|
~The Old, Same, Enemy
Harry mengikuti Lily dan James turun ke ruang makannya. Lily
menyerahkan Harry kecil ke dalam pangkuan Harry.
"Rasanya aneh menggendong diriku sendiri,..." kata Harry.
James dan Lily tertawa. Lily membuat teh dan menyiapkan
biskuit untuk mereka walaupun ini bukan jam untuk minum teh.
Aroma teh yang wangi tercium di seluruh ruangan. Ruang makan
keluarga Potter hampir seluruhnya berwarna krem. Mulai dari
cat dindingnya, kulkas, oven, bahkan mejanya. Lily yang
sudah selesai membuat teh, kemudian ikut bergabung bersama
keluarganya unutk duduk bersama.
"Jadi, Harry. Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu?
Katamu, kau tersedot ke dalam laci. Bagaimana bisa?" tanya
Lily sambil menyeruput tehnya yang masih panas.
"Well, laciku tiba - tiba bergoyang dan saat kumasukkan
tanganku ke dalamnya, aku tersedot masuk hingga ke kamar
tidur di atas." kata Harry menjelaskan.
Tiba - tiba, bekas luka Harry terasa sakit seperti ditusuk -
tusuk. Atau lebih tepat, saat Voldemort sedang berada di
dekatnya. Sekeliling Harry serasa berputar - putar. Dalam
kesakitan yang luar biasa, Harry mencoba untuk tetap duduk
dengan tegak.
"Kau tidak apa - apa, sayang?" tanya Lily kepada Harry. "Kau
tampak kesakitan,...."
Harry melihat keluar jendela dan, tampaklah disana,.....
Sosok pria berjubah hitam yang berjalan dalam kegelapan
malam. Pria itu memutar gagang pintu depan rumah keluarganya.
Dia tidak lain adalah,... Pangeran Kegelapan,.... Voldemort.
"Mum! Dad! Cepat pergi!" teriak Harry. "Voldemort datang!"
Lily dan James dengan cepat, melihat ke arah pintu. Lily
lalu mengambil Harry kecil dari pangkuan Harry dan berlari
ke lantai atas.
"Lily! Harry! Cepat naik! akan kutahan Dia!" teriak James.
Harry membalikkan badan dan menatap ayahnya dengan tatapan
tidak percaya. Terbesit rasa keraguan bahwa ayahnya dapat
mengalahkan Voldemort.
"Tapi dad,... kau bisa terbunuh!" kata Harry. "Biar kubantu."
Harry melipat lengan bajunya dan di dalam otaknya, ia sedang
mempersiapkan kutukan - kutukan mematikan yang siap
dihujaninya ke arah Voldemort. Namun, James mendorong Harry
untuk naik ke lantai atas. Mata James terliat serius dan
memancarkan kepasrahan.
"NAIK!!!" perintah James kepada Harry.
"Tidak! Ini namanya sama saja dengan bunuh diri!" Harry
membantah.
"Kita juga tidak mungkin punya kesempatan menang! Apa kau
mau membunuh ibumu dan,.... dirimu sendiri?!"
Harry tidak punya pilihan lain kecuali mengawal Lily untuk
naik ke lantai atas. Sesaat, Harry menoleh menatap musuh
bebuyutannya itu. Namun, ia kembali naik dan masuk ke dalam
kamar tidur. Lily menguncinya dari dalam. Lalu, mereka duduk
di atas ranjang.
"Harry,.... Semoga James selamat,..." Lily berbicara agak
tersedak.
Dari luar, Harry bisa mendengar suara ayahnya yang
melontarkan kutukan - kutukan dengan suara lantang.
Terdengar barang - barang pecah belah di lantai bawah. Harry
memeluk ibunya yang mulai gemetar.
"Jangan takut,... Mum. Selama aku ada di sini,... tidak akan
kubiarkan kejadian itu terulang lagi."
Lily hanya menganggukkan kepala dengan lemah sementara Harry
merangkul ibunya semakin erat. Tiba - tiba, tidak terdengar
lagi suara James. Yang ada hanya derap langkah pelan yang
terseret - seret, menaiki tangga.
"Alohomora!"
terdengar suara pria yang serak dari depan pintu.
Pintu kamar tidur menjeblak terbuka. Harry langsung berdiri
dan mencabut tongkatnya.
"Avada Kedavra!"
Harry berteriak lantang.
Voldemort dengan gesit mengelak sehingga sinar hijau kutukan
tersebut terbang melewatinya.
"Ha! Sayang sekali,.... Aura membunuhmu kurang kuat, anak
muda! Dan,... boleh kutahu siapa anda?"
"Harry Potter." jawab Harry mantap.
Voldemort tampak terkejut namun, setelah mengetahui
targetnya sedang berdiri di hadapannya, ia langsung menatap
Harry kecil yang menangis di pelukan ibunya. Harry tiba -
tiba merasa kepalanya seperti tertarik ke belakang. Ia
kemudian memejamkan matanya untuk tetap fokus pada Voldemort
namun, sekelilingnya menjadi gelap. Tidak tampak lagi Lily
ataupun Voldemort dimana - mana,...
Harry terlontar keluar dari dalam laci. Harry telah kembali
ke kamarnya yang semula, dengan posisi sama seperti sebelum
ia meninggalkan tempat itu. Dalam kebingungan mencerna apa
yang baru saja terjadi, ia melihat sosok benda aneh berwarna
biru sedang duduk di atas ranjang tepat di sebelahnya
Kembali
Next
Previous |