|
00000001 : The Past
"Pial-... Tunggu... Ron, jawab aku dengan jujur... Sekarang
tanggal berapa?"
"Man, aku tak percaya kamu melupakan tanggal bersejarah ini,
hari ini adalah pertandingan final piala..."
"Harry, Ron, aku ke bawah duluan, Mrs. Weasley sudah
berteriak memanggil kita dari tadi."
Harry memegangi kepalanya, yang saat ini sedang digelayuti
oleh berbagai pertanyaan.
Tidak mungkin. Piala Dunia Quidditch? Apakah itu berarti aku
telah mundur ke masa 6 tahun yang lalu? Impossible. Tapi
kalau itu benar. Dan seketika itu juga Harry Potter seperti
mendapatkan pencerahan. Sirius Black dan Albus Dumbledore
belum mati. Ya, dia bisa mencegah kematian mereka. Dia bisa
mengubah sejarah. Gembira karena fakta baru ini, Harry
tertawa.
"Hey, mate. Jika kamu sakit, mungkin sebaiknya kita batalkan
saja."
"Kamu bercanda, Ron? Aku tak akan melewatkan peristiwa ini,
tidak untuk hal apapun di dunia ini." Kecuali mengubah
sejarah dan menyelamatkan beberapa orang yang aku tahu akan
mati, lanjut Harry dalam pikirannya.
"Ayo, aku sudah lapar. Masak apa?"
Beberapa menit kemudian...
Udara dingin sekali dan bulan masih bersinar. Hanya sedikit
warna hijau pucat di kaki langit di sebelah kanan mereka
yang menunjukkan bahwa subuh segera tiba. Harry, setelah
mengingat kembali apa saja yang terjadi di Piala Dunia
Quidditch, mempercepat langkah, sehingga sejajar dengan Mr.
Weasley.
"Kita akan menuju ke mana?" tanyanya.
"Puncak bukit Stoatshead, kita akan berangkat menggunakan
Portkey yang sudah disiapkan oleh Kementerian." Mr.Weasley
menunjuk ke depan, ke gundukan besar hitam yang menjulang di
balik desa Ottery St. Catchpole.
Hermione menarik Ron sehingga mereka berdua berjalan agak
tertinggal dari yang lain.
"Ada apa?"
"Shh, Ron, tidakkah kamu memperhatikan kalau Harry agak aneh?"
"Hermione, aku tak percaya kamu mengatakan itu, dia teman
kita."
"Aku tahu, tapi Harry yang kukenal selalu mengenakan
kacamatanya karena matanya bermasalah."
"Jadi kenapa...!" Ron berhenti ," ya, aku tahu apa maksudmu.
Memangnya kalau mata minus tidak bisa sembuh."
"Ron, Ron, Ron... Setiap penyihir memiliki luka sejak lahir
yang tak akan pernah sembuh hingga dewasa, yang menyebabkan
mereka... Mungkin sebuah contoh akan lebih mudah, pernahkah
kamu mencoba untuk memotong rambutmu, Ron?"
"Ya, aku pernah sekali, tapi rambutku langsung tumbuh
keesokan harinya, tapi apa hubungannya dengan Harry?"
"Kamu adalah orang terbodoh yang pernah kulihat, Ron." Dan
Hermione mempercepat jalannya, menyusul yang lainnya.
Mereka berjalan menyusuri jalan kecil gelap dan lembab
menuju ke desa, keheningan hanya dipecahkan oleh
langkah-langkah mereka. Langit perlahan bertambah terang
sementara mereka melewati desa. Kegelapan yang semula pekat
berubah menjadi biru tua. Mr. Weasley berulang kali melihat
arlojinya.
Masing-masing orang sudah tak punya sisa nafas untuk
berbicara ketika mulai mendaki bukit Stoatshead,
kadang-kadang terhuyung jika terperosok ke dalam lubang
kelinci, atau terpeleset gerumbul lebat rumput yang licin.
Sense Harry sebagai seorang penyihir mulai bekerja, dia tahu,
ada yang mengikuti mereka dari tadi.
"Whew!" engah Mr. Weasley, mencopot kacamatanya dan
menggosokkannya ke sweaternya. "Yah, cukuplah -- kita masih
punya waktu sepuluh menit..."
