APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

Bab 2

 

Ginny Mason—beberapa belas tahun lalu lebih sering dikenal dengan sebutan Ginny Weasley—melakukan kegiatan rutinnya dengan biasa hari itu. Pagi hari, ia bangun mendahului semua anggota keluarganya dan menyiapkan sarapan. Jam delapan siang, ia akan kembali masuk ke kamar dan membangunkan suami tercintanya yang ia nikahi beberapa belas tahun lalu, Eugene Mason.

“Selamat pagi, sayang. Ayo bangun. Kau tidak mau terlambat untuk kerja.” Ia berbisik di telinga suaminya. Eugene biasanya akan menggeliat sebentar, menarik selimutnya dan tidur lagi untuk lima menit. Ginny tahu itu dan sudah hapal kebiasaan suaminya. Karena itu ia memutuskan untuk membangunkannya kembali lima menit lagi.

Selesai dari sana, ia beranjak ke lantai dua dan mengetuk pintu kedua yang ia temui—kamar Emma, anak keduanya. “Emma, bangun. Sarapan sudah siap,” ujar Ginny lembut dari balik pintu.

Terdengar suara erangan kecil dari dalam. Sepertinya Emma sudah bangun. Yang ini tidak terlalu susah, gumamnya. Untuk anak berusia sembilan tahun, Emma—entah darimana—begitu disiplin dan dewasa.

Ginny beralih menuju pintu merah di samping pintu kamar Emma—kamar si kembar, Irena dan Laura. Yang ini butuh tenaga lebih. Ia membuka pintu kamar perlahan. Tebakannya tepat—si kembar masih pulas di balik selimutnya.

Ginny perlahan-lahan mengguncangkan Irena. Setelah Irena terbangun, kali ini giliran Laura. “Bangun. Sarapan sudah siap. Kalian suka pancake kan?”

“Tapi, Ma—baru jam segini!” Laura merengek kecil.

“Matahari sudah beranjak dari tadi, Laura. Jadi, ayo, beranjak dari tempat tidur kalian dan turun untuk sarapan.”

“Tapi, Maaaaaaaaaaa….” Irena ikutan merengek sekarang.

“…kami masih capek sekali..” Laura melanjutkan kata saudarinya.

“..semalam kami bergadang menonton para jembalang berpesta di kebun!”

“Heboh banget deh, Ma!”

“Terus, semalam juga ada..”

Maka, Ginny, sebagai seorang ibu yang baik mendengarkan cerita kedua anaknya untuk sesaat. Ia sesekali tersenyum ketika mereka dengan hebohnya menggambarkan bagaimana para jembalang itu berbaris dan bernyanyi untuk sang rembulan.

Adalah kebahagiaan seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh sehat seperti Irena dan Laura. Si kembar ini begitu ceriwis dan peka terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak jarang Ginny kewalahan menghadapi tingkah laku mereka. “Ayo, kita turun dulu. Pa pasti akan senang mendengar cerita kalian nanti.”

Jelas sekali terlihat kalau Ginny sangat mencintai keluarganya sekarang sebagaimana ia mencintai keluarga besar Weasley-nya.

Ginny lahir di keluarga besar. Ia anak bungsu dari tujuh bersaudara Weasley—semua kakaknya laki-laki. Dan semuanya berambut merah dengan bintik-bintik di wajahnya. Ibunya, Molly Weasley, seringkali mengeluh mengapa keluarga mereka tidak memiliki peri-rumah untuk membantunya bekerja setiap hari.

Keluarga Mason, keluarganya sekarang, juga tidak terlalu berbeda memang. Anak-anaknya yang manis juga berambut merah—hanya Emma yang berambut sedikit gelap seperti Eugene. Dan bukankah memiliki empat orang anak juga termasuk banyak untuk ukuran sekarang? Ginny sendiri lebih beruntung daripada ibunya—keluarga Mason memiliki seorang pelayan wanita bernama Joanne yang membantu Ginny setiap harinya.

Hanya satu hal yang membedakan keluarga Mason dan keluarga Weasley.

Satu hal saja.

“Ma, jangan dengerin omongan si kembar deh. Nanti mereka berkhayal terlalu banyak. Yang namanya jembalang itu kan tidak ada.” Danielle, si sulung yang tahun ini berusia sebelas tahun, muncul di depan pintu kamar si kembar masih dalam gaun tidurnya. “Begitu juga dengan peri-rumah, goblin dan sihir.”

Untuk sesaat Ginny tercekat.

Dan kemudian ia pun tersadar kembali. Teringat akan keputusan fenomenal yang ia lakukan tiga belas tahun lalu: menikahi seorang muggle yang tidak mengetahui jati dirinya—seorang penyihir.

Ya, satu-satunya hal yang membedakan keluarga Mason dari keluarga Weasley adalah fakta bahwa keluarga Mason hanyalah keluarga muggle biasa.

Tanpa sihir sama sekali.

Ginny Weasley tersenyum dan berpura-pura tidak peduli dengan ucapan Danielle. Ia beranjak keluar dari kamar si kembar dan turun untuk membangunkan Eugene sekali lagi.

Hari ini adalah salah satu hari biasa dalam rutinitas sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga. Tidak ada yang lebih dari itu, batinnya. Sayangnya, pikirannya itu akan segera terbantahkan sebentar lagi.

Kembali        Previous     Next      

Hosted by www.Geocities.ws

1