terhangat tentang World Cup
Quidditch. Diantaranya tanggapan antusias dari Presiden
muggle, liputan tentang lokasi yang akan jadi pusat kegiatan
piala dunia, dan tim-tim yang telah tiba," Kata Indie. "Berita
pertama akan disampaikan rekan saya Indra. Silahkan, Indra."
"Pemirsa, Presiden muggle Indonesia menyambut baik tentang
diadakannya Piala Dunia Quidditch di Indonesia. Menurutnya,
ini adalah hal yang hebat bagi Indonesia, terlepas dari
komunitas sihir atau muggle. Ia juga berharap komunitas
muggle Indonesia bisa melakukan hal yang sama hebatnya
dengan komunitas sihir. Suatu hal yang cukup ironis,
mengingat timnas sepak bola Indonesia kembali gagal memasuki
ajang World Cup sepak bola yang diadakan di Afrika Selatan."
Indra menatap ke kamera sambil tersenyum.
Kamera sekarang menyorot Indie Bareng.
"Piala Dunia Quidditch 2010 akan dipusatkan pada sebuah
pulau tidak terpetakan dan telah dipasangi mantra-mantra
anti muggle yang berada di sekitar pulau Sulawesi. Di pulau
yang cukup luas itu telah dibangun lima buah stadion
berstandar internasional, penginapan untuk dua puluh tim,
lahan perkemahan untuk para pendukung dari seluruh dunia,
serta berbagai sarana penunjang," giliran Indie yang
membacakan berita. "Di pulau yang akan dinamakan Pulau
Snitch itu juga dibangun berbagai sarana hiburan agar para
pendukung yang datang dan anggota tim tidak bosan."
"Pemirsa kami akan segera kembali dengan berita-berita
seputar Piala Dunia setelah pariwara berikut ini."
Menteri Permainan dan Olahraga Sihir Indonesia mengunyah
kacang kulitnya. Ia tersenyum gembira mendengar
berita-berita positif mengenai piala dunia. Apalagi, Menteri
Sihir Togo mengatakan bahwa ia puas dengan fasilitas yang
telah disediakan.
"Kembali lagi bersama kami
di World Cup Hour," Indra Mesti menyapa. "Negara-negara
peserta piala dunia sudah banyak yang berdatangan ke Pulau
Snitch. Hampir semua sudah datang kecuali Ethiopia, AS, dan
Turki. Ethiopia belum datang karena persediaan makanan
bernutrisi khas Afrika mereka belum mencukupi untuk seluruh
tim. Amerika Serikat belum datang karena masalah sapu yang
dianggap kurang aman dan Turki karena karpet terbang mereka
robek ditengah perjalanan dan mereka terpaksa transit di
Thailand..."
Sang menteri mengernyit. Amerika terlalu takut sapu mereka
diguna-guna oleh dukun lokal. Padahal, pihaknya sudah
berusaha meyakinkan bahwa stadion yang digunakan aman dan
anti kutukan liar dan nyasar.
"Meskipun telah dijamin
aman, beberapa negara peserta piala dunia masih meragukan
keamanan stadion yang akan digunakan. Alasannya, Indonesia
masih belum berpengalaman menyelenggarakan event besar dunia,"
Menteri berdecak kesal mendengar ini. "Selain tim Amerika
yang bersikeras menambahkan perlindungan ekstra anti
guna-guna pada sapu mereka, dukun lokal dari Senegal juga
ikut mengamankan stadion. Dengan baju berwarna mencolok dan
peralatan tradisional mereka, para dukun tersebut
mengelilingi Stadion Cendrawasih sambil menyemburkan air
suci dari mulut mereka. Mereka juga sesekali melompat-lompat
di bagian yang diduga memiliki kekuatan jahat dan
meneriakkan mantra-mantra dalam bahasa yang tidak dapat
dimengerti. Berikut cuplikannya.."
Menteri Olahraga hanya bisa geleng-geleng kepala melihat
tingkah dukun-dukun Senegal di TV. Hatinya geli bercampur
jengkel. Kerja keras dari kementrian tidak dipercaya oleh
dunia sihir internasional.