Hermione yang terakhir tiba di puncak bukit, memegangi sisi
perutnya.
"Sekarang tinggal cari Portkey-nya," kata Mr. Weasley,
memakai kembali kacamatanya dan menyipitkan mata
mencari-cari di tanah. "Pasti tidak besar... Ayo..."
Harry pura-pura ikut mencari, namun dia tahu, beberapa menit
lagi, Amos Diggory-lah yang akan menemukan Portkey yang
berbentuk sepatu bot usang. Dan benar saja, terdengar sebuah
teriakan membelah keheningan. Harry merasakan para penguntit
masih berkeliaran, dekat, tapi cukup jauh untuk menghindari
deteksinya.
"Di sini Arthur! Di sini, Nak, sudah ketemu!"
Dua sosok jangkung membentuk siluet berlatar langit
berbintang di sisi lain bukit.
"Amos!" kata Mr. Weasley, tersenyum, seraya nelangkah
mendekati laki-laki yang tadi berteriak. Yang lain mengikuti.
Dan setelah ramah tamah selama beberapa menit. Aneh rasanya
bagi Harry, menyalami Cedric kembali, yang masih hidup,
berbicara, dan segar bugar, yang dia tahu akan terbunuh pada
babak final piala Triwizard. Namun sekarang bukan itu yang
dipikirkan Harry sekarang.
"Setahuku tidak," kata Mr. Weasley. "Ya, satu menit lagi...
lebih baik kita bersiap-siap..." Dia memandang Harry dan
Hermione.
Aku juga, pikir Harry, siapa yang mengikuti kita dari tadi?
"Kalian cuma perlu menyentuh Portkey-nya, satu jari sudah
cukup..."
Dengan susah payah, karena ransel mereka besar-besar, mereka
bersembilan berdesakan mengitari sepatu bot butut yang
dipegang Amos Diggory. Mereka berdiri disana, dalam
lingkaran rapat, sementara angin dingin menyapu puncak bukit.
Tak seorangpun yang berbicara.
"Tiga...", gumam Mr. Weasley, sebelah matanya masih
memandang arlojinya,"dua...satu..."
Dan Harry melepaskan jarinya dari Portkey di saat yang tepat,
sementara mereka berdelapan terbang dibawa oleh Portkey
menuju ke tempat penyelenggaraan piala dunia Quidditch.
Harry mengeluarkan tongkat sihirnya dari kantong jubahnya,
bersiap.
"Siapapun kalian, keluarlah..."
Tak ada yang menjawab. Tak ada
suara, ataupun gerakan, selain angin sepoi-sepoi yang
terkadang menggerakkan dahan dan ranting, membuat
suara-suara. Harry, setelah meyakinkan dirinya bahwa dia
mungkin berhalusinasi, menyimpan tongkatnya ke dalam tasnya,
mengukur waktu, kemudian ber-Apparate tepat di saat mereka
semua sudah sampai di sana.
"Tujuh lewat lima dari bukit Stoatshead!", teriak sebuah
suara.
Harry, membantu Ron dan Hermione berdiri, mengamati keadaan
sekelilingnya. Tampaklah dua orang pasangan penyihir,
meskipun Harry sudah pernah melihat mereka sebelumnya, masih
mengundang senyum dengan pilihan pakaian mereka yang aneh.
"Pagi, Basil," sapa Mr.Weasley, memungut sepatu bot dan
memberikannya kepada penyihir yang memakai kilt, yang
melemparkannya ke dalam sebuah kotak penuh dengan Portkey
usang.
"Halo, Arthur," Basil berkata dengan kelelahan," Tidak kerja,
eh? Tidak apa-apa untuk sebagian orang... Kita telah disini
sepanjang malam, sebaiknya kalian menyingkir, ada
serombongan besar penyihir yang akan datang dari Black
Forest sebentar lagi. Tunggu, aku akan memeriksa dimana
campsite kalian, Weasley... Weasley..." dia memeriksa
perkamennya," Seperempat mil berjalan ke arah sana, manager
lapangan kalian bernama Mr. Robert, Diggory, lapangan kedua,
cari Mr. Payne."
"Terima kasih, Basil", kata Mr. Weasley, kemudian menyuruh
yang lain untuk mengikutinya.
