© 2003  Tumar                                                                                                                     

Posted 5 Januari  2003  

Tugas  "Sistem Informasi Geogafis dan Inderaja(97040906)   

Program Doktor- Program Studi Ilmu Lingkungan

Program Pascasarjana - Universitas Indonesia

Januari  2003

 

Dosen:

Dr. Ir .Aryo Hanggoro, DEA

 

KETERKAITAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS / DENGAN PERUBAHAN LINGKUNGAN AKIBAT BANJIR DI JAKARTA DAN MANAJEMEN INFORMASI

oleh :

Tumar

NIM : 9101040194

E-mail : [email protected]

ABSTRAK

Luas dan Letak Geografis Daerah Khusus Ibukota Jakarta mempunyai luas wilayah ± 655,7 km2, atau ± 65.570 ha termasuk wilayah daratan Kepulauan Seribu yang tersebar di teluk Jakarta.  Secara geografis wilayah DKI Jakarta terletak antara 106 22’ 42" BT sampai 106 58’ 18" BT dan 5 19’ 12" LS sampai 6 23’ 54" LS. Perkembangan luas wilayah DKI Jakarta mengalami perubahan, dimulai dari tahun 1619 yang hanya 32 km2, tahun 1912 menjadi 125 km2, tahun 1936 berkembang  menjadi 182 km2 dan terakhir tahun 1974 diperluas lagi menjadi 655,70 km2. Adapun bencana banjir besar yang pernah melanda Jakarta terjadi pada tahun 1621. tahun 1654, tahun 1699 banjir akibat letusan Gunung Krakatau, tahun 1711 banjir akibat penggundulan hutan di daerah puncak (Bogor), tahun 1714 banjir besar yang melumpuhkan perekonomian dan menimbulkan wabah penyakit, tahun 1854 banjir besar, tahun 1918, 1942  juga demikian, tahun  1976 dan tahun 1996 serta tahun 2002 terjadi lag,i sehingga melumpuhkan seluruh kegiatan sehari-hari dan menimbulkan korban jiwa maupun material yang cukup besar. Jakarta yang berpenduduk sekitar 9.720.400 jiwa pada siang hari bisa mencapai 12.000.000 jiwa lebih. Sistem tata air pada 13 sungai di DKI Jakarta terbentuk mulai dari hulu sungai yang terdapat di pegunungan Gede Pangrango hingga bagian hilir dataran rendah di Jakarta Utara, membentuk morfologi sungai yang dicirikan oleh adanya lekuk-lekuk sungai (meander), dataran banjir dan rawa pantai. (Watershed ) dan Siklus Hidrologi Banjir dan Pembangunan adalah akibat perubahan tata guna lahan, banjir ini disebabkankan oleh curah hujan yang tinggi, manusia dan alam itu sendiri, sehingga meluap melampui daerah aliran sungai (DAS), selanjutnya banjir di Jakarta erat kaitannya dengan perubahan lingkungan. 

Dari sekian kejadian yang berulang dan menimbulkan korban jiwa dan material yang tidak sedikit, maka diperlukan suatu manajemen sistem informasi yang memadai yaitu tepat, cepat dan akurat untuk mengambil keputusan pada saat keadaan kritis 

Keterkaitan sistem informasi geografis / penginderaan jarak jauh dengan perubahan lingkungan akibat banjir di Jakarta dan manajemen informasi nya sangat diperlukan untuk keperluan pengambilan kebijakan dan informasi pada masyarakat.

Kata kunci : Jakarta, banjir, lingkungan, geografis, sistem informasi

 
1. Latar Belakang

Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta mempunyai luas wilayah ± 655,7 km2, atau ± 65.570 ha termasuk wilayah daratan Kepulauan Seribu yang tersebar di teluk Jakarta.  Secara geografis wilayah DKI Jakarta terletak antara 106 22’ 42" BT sampai 106 58’ 18" BT dan 5 19’ 12" LS sampai 6 23’ 54" LS.  Batas-batas wilayah DKI Jakarta adalah : Sebelah Utara dengan Laut Jawa, Timur dengan Kabupaten Bekasi, Selatan dengan Kabupaten Bogor, dan Barat dengan Kabupaten Tangerang  (Prop. Banten)

Perkembangan luas wilayah DKI Jakarta mengalami perubahan dimulai dari tahun 1619 hanya 32 km2, tahun 1912 menjadi 125 km2, tahun 1936 berkembang   182 km2 dan terakhir tahun 1974 menjadi 650 km2. Adapun bencana banjir besar yang pernah melanda Jakarta pada tahun 1621. 1654, 1699 banjir akibat letusan Gunung Krakatau, tahun 1711 banjir akibat penggundulan hutan di daerah puncak (Bogor), tahun 1714 banjir besar yang melumpuhkan perekonomian dan menimbulkan wabah penyakit, tahun 1854 banjir besar, tahun 1918, 1942  juga demikian, tahun  1976 dan tahun 1996 serta tahun 2002 terjadi lagi yang melumpuhkan seluruh kegiatan sehari-hari dan menimbulkan korban jiwa / material yang cukup besar.

