APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

00000000 : Prologue



Present day, present time...

Harry Potter berjuang menahan sakit sementara tangan kanannya memegang tongkat sihirnya erat-erat. Saat ini dia sedang bersembunyi di balik pilar, para musuhnya terus menyerangnya dengan kutukan yang secara perlahan tapi pasti mulai menghancurkan pilar tempat dia bersembunyi.

Pikiran Harry bekerja dengan keras, dia tidak boleh mati disini, tidak selama dendam kedua orang tuanya, dendam Sirius, dendam Dumbledore, semuanya belum terbalaskan. Perlindungan berikutnya hanya berjarak satu setengah meter dari dia. Dia tahu, pilar ini tak akan bertahan lama.

Dengan suara ledakan yang keras, seorang Death Eater ber-apparate di depannya dan langsung menyerangnya dengan sebuah kutukan. Kejutan yang tiba-tiba itu membuat Harry terlambat untuk menghindar. Kutukan itu menghantam lengan kirinya dan meledakkannya menjadi serpihan daging yang berceceran di lantai.

Harry terjatuh di lantai, dan sebelum dia menyadari apa yang sebenarnya terjadi, syaraf rasa sakit dari sisa lengan kirinya bekerja dan mengirimkan sinyal sakit yang luar biasa hebatnya, memaksa Harry Potter untuk mengerang.

Para Death Eater berjalan perlahan mendekati Harry Potter, sementara salah seorang Death Eater yang terdekat dengannya membuka topengnya.

"Kenapa?", Harry seakan tidak mempercayai penglihatannya.

"Avada Kedavra."

*****

Beberapa bulan sebelumnya...

"Ah, kulihat semuanya sudah berada disini, Ariel, bagaimana sakitmu, kubaca di koran bahwa kamu menderita semacam stroke?"

"Dan kamu mempercayai semua sampah itu, Bush, heh. Kukira kamu lebih baik dari itu."

"Apakah kita akan segera memulai pertemuan ini?"

"Hu Jin Tao, tidak sabaran, seperti biasanya."

"Koizumi, diam. Kuingatkan kepadamu Jepang hanyalah beberapa puluh mil jaraknya dari Cina."

"Hei, semuanya, tenang. Oke. Sekarang kita serius, aku tanyakan kepada kalian, apakah kalian diikuti?"

"Hanya oleh orang kepercayaanku. Dan kuharap kalian semua datang kesini sendirian?"

"Tentu saja, bukankah itu termasuk dalam perjanjian kita semula. Anyway? Pertemuan hari ini adalah untuk memfinalisasi hal tersebut kan?"

"Ya, dan berapa lama Tahap Satu dari rencana bisa diselesaikan?"

"Mungkin sekitar satu bulan."

"Terlalu lama."

"Mungkin tambahan dana akan memungkinkan pengerjaan yang lebih cepat?"

"Dan mengambil resiko ketahuan oleh para penyihir itu? Tidak. Kita akan tetap bekerja sesuai jadwal, proyek ini akan tetap dikerjakan sesuai jadwal. Dan jika semuanya sudah selesai. Para penyihir itu tak akan pernah mengira apa yang akan terjadi pada mereka."

"Baiklah kalau begitu, mari kita bersulang. Kepada umat manusia."

Dan serentak mereka semua berseru sembari mengangkat gelas mereka ,"KEPADA UMAT MANUSIA!"

*****

1 Maret

Hermione dan Ron kembali bertengkar, biasalah, mengenai hal-hal kecil seperti betapa Ron sangat, well... bebal. ANYway, semenjak mereka berdua sudah resmi menjadi pasangan, aku menantikan pernikahan mereka, sama seperti yang dialami Bill dan Fleur dua tahun yang lalu. Waktu berjalan begitu cepat. Orang-orang melanjutkan hidup mereka masing-masing.