Waktu berlalu begitu cepat ketika kita sedang
bersenang-senang. Walaupun Harry sudah tahu hasil akhir
pertandingannya, hal itu tetap tidak menghentikannya untuk
mendiskusikan Quidditch dengan seluruh anggota keluarga
Weasley, sementara Hermione dan Ginny sudah tertidur dengan
pulasnya. Dan Harry baru saja beberapa menit bermimpi indah,
salah satunya melibatkan dia dan Cho, juga Ginny, juga
Hermione... ketika tubuhnya digoyang-goyangkan oleh Ron,
disertai oleh teriakan Mr. Weasley.
"Cepat bangun! Ron--Harry-- ayolah, bangun sekarang! Ini
gawat!"
Harry bangun dengan cepat, dan kepalanya menghantam
langit-langit. Seketika itu juga dia sadar apa yang akan
terjadi.
"Tanda Kegelapan?", tanya Harry, walaupun masih mengantuk
berat.
Samar-samar, Harry tahu, dari nyanyian kegembiraan yang
digantikan oleh teriakan, para Pelahap Maut telah memulai
aksinya.
"Tak ada waktu, Harry! Pakai saja jaket dan cepat keluar!"
Dalam waktu sesingkat itu, Harry mengambil jubah gaibnya.
Tongkat sihirnya sudah dicuri oleh Barty Crouch Jr. untuk
menyihir tanda kegelapan. Tongkat sihir yang dia biarkan
untuk dia biarkan untuk diambil, sehingga event-event yang
akan datang berjalan sesuai dengan rencana Harry. Dalam
kekacauan yang melanda, sangatlah mudah bagi Harry untuk
menyelinap, menghilang dari pandangan.
Cukup mudah untuk menemukan para Pelahap Maut, mereka bahkan
tidak bersembunyi, secara terang-terangan mempermainkan para
Muggle di udara dengan sihir mereka. Harry, berlindung di
balik Jubah Gaib-nya, perlahan mendekati mereka. Dari suara
tawa mereka, Harry sudah bisa menebak identitas mereka
masing-masing, Lucius Malfoy, Anthony Dolohov, Crabbe,
Goyle, dan juga orang yang paling dibencinya, orang yang,
Harry merasa jijik jika mengingatnya, masih memiliki
hubungan keluarga dengannya, Bellatrix Lestrange.
Lima Pelahap Maut. Harry berpikir, menghitung
kemungkinannya, akan sangat bodoh jika Harry langsung maju
ke depan menantang mereka. Lima mantera Avada Kedavra
tidaklah mudah untuk dihindari, apalagi ditangkis. Tidak,
dia harus memikirkan alternatif lain kecuali jika dia hendak
mati konyol. Dia harus memancing mereka keluar, satu
persatu. Setelah memikirkan rencananya matang-matang, Harry
bergerak lagi.
"Kurasa sudah cukup untuk hari ini. Bubar."
Dengan satu isyarat dari Lucius, para Pelahap Maut
ber-Disapparate, meninggalkan Harry yang kecewa.
Perlu beberapa menit bagi Harry
untuk menemukan Ron dan Hermione.
"Harry, kamu dari mana saja, kami semua khawatir setengah
mati."
"Maaf, Ron, Hermione, tongkatku hilang, aku berusaha
mencarinya dimana-mana," Harry berbohong, dia sengaja
membiarkan Barty Crouch Jr. untuk mengambil tongkatnya
secara diam-diam sehingga Barty bisa menyihir tanda
kegelapan, yang mana sebentar lagi, dilanjutkan dengan
ditemukannya tongkat itu oleh Winky ," Mana yang lain?"
"Kami terpisah dari Fred, George dan Ginny dalam kekacauan.
Semua orang panik", jawab Ron.
"Ron, bukan saatnya untuk membahas itu sekarang..!!!", mata
Hermione melebar dalam kengerian.
"MORSMORDRE!", teriak sebuah suara dari kegelapan. Barty
Crouch telah menyihir tanda kegelapan ke angkasa.
Segalanya sesuai dengan rencana, pikir Harry. Melihat ke
arah tengkorak berwarna hijau terang yang terus menerus
menjulurkan lidah ularnya, Harry menghitung waktu, para
penyihir kementrian bisa berada disini setiap saat setelah
mereka melihat tanda kegelapan itu.