 

1.1  Permasalahan

Mengapa banjir semakin sulit diatasi? Permasalahan banjir akibat kondisi alam di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya adalah kondisi alamnya + 40 % dari luas DKI Jakarta ( + 24.000 ha ) adalah daerah rendah beberapa lokasi terutama di Jakarta Utara lebih rendah + 1 (satu) meter dari permukaan air pasang, sehingga mudah terjadi genangan lokal dan juga akibat timbulnya limpasan air sungai, karena debit air sungai melebihi daya tampung sungai yang dangkal, dan sempit . Faktor-faktor baik teknis maupun non teknis diantaranya hunian liar yang mendiami bantaran sungai dan lahan basah adalah karena kondisi geografis Jakarta yang dilalui oleh 13 sungai yang masuk dari Jawa Barat ke wilayah DKI Jakarta dan mempunyai daerah tangkapan air sampai daerah Bogor (Puncak) yang semuanya bermuara di laut Jawa.

Permasalahan kemacetan yang menjadi menu sehari-hari, karena jumlah kendaraan bermotor tidak seimbang dengan panjang jalan yang ada, serta bertambahan kendaraan bermotor tidak seimbang dengan pembangunan jalan, masih banyaknya perlintasan sebidang

Permasalahan urbanisasi yang masuk ke Jakarta tiap tahunnya tinggi, mereka ditampung oleh sektor informal, karena sektor formal tak sanggup menampung mereka, bahkan tak jarang mereka menimbulkan permasalahan sosial yang cukup merepotkan pemerintah daerah.

Permasalahan hunian, dengan pertambahan penduduk akibat urbanisasi mereka itu memerlukan tempat tinggal/hunian, sehingga mereka mendiami tanah-tanah negara, bantaran sungai, atau lahan basah lainnya. Disamping itu budaya  masyarakat kita masih cenderung membangun tempat tinggalnya ke arah horisontal sehingga untuk memenuhi kebutuhannya diperlukan lahan yang cukup luas pola demikian ini tidak bisa dipertahankan. Untuk memenuhi kebutuhan hunian perlu pembangunan hunian ke arah vertikal.

 

1.2    Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini dapat dikelompokan menjadi 2 (dua) kelompok tujuan, yakni tujuan umum dan tujuan khusus. Secara umum, tujuan penelitian ini adalah tersusunnya suatu rumusan saran sebagai tindak lanjut penyempurnaan konsep perencanaan dan  kebijakan penataan sistem tata air, yang mencakup penyusunan secara makro yang terintegrasi dengan rencana tata ruang. Pemanfaatan ruang kota Jakarta dalam menata sistem tata air dari sudut pandang Ilmu Lingkungan, yang didasarkan pada konsep yang berdasarkan pola kuantitas air.

Secara khusus, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan lingkungan akibat banjir di Jakarta serta dampak negatif yang timbul. Selain itu informasi yang bagaimanakah yang diperlukan sehingga manajemen dalam mengambil keputusan / kebijakan bias lebih tepat, akurat dan cepat sehingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih banyak.

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah :

  1. Mengiventarisasi fungsi kali/sungai yang ada di kali/sungai dan situ/ waduk di Propinsi DKI Jakarta.

  2. Mengkaji fungsi kali/sungai dan situ/waduk tersebut dengan lingkungannya.

  3. Mengkaji karakteristik kali/sungai dan situ/waduk tersebut dengan lingkungannya.

  4. Mengkaji karakteristik dan pola penduduk yang berdomisili di bantaran/ pinggir kali/sungai dari sudut pandang lingkungan sosial. 

  5. Merumuskan dan mengkaji sistem informasi manajemen

  1.3  Lingkup Penelitian

Lingkup penelitian hanya meliputi satu sungai yang ada di Propinsi DKI Jakarta. Sebagai studi kasusnya adalah salah satu sungai / kali yaitu Kali Ciliwung.

 

2. T e o r i
Sebelum penulis membahas teori-teori lebih lanjut penulis mengulas sedikit tentang modern dan post-modern yang berhubungan dengan lingkungan dan sistem informasi geografi. 