Charlie masih menjadi pawang naga, aku sering bertanya kepada dia melalui surat bagaimana tips menghadapi naga. Percy... bagaimana yah, harus kuakui dia benar-benar pandai dalam berpolitik, dan kini sudah menjadi seorang Minister of Magic menggantikan Rufus Scriemgeour yang mati terbunuh dalam pertempuran terakhir melawan Voldemort.

Sedangkan Mr. dan Mrs. Weasley, aku sudah lama tidak melihat mereka, dari surat Charlie yang terakhir, aku tahu kalau mereka semua sehat-sehat saja. Fred dan George baru saja membuat cabang baru dari toko lelucon mereka di Amerika Serikat.

Saat ini saham mereka berada di urutan keenam, hanya di bawah Coca-cola, Microsoft, Sony, Google dan Yahoo. Neville dan Luna kini sedang berbulan madu di Afrika, jujur saja, aku tak menyangka kalau mereka akan menikah secepat itu setelah kematian dari neneknya Neville.

Dobby, Winky dan Kreacher hingga kini tetap bekerja di Hogwarts. Mrs. Figg dan Filch, yang sudah berhenti bekerja di Hogwarts, kini tinggal bersama. Mengejutkan bukan, aku saja tidak mengira. Profesor Mc. Gonagall masih mengajar di Hogwarts, diikuti dengan guru-guru lama seperti Profesor Sprout dan yang lainnya.

Dan setelah Voldemort tiada, kutukan yang menimpa posisi Guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam sepertinya telah musnah, dan dipegang oleh Snape hingga saat ini. Prof. Slughorn, atas anjuran rekan-rekannya, kini memegang posisi sebagai guru Potion secara permanen.

Dan Ginny... kami sudah berpisah. Mengejutkan? Kurasa tidak, aku sudah tahu cepat atau lambat hal ini pasti terjadi. Semangatku untuk berpetualang, yang mengakibatkanku jarang untuk berada di tempat yang sama lebih dari satu minggu, menyebabkannya.

Aku tidak ingin memperpanjang hal ini, singkatnya, kini Ginny sudah hidup berbahagia dengan Dean Thomas, dan mereka menjadi pasangan Chaser paling terkenal di klub mereka, Manchester Flyers. Cho, membuka usaha kedai teh di tempat asalnya, aku kadang-kadang kesana, tapi aku menghindari untuk menyapanya. Aku merasa tidak siap untuk memulai hubungan dengan siapapun lagi.

Harry meletakkan pena bulunya kembali ke tas kulitnya yang sudah kumal. Dia menutup diarinya dan disimpannya baik-baik. Saat ini, Harry sedang menumpang sebuah kapal kargo menuju Rumania. Dimana dia akan kembali ke asal, darimana Voldemort mempelajari teknik pembuatan Horcrux-nya. Dan menghancurkannya untuk selamanya supaya tidak ada orang yang akan mengikuti jejak dari Voldemort lagi.

*****

Kota pelabuhan Constanta, Rumania, jam 14.34

Bau garam samar-samar tercium oleh hidung Harry, camar laut tampak terbang dengan bebas di atasnya. Setelah beberapa minggu di atas laut, diikuti dengan puluhan kali muntah akibat mabuk laut, akhirnya penderitaan itu berakhir juga, dan Harry bersumpah tak akan pernah naik kapal laut lagi, apapun bentuknya, selama dia masih hidup atau setidaknya bisa dihindari. Tak ada masalah untuk segera menghindari petugas bea cukai dari pelabuhan tersebut, cukup sedikit mantera Confundus, dan dalam beberapa menit, Harry sudah berada di kota, dalam sebuah penginapan sederhana yang berada pada daerah kumuh.

Harry bukannya tidak memiliki uang untuk tinggal di hotel mewah, tapi dia memilih losmen murah ini karena faktor keamanan. Lebih sedikit orang yang mengetahui keberadaannya, lebih baik. Dia sudah lama meninggalkan apa yang menjadi miliknya di masa lalunya, peta perampoknya, kaca matanya, jubah tidak kelihatannya, bahkan sapu firebolt kesayangannya. Namun saat ini, dia lelah, dan kasur bau itu kelihatannya begitu nyaman.

