APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

00000010 : Trigger



Hari-hari di Hogwarts berlangsung seperti biasanya, dengan perkecualian pada saat waktu luang, Harry mulai memeriksa setiap sudut Hogwarts guna menemukan ruangan rahasia ataupun sesuatu yang janggal. Hari-hari berlalu tanpa hasil sampai akhirnya Harry teringat siapa yang harus ditanyainya, para peri-rumah. Masuk akal, pikir Harry, para peri-rumah sudah bekerja sejak Hogwarts didirikan, mereka pasti tahu hal-hal yang bahkan tidak diketahui oleh siapapun kecuali para pendirinya.

Dengan petunjuk yang diingatnya dari apa yang pernah dikatakan oleh Fred dan George pada tahun keempat, Harry tanpa susah payah kini berada di dapur, penuh dengan peri-rumah. Beberapa diantaranya mengantarkan makanan dan minuman kepada Harry dalam piring perak, namun ditolak Harry secara halus karena dia memang belum lapar. Ada dua peri-rumah yang dikenalinya disitu, Dobby dengan tudung teko tehnya dan Winky, yang masih mabuk-mabukan dan menangis sesegukan akibat pemecatannya oleh Mr. Crouch.

"Selain Dobby dan Winky, apakah kalian semua sudah bekerja semenjak Hogwarts didirikan?"

"Kukira tidak, Sir. Kebanyakan peri rumah disini berumur paling tua 150 tahun, sedangkan Hogwarts didirikan jauh sebelum itu, Sir. Beberapa generasi peri-rumah telah bekerja disini sejak Hogwarts didirikan, tapi itu sudah lama sekali, Sir", jelas Dobby.

"Jadi tak ada..."

Lagi-lagi jalan buntu, Harry bergumam dalam hatinya , kemungkinan ingatan dari para guru juga tidak sejauh itu, Prof. Binns saja tidak setua itu, termasuk para hantu juga. Para Centaur memang tua, tapi mereka pastilah tidak akan mengetahui hal ini. Ingatan dari para pendiri juga kemungkinan sudah hilang dari dunia ini. Kecil kemungkinannya Hogwarts menyimpan koleksi ingatan mereka. Bahkan walaupun aku pernah ke kantor Dumbledore, aku tidak ingat dia pernah menyimpan memori mereka. Bagaimana dengan Pensieve? Tidak, memeriksa memori mereka satu persatu dari awal hingga akhir memakan waktu sangat lama, belum lagi akses ke kantor kepala sekolah sangat terbatas bagi para murid.

Aku perlu ingatan yang hidup, seperti halnya buku harian Riddle. Lucu, kenapa pula aku teringat Horcrux itu sekarang. Harry mondar-mandir di dapur, tangannya terletak di belakang. Ingatan yang hidup... Apakah ada sesuatu seperti itu di Hogwarts? Harry berusaha menyusun kepingan terakhir dari puzzle di otaknya. Dan seperti mendapatkan pencerahan, segalanya menjadi jelas bagi Harry. Dia tahu benda apa itu, dia pernah melihatnya saat penyambutan murid baru, semua murid Hogwarts pernah melihatnya, tapi tak pernah ada yang menyadari apa sebenarnya esensi dari benda itu.

The Sorting Hat.

Ya, Sorting Hat. Topi kumal itu merupakan kumpulan dari keempat otak dari pendiri Hogwarts. Dan sekarang masalahnya adalah, bagaimana cara Harry untuk menyusup ke dalam kantor Dumbledore tanpa ketahuan, menginterogasi Sorting Hat, dan memanterainya dengan mantera Confundus supaya dia melupakan semuanya. Dan Harry tahu hanya ada satu kesempatan dia bisa melakukan itu, hanya ada satu saat dimana setiap orang berkumpul, baik murid Hogwarts, guru-guru dan hantu-hantu. Acara pengumunan para juara oleh Piala Api.

Rencana sudah disusun, persiapan sedang dilaksanakan, dan yang perlu dilakukan oleh Harry hanyalah bersikap biasa hingga hari-H-nya tiba.

*****

"Keluar, Wormtail. Saat ini aku sedang ingin sendiri", perintah Voldermort datang dalam nada dingin. Kekuasaan yang tak bisa dibantah. Dengan patuh dan rasa takut, Wormtail menutup pintu ruangan, membiarkan sang Raja terduduk memandang perapian yang hampir padam.