"Kami akan mencoba untuk
mewawancarai dukun Senegal ini. Saya saat ini dibantu oleh
penerjemah yang mengerti bahasa mereka," Menteri Olahraga
menonton cuplikan berita di TV. "Pertanyaan pertama, mengapa
Anda memeriksa stadion yang aman ini?"
"Wooosaa, fulu na mukan tero dumi mbe beru matani?" tanya
penerjemah kepada dukun dengan hiasan burung flamingo pink
cerah di kepalanya.
"Whala whala guri dome teko-tekoni bulu dumba rompuna sumi
lako nebo ropi mulu!" jawab dukun itu sambil
mengetuk-ngetukkan tongkat panjang berkepala tengkorak.
"Katanya, karena ia mendapat perintah dari leluhur yang
mengatakan harus memeriksa keamanan stadion sebelum bermain.
Perintah leluhur harus dipatuhi." Kata penerjemah.
"Apa Anda menemukan sesuatu yang aneh di stadion ini?" tanya
si reporter.
"Wooosaa, sumika duru balumina matani bosi na okorelele?"
"Hmmm... ja!" dukun itu mengangguk bersemangat. "Buno dumisi
kero jurig balo dumi gomosa. Peruhi gulo dubi samaru.
Wussshh..."
"Dia bilang, ya! Saya menemukan makhluk halus perempuan
berambut panjang bermuka pucat. Tapi sudah kabur saya usir.
Wussshh..."
"Oh, ya? Berarti pengamanan stadion kurang memadai. Menurut
standar stadion Quidditch internasional, sebuah stadion
harus bebas kutukan, mantra, guna-guna, dan gangguan dari
makhluk halus," kata reporter.
"Kurang memadai apanya?" Menteri Olahraga menatap berang ke
layar TV. "Bukannya proteksi stadion sudah memadai? Aku
yakin nggak ada satu jurig pun yang bisa masuk!"
"Bagaimanakah Anda mengusir makhluk halus itu?" tanya
reporter.
"Wooosaa, hulu nobo re dimakoni jurig dubi sahamu?"
"Buruki da gedebuk mele bu harami!" kata dukun itu.
"Katanya, ia memukul makhluk itu dengan tongkatnya." Lapor
si penerjemah.
"Aneh. Bukannya semua orang tau bahwa makhluk halus tidak
bisa ditembus?" gumam reporter itu heran.
"Nggak tau, deh," bisik si penerjemah. "Dia memang bilang
gitu kok! Mungkin tongkatnya punya kekuatan lain..."
"ITU DIAAA!!"
Sekarang kamera menyorot ke arah seorang wanita bermuka
pucat dan berambut hitam panjang yang menjuntai. Ia datang
dengan dua orang body guard. Kepala wanita itu dibalut
perban. Wajahnya luar biasa marah.
"Hullaaaaaa!!! Samaru! Samaru, jurig!!" dukun itu
melompat-lompat heboh sambil memutar-mutar tongkatnya.
"Apa katanya?" tanya reporter.
"Dia bilang, pergi! Pergi, makhluk halus!" kata penerjemah.
"Aku bukan makhluk halus," kata wanita itu jengkel. "Aku
Devi Leviosa, pengawas Stadion Cendrawasih."
"Samaru!! Samaru, jurig!! Wuusshh!! Semele.. buri.. burii..
haiyaa!!" ia melompat-lompat.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Bu?" tanya reporter.
"Saya sedang mengawasi jalannya ritual dukun-dukun Senegal
di stadion ini. Lalu, si gila ini melompat ke depan saya
sambil berteriak dengan bahasa yang nggak jelas itu.
Tiba-tiba, dia memukul saya sekuatnya dengan tongkatnya.
Saya langsung lari minta tolong," Devi menjelaskan. "Amankan
dia!"
Dua body guard itu melambaikan tongkat dan dukun itu telah
terikat rapi. Ia meronta-ronta di tanah. Mereka lalu
menggotong dukun itu keluar arena.
"Saya ingin mengkonfirmasikan bahwa semua stadion di pulau
ini telah memenuhi standar internasional dan sudah di tes
oleh Konfederasi Sihir dan persatuan Quidditch Internasional.
Tidak usah ragu, semua aman." Kata Devi.
"Terima Kasih, Bu," kata si reporter. "Demikian laporan kami
dari Stadion Cendrawasih, Pulau Snitch. Kembali ke studio."