Keesokan paginya...

Setelah mandi dan sikat gigi, Harry turun ke bawah untuk membeli sarapan dan koran pagi. Ditemani dengan sebuah hamburger dan secangkir kopi hitam kental, Harry menggigit hamburgernya dan mulai membaca koran yang baru saja dibelinya. Meskipun aneh, Harry sudah terbiasa membaca tanpa bantuan kaca matanya, minus yang menimpa matanya sejak lahir sudah hilang entah kemana semenjak kematian dari Voldemort.

"Tak ada yang menarik", pikir Harry sembari membalik-balik koran tersebut.

Menyelesaikan sarapannya, Harry mengemasi barang-barangnya dan menuju ke meja resepsionis.

"Check Out?"

"Ya. Berapa semuanya?"

"Kamar satu malam, 3 euro 40 sen."

Harry mengeluarkan beberapa lembar uang dari kantong bajunya, menghitungnya, dan memberikan 4 euro kepada penjaga tersebut, kemudian beranjak keluar pintu.

"Kembaliannya?", penjaga itu bertanya.

"Ambil saja."

Langkah Harry terhenti ketika sebuah siaran berita yang dikeraskan oleh penjaga tersebut terdengar olehnya.

"Saat ini kami bersama dengan Jenderal Cartwright yang memimpin operasi Purgatory. Jenderal, menurut anda, apakah para orang yang menyebut diri mereka ini penyihir adalah orang yang berbahaya?"

"Tentu saja. Kami sudah mengambil langkah-langkah untuk menangani para binatang berbahaya ini, yang menganggap diri mereka dewa, bisa seenaknya mengatur kehidupan kita. Malah dengan beginilah, kita, para umat manusia sejati, bisa selamat dari ancaman yang ditimbulkan oleh mereka."

"Sekian pertanyaan kami. Dan kini pemirsa, seeprti yang anda sedang saksikan di belakang saya", kamera tv kini menyoroti sebuah panggung, dimana terdapat sepuluh orang dalam pakaian penyihir, mata tertutup dan tangan terikat, sementara di depan mereka, terdapat belasan tentara dengan senapan mesin, menunggu aba-aba ," sepuluh orang penyihir, kini sedang menunggu aba-aba hukuman mati mereka. Dan pemirsa, marilah sekarang kita menghitung mundur waktu kematian mereka, 10 ,9 ..."

Seakan tidak memperdulikan teriakan tidak bersalah, para tentara melepaskan ratusan peluru, menembus tubuh, dan mewarnai jubah mereka dengan warna darah mereka sendiri. Hati Harry seakan diiris oleh ratusan pisau saat menyaksikan sepuluh orang penyihir, yang belum tentu bersalah, dibantai di hadapan begitu banyak penonton, seakan mereka hanyalah semacam hewan yang berbahaya.

"Maaf pak, tapi kenapa ini terjadi?", Harry berusaha menahan getaran kemarahan di suaranya.

"Kamu tidak tahu, operasi Purgatory?"

"Tidak pak, soalnya selama ini aku dalam perjalanan."

"Yah, baru dimulai satu minggu yang lalu sih. Tiba-tiba saja mereka-mereka muncul dan menyatakan bahwa penyihir adalah makhluk yang berbahaya dan... Kamu bukan penyihir kan?"

"Bukan pak. Tenang saja. Aku hanya sorang pelancong."

"Baguslah, soalnya sekarang ini keadaan sedang kacau. Ada pengumuman bahwa barang siapa yang memberikan informasi tentang seseorang yang adalah penyihir, mereka akan diberi hadiah banyak."

"Dan penyihirnya?"

"Seperti yang kamu lihat, ditangkap dan dieksekusi."

"Terima kasih banyak pak."

Begitu Harry berlalu dari losmen tersebut, penjaga itu segera memutar beberapa nomor di teleponnya ," Halo, polisi, saya mempunyai informasi..."

