|
~The Boy Who Lived
Harry memandang benda itu dengan tatapan bingung. Ia
kemudian menyentuh benda tersebut dengan jarinya. Tiba -
tiba benda tersebut bergerak dan menoleh ke arahnya.
"Konnichiwa!!!! O genki desuka? Watashi wa Doraemon! O namae
wa?" benda tersebut berbicara.
"Hah?!" Harry bingung. "Apa yang kau katakan?"
"Ooo,.. kau berbicara bahasa Inggris ya? Hehehe,... Nama
saya Doraemon. Saya adalah robot dari abad 22. Nama anda?"
"Harry,.... Harry Potter." Harry mulai merasa bodoh karena
sudah 3 kali memperkenalkan dirinya hari ini.
"Yah, seperti yang telah anda alami, mesin waktu saya
mengalami kerusakan maka itu, terjadi penyimpangan waktu.
Dengan sangat menyesal, saya ingin meminta tolong kepada
anda untuk meminta izin tinggal di sini selama beberapa
waktu sebelum mesin waktu saya dapat diperbaiki."
Harry yang bingung, menganggap semua ini tidak masuk akal.
"Jadi, maksudmu, kau adalah sebuah robot dari masa depan
yang dating kemari melalui mesin waktu?"
"Iya." Jawab Doraemon.
"Lalu, mana mesin waktumu?"
"Itu." Kata Doraemon sambil menunjuk laci meja Harry. "Tadi,
kau masuk ke dalamnya."
Harry mulai panik. Bila tadi ia benar – benar masuk ke dalam
mesin waktu, berarti yang tadi dialaminya benar – benar
terjadi dan ia benar – benar meninggalkan ibunya di sana!
Bersama Voldemort!
“Cepat! Kembalikan aku ke dalam sana!” teriak Harry sambil
meraih gagang laci tersebut.
Doraemon menghalanginya.
“Tidak! Kalau kau kembali ke sana, maka itu akan terlalu
beresiko! Beruntung tadi aku bisa menarikmu keluar sebelum
benar – benar terjebak di sana. Tapi untuk masuk kembali,
itu hanya akan membuatmu tersesat dalam ruang dan waktu!
Apalagi mesin ini sedang rusak!”
“Tapi orangtuaku ada di sana!” teriak Harry.
“Kau hanya ingin melihat orangtuamu bukan?” Tanya Doraemon.
“Aku hanya ingin memastikan bahwa mereka baik – baik saja.”
Jawab Harry
Doraemon merogoh kantong yang terletak di perutnya. Kemudian,
ia mengeluarkan sebuah komputer yang mirip dengan TV.
“Ini, adalah Komputer Timeru. Coba kau ingat – ingat kapan
dan dimana orangtuamu berada.” Kata Doraemon sambil mengutak
– atik tombol di komputer itu.
Lalu, dari dalam kotak di bagian belakang komputer tersebut,
Doraemon menarik sebuah topi yang kemudian dipakaikan ke
kepala Harry. Di layar komputer tersebut, muncul gambar
ibunya, yang sedang berhadapan dengan Voldemort. Seperti
sedang menonton sebuah film horror, Harry melihat Voldemort
mengacungkan tongkatnya ke arah ibunya.
“TIDAK!!!! HARRY!!!!” jerit ibunya sambil memeluk Harry
kecil. Sesosok sinar muncul dari pelukan Lily, yaitu Harry.
Lily kemudian menaruh Harry di atas ranjang.
"Avada Kedavra!"
sebuah kilatan berwarna hijau keluar dari tongkat Voldemort
yang kemudian menghantam punggung Lily yang sedang
membelakangi Voldemort.
“Mum!!!! TIDAK!!!” Harry menangis. Untuk pertama kalinya,
Harry mengeluarkan air mata, setidaknya untuk pertama
kalinya air matanya keluar cukup deras.
Doraemon memandang layar komputer. Ia terdiam seribu bahasa.
“Aku turut berduka cita.” Kata Doraemon sambil membelai bahu
Harry.
Kemudian, tampak Voldemort yang menghampiri Harry kecil yang
masih terus menangis. Voldemort mengacungkan tongkat ke arah
bayi berumur 1 tahun itu namun, saat tongkat itu bersinar,
mendadak Voldemort terpelanting kearah belakang. Harry
tampak geram menatap Voldemort yang mencoba membunuh dirinya.
Sekali lagi, Voldemort mencoba mengarahkan tongkat sihirnya
ke kepala Harry kecil. Namun, saat tongkat itu bersinar,
kilatan cahayanya malah berbalik menghantam Voldemort
sendiri.
Voldemort yang mencoba berdiri dengan sekuat tenaganya yang
masih tersisa, kemudian mengeluarkan lidah – lidah api
berwarna ungu keabu – abuan dari tongkatnya. Harry kecil
terlihat kesakitan sambil memegangi dahinya yang kini sudah
terluka berbentuk sambaran kilat. Voldemort kemudian
menghilang, menjadi gumpalan asap yang terbang melalui
jendela. Harry, setelah menyaksikan kejadian tersebut,
terduduk dengan lemas. Pipinya masih basah karena air mata
dan, matanya masih memandang layar komputer yang kini telah
berubah warna menjadi hitam sehitam hatinya yang pedih
melihat orangtuanya dibunuh di depan matanya.
"Padahal, aku sudah berjanji pada mum, tidak akan membiarkan
mereka dibunuh lagi." Kata Harry sambil setengah terisak.
Doraemon yang bingung memutuskan untuk memasukkan kembali
komputernya ke dalam kantong ajaibnya. Harry kemudian tidur
di atas ranjang dengan air mata masih mengalir. Tanpa sadar,
ia sudah terlelap. Ia tertidur sambil mengigau tentang hal -
hal yang mengerikan. Namun, apa yang telah terjadi tidak
dapat kembali.
Kembali
Next
Previous |