Pikiran Voldermort kembali melayang ke masa lalu. Kembali mengingat bagaimana kisah hidupnya dimulai. Satu-satunya alasan utama yang menggerakkannya hingga hari ini. Menyuburkan dendam dan kebenciannya terhadap dunia ini. Membuatnya menjadi seorang penyihir terkuat di dunia, tanpa tanding, sampai pada berakhirnya kekuasaannya, kekuatannya, dirampok begitu saja oleh seorang bayi yang bahkan tak bisa mempertahankan dirinya sendiri. Dan kini di dalam bayi itu, telah berkembang sebuah bibit, yang kelak akan menghancurkannya.

Segala ambisinya, semua rencananya, musnah hanya oleh seorang bayi kecil. Siapapun yang mendengar cerita ini, semua nenek moyangnya akan menertawakannya jika mereka tahu hal ini. Voldermort, penyihir terkuat, sang Dark Lord, tak terkalahkan, dihentikan oleh sesosok bayi. Bayi kecil tak berdaya. Rencana bertahun-tahun yang telah disusun secara hati-hati, musnah dalam sekejab. Dan dalam bara api itu, Voldermort melihat ke dalam masa lalunya.

London, tengah malam...

Merope Gaunt, bekas istri dari Tom Riddle, ibu dari sang Raja, penyihir keturunan Salazar Slytherin, sedang berlari. Dia menoleh ke belakang, tak ada siapapun. Dan dia terus berlari. Di gendongannya, seorang bayi, tampan, seperti ayahnya. Belum diberi nama, namun Merope tahu akan diberi nama apa, Tom Marvolo Riddle. Kakinya sudah lelah dari Merope tidak makan selama 24 jam. Pada akhirnya, dia terjatuh, bayinya terlepas dari pegangannya, menghantam tanah berbatu, dan pingsan.

"Hello, Merope."

Seorang dengan tuxedo hitam dan topi tinggi melompat turun dari atap rumah dan mendarat di jalanan tanpa suara. Di tangannya sebuah pisau bedah kecil. Di matanya, Merope melihat takdirnya.

"Ah, sempurna."

Pisau bedah itu bergerak dengan efisiensi yang tinggi, memotong pita suara dan saraf motorik di belakang lehernya tanpa mengeluarkan darah sedikitpun. Merope tak dapat berbicara, bahkan bergerak untuk mempertahankan dirinya.

"Kulit putih. Rambut hitam. Mata penuh ketakutan sekaligus kesedihan. Tahukah kamu, cukup sulit untuk melacakmu. Kamu seharusnya tidak membuat Tom Riddle Jr. seperti itu. Ayahnya benar-benar marah. Katanya kamu harus menderita kesakitan, dan juga penghinaan, dan bayarannya cukup bagus. Katanya sih terserah aku bagaimana aku harus melakukannya", pria bertuxedo itu merapikan sarung tangannya ," jangan khawatir. Ini akan sangat sakit."

Dan malam itu, bulan purnama bersinar dengan gemilangnya.

Pagi itu, London geger. Scotland Yard dipanggil. Termasuk juga seorang detektif swasta dan asistennya. Mayat wanita itu diangkut ke ruang otopsi tiga jam sesudah ditemukan. Bayi yang ditemukan di sampingnya dikirim ke sebuah yatim piatu di selatan kota London dengan nama John Doe, sebuah nama yang biasa digunakan untuk seseorang yang tidak memiliki identitas. Dan bayi itu jelas tidak memiliki identitas.

"Bagaimana Watson?"

"Gadis malang, Holmes."

"Kukira dia bukan gadis lagi, Watson. Laporan polisi menyatakan bahwa wanita ini diperkosa, disiksa, dan dikuliti hidup-hidup setelah sebelumnya disayat di bagian leher."

"Kira-kira siapa yang tega untuk berbuat seperti ini."

"Pelakunya tidak 'tega', Watson. Dia sadar, dia mau dan dia mampu melakukannya. Kemungkinan dia sudah mengikuti korbannya selama beberapa jam, bermain-main dengannya, sebelum akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan untuknya. Orang yang melakukan ini benar-benar pintar, mayat ini sama sekali tak bisa diidentifikasi sebab dia juga menguliti kulit jarinya, dan juga mencabuti giginya satu-persatu, saat dia masih hidup supaya dia bisa melihat ekspresi kesakitan di mata korbannya. Tapi setiap pelaku kejahatan selalu meninggalkan bukti Watson. Tak ada kejahatan yang sempurna di dunia ini. Tak ada."

"Lalu bagaimana, Holmes? Scotland Yard tidak menemukan bukti apapun yang menunjuk ke identitas pembunuh maupun korbannya."