*****

Jika ada turis yang melancong ke Rumania, pastilah mereka akan terpesona dengan alamnya yang masih hijau, kastil-kastil yang megah dan dirawat dengan baik, pemandian air belerang. Untuk saat ini Harry Potter tidak dapat menikmati semua itu, malah, tak ada orang waras yang akan menikmati semua itu di bawah hujan peluru yang saat ini sedang ditembakkan dari pistol dan senapan mesin milik para polisi Rumania.

"Tembak! Tembak! Jangan biarkan dia mengeluarkan sihirnya! Tim dua, tim tiga, kepung dia dari sisi kiri dan sisi kanan! Hardiker, mana Drainer-nya?" seorang komandan polisi, berpangkat letnan, sedang mengkomandoi tiga tim polisi hanya untuk mengurung seorang penyihir.

"3 menit."

"Terlalu lama, bilang pada bagian logistik jika Drainer-nya tidak sampai dalam satu setengah menit akan kubunuh dia."

"Baik pak."

Pikir, Harry, pikir. Otak Harry berputar dengan keras. Tentu saja, kenapa dia tidak menggunakannya dari tadi. Harry merogoh ke dalam kantongnya dan mengeluarkan sebotol tepung hitam. Di tutupnya tertulis "Peruvian Instant Darkness Powder". Dengan tergesa-gesa Harry menuangkan setengah isi botol itu ke tangannya, kemudian melemparkannya ke udara. Dalam sekejab, seluruh area itu menjadi gelap. Tembakan berhenti, dilanjutkan dengan teriakan-teriakan supaya tidak menembak sesama teman sendiri.

Bodoh, pikir Harry, bubuk ini juga mempengaruhiku, baiklah, Transfigura Chiropteragus. Tanpa mengandalkan tongkat sihirnya, Harry merapalkan mantera itu dalam pikirannya. Sepasang sayap kelelawar, menyeruak dari punggung Harry, disertai dengan kemampuan sonar untuk mengetahui posisi dalam kegelapan. Tanpa membuang lebih banyak waktu, Harry terbang ke dalam hutan, menuju tempat tujuannya. Sebuah chapel dimana Voldemort pertama kali menyempurnakan mantera pembuatan Horcrux dan juga eksperimen-eksperimennya.

Tak pernah terlintas dalam pikiran Harry, apa yang ditemukannya disana akan mengubah dunianya, untuk selamanya.

Tersembunyi diantara semak belukar dan tanah hitam. Adalah sebuah pintu, terbuat dari campuran kayu ek dan mahoni, berukuran setengah meter kali dua meter, berdiri tegak, tersembunyi dari mata manusia biasa. Harry tertegun ketika dia menatap pintu berwarna hitam tersebut. Ada semacam kekuatan magis, yang mendorongnya untuk meraih gagang pintu yang terbuat dari emas murni dan membukanya. Tanpa disadari Harry, sesuatu dalam dirinya perlahan mulai bangkit, sesuatu yang sudah tertidur selama ribuan tahun tanpa ada yang mengerti bagaimana mengaktifkannya.

Di balik pintu itu, adalah sebuah dunia lain, atau setidaknya, begitulah menurut Harry. Walaupun dia sudah 6 tahun mengenyam pendidikan di Hogwarts, bertemu dengan berbagai macam misteri yang menyelimutinya, bahkan menyusup masuk ke dalam departemen misteri (baca Harry Potter and Order of Phoenix untuk lebih jelasnya) tak ada yang lebih aneh dibanding apa yang dilihatnya saat ini. Sebuah ruangan berbentuk kubus, dengan pintu-pintu yang memiliki bentuk dan warna yang berbeda, terpatri memenuhi dinding, lantai dan langit-langit ruangan.

Seekor Thestral, melayang turun ke hadapan Harry. Mata hitamnya mengawasi sosok Harry dari ujung rambut hingga ujung kaki.

<Hmm, agak berbeda dari yang kubayangkan, tapi kamu cocok>, suara Thestral itu bergema langsung ke dalam otak Harry.

"Kamu siapa?", tanya Harry, keheranan.

