Bekerja Selagi Masih Siang
Sambil Menantikan Penjemputan
Ishak Natan
Juni 2025
Pengantar
Bukan hanya konflik antar negara seperti Rusia vs Ukraine, tetapi
peperangan antara Iran dan Israel juga dapat dipahami melalui lensa
keyakinan yang mendalam. Banyak yang melihatnya sebagai cerminan dari
perseteruan teologis antara dua konsep ketuhanan: Allah dalam Islam dan
Allah Israel (Yahweh/Elohim).
Akar Teologis di Balik Permusuhan
Dalam sudut pandang teologis, perseteruan ini bisa dilihat dari beberapa aspek fundamental:
Sifat Ketuhanan: Dalam Islam, Allah adalah satu-satunya entitas yang
tidak memiliki pasangan, tidak beranak, dan tidak diperanakkan. Konsep
ini secara tegas menolak gagasan trinitas atau kemitraan ketuhanan.
Sebaliknya, dalam Yudaisme dan Kekristenan, Allah Israel memiliki sifat
yang berbeda, termasuk hubungan perjanjian unik dengan bangsa Israel
bagi orang Yahudi, dan konsep trinitas bagi umat Kristen.
Wahyu dan Kenabian: Islam meyakini bahwa wahyu terakhir dan terlengkap
diturunkan kepada Nabi Muhammad. Kitab-kitab suci Yahudi dan Kristen
dianggap telah diubah dan tidak lagi murni. Di sisi lain, Yahudi dan
Kristen tidak mengakui Muhammad sebagai nabi dan menganggap wahyu
mereka sebagai kebenaran final.
Hukum dan Etika: Sistem hukum ilahi dalam Islam, yaitu syariah,
memiliki perbedaan mendasar dengan Taurat dalam Yudaisme atau
Perjanjian Baru dalam Kekristenan. Perbedaan ini menciptakan kerangka
hukum dan etika yang tidak bisa disatukan.
Bagi sebagian penafsir, perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa kedua
konsep "Tuhan" ini tidak hanya berbeda, tetapi juga bertentangan satu
sama lain. Keretakan ini merobek tatanan peradaban, yang sebagian orang
khawatir akan memicu kehancuran.
Demokrasi vs. Teokrasi
Salah satu manifestasi konflik ini di dunia nyata adalah perseteruan
antara ideologi politik. Israel, sebagai negara demokrasi, berlandaskan
pada pemisahan kekuasaan (eksekutif, legislatif, yudikatif) yang oleh
beberapa teolog Kristen disamakan dengan sifat Tuhan dalam Isaiah
33:22, "Sebab TUHAN ialah Hakim kita, TUHAN ialah yang memberi hukum
bagi kita; TUHAN ialah Raja kita."
Di sisi lain, lawan dari demokrasi sering kali dianggap sebagai
teokrasi Islam yang berlandaskan pada Syariah. Konflik ini menunjukkan
pertentangan antara dua sistem nilai yang sangat berbeda: kebebasan
berdemokrasi melawan otoritas keagamaan totaliter.
Mengurai Kerumitan Agama Monoteis
Artikel ini juga menyoroti dua kejanggalan dalam agama monoteis lain,
Yudaisme dan Kekristenan, yang mungkin memperkeruh pemahaman.
1. Kejanggalan dalam Kekristenan:
Banyak pemimpin agama Kristen menghindari pembahasan Kitab Roma pasal
9-11 karena dianggap mengganggu narasi keselamatan universal yang
disampaikan dalam pasal 8 dan 12. Pasal 8 mengakhiri dengan keyakinan
bahwa tidak ada yang dapat memisahkan umat dari kasih Kristus. Namun,
tiba-tiba pasal 9-11 beralih fokus pada bangsa Israel yang "terpisah"
dari kasih itu. Lonjakan ini menciptakan kekaburan yang, jika tidak
dijelaskan dengan baik, dapat memicu sentimen antisemitisme.Klik disini
2. Kejanggalan dalam Yudaisme:
Di kalangan umat Yahudi, Kitab Yesaya pasal 53 sering dihindari.
Ayat-ayat ini menggambarkan sosok hamba yang menderita, dianiaya, dan
dibunuh, yang diyakini oleh umat Kristen sebagai gambaran Yesus
Kristus. Namun, bagi orang Yahudi, deskripsi ini menimbulkan
kebingungan: apakah sosok itu adalah Mesias yang nenek moyang mereka
tolak?
Ketidaknyamanan dalam membahas teks-teks ini memunculkan keyakinan di
kalangan beberapa umat Yahudi bahwa mereka harus membangun kembali Bait
Allah di Yerusalem, lengkap dengan ritual persembahan lembu merah,
sebagai persiapan untuk kedatangan Mesias yang mereka tunggu (Nu19:1-32).
2023: Titik Balik Sejarah
Semua
kerumitan ini meledak pada tanggal 7 Oktober 2023, ketika Hamas
melancarkan serangan brutal dari Gaza ke wilayah Israel. Aksi
pembantaian terhadap warga sipil, termasuk perempuan, anak-anak, dan
lansia, tidak hanya mengguncang Israel, tetapi juga dunia. Peristiwa
ini, bagi banyak orang, adalah manifestasi nyata dari permusuhan
mendalam yang diyakini berakar pada perbedaan teologis. Serangan ini
memicu respons keras dari Israel dan membawa konflik ke tingkat yang
belum pernah terjadi sebelumnya. Sayangnya, masa sengsara Yakub didepan akan membuat mereka
percaya;
Luk13:34-35, Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan
melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali
Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam
mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.
35, Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan
menjadi sunyi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku
lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam
nama Tuhan!"
Kesimpulan Bagi Yang Percaya > Belajarlah dari Rasul Paulus
Melihat semua kerumitan ini, artikel ini mengajak pembaca untuk meniru
sikap Rasul Paulus. Dalam 1 Cor9:20-22, Paulus menyatakan bahwa ia
menjadi "segalanya bagi semua orang" agar bisa memenangkan mereka bagi
Kristus. Ia menyesuaikan diri dengan audiensnya—baik Yahudi yang
terikat hukum Taurat maupun non-Yahudi tanpa mengorbankan keyakinannya.
Sikap ini mengajarkan kita untuk tidak menimbulkan keraguan atau
kecurigaan, baik pada orang Yahudi, non-Yahudi, maupun Jemaat Tuhan.
Ayat ini juga menegaskan bahwa Jemaat Allah adalah entitas baru dalam
Kristus yang memiliki kewarganegaraan surgawi, bukan duniawi.
Pada akhirnya, di tengah segala konflik dan kerumitan ini, orang yang
beriman diajak untuk bersabar dan menanti. Seperti yang ditulis dalam
Rom 8:23-25, "kita yang telah menerima karunia sulung Roh...menantikan
pengangkatan sebagai anak...Kita menantikannya dengan tekun."
Semua konflik dan perbedaan ini hanyalah bagian dari penantian panjang
akan penggenapan janji-janji ilahi, yang menuntut kesabaran,
kebijaksanaan, dan pemahaman yang lebih dalam.
Maranatha
____________________
https://templeinstitute.org/red-heifer/
https://gracethrufaith.com/ask-a-bible-teacher/building-next-temple/
https://firmisrael.org/learn/8-biblical-reasons-stand-with-israel-today/