2.1 Faham Modernisme dan Faham Post-Modernisme

Dari Descartes sampai Chico Mendes: Sejarah Singkat Modernitas sebagai Pembangunan Filsafat praktis dapat dilakukan dengan cara mengenal kekuatan serta pengaruh api, air, udara, bintang, cakrawala, dan semua wujud lainnya di sekitar kita; bukan melalui filsafat spekulatif yang terdapat pada pelbagai aliran filsafat. Seperti halnya membeda-bedakan beraneka kerajinan yang dikerjakan para perajin, kita dapat membedakan benda-benda alam itu sesuai dengan kegunaannya. Dengan cara demikian, kita menjadikan diri kita sebagai tuan sekaligus pemilik alam.                  (Rene Descartes, Discourse on Method)

 

2.1.1  Metafisika Modernitas

Sekarang kita bertanya apakah kita telah sampai pada filosofi tentang dunia modern, dan kita memulainya dengan Descartes... dalam hal ini, mungkin kita mirip seorang pelaut yang nyaris mencapai pantai setelah melewati pelayaran panjang yang penuh badai, dan berteriak: "Daratan!"           (Hegel)

 

Kita membahas akibat-akibat fatal dari teknologi seolah-olah hal itu hanya kerusakan teknis yang dapat diperbaiki oleh teknologi itu sendiri. Kita harus mencari jalan keluar yang objektif terhadap krisis objektivitas itu  (Vaclav Havel)

 

Ketika Manusia Menjadi Kaisar atas Segalanya

Seperti dinyatakan Francis Bacon dengan sangat jitu, "dalam drama kehidupan manusia ini, hidup ini dipersembahkan hanya untuk Tuhan dan malaikat-malaikat guna menjadi orang yang baik." Kami di Bank Dunia ditakdirkan bukan untuk menjadi penonton. (Barber Conable, 1988)

Dalam sebuah pengertian mungkin tidak mencerminkan makna sebenarnya, tampaknya cocok jika Barber Conable mengutip Sir Francis Bacon. Sebab, jika Descartes adalah ahli metafisika modernitas, maka Bacon adalah nabinya teknokrasi. Pada tahun 1620, setahun sesudah Descartes mengemukakan pandangannya, Bacon mempublikasikan The Great Instauration. Karya ini tidak lebih dari sebuah pro gram be sar untuk mereformasi pengetahuan manusia, "untuk meletakkan dasar bagi kegunaan dan kekuasa an umat manusia”, usaha yang sudah dia mulai pada The Advancement of Learning, yang diterbitkan 15 tahun sebel umnya. Proyek Bacon pada umumnya banyak menunjang proyek Descartes sebuah keinginan unt uk menilai kembali semua pelajaran sebelumnya, yang menekanan pada metode dan induksi, dan pan dangan besar mengenai dominasi terhadap alam, serta segala persoalan manusia, dengan menerapkan "filsafat baru" ini.

 

2.1.2  Modernitas, Pembangunan, dan Teknologi

Secara kronologi, ilmu fisika modern dimulai sejak abad ke-17. Secara kontras, teknologi mesin berkembang hanya dalam paro kedua abad ke-19. Akan tetapi jika dilihat dari sudut pandang penguasaan hal-hal esensi yang menyokongnya, teknologi modern, yang meskipun hitungan kronologinya lebih akhir, ternyata lahir lebih dulu secara historis. (Heidegger, "The Question Concerning Technology")

Bacon menyatakan, inspirasi program itu untuk pengetahuan dan penyelidikan manusia telah menjadi kemajuan praktis dan teknologis yang besar pada saat itu. Baik kiranya untuk diteliti kekuatan dan kebijakan serta konsekuensi penemuan-penemuan ilmiah. Dan semua itu terlihat lebih mencolok daripada tiga penemuan yang dikenal pada masa kuno yaitu percetakan, bubuk mesiu, dan magnet. Tidak kerajaan, tidak pula bintang tampak telah menggunakan kekuasaan dan pengaruh yang lebih besar dalam pelbagai persoalan manusia dibandingkan dengan penemuan-penemuan teknologi ini.

 

2.1.3  Kesempurnaan "Ide Universal"

Perubahan pada ide universal, yang kini sedang berusaha keras disempurnakan, pada hakikatnya telah dimulai oleh Bacon. Dalam karya-karya Bacon, ide universal sepenuhnya bersifat filosofis. Descartes lalu memberinya bentuk ilmiah. Sementara Lock dan Newton menbangun pengertian-pengertian yang memberinya bentuk ilmiah permanen. Keadaan dan situasinya saat itu memang cocok bagi pengorganisasian sistem yang baru. (Claude-Henri Santa-Simon, 1808).

