|
Bab 1
Hermione Granger selalu terkenal dengan kehebatan dan
kesempurnaannya di banyak bidang.
Ya, banyak bidang.
Sewaktu kecil, Hermione sudah dipuji karena kefasihannya
bicara mendahului balita lain (“Mama, aku ingin susuku
dihangatkan dulu dan tanpa gula.”) Saat memasuki usia sekolah,
semua ibu berharap anaknya dapat menjelma menjadi sejenius
Hermione. Setelah lulus dari Hogwarts—dengan nilai sempurna,
Hermione sudah mendapat tawaran menjadi profesor di tiga
sekolah sihir sekaligus.
Dan kini, ia adalah salah satu penulis buku panduan sihir
paling terkenal setelah Matilda Bagshot. Karya-karyanya
beragam dan selalu mendapatkan komentar cemerlang dari para
kritikus—bahkan seorang Rita Skeeter tidak dapat berbuat
banyak. (Kurasa ada hal lain yang membuat Rita agak segan
dengan Hermione, entahlah—aku tak tahu).
Ya, Hermione Granger memang selalu menjadi gadis yang
sempurna—kecuali di
satu bidang. Jika ada satu hal yang menjadi kelemahannya,
tentu saja adalah kisah asmaranya yang
selalu berakhir dengan
kegagalan.
Di usia sembilan belas tahun, Hermione menikah dengan Ronald
Weasley, teman sekolahnya di Sekolah Sihir Hogwarts, dan
secara resmi menjadi nyonya Weasley. (Kalau kalian membalik
album fotonya, kalian dapat menemukan sosokku di pesta mereka.
Itulah aku—sosok berjas putih-tapi-lebih-terlihat-kelabu yang
tertutup di antara kerumunan besar keluarga Weasley). Dua
tahun dan tiga bulan kemudian, Hermione mengemas kopernya dan
pergi meninggalkan Ron sendirian di The Burrow.
“Aku tahu menikah dengan Ron adalah salah satu ketololanku
sepanjang masa yang tidak akan pernah termaafkan,” ujarnya
suatu kali. Mereka masih berteman baik, tentu saja. (Walau
sesekali aku mendapati Hermione mengernyit setiap melihat
seseorang berambut merah mendekat).
Di usia dua puluh lima tahun, Hermione kembali menemukan
pasangan hidupnya, sang pemain Quidditch nasional kebanggan
Bulgaria, Viktor Krum. Kali ini sepertinya sempurna. Pestanya
sempurna. Semua orang mengira Hermione sudah menemukan
pasangan sempurnanya.
Krum tampan, kaya raya, terkenal dan digandrungi semua wanita.
Tetapi ternyata usia pernikahan mereka hanyalah sependek umur
jagung. Dan kembali, Hermione mengepak kopernya dan pergi
meninggalkan Krum di Bulgaria.
“Seandainya saja ia bisa mengucapkan namaku dengan
benar—sekali saja,” keluhnya suatu ketika. “Aku tidak terlalu
masalah memang. Tapi..”
Di usia tiga puluh tahun, Hermione kembali mengucapkan
janjinya kepada seorang pria muggle yang ia temui sewaktu
liburannya (dan juga riset buku terbarunya) di Kalimantan.
Mereka memiliki banyak kecocokan dan berbagi hobi yang sama.
Akan tetapi, sebagaimana pernikahan muggle dan penyihir
lainnya, pernikahan mereka acapkali dirundung permasalahan.
Maka, setelah tiga tahun bersama dan puluhan jampi memori,
mereka pun memilih jalan sendiri-sendiri dan—sekali
lagi—Hermione mengemas kopernya.
Semua hal tentu ada hikmahnya. Dan Hermione pun juga menemukan
hikmah dari semua ini—ia menjadi seorang yang ahli dalam
mengemas koper. Hal yang remeh memang, tetapi terkadang bisa
begitu berguna. Beberapa kali ia mendemonstrasikan
kecakapannya dalam reuni sekolah. Lavender Brown menganggap
itu sebagai sebuah hal yang "brilian dan seharusnya
dipatenkan".
