APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

Bab 5

Hermione turun dari bus yang membawanya dari Terminal Kereta Portkey Pulau Snitch. Ia setengah berlari menuju Stadion Gelora Bung Rano yang dipenuhi penonton Final Piala Dunia Quidditch. Setelah pengecekan tiket, ia masuk ke dalam stadion.

"Permisi, Pak," tanyanya kepada seorang keamanan. "Dimana ruang ganti Inggris?"

Lelaki dengan jubah coklat itu mengamati Hermione dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. "Miss Granger," katanya dengan bahasa Inggris beraksen Jawa. "Ingin bertemu Mr Weasley?"

Hermione mengerjap bingung. "Iya, Pak," ia cepat mengangguk. "Dari mana Bapak tahu?"

Lelaki itu menatapnya sebal. "Apa Anda tahu, Anda adalah Hermione kesembilan hari ini," katanya. "Rupanya Beater itu banyak sekali penggemarnya. Banyak yang menyamar menjadi Hermione. Kasihan sekali Hermione yang asli... kudengar ia ada masalah berat dengan Weasley itu. Istriku penggemar infotaiment, makanya aku tahu."

Hermione ternganga kaget.

"Lagipula aku tak tahu dimana menariknya si rambut sewarna wortel itu, sehingga banyak cewek yang rela menyamar untuk bertemu dia.."

"Tapi, Pak saya tunangannya!" sergah Hermione gusar. "Saya harus..."

"Yah.. yah.. itu juga yang dibilang 'Hermione' yang lain," kata lelaki itu lagi. "Sudahlah, kemarin itu ada yang berhasil masuk karena ia sangat meyakinkan. Tapi, ternyata ia Hermione palsu dan Mr Weasley sangat marah. Kami diminta untuk tidak tertipu dengan Hermione-Hermione lainnya. Lebih baik Anda duduk saja di tribun karena saya tak akan tertipu lagi, maaf."

Hermione merasa sangat sebal. Ia sebal dengan kumis tebal lelaki itu. Ia sebal dengan logat aneh pada Bahasa Inggrisnya. Ia sebal dengan cewek-cewek yang menyamar sebagai dirinya. Ia sebal karena tidak dipercaya.

"Nah, itu mereka muncul," lelaki itu menunjuk ke atas. Keempat belas pemain sudah melesat keluar ke lapangan. "Naiklah ke tribun, pertandingan ini pasti seru sekali. Lebih baik kau duduk manis disana daripada mencoba menipuku dengan menyamar sebagai gadis malang itu."

"Dengar, ya!" jeritnya sembari mengacungkan tongkatnya tepat kebawah hidung lelaki itu. "Mungkin sekarang aku tidak bisa bertemu Ron. Tapi, aku ini Hermione Granger yang ASLI!! Harap kau ingat itu!"

Dan ia bergegas naik ke tribun, meninggalkan petugas keamanan yang kaget itu.
____________________________________

"Oke, keempat belas pemain telah mengelilingi lapangan," kata Ari. "Wasit kita Fernando Jose melayang ditengah-tengah, memberikan pengarahan. Kedua kapten bersalaman. Quaffle dilempar daaan.. berhasil disambar oleh Walcott dari tim Inggris!"

Para Hooligan bersorak ramai. Maskot tim Inggris menari-nari riang.

"Bagus sekali, Walcott. Cowok ini terus melayang, Quaffle berusaha direbut oleh chaser Kone. Namun dioper kepada Lovegood, lalu kepada Weasley. Weasley berkelit tepat waktu menghindari bludger dari Akale. Weasley mengoper.. ough! Berhasil disambar Drogba. Drogba berbalik arah, mengoper pada Kone, Kone pada Eboue, Eboue melesat.. aduh! Pasti sakit sekali.. pinggang Eboue terkena bludger keras dari Bulstrode. Tapi, Eboue tidak melepas Quaffle. Ia membidiiik.. GOOOL!! 10-0 untuk Pantai Gading!"

Bendera raksasa Pantai Gading berpendar-pendar. Gajah-gajah meraung lagi dan berputar-putar di atas kaki belakangnya.

"Kembali lagi ke pertandingan. Inggris memegang Quaffle, tepatnya ditangan Luna Lovegood. Dia terbang dengan santai menghindari satu demi satu lelaki Pantai Gading yang besar-besar dan kuat. Permainan individual, rupanya sodara-sodara.. meskipun nampak tenang dan melamun, Lovegood benar-benar tau apa yang dia lakukan. Menghindari tubrukan Eboue, diaaa.. dan berkelit dengan manis dari Bludger yang dipukul oleh Boka. Sekarang, dengan santai ia membidik.. OOH! Dapat dihadang kiper Chemby Toure, rupanya.."

"Quaffle ada pada Drogba ia terbang melesat melewati lapangan, dioper kepada Marimuri Kone, lalu kepada Eboue, Kone, Eboue, Drogba.. rupanya chaser Inggris tidak bisa memberikan perlawanan yang berarti. AH! Pelanggaran dibuat oleh Beater Weasley.."

Drogba menjatuhkan Quaffle, sementara ia memegangi hidungnya yang berdarah. Teriakan-teriakan marah membahana di stadion.

"Weasley menyikut hidung Drogba, sodara-sodara.." Pesta geleng-geleng kepala. "Seharusnya ia memukul Bludger, bukan menyikut hidung Drogba!"

"Wasit dengan indahnya memberikan hadiah kartu ungu kepada Weasley serta pinalti untuk Pantai Gading."