 

2.1.4  Descartes Menghantui Secara Khusus Perusakan Bumi

Pemikiran Descartes menghantui secara khusus birokrasi pembangunan internasional seperti Bank Dunia. Tidak ada gambaran yang lebih baik mengenai hal itu daripada yang ditampilkan dalam sebuah film televisi Inggris mengenai nasib Amazon. Pada salah satu adegan film itu, ilmuwan Brasil dan aktivis lingkungan, Jose Lutzenberger, sedang mendiskusikan peta-peta dengan seorang pekerja badan kolonisasi pemerintahan federal Brasil, INCRA. Peta-peta INCRA disiapkan dengan bantuan Bank Dunia di pertengahan tahun 1980-an. Peta-peta itu membagi areal yang sangat luas dari hutan hujan Amazon di negara bagian Rondonia (seluas wilayah negara bagian Oregon atau Inggris Raya) ke dalam empat persegi panjang kecil, berkisi-kisi geometrik dan sempurna yang dihubungkan dengan garis-garis lurus yang paralel. Garis itu berupa jalan penghubung ke jalan nasional yang dibangun dengan bantuan Bank Dunia.

Visi Descartes adalah kesatuan, universal, dan kemutlakan.  Pendekatan Cartesian merupakan sesuatu yang hampir seluruhnya baru: suatu pandangan "asing" mengenai dunia di tahun 1637. Dan janjinya tentang kekuatan yang mengagumkan ternyata mensyaratkan perilaku Faustian  suatu sikap "pengingkaran terhadap alam", dunia yang direduksi sekadar sebagai ruang geometrik dan ditempati objek-objek yang diperuntukkan bagi subjek yang mampu berpikir dan berhitung. Tidak ada lagi tempat yang dapat lebih ringkas menggambarkan segala kecongkakan terhadap alam itu selain prasasti  yang mendahului salah satu dari sumbangan-sumbangan Descartes pada fisika. Akan tetapi, rumusan itu sekaligus merupakan suatu formula bagi perusakan bumi, yang sayangnya tetap dilanjutkan

 

2.1.5  Untung Rugi dan Manfaat  Cartesian

Lutzenberger marah, mereka melihat itu sebagai sebuah cara gila dalam membagi tanah? Tidakkah pembagian Cartesian yang simetris dan sempurna secara geometrik pada tanah hibah itu mengabaikan topo grafi, kesuburan, dan akses terhadap air? Rencana itu dibuat oleh seseorang yang duduk sendirian di sebuah ruangan di Brasilia atau Washington, atau bahkan oleh seorang ahli matematika Prancis di Belanda pada abad ke-17. Foto satelit NASA memperlihatkan demikian luas perusakan hutan di Brasil, suatu pola penghancuran lingkungan yang mengerikan. Penghancuran lingkungan itu terus meningkat tiap tahun.

Pertengahan abad ke-20, banyak unsur pendekatan Cartesian ditanamkan pada tataran terdalam, hampir pada tataran yang tidak disadari sebagai asumsi yang  mendasar membentuk suatu budaya global dalam pengambilan keputusan di birokrasi dan institusi modern. Dalam budaya birokratis global, dunia ini tampak seperti luasan ruang, sedangkan beragam ekosistem dan masyarakat di bumi hanya diabstraksikan sebagai ruang yang menunggu, masukan, untuk diprpses perencanaannya dan keluarannya infrastruktur, yang disusun sesuka hati sesuai dengan hasil perhitungan. Ini adalah budaya yang cenderung mengasumsi kan hanya ada satu jawaban untuk setiap persoalan. Zaman ini telah berubah hampir setiap ma syarakat di dunia menjadi sebuah sistem dengan satu tujuan global pemilikan alam, pendudukan atas bumi dengan ketidak terbatasan penemuan untuk mengubah alam menjadi sumber komoditas

 

2.1.6  Urbanisasi

Pola dan proses urbanisasi di negara-negara Barat dan di negara-negara sedang  berkembang (developing countries).Pertama-tama dijelaskan dengan kurva Potter, 1992b dan kurva Davis, 1965 (lihat lampiran gambar pada halaman   4). Di negara-negara Barat : perputaran  urbanisasi prosesnya terjadi secara gradual pada awal (tahun 1800-1900), kemudian terjadi percepatan di lihat dari kenaikan kurva (1900-1950). Setelah tingkat urbanisasi mencapai lebih dari 50%, kurva mendatar (1950-1985). Kemudian setelah kurva mencapai 75% level urbanisasi selesai, setelah itu terjadi penurunan antara tahun (1985-2000) an. Putaran urbanisasi dan transisi demografi terjadi secara harmonis, dan berlangsung dalam waktu yang lama yaitu 185 tahun. Contoh di Inggris, Wales, Jepang dan Amerika. Di negara-negara yang sedang berkembang  perputaran  urbanisasi prosesnya terjadi relatif lambat (1800-1945), kemudian terjadi lonjakan yang tinggi (1945-2000)-an. Proses urbanisasi terjadi dalam waktu yang relatif singkat yaitu 84 tahun.