____________________________________
"OUCH!!"
"Maaf, Harry!"
"Weasley! Kau kenapa, sih? Aku nggak bisa bekerja sendirian!"
omel Milicent. "Pelatih?"
"RON! TURUN KAU!" teriak Lucas Eriksson. "Lampard, gantikan
Ron!"
Frans Lampard melesat naik sementara Ron turun dengan lemas.
Ia agak terhuyung ketika menyentuh tanah.
"Kau main sangat buruk, Ron," Eriksson menghampirinya. "Ada
apa? Besok malam kita sudah bertanding! Aku tak mau kita
kalah dari tim debutan macam Indonesia."
"Maaf, pelatih. Udaranya panas." Jawab Ron.
"Tidak, Ron. Tidak," Eriksson menatapnya tajam. "Aku tahu
masalahmu dengan tunanganmu itu. Ayolah, bersikaplah
profesional. Kau harus berkonsentrasi!"
Ron terdiam. Pikiran Hermione bersenang-senang dengan pria
lain membuat dirinya kacau.
"Dengar, aku punya kenalan segudang gadis muda," kata
Eriksson. "Jika kau bermain bagus, akan kukenalkan kau
dengan gadis yang paling seksi."
Gila saja! Gadis lain? Ia tidak mungkin mengkhianati
Hermione!
"Untuk apa memikirkan cewek tidak tahu diri yang lebih
memilih seeker Bulgaria itu daripada tunangannya sendiri?"
Benar juga... "Baiklah, aku akan bermain bagus besok. Tapi,
kenalkan aku dengan enam cewek cantik, ya?"
"Beres!" Eriksson menepuk bahu Ron. "Istirahatlah, tenangkan
dirimu."
Ron mengangguk dan berjalan menuju ruang ganti. Ia sangat
marah dan membenci Hermione. Tapi, tanpa ia sadari, masih
ada rasa cinta pada gadis itu.
____________________________________
"Inilah dia, tim tuan rumah, Indonesiaaaa..." seru Ari Otot
yang menjadi komentator pertandingan pembukaan Inggris vs
Indonesia. "Rusdy, Andree, Eko, Harianto, Rudy, Asril, dan
Jeremiaaaaa!!!"
Pendukung Indonesia bersorak heboh, sementara para pemain
timnas Indonesia melesat memasuki lapangan.
"Dan sambutlah, tim nasional Inggris!!!" katanya. "Wood,
Walcott, Lovegood, Weasley, Weasley, Bulstrode, daaaaannnnn...
POTTER!!!!"
Tim Inggris melesat memasuki lapangan diikuti sorakan
membahana yang memekakkan telinga.
"Sodara-sodara, peluit tanda pertandingan dimulai baru saja
dibunyikan oleh wasit Zaid Al-Fauzah asal Afghanistan," kata
Ari Otot. "Anak buah Lucas Eriksson kelihatan yakin, apalagi
tim Inggris diperkuat oleh seeker ngetop, Harry Potter!!"
Seluruh stadion dipenuhi sorakan membahana, khsusunya dari
pendukung tim Inggris.
"Namun, tim Indonesia juga tidak bisa diremehkan. Dibawah
asuhan Ucok Simarjarunjung, tim ini merupakan tim terbaik
yang pernah dimiliki oleh Indonesia," kata Ari Otot. "Baiklah,
Quaffle berada pada Harianto, yang cepat mengoper ke Eko...
ahhh... Eko dihantam bludger dari Milicent. Namun, quaffle
berhasil diselamatkan oleh Andree. Andree melesat sendiri,
menghindari Walcott. Daaan... ah, sayang sekali Wood
berhasil menangkapnya!"
"Weasley cewek membawa quaffle, dioper ke Walcott, lalu pada
Lovegood, Walcott, Lovegood, Weasley, Lovegood... permainan
yang cepat. Ough! Lovegood kena hantam di perutnya. Jangan
terlalu kasar, Rudy. Dia cewek... tangkapan yang baik dari
Eko, diteruskan ke Harianto. Harianto melesat ke gawang...
GOOOOL!!!!!! ANGKA PERTAMA BUAT INDONESIAAAAA!!!!"
Stadion dipenuhi sorakan, seakan-akan stadion itu meledak.