"Salah Watson. Pembunuhnya meninggalkan bukti, sebuah bukti hidup. Bayi yang ditemukan di sampingnya. Bayi itulah bukti yang kita perlukan."

*****

Pagi harinya, Harry bangun dengan sebuah perasaan bersalah. Mantera yang dia keluarkan tadi malam bukan hanya untuk mentransport mereka bertiga kembali ke ruang rekreasi Gryffindor, tapi juga untuk memodifikasi ingatan mereka supaya ingatan mereka tidak melenceng dari apa yang sebenarnya harus terjadi pada tahun keempat Harry di Hogwarts.

Dan saat Harry turun ke Aula Besar bersama anak-anak Gryffindor lainnya untuk sarapan pagi, Ron dan Hermione bergabung dengannya di meja yang paling ujung. Kelihatannya mantera yang diberikan Harry benar-benar ampuh, karena mereka sama sekali tidak menyinggung sama sekali tentang kemampuan Harry, hanya tentang kehidupan sehari-hari di Hogwarts. Tentang Piala Api, dan sebagainya.

Semuanya cukup normal. Dengan perkecualian bahwa 31 Oktober semakin mendekat.

*****

Fred dan George baru saja menyelesaikan surat mereka ketika Hermione masuk membawa sekeranjang lencana dan beberapa lembar perkamen. Harry segera beranjak menyusul si kembar sembari berkata pada Hermione dan Ron ," Aku akan segera kembali."

"Fred, George... tunggu sebentar..."

"Hai, Harry. Ada apa?", Fred, memaksakan senyumnya, menoleh ke arah Harry.

"Tak akan ada gunanya kalian menulis surat itu ke Bagman."

"Surat ap-... Bagaimana kamu tahu, Harry?"

Kedua kembar itu terkejut mendengar perkataan Harry.

"Simpel saja. Uang emas Leprechaun, goblin penagih hutang, utang yang harus dibayar Bagman, semua orang bisa menambahkan dua dengan dua."

"Alright, Harry. Jika hanya itu yang hendak kamu katakan..."

"Bagaimana kalau kalian bekerja padaku? Ini 2000 galleon", Harry menyerahkan sebuah bungkusan penuh dengan kerincingan galleon ," dan ini daftar dari barang-barang yang kuperlukan. Sisa uangnya buat kalian."

George, yang lebih pintar secara matematis dari keduanya, melihat ke daftar, dan berkata dengan nada rendah ke Harry ," Kamu sadar bahwa semua barang ini hanya berharga paling mahal 1500 galleon?"

"Ya, dan gunakan kelebihannya untuk membeli jubah pesta baru untuk Ron, dia sangat memerlukannya. Dan juga, barang-barang itu, bisakah kalian dapatkan sebelum 30 Oktober?"

Kedua kembar itu hanya terdiam. Sebelum George akhirnya berkata ," Akan kami kembalikan beserta bunganya, Harry."

"Terserah kalian saja."

Harry meninggalkan si kembar, hanya untuk menemukan bahwa Hermione tengah mencibir bagaimana Harry dan Ron akan mengalami bulan penuh penderitaan di karangan Tugas Meramal mereka.

"Dan lagipula, kamu tenggelam dua kali tuh"

"Oh, ya?", kata Ron sambil memeriksa tugasnya ," mungkin sebaiknya kuganti dengan mati terinjak Hippogrif ngamuk."

"Apakah tidak akan terlalu kentara kalau kalian mengarang semua itu?"

"Kelelawar tua itu? Tak akan pernah", Harry duduk seberang mereka ," apa itu?" Harry menunjuk ke sekeranjang lencana yang dibawa Hermione, yang seingat Harry adalah lencana SPEW.

"Itu SPEW, kan? Society for Promotion of Elvish Welfare?", tanya Harry.

Hermione, sedikit terkejut, namun dengan cepat tenang kembali ," Ya, ini SPEW, sebenarnya aku ingin membuat singkatan yang lebih panjang, tapi tempatnya tidak cukup."

Sebuah ketukan di jendela mengalihkan perhatian ketiganya.

"Hedwig", Harry dengan cepat membuka jendela dan membiarkan burung hantu berbulu putih itu mendarat di meja.

Sebuah surat terikat rapi di kaki Hedwig, dan Harry tahu, sebentar lagi dia akan bertemu dengan orang tua angkatnya. Seseorang yang sangat ingin dia temui sejak kematiannya di tahun kelima Harry di Hogwarts. Seseorang yang makamnya selalu dikunjunginya setiap kali dia memiliki kesempatan untuk itu.

Sirius Black.

Kembali      Next      Previous

Hosted by www.Geocities.ws

1