|
~The Night of Happiness
Harry sedang tidur di atas ranjangnya dan menatap langit -
langit kamarnya. Suasana malam itu sangat sepi. Harry,
sekarang sudah berumur 19 tahun. Tahun lalu, Harry lulus
dari Sekolah Sihir Hogwarts.
"Aku lapar,..." kata Harry sendirian.
Tiba - tiba terdengar suara dari dalam lacinya. Mejanya
bergetar. Harry bingung. Seingatnya, tidak ada boggart di
dalam laci mejanya. Harry yang penasaran, kemudian berjalan
ke arah mejanya. Harry mengulurkan tangannya perlahan lahan
dan mengeluarkan tongkatnya dari dalam saku. Harry membuka
lacinya.
"Hah?" Harry tercengang melihat lacinya sendiri.
Lacinya jadi seperti lubang tak berdasar. Harry memasukkan
tangannya ke dalam. Tanpa sadar, Harry tersedot masuk.
Kepalanya terasa berputar - putar. Ia memejamkan mata
serapat mungkin untuk memfokuskan pikirannya agar otaknya
tidak terlalu teraduk - aduk.
Harry terhempas di atas sebuah ranjang. Ia memandang
sekeliling. Ruangan ini terasa sangat familiar baginya.
Harry turun dari atas ranjang dan menatap foto yang
tergantung di dinding. Harry amat terkejut hingga harus
menutup mulutnya sendiri untuk menahannya agar tidak
berteriak.
"Mum? Dad?" Harry meraba bingkai foto tersebut.
Foto pernikahan ayah dan ibunya yang tergantung di dinding.
Tiba tiba terdengar suara langkah seseorang memasuki kamar
tidur itu. Harry menoleh dan mendapati sosok pria gagah
berkacamata yang sedang berdiri di atas pintu. Pria itu
mirip sekali dengannya sekarang dengan tinggi Harry yang
tidak berbeda jauh dengannya. Ia adalah James, ayah Harry
yang seharusnya sudah meninggal 18 tahun yang lalu.
"Siapa kau?" tanya pria itu.
"Dad, ini aku! Harry Potter!" kata Harry sambil berusaha
meyakinkan ayahnya yang dari tadi tampak bingung.
"Harry? Tapi,...."
"Ada apa, James?" mucul sosok ibunya, Lily yang sedang
menggendong 'Harry'.
Lily yang semula menatap James, kemudian mengalihkan
pandangannya ke arah Harry.
"Kau,..... mirip sekali dengan James." kata Lily terbata -
bata. "Tapi,.... mata itu,...."
"Mum, ini aku! Aku Harry!" kata Harry lagi.
Lily menatap Harry kecil yang berumur 1 tahun di dalam
pelukannya. Ia terdiam untuk beberapa saat.
"Kau,... benar Harry?" tanya James yang sejak tadi mematung.
"Iya, dad."
James merasa agak ragu dengan perkataan Harry. Alisnya
mengerut. Harry mulai lelah untuk meyakinkan kedua
orangtuanya bahwa ia adalah Harry 18 tahun yang akan datang.
"Kalau kau memang anakku, tunjukkan 1 bukti nyata! Persamaan
diantara kita yang tidak dimiliki oleh orang lain." tantang
James.
Harry menghela nafas. Apakah ada hal yang sama antara
dirinya dengan ayahnya? Bila Harry menunjukkan bekas luka
yang dimilikinya, ayah ibunya tidak akan mempercayainya
sebab secara logis, ayah dan ibunya belum dibunuh oleh
Voldemort. Tiba - tiba Harry mendapatkan ide brilian.
"Expecto Patronus!"kata
Harry sambil mengacungkan tongkat sihirnya ke langit -
langit kamar.
Muncul sosok rusa jantan berwarna putih. Cahayanya sangat
hangat dan membahagiakan. Rusa itu menghampiri Harry kecil
dan bermain - main dengannya. Harry kecil tertawa sambil
bertepuk tangan. Lily dan James tertawa dan memeluk Harry
penuh haru.
"Oh, Harry. Katakan padaku, bagaimana kau bisa sampai di
sini?" kata Lily.
"Aku sedang membuka laciku dan tiba - tiba tersedot ke
dalamnya." kata Harry.
"Sekarang, bagaimana kalau kita ke ruang makan, lalu
mengobrol sambil minum teh?" usul James.
Harry merasa amat sangat bahagia. Ia tidak peduli sama
sekali apabila ia tidak dapat kembali ke waktu asalnya,
bertemu dengan teman - temannya, dan ia tidak dikenal lagi
sebagai Harry Potter, Anak Yang Hidup. Hidupnya selama 18
tahun tanpa orangtua, cukup bila ditebus dengan hidup
bersama kedua orangtuanya sekarang hingga selamanya.
Kembali
Next |