<Aku adalah makhluk yang telah menghuni dimensi ini sejak jutaan tahun yang lalu. Tubuhku tidak berbentuk, melainkan aku mengambil gambaran dari pikiran seseorang. Dalam kasusmu, seekor Thestral. Dan jika kamu menghendaki sebuah nama, panggil saja aku, Jackal.>

"Tunggu sebentar...Tempat apa ini?"

<Pertanyaan bagus, kamu benar-benar mengingatkanku pada seorang penyihir yang juga datang kesini sebelum kamu.>

"Voldemort?"

<Bukan. Tom Marvolo Riddle.>

"Sudah kuduga, disinilah tempat dimana dia mendapatkan kekuatan gelapnya kan? Kalau begitu aku harus..."

<Menghancurkannya? Jangan bodoh. Tidak tahukah kamu tempat apa ini?>

"Aku tak peduli, yang kutahu, disinilah tempat sumber kekuatan sihir Voldemort, dan aku harus menghancurkannya."

<Sumber kekuatan Voldemort? Jangan membuatku tertawa, anak kecil.>

"Anak kecil?", Harry membuat sebuah bola api di tangannya ," baik kamu suka atau tidak, aku tak bisa membiarkan tempat ini digunakan oleh Voldemort-Voldemort lainnya."

<Hmph. Itulah sebabnya aku tidak suka anak kecil, selalu tidak sabaran>, Jackal mengibaskan satu kaki depannya, mengakibatkan Harry terjatuh, tenaganya lenyap , <ini akan membuatmu tenang selama aku menjelaskan.>

Seluruh syaraf Harry lumpuh, sinyal pergerakan dari otaknya tak dapat mencapai bagian manapun dari tubuhnya. Harry mencoba untuk bersuara, bernafas, tapi kemampuan dasar itu seolah telah dirampok dari tubuhnya.

<Jangan khawatir, kamu tidak akan mati dari hal semacam itu. Walaupun kamu akan menemukan bahwa pengalaman ini akan cukup menyiksa. Baiklah, sekarang kamu kuijinkan untuk berbicara.>

"K-Keluarkan aku dari sini."

<Ah, keluar, konsep yang menyenangkan. Andai aku bisa keluar. Tapi keluar kemana? 5 tahun yang lalu? 10 tahun yang akan datang? Ke tubuh siapa? Dirimu? Atau diri orang lain? Realita yang seperti apa?>

"Aku ingin kembali, ke realitaku sebelumnya..."

<Terserah. Tapi ingatlah... mungkin lebih baik kalau begini saja. Tak ada guru yang lebih baik dari pengalaman.>

Seberkas cahaya memancar dari tengah ruangan, membutakan mata Harry. Kesadaran Harry perlahan lenyap, dan akhirnya hanya kegelapan yang menanti. Sayup-sayup, antara sadar dan tidak, Harry mendengarkan suara yang familiar.

Bangun...

Biarkan aku tidur, pikir Harry, aku capek.

Bangun..., Hermione, tolong bantu aku, Harry tidur seperti Pig yang kebanyakan makan.

Hermione, Ron? Tidak, ini tak mungkin, bukankah aku ada di..., dan mereka...

"Ennervate", seberkas sinar biru memancar keluar dari tongkat sihir Hermione, dan membuat Harry sadar seketika.

"Harry, kamu tidak apa-apa. Sudah satu menit aku mencoba untuk membangunkanmu. Ayo, kita ke bawah sarapan, Mum akan marah sekali kalau kita semua terlambat."

"Kamu tidak apa-apa, Harry?", Hermione meletakkan punggung tangannya di kening Harry, dimana bekas lukanya berada.

"Ini di Burrow kan? Ada acara apa memangnya sehingga kita harus buru-buru?"

Ron dan Hermione saling berpandangan, heran dengan pertanyaan Harry.

"Kamu pelupa ya? Ini acara paling besar sejagad, masak sih kamu lupa? Piala Dunia Quiddicth!"

Kembali      Next
 

Hosted by www.Geocities.ws

1