Kone mengambil posisi pinalti, sementara Drogba mengelap darah yang terus mengucur dengan jubahnya.

"Bisakah Marimuri Kone melakukan tembakan pinalti? Bisakah ia menyumbang poin untuk Pantai Gading? Yaak.. Kone membidik.. GOOL!! 20-0 untuk Pantai Gading!!"

Pantai Gading menggila. Dua puluh menit kemudian kedudukan telah berubah menjadi 100-50. Pendukung Inggris mulai gelisah. Di box VVIP, Rufus Scrimgeour hampir mati bosan mendengar ocehan bangga dari Menteri Sihir Pantai Gading, Mohammed Kader.

"Kami latihan setiap hari dengan pelatih yang paling bagus dan materi yang telah disahkan," oceh Kader dengan Bahasa Inggris yang beraksen aneh. "Kami telah menunggu puluhan tahun untuk gelar kehormatan ini. Kami telah membuat sebuah lemari dari kristal bening dan berbingkai gading gajah dengan kualitas tinggi untuk memajang Piala Dunia yang akan diletakkan di lobi Kementrian. Lemari itu bisa berpendar indah dan pasti akan serasi dengan warna emas piala itu. Setiap orang yang melihat pasti akan terpukau dan akan terus mengenang kesuksesan Pantai Gading sebagai juara dunia Quidditch."

"Tapi, Mr Kader, pertandingan belum berakhir. Apapun bisa terjadi. Mungkin saja Potter akan menangkap Snitch tepat pada waktunya.." sanggah Scrimgeour.

"No, no, no, no.." kata Kader bebal. "Lihat, sekarang kami sudah unggul lagi dengan 130 angka. Sedikit lagi pasti kami menang. Yapi-Yapo adalah seeker kami yang paling berbakat. Aku yakin dia bisa menemukan Snitch lebih dulu dari Potter. Kulihat Potter memakai kacamata, ya? Bagaimana bisa memasang orang dengan pengelihatan kurang baik di posisi seeker!"

"Harus diakui bahwa Potter adalah seeker handal, Mr Kader," Menteri Sihir Indonesia nimbrung. "Dia berhasil menyambar snitch tepat di depan hidung seeker Prancis, Lailan Shuram."

"Nah, nah! Benar apa kata Mr Sutan," Scrimgeour menepuk bahu Menteri Sihir Indonesia.

"Nonsense!"

"Inggris sudah ketinggalan jauh. Mereka masih bertahan dengan skor 50, sementara Pantai Gading makin ganas dengan skor 150 sekarang!" komentar Ari membuat pendukung Inggris lesu.

"Tinggal berharap pada seeker saja sekarang.." kata Pesta.

Harry menatap papan skor dengan cemas. Sedari tadi, tak ada tanda-tanda snitch yang terlihat olehnya. Ia juga yakin Yapi-Yapo belum melihat snitch juga. Beberapa Wronski Feint Harry tidak ditanggapi oleh Yapi-Yapo. Rupanya kali ini ia menghadapi seeker yang sangat tangguh dan waspada.

"Luar biasa, Pantai Gading masih tidak memberi celah kepada Inggris. Tim yang baru saja memenangkan Piala Afrika ini, mengalahkan juara bertahan Piala Afrika yaitu Ethiopia, memang sangat tangguh. Selain stamina yang tinggi, skill mereka juga sangat bagus. Ini diaaa.. Eboue membidikkan Quaffle..."

"Tunggu dulu, Mas Ari!" Pesta menepuk bahu Ari. "Wasit meniup peluit atas pelanggaran mengerikan lagi!"

"Ahh.. benar, Bung Pesta! Ronald Weasley telah memukul bludger sekuat tenaga kearah kerumunan penoton. Mungkin ia bertujuan untuk menghalang Eboue mencetak gol. Sayang sekali, itu pelanggaran yang sangat kotor.. mengorbankan penonton untuk kemenangan tim!"

Tim medis segera membantu penonton yang terkena hantaman bludger dari Ron. Di box VVIP, Rufus Scrimgeour mengerang putus asa.

"Ooohh.. berarti wasit akan mengeluarkan kartu itu.. kartu yang sangat mengerikan itu.. oooh.. Weasley yang malang.."

"Aku tak sanggup menyaksikannya, Bung Pesta. Aku tidak sanggup.."

"RON!!!" jerit Harry.

"TIDAK! RON!!" jerit Hermione.

"Maafkan aku.." bisik Ron lirih. Ia tidak tahu setan apa yang telah merasukinya.

"Kau tahu konsekuensi atas perbuatanmu, Mr Weasley?" kata wasit Fernado Jose.

"Ya, wasit.." jawab Ron pelan.

"Kau siap menerima kartu.. kartu itu?" tanya wasit lagi.

"Aku siap." Jawab Ron yakin.

"Tidak bisa dihindari lagi.. wasit akan tetap mengeluarkan kartu mengerikan itu.." desah Ari.

Semua pemain yang ada di lapangan menyingkir dari Ron. Ginny membekap mulutnya dan matanya berkaca-kaca. Ia membenamkan diri dalam pelukan Luna. Sebenarnya Harry ingin berada di sisi sahabatnya itu. Tapi, itu tidak mungkin. Susana hening dan tegang. Lukas Eriksson duduk dengan lemas, hampir pingsan, diatas kursinya.

"Baiklah.." wasit merogoh saku bajunya. "Kau harus terima ini..."
 

Kembali       Next      Previous

Hosted by www.Geocities.ws

1