"Harry, ayolah, kita pergi", kata Hermione, cemas, sembari
menarik leher jaket Harry, menariknya ke belakang.
"Baiklah, ayo."
Ron, dengan terburu-buru memungut miniatur Krum miliknya
yang terjatuh di tanah, menyusul mereka berdua berlari
menjauhi tanda tersebut, hanya dihentikan oleh suara belasan
orang penyihir yang ber-Dissapparate di sekeliling mereka.
Harry, menyadari bahaya yang terjadi, segera berteriak,"
TIARAP!", dan kemudian menarik mereka berdua jatuh ke tanah.
"STUPEFY!", teriak dua puluh suara - puluhan sinar merah
berterbangan di udara. Beberapa diantaranya lewat hanya
beberapa senti di atas Harry, ada yang menghantam pepohonan,
memantul dalam kegelapan--
"STOP!", teriak sebuah suara yang dikenal Harry sebagai Mr.
Weasley ,"STOP! Itu anakku!"
Harry membantu Ron dan Hermione berdiri setelah dia merasa
situasinya sudah cukup aman.
"Ron, Harry, Hermione, kalian baik-baik saja?", suaranya
terdengar seperti orang yang sedang menhadapi guncangan.
"Minggir, Arthur" sebuah suara dingin terdengar dari
belakang Mr.Weasley.
Itu adalah Mr.Crouch. Dia dan penyihir kementrian yang lain
berjalan mendekati mereka. Harry membersihkan kotoran yang
menempel di jaketnya. Wajah Mr.Crouch sarat dengan kemarahan.
"Siapa diantara kalian yang melakukannya?", matanya
berpindah antara ketiganya ," siapa diantara kalian yang
membuat tanda kegelapan?"
Harry melihat ke dalam mata Barty Crouch, dan apa yang
dilihatnya adalah kesedihan dan kegilaan yang mendalam.
"Kami tidak melakukan apapun!", teriak Ron sembari menggosok
sikunya yang lecet ," kenapa kalian menyerang kami?"
"Jangan bohong! Kalian ditemukan di tempat kejadian", Barty
berusaha mengalihkan kecurigaan dari orang lain kepada
mereka.
"Jangan begitu, Barty, lihat, mereka masih anak-anak", bisik
seorang penyihir wanita dalam pakaian malamnya.
"Apakah kalian melihat darimana asal Tanda Kegelapan itu?",
tanya Mr. Weasley.
"Dari arah sana", Hermione menunjuk ke arah pepohonan sambil
bergetar.
1 jam kemudian, mereka semua sudah berada di dalam tenda,
tidur pulas. Harry duduk di ruang tamu, di hadapannya adalah
sebuah ingatan, yang diambil pada saat mereka sedang bersama.
Pada saat mereka semua sedang berbahagia. Dan tanpa sadar,
pikirannya melayang ke masa tersebut.

Dan lamunan Harry dibuyarkan oleh
sesosok Thestral yang tiba-tiba muncul.
"Bagaimana?" Jackal berkomunikasi langsung ke dalam pikiran
Harry.
"Aku perlu kekuatanku yang lama. Tubuhku yang saat ini
berusia 14 tahun tidak akan cukup kuat."
"Sudah kuduga kamu akan berkata begitu. Baiklah, akan
kukembalikan kekuatanmu yang lama, tapi tidak akan segampang
itu."
"Apa masalahnya?"
"Kamu perlu mencari sebuah conduit di dunia ini, semacam
penghubung, yang memungkinkan aku untuk mentransfer
kekuatanmu."
"Apa petunjuknya? Kukira hal semacam itu tak akan tertulis
begitu saja di papan pengumuman kan?"
"Jika kuberitahu sekarang, pastilah tidak akan mengasikkan
lagi kan? Baiklah, conduit itu adalah sebuah ruangan. Itu
saja yang perlu kamu ketahui. Selamat mencari."
-----
OOT : Gambar diatas telah diedit
untuk keperluan Fanfic, bagi yg berminat dapat melihat
gambar aslinya disini ->
http://www.poudlard.org/fanarts/displayimage.php?album=45&pos=2
Silahkan berbahasa asing ria...