"Quaffle dipegang oleh Walcott, lalu Weasley, Walcott lagi,
Walcott terus melesat. AWAS!! Oooh... sakit sekali pastinya..."
Bludger menghantam wajah Theo Walcott dengan sangat keras.
Ia memegangi hidungnya, sementara quaffle-nya jatuh.
"Ada apa ini? Seharusnya beater Weasley bisa menangkis
bludger itu. Weasley ada di dekat Walcott tadi." Kata Ari
heran.
"Weasley! Kerja, dong! Aku tak bisa menghalau itu sendiri!"
teriak Milicent marah.
"Aduh, sori.. sori.." kata Ron kaget.
"Theo Walcott terpaksa harus diganti oleh William Rooney
karena cederanya cukup serius," kata Ari sambil meneguk
segelas air putih. "Pertandingan dimulai lagi. Rooney
membawa quaffle dioper ke Lovegood. Namun, berhasil disambar
Andree. Lalu pada Eko. Eko berhasil berkelit dari bludger
yang dipukul oleh Bulstrode. Kuat sekali cewek ini. Oper
pada Harianto, lalu pada Andree, kembali pada Harianto. OH!!
ITU PELANGGARAN!! Wasit!!"
"Wasit telah meniup peluit atas pelanggaran kotor yang
dilakukan Weasley beater," kata Ari jengkel. "Ia memukul
Harianto dengan pemukulnya. Wasit menghadiahinya dengan
kartu ungu dan pinalti bagi Indonesia. Sekali lagi dapat
kartu ungu, Weasley akan dikeluarkan dari pertandingan."
Harry menghampiri Ron. "Ron, kau kacau sekali!" katanya. "Memang
masalah Hermione membebanimu, tapi bermainlah yang bagus!"
"Harianto melakukan pinalti. Berhasilkah ia? Yak! Gol lagi
untuk Indonesia. Skor 20 – 0 untuk tim tuan rumah!!!"
Harry merasa resah. Ron yang sedang kacau mampu
menghancurkan pertandingan ini. Ia harus segera menemukan
snitch-nya. Ia mencari-cari bola kecil emas itu. Seeker
indonesia, Jeremia, nampak mencari juga.
Tiba-tiba Jeremia menukik turun dengan kecepatan luar biasa.
'Gawat!' batin Harry. 'Ia telah menemukan snitch!'. Harry
ikut menukik turun. Namun, sesuatu yang berkilat di tiang
gawang Indonesia menghentikannya. Snitch! Itu dia!
Harry segera merubah arahnya. Jeremia melihat bahwa
tipuannya tak berhasil. Ia juga ikut merubah arah. Matanya
tertumbuk pada snitch yang terbang di sekitar gawang
Indonesia.
"Tunggu dulu," sergah Ari. "Kedua seeker sudah mulai
bergerak dengan kecepatan luar biasa. Apa snitch-nya sudah
ketemu?"
Seluruh stadion mendadak menjadi hening.
Harry berusaha memacu sapunya dengan sekuat tenaga. Namun,
posisi Jeremia lebih menguntungkan. Jeremia lebih dekat
dengan tiang gawang.
"WEASLEY!!" didengarnya Milicent berteriak. Dari sudut
matanya, ia melihat bludger menuju kepalanya dengan
kecepatan tinggi. Ron segera melesat dan melakukan pukulan
brilian yang telak menghantam lengan Jeremia.
"Ough! Tidaaakk... Jeremia tergelincir dari sapunya!!" Ari
berseru histeris.
Harry mempercepat laju sapunya. Bola emas bersayap itu makin
jelas...
"150 angka untuk Inggris..." kata Ari pelan. "Pertandingan
usai dengan kemenangan 150 lawan 20 untuk Inggris."
Gegap gempita para Hooligan meledakkan stadion. Mereka
bersorak sorai sambil mengibarkan bendera Inggris.
"Pertandingan yang cepat, hanya tiga puluh menit,
sodara-sodara," kata Ari. "Tadi nyaris saja Indonesia
mendapatkan snitch, tapi apa mau dikata. Inggris yang
menjadi juara untuk partai malam ini. Selamat kepada para
pendukung Inggris."
Tim Inggris melakukan victory lap, sementara pendukung
Indonesia tertunduk lesu.
Kembali
Next
Previous |