Sekarang, di usia tiga puluh enam, dengan bom waktu biologis
yang siap meledak di dalam dirinya, Hermione Granger duduk
sendiri di sebuah penginapan di daerah Bangkok, Thailand. Ia
sedang dalam salah satu perjalanan riset untuk buku
terbarunya—Panduan Saku Untuk
Dunia Sihir Thailand: Lengkap Dengan Mantera Pembesar.
Untuk sesaat, Hermione termenung dan membayangkan dirinya
beberapa belas tahun lagi. Masih sama dan sendiri. Tersentuh
dan sedih atas nasib malang yang menimpanya. Matanya
berkaca-kaca.
Tetapi hanya untuk sesaat.
Dan kemudian, Hermione sudah kembali menenggelamkan dirinya di
dalam tabel, grafik dan literatur kuno yang membutuhkan
seratus persen konsentrasinya.
***
Suatu ketika di tengah hari-hari biasa Hermione di Thailand,
ia sedang sibuk menerjemahkan sebuah literatur kuno tentang
benda klenik setempat ketika sebuah ketukan membuyarkan
konsentrasinya.
“Nona Miyoni.” Suara sengau milik Brun, pemilik penginapan
tempatnya menginap, terdengar dari balik pintu. Suaranya yang
sengau (dan terkadang fals) melafalkan bahasa Inggris memang
tiada duanya dalam membuat bulu kuduk merinding.
Tetapi selebihnya Hermione menyukai pria setengah botak itu.
Sungguh. Masakannya sangat sedap—walaupun masakan Thailand
begitu berbumbu dan Hermione tidak terbiasa dengannya.
Sesekali Brun juga membantunya menerjemahkan
literatur-literatur Thailand yang tidak ia mengerti (tanpa
banyak bertanya untuk apa seorang wanita Eropa sepertinya
begitu peduli terhadap mahluk penghisap darah setempat).
“Ada apa?” Hermione meletakkan pena bulu angsanya. “Bukankah
aku sudah bilang aku tidak ingin diganggu dulu seharian ini?”
“Iyang, mhaaf. Aku sudah mengyusir editormu. Baunyang tahkan
sama lagi setelah terkena air kencing si Lassie. Thapi ada
sesuatu..” Ia merogoh sesuatu dari dalam sakunya. “Sejhak tadi
adha buryung hantu hyang mengetuk jendela kamarku. Iang
meninggalkan amplop bertyuliskan namamu setelah aku membukakan
jendelang. Ia langsung ngacir
setelah itu. Sepertinyang penting.”
Hermione mengerutkan kening sesaat—berusaha untuk mencerna
kata demi kata yang diucapkan Brun. “Baiklah, berikan padaku
amplop itu.”
Brun mengeluarkan sebuah amplop lusuh yang bertuliskan
“Hermione Granger” dari dalam sakunya. Tulisannya cakar ayam
sekali—sepertinya ditulis dengan terburu-buru. Dan ada cap
“PENTING” berwarna merah di sampingnya. Sepertinya Brun
benar—mungkin ada sesuatu yang penting terjadi.
Tetapi hal apa yang begitu penting sampai membuatnya harus
melupakan pekerjaannya? Ia menghela napas. Sebaiknya berita
ini benar-benar penting atau akan menghajar orang yang menulis
surat ini padaku, gumamnya.
Ia membaca perkamen yang ada di dalamnya dan menjerit
tertahan. Surat itu singkat namun sangat tegas. Orang yang
menulisnya pasti tidak ingin berbasa-basi.
Dan Hermione tahu pasti kenapa ia tidak bisa berbasa-basi.
Harry meninggal. Segera
kembali ke Inggris.
Remus
Dan sekali lagi, kemampuan Hermione mengemas kopernya menjadi
begitu berguna.
Kembali
Previous
Next |