Kembali

 APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

Prolog

Semua orang di dunia sihir kurasa tahu siapa aku. Bukannya aku ingin berkata sombong atau apa—tapi kurasa setidaknya mereka pernah dengar namaku disebut, entah sekali atau dua kali, sepanjang hidup mereka.

Hermione pernah bilang padaku, semenjak peristiwa itu, namaku ada di mana-mana. Sebut saja—Ensiklopedia Sihir Tingkat I (dan juga ada di Tingkat III, IV, VII juga Lanjutan), 1001 Penyihir Paling Berpengaruh di Abad 20, Revolusi Sihir di Dunia Barat, Sihirpedia: Panduan Terlengkap Untuk Dunia Sihir oleh Matilda Bagshot dan sekitar puluhan judul lainnya yang aku sendiri tak pernah hapal.

Tentu saja. Aku adalah anak laki-laki yang bertahan hidup. Aku juga adalah anak laki-laki yang menumbangkan kuasa kegelapan. Masih banyak julukan lain ditujukan padaku. (Ronald punya catatan lengkapnya—kurasa dia memang tidak ada kerjaan lagi semenjak pemecatannya yang entah-ke-berapa-ratus-kali).

Aku tidak terlalu peduli semua itu memang.

Aku sekarang ini hanyalah pria biasa. Semua ketenaran dan kehebohan itu sudah bertahun-tahun lewat dari hidupku. Sesekali memang topik tentang itu kembali muncul, terutama ketika aku bertemu orang-orang baru dalam pekerjaanku sebagai Auror di Kementerian. (“Halo, senang bertemu an—ASTAGA—tanda di kening itu! Apakah anda?”—di sini bagian di mana mereka mulai berdecit—“Astaganagaulertangga! Aku tahu tentang anda! Sepupuku dulu mengkoleksi kliping tentang anda dari Daily Prophet!”).

Aku memang tidak terlalu suka ekspos pers—terutama yang ditulis oleh Rita Skeeter. Karena itu aku memutuskan untuk pindah ke daerah pinggiran—suburban, istilahnya—sehingga keluargaku dapat hidup tenang. Jauh dari paparazzi yang menyamar jadi kumbang dan memata-matai keluargaku dari luar jendela. Jauh dari ledakan-ledakan misterius yang terjadi di pusat kota muggle. Jauh dari keramaian.

Yang kupedulikan hanyalah keluargaku seorang memang—Luna, istriku tersayang, dan anak laki-lakiku yang paling kucintai di seluruh dunia, Sirius. Aku memberi nama Sirius seperti nama kakek angkatnya yang telah wafat. (Ngomong-ngomong, Sirius lucu sekali. Matanya hijau, seperti mataku. Rambutnya sendiri pirang pucat, turunan ibunya).

Hidup yang sempurna dan tenang, bukan?

Karena itu sulit untuk mempercayainya ketika tubuhku yang sudah tak bernyawa ditemukan terbaring di ruang tamu rumahku yang kosong.

Tanpa bekas luka. Tanpa bekas mantera. Tanpa tanda-tanda kematian satupun.

Namaku Harry James Potter. Dan, entah mengapa, aku yakin tidak akan ada satupun koran sihir yang tidak meliput berita ini.

Dan kurasa aku benar lagi sekarang.


Kembali                 Next

Hosted by www.Geocities.ws

1