-----
Conduit.
Satu-satunya kesempatan Harry untuk mendapatkan kembali
kekuatannya yang lama. Kekuatan untuk menghadapi realitas
baru, kekuatan untuk menyelamatkan Sirius dan Dumbledore
dari kematian mereka. Kekuatan Harry saat ini, ironisnya
hanyalah seperseratus dari kekuatannya saat dia berumur 18
tahun, dua tahun setelah dia berhasil membunuh Voldermort,
dan menghabisi semua Death Eater yang tersisa.
Pikiran Harry tidak bisa lari dari kata tersebut. Dan hal
itulah yang membuatnya terdiam, bahkan ketika mereka semua
(Harry masih memikirkan hal tersebut ketika Mrs. Weasley
memberinya kecupan selamat tinggal) sudah duduk di
kompartment mereka. Harry baru tersadar dari lamunannya
ketika Pidwigeon mulai ber-uhu-uhu dengan amat keras
sehingga Ron harus menutupi kandangnya dengan jubah pesta
merahnya yang dihiasi dengan rumbai-rumbai.
"Bagman saja ingin memberitahu kita apa yang akan
berlangsung di Hogwarts," omel Ron, seraya duduk di samping
Harry. "Di Piala Dunia lalu, ingat? Masa ibuku sendiri tidak
mau bilang. Apa kira-kira..."
"Shh!", mendadak Hermione berbisik, meletakkan jari di
bibirnya dan menunjuk kompartmen di sebelah mereka. Tidak
perlu suara yang dipanjang-panjangkan bagi Harry untuk
mengetahui siapa yang duduk disana. Draco Malfoy, beserta
kroninya, Crabbe dan Goyle.
Hujan makin lama makin lebat ketika kereta meluncur makin
jauh ke utara. Langit amat gelap dan jendela semakin
berkabut, sehingga lampu-lampu sudah dinyalakan pada siang
hari. Troli penjual makanan berderik di koridor, dan Harry
membeli setumpuk besar Bolu Kuali untuk dimakan bersama
(Harry rindu dengan rasanya).
Beberapa teman mereka berdatangan sementara siang berganti
sore, termasuk Seamus Finnigan, Dean Thomas dan Neville
Longbottom, yang mana mereka semua dibunuh oleh Death Eater
pada perang terakhir. Setelah kira-kira setengah jam,
Hermione, yang sudah bosan mendengarkan obrolan tentang
Quidditch yang tak habis-habisnya, membenamkan diri sekali
laggi membaca buku Kitab Mantra Standar, Tingkat 4, dan
mulai mempelajari mantera Panggil.
Neville mendengarkan dengan iri ketika yang lain
membicarakan Piala Dunia.
"Oh, wow," kata Neville iri ketika Ron meletakkan miniatur
Krum di atas tangannya yang gemuk. Tangan yang sama, yang
memegang tangan Luna Lovegood ketika mereka berdua disiksa
oleh Death Eater. Kilatan-kilatan masa lalu yang buruk terus
berkelebat di benak Harry Potter saat dia melihat semua
orang yang mati saat ini masih hidup, berbicara, bergerak,
berpikir.
"Kami juga melihatnya dari dekat", kata Ron," kami nonton di
Boks Utama..."
"Untuk pertama dan terakhir kalinya dalam hidupmu, Weasley."
Dan sebelum yang lain sempat bereaksi, Harry telah
melepaskan sebuah mantera tanpa pengucapan yang dia ciptakan
sendiri sewaktu dirinya berumur 17 tahun, ke arah ketiganya,
menyebabkan Draco, Crabbe dan Goyle terjengkang ke belakang
dengan kepala menghantam dinding kereta. Mereka bertiga
pingsan seketika dan terjatuh dengan suara yang teredam.
"Itu akan membuat mereka diam selama perjalanan", kata
Harry, dingin, seraya menyimpan tongkatnya kembali.
"Wow, Harry. Apa yang baru saja kamu lakukan?"
"Hanya mantera Expelliarmus yang kumodifikasi."
