APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

~The Dursleys Again



Harry terbangun pada saat ayam berkokok keesokan harinya. Entah berapa lama Harry telah tertidur. Harry turun dari ranjang dan menatap kamarnya. Tidak ada yang berubah. Harry mendekati jendela yang menampakkan langit yang berwarna biru tua, menandakan hari berhanti dari malam menjadi pagi.

"Selamat pagi,..."

Harry menoleh dan mendapati Doraemon sedang keluar dari laci mejanya.

"Pagi." kata Harry enggan "Bagaimana perkembangan mesin waktumu?"

"Tidak begitu baik. Aku sudah berhasil menyetel waktu dan tempatnya, tapi sepertinya mesin itu masih terlalu berpaku pada pikiran pengguna mesin tersebut."

Harry yang tidak mengerti maksud Doraemon, hanya bisa mengerutkan dahinya. Harry kemudian berjalan ke kamar mandi. Ia menatap kaca di depannya. Matanya sembab karena kemarin menangis selama berjam - jam. Harry membasuh mukanya dengan air. Ia kemudian mandi sambil terus memikirkan kejadian semalam. Namun, air matanya telah kering, jika dipaksa untuk menangis lagi. Selesai mandi, Harry berpakaian dan turun ke ruang makan. Ia melihat Doraemon sedang duduk di sana.

"Kamu sudah agak baikan?" tanya Doraemon khawatir.

"Yah, mungkin,..." jawab Harry asal.

Doraemon menyodorkan segelas coklat hangat untuk Harry.

"Ini, minumlah. Pasti akan membangkitkan semangatmu. Aku jamin."

Harry menatap gelas coklat itu untuk beberapa saat. Ia mengerutkan dahi. Bagaimana bisa segelas coklat membangkitkan semangatnya? Namun, Harry merasa tidak enak bila harus menolak tawaran Doraemon yang telah menghiburnya. Ia menegak segelas coklat itu. Entah mengapa, sepertinya segala masalah langsung lenyap dari otaknya. Ia juga merasa tubuhnya sangat ringan, melayang, dan merasa hangat.

"Terima kasih! Aku merasa, benar - benar bahagia!" kata Harry sambil memamerkan senyumnya yang sangaaat lebar.

Doraemon juga tersenyum menatap Harry yang puas.

"Itulah efek dari 'Gelas Kokouni'. Gelas itu dilengkapi sensor yang mengirimkan sinar radiasi ke otak, dan memanipulasi otak. Radiasi itu mematikan pikiran - pikiran negatif, yang menyedihkan, membuat marah, dan merusak otak. Maka, apapun yang kau minum, akan terasa enak dan melegakan pikiran." Doraemon menjelaskan.

Harry melongo. Ia tidak pernah mendengar gelas seperti tu sebelumnya. Harry mulai bertanya - tanya. Kemarin, ia tidak sempat menanyakan apapun pada Doraemon selain namanya. Akhirnya, Harry memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.

"Jadi, bisa kau beri tahu aku dari mana kau mendapatkan gelas ini? Juga, komputer bertopi semalam?"

Doraemon tertawa. Tawanya sangat lucu. Diimbangi dengan kepalanya yang bulat, semakin menggelitik perut Harry.

"Ini, adalah kantong ajaibku." kata Doraemon sambil menunjuk kantong berbentuk setengah lingkaran yang menempel di perutnya.

"Kantong ajaib? Apakah kau juga memiliki sihir? Sama seperti para penyihir?" tanya Harry.

"Bukan. Saya, seperti yang telah saya katakan sebelumnya. adalah sebuah robot kucing dari abad 22. Namun, entah mengapa mesin waktuku yang rusak, membelokkan jalur transmisi yang harusnya kulalui hanya antara dunia di masa lalu dan masa depan. Penyebabnya adalah Nobita!" kata Doraemon sambil mendengus sebal.

Harry terkekeh - kekeh melihat tingkah Doraemon yang melipat tangannya yang berbentuk seperti bola.

"Nobita ingin mencoba melihat dunia dimana naga, dan sihir masih ada. Padahal, jelas - jelas dunia seperti itu tidak pernah ada! Akhirnya, karena ia sembarangan memencet tombol, aku terpelanting ke dunia yang tidak terdaftar di peta." lanjut Doraemon.

"Tapi Dora,.. dunia sihir memang ada." kata Harry. "Ini adalah dunia sihir. Kurasa, Nobita memang berhasil membawamu ke dunia sihir. Tapi, mana mungkin dunia sihir tidak terdaftar di mesin waktu?"

"Oh, pasti navigasi mesin itu juga rusak!" Doraemon mengetuk - ngetukkan tangannya ke meja. "Yah, daripada kita tidak melakukan apapun, sebaiknya kita mulai memperbaiki mesin waktu. Apakah kau mau membantuku?"

"Dengan sihir?" tanya Harry

"Sepertinya, boleh kalau kau bisa. Sihir kedengarannya lumayan."

Mereka kembali ke kamar tidur Harry. Mereka berdua menatap laci meja Harry yang sudah tidak bergeming itu.

"Apa menurutmu ini akan berhasil?" tanya Harry

"Kita coba saja. Aku yakin kau pasti bisa" Doraemon meyakinkan.

Harry mengangguk mantap. Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Harry melakukan sihir semenjak ia sudah lulus dari hogwarts tahun lalu. Hanya saja, ia belum pernah memperbaiki mesin waktu sebelumnya.

"Reparo!" kata Harry sambil mengayunkan tongkat sihirnya ke arah laci meja belajarnya.

Sinar berwarna putih meluncur masuk ke dalam laci, dan menggetarkan laci tersebut. Harry dan Doraemon mengintip ke dalamnya. Tidak ada yang berubah. Laci tersebut tetap seperti biasa, gelap dan tampak tak berdasar.

"Mau mencoba masuk?" tanya Doraemon kepada Harry.

"Hah?! tidak! Aku sudah mengalami hal yang menyeramkan semalam. Aku tidak mau mengalami yang lebih parah dari itu!" Harry menolak dengan tegas.

"Tapi, bukankah kau memperbaikinya barusan?"

Harry berfikir. Mungkin saja mesin ini memang selalu tampak tak berdasar. Lagipula, Harry ingin mengetes. Apakah sihirnya berhasil, atau tidak. Akhirnya, Harry mengangguk mantap dan melompat ke dalam laci, disusul oleh Doraemon. Harry merasa perutnya terasuk - aduk. Kemudian, ia terhempas ke sebuah kamar tidur. Kali ini, ia yakin ia mengenal kamar tidur itu. Ia masih tinggal di kamar itu 2 tahun yang lalu sebelum ia mulai tinggal di rumahnya sendiri. Kamar dengan foto - foto Paman Vernon yang gemuk. Juga ditambah foto - foto Bibi Petunia yang super kurus, menyeringai seperti kuda. Ini, adalah kamar tidur pama dan bibinya.

"Mengapa kita tiba di sini?" tanya Harry sebal pada dirinya sendiri.

"Ssstt,...!! Diam! Sepertinya ada suara di bawah!" Doraemon mengisyaratkan Harry untuk diam.

Mereka berdua menempelkan telinga mereka ke pintu kamar yang tertutup.

"Aku ingin segalanya sempurna, untuk Hari Ulang Tahun Dudleyku tersayang." kata suara serak seorang wanita yang Harry yakini adalah suara Bibi Petunia.

"Cepat, bawa kopinya anak muda!" kata paman Vernon.

"Baik, paman." jawab seorang anak laki - laki, yang Harry yakin adalah suaranya.

Harry ingat, ini adalah kejadian di mana hari ulang tahun Dudley, sepupunya yang kesebelas. Hari ini, untuk pertama kalinya, Harry melihat ular yang bisa berbicara padanya, lewat parseltongue. Harry keluar dari kamar perlahan. Mencoba untuk tidak menimbulkan bunyi yang ribut ia kemudian menatap paman dan bibinya yang mulai berjalan meninggalkan rumah dan masuk ke mobil. Pamannya pun sempat mengancamnya untuk tidak berbuat nakal. Harry yang menatap kepergian mereka dengan senyum tipis, tiba - tiba mendapat ide. Harry tersenyum nakal, dan kemudian menghampiri Doraemon.

"Kita harus menyusul mereka." kata Harry.

"Tapi, siapa mereka?" Doraemon bingung.

"Mereka paman dan bibiku. Dan, kita harus ke kebun binatang sekarang juga."

Doraemon mengangguk patuh, dan mengeluarkan 'Sabuk Teruruporu'. Ia memakaikan sabuk itu ke pinggangnya, dan menyodorkan yang satunya kepada Harry.

"Sekarang, Harry. Pikirkan tempat tujuanmu. Fokus, dan tekan tombol di ikat pinggang ini kalau kau siap."

Harry membayangkan ia sedang berada di kebun binatang, dikelilingi hewan - hewan di dalam dangkar mereka, dan ia menekan tombol di ikat pinggangnya. Saat Harry membuka matanya, ia sudah tiba di kebun binatang. Doraemon pun sudah ada di sampingnya. Harry menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari - cari sosok Dursleys. Matanya tertumbuk pada sosok dirinya 7 tahun yang lalu, sedang menatap ular ang bisa berbicara dengan terkesima. Harry tertawa cekikikan. Saat itu, ular yang berbicara benar - benar mengesankan buatnya. Namun, tidak berapa lama, datang Dudley dan menyikutnya hingga jatuh. Harry geram. Ia mengayunkan tongkat sihirnya, lalu kaca penutup kandang ular tersebut pun menghilang. Harry mengayunkan tongkatnya sekali lagi untuk mendorong Dudley masuk ke dalam kandang ular, dan menutup kacanya kembali.

"Apa yang kau lakukan?!" kata Doraemon.

"Hhee, sedikit pembalasan. Tenang saja. Ia hanya akan terserang flu selama 4 hari kok."

Harry kemudian melenggang dengan santai, sambil melanjutkan jalan - jalannya di kebun binatang bersama Doraemon.

Kembali       Next      Previous

Hosted by www.Geocities.ws

1