"Pemodifikasian mantera tanpa pengucapan? Harry, itu semua
adalah bahan NEWT. Kita tidak seharusnnya mempelajari mereka
sebelum kelas tujuh. Bagaimana kamu menguasainya?"
"Well, terlalu banyak waktu senggang kurasa... Ah ya,
bagaimana musim panas kalian?", Harry mencoba mengalihkan
pembicaraan. Namun itu semua sia-sia saja, sepanjang
perjalanan ke Hogwarts, Hermione terus mencecarnya dengan
berbagai pertanyaan tentang bagaimana cara Harry melakukan
mantera tadi sementara Ron terus mendesaknya untuk
mengajarinya barang satu atau dua mantera baru.
*****
Seratus kereta tanpa kuda (diantara
mereka bertiga, hanya Harry yang bisa melihat keberadaan
para Thestral) siap menunggu mereka di depan stasiun. Harry,
Ron, Neville dan Hermione naik ke salah satu diantaranya.
Pintu menutup, dan beberapa saat kemudian, dengan entakan
keras, iring-iringan panjang kereta berkeretak,
menggelinding dengan mencipratkan air, menuju kastil
Hogwarts di bawah siraman hujan lebat.
Perjalanan itu berlangsung tanpa masalah, walaupun
kadang-kadang kilat menyambar dan beberapa guncangan terjadi,
mereka semua sampai dengan selamat. Kereta mereka berhenti
di depan pintu besar dari kayu ek, di atas undakan batu.
Anak-anak yang berada dalam kereta-kereta di depan mereka
sudah bergegas menaiki undakan. Harry, Ron, Hermione dan
Neville melompat turun dari kereta mereka dan buru-buru
menaiki undakan, baru menengadah setelah mereka berada dalam
Aula Depan besar yang diterangi cahaya obor, dengan tangga
pualamnya yang megah.
Sebuah sinar yang sangat menyilaukan membutakan mata Harry,
dan baru beberapa menit kemudianlah, mata Harry
perlahan-lahan menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarnya.
Harry mengharapkan Aula besar yang tampak megah seperti
biasanya, didekorasi untuk pesta awal tahun ajaran.
Piring-piring dan piala-piala emas berkilauan tertimpa
cahaya ratusan lilin yang melayang di atas meja-meja.
Keempat meja asrama penuh sesak oleh anak-anak yang ramai
berceloteh. Di ujung aula, para guru duduk di belakang meja
kelima, menghadapi murid-murid mereka. Setidaknya seperti
itulah pemandangan yang ingin dilihat oleh Harry.
Namun pemandangan yang ada di mata Harry lain sama sekali,
alih-alih sebuah Aula Besar, Harry memasuki sebuah
reruntuhan dari apa yang dulunya merupakan Hogwarts. Atap
Aula Besar jebol, kursi, meja, piring dan piala berserakan
dimana-mana. Seakan itu tidak cukup, hidung Harry mulai
mencium bau yang tidak menyenangkan, bau bangkai yang
terbakar, disertai dengan darah kering yang bertebaran di
mana-mana.
Kenapa?
Satu kata berkelebat di pikiran Harry. Baru beberapa menit
yang dia ada memasuki Aula Besar, yang penuh dengan
keceriaan, anak-anak yang bercanda, berbicara, berceloteh
tanpa ada satupun keraguan di dunia ini. Dan sekarang Harry
berdiri di tengah tumpukan tulang yang diwarnai dengan darah
kering menghitam seperti bekas terbakar.
Harry mengenali beberapa tengkorak. Tengkorak Hagrid, yang
paling besar diantara mereka semua, Prof. Flitwick, beberapa
murid lain, Luna Lovegood, yang tulang jari tangannyanya
mencengkeram tabloid Squibbler secara terbalik, Neville,
yang tulang kepalanya hancur. Menambah keheranan Harry, di
salah satu jari tangan tengkorak itu, terselip sebuah cincin,
yang walaupun hangus di beberapa bagian, masih bisa dikenali
bentuknya oleh Harry.
Cincin itu sederhana, terbuat dari campuran emas dan
perunggu, dan di dalamnya tertulis, H & G. Sebuah hadiah
perpisahan. Diberikan oleh Harry tepat satu hari sebelum dia
meninggalkan kehidupannya untuk selamanya. Sebelum dia
memulai perjalanan panjangnya.
Harry menahan kesedihannya, namun air mata tetap saja jatuh
dari matanya, membasahi apa yang dulunya merupakan tubuh
dari Ginevra Weasley. Teman, pacar, dan salah satu dari
sekian orang yang dicintainya seumur hidupnya. Harry
berusaha mengangkat tengkorak tersebut, namun karena sudah
terlalu rapuh, tengkorak itu hancur menjadi debu begitu
tangan Harry menyentuhnya.
Harry berjongkok.
Tidak mungkin.
Ini kenyataan.
Tidak mungkin.
Ini adalah kenyataan.
Tidak mungkin.
Ginny Weasley mati.
Tidak mungkin.
Hermione Granger mati.
Tidak mungkin.
Ron Weasley mati.
Tidak mungkin.
Kamu penyebabnya.
Bukan.
Kamu membunuh mereka semua.
BUKAAAAN!!!
Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, untuk pertama kalinya,
dia meraung, menumpahkan segala kesedihannya, mengutuk
ketidakberdayaannya, ketidakmampuannya untuk menyelamatkan
mereka semua. Dia tidak ada ketika mereka semua
membutuhkannya. Ketika Sirius membutuhkannya, ketika
Dumbledore membutuhkannya. Ketika teman-temannya
membutuhkannya. Dia tidak hadir disana.
PLOK! PLOK! PLOK!
Suara dari tepuk tangan pelan memenuhi Aula besar yang sudah
menjadi reruntuhan. Harry waspada, berbalik dan langsung
mengarahkan tongkatnya ke sumber suara tersebut. Yang ada di
depannya adalah seorang manusia, atau setidaknya, begitulah
perkiraan Harry. Wajahnya tidak terlihat jelas karena
ditutupi oleh kerudung yang menutupi hampir tiga perempat
dari mukanya.
"Ini adalah gambaran dari apa yang akan terjadi dan apa yang
mungkin terjadi", suara orang itu datar tanpa ekspresi,
seakan dia menantikan sesuatu jawaban.
"Siapa kamu?"
"Siapa aku tidaklah penting. Yang penting, siapakah kamu?"
"Aku Harry Potter, penyihir."
"Ah, jadi kebohongan dan kelicikan macam inikah yang telah
mereka tanamkan selama bertahun-tahun. Oh, aku bisa tertawa
selama berabad-abad."
"Apa maksudmu? Apakah kamu yang menyebabkan ini? Jawab!"
"Memalukan", seakan tidak mendengarkan apa perkataan Harry,
orang berkerudung itu meneruskan ," sayang sekali,
menghabiskan tahun-tahun yang berharga seperti itu."
Harry, yang sudah tidak sabar, dan dikuasai oleh kemarahan
akibat tidak diacuhkan, melepaskan kutukan Avada Kedavra
dengan kekuatan penuh ke arah orang berkerudung tersebut,
yang dengan santainya ditepis ke arah samping. Kutukan itu
langsung menghancurkan sebagian besar dinding Aula.
"Begitulah akibatnya kalau kamu hidup dalam balutan
kepalsuan, tidak mengambil keuntungan dari apa yang
diwariskan kepadamu. Sadarkah kamu bahwa kamu ditakdirkan
untuk hal-hal besar."
"Aku tak peduli."
"Oh, jawaban yang cukup berani. Sayangnya, cepat atau lambat,
kamu harus mengambil keputusan. Tidakkah kamu sadar bahwa
perbuatanmu telah menyebabkan reaksi berantai yang
mempengaruhi banyak orang di sekitarmu? Jadilah apa yang
seharusnya ditakdirkan, ambil apa yang seharusnya menjadi
milikmu, atau orang lainlah yang akan membayar untuk
kepengecutanmu."
Sinar yang sama kembali membutakan mata Harry, dan dia
kembali ke Aula besar, yang kali ini kembali ramai.
Piring-piring dan piala-piala emas berkilauan tertimpa
cahaya ratusan lilin yang melayang di atas meja-meja.
Keempat meja asrama penuh sesak oleh anak-anak yang ramai
berceloteh. Di ujung aula, para guru duduk di belakang meja
kelima, menghadapi murid-murid mereka.
Kembali
Next
Previous |