  2.1.7  Keberlanjutan Kota (Urban Sustainability), Yang Diharapkan

Kota keberlanjutan adalah kota yang dapat memberikan pelayanan tidak saja pada generasgi masa kini, tetapi juga pada generasi masa yang akan datang. Di negara-negara Eropa dan Amerika haal ini dikembangkan untuk compact city, dengan kepadatan tinggi yang dapat mengurangi masalah transportasi dan dapat mereduksi energi. McGee dan Yeung (1993) memperkenalkan  Extented Metropolitan Region (EMR) untuk dapat mengatasi kebutuhan fasilitas kota, sehingga dapat mengurangi masalah yang ditimbulkan urbanisasi desa kota. Di negara beerkembang maslah utama bukan pada reduksi energi atau lapisan ozon, tetapi lebih kepada penyediaan air, sanitasi, hunian, dan akses untuk kepastian kehidupan.

  2.2          Fungsi Sungai

Di samping mempunyai fungsi pokok untuk mengalirkan kelebihan air dari permukaan tanah di suatu daerah, sungai merupakan salah satu komponen lingkungan yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan dan peri kehidupan termasuk untuk menunjang kesejahteraan manusia. Di antaranya terdapat untuk keperluan sebagai : Sumber Daya Air, Sumber Daya Perikanan, Sumber Daya Energi, Sumber Daya Pariwisata, prasarana transportasi, dan sebagai tempat pembuangan limbah.

  2.3  Hidrologi

Berdasarkan literatur Bz.Kinori, Manual of Surface Drainage Engineering, Vol. I, Elsevier Publishing Company 1970 dan drainage design for Bandung 1978, maka kecepatan aliran di dalam saluran yang diizinkan adalah.

  • Untuk saluran yang dilapisi kecepatan minimum yang dianjurkan rata-rata 0,60 – 0,90 m/detik atau rata-rata sebesar 0,75 m/detik dan kecepatan maksimum yang dianjurkan sebesar 3,0 m/detik.

  • Untuk saluran kecepatan maksimum yang dianjurkan tidak boleh lebih besar dari 2m3/detik dengan alasan kemungkinan terjadinya erosi besar

Untuk menghitung debit banjir rencana NEDECO menggunakan metoda USCSUH (Soil Conservation Service Unit Hidrograph) yang mempunyai kelebihan karena telah memasukan dalam perhitungannya faktor-faktor penggunaan tanah (land use) atau vegetasi penutup pada daerah pengaliran sungai terutama yang dipengaruhi oleh kondisi fisik maupun geologisnya, dan kelembaban tanah awal dari daerah pengaliran sungai

2.4  Karakteristik Sungai

Teknik sungai (River Engineering) adalah suatu pengetahuan yang komprehensif secara sistimatis belum lama dikembangkan, bukan saja di Indonesia akan tetapi juga di dunia internasional pada umumnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan dirasakannya kesenjangan dalam kepustakaan teknik sungai masih sangat langka dan tidak adanya buku yang mencakup pengetahuan tersebut secara keseluruhan.

2.4.1  Beban Benda Padat di dalam Sungai

Pada kecepatan yang tertentu mula-mula bergerak butir-butir yang terletak lepas di dasar sungai karena bergeraknya butir yang satu maka butir-butir yang lain yang terletak di sebelah hilirnya akan bergerak pula. Abrasi karena air yang mengalir disebabkan oleh turbulensi yang menimbulkan vulsasi yang mendorong butir-butir lainnya.

Turbulensi tergantung dari kecepatan untuk profil sungai dan derajat kekasaran palung sungai. Di saluran-saluran yang seharusnya dengan debit konstan bentuk profil keseimbangannya ialah sebuah ellip yang exentrisitasnya makin besar bila material palungnya makin kasar.

Bila debit mulai tambah besar lagi maka mula-mula pasir akan hanyut. Bila debit makin besar lagi kerikil akan hanyut dan bila debit menjadi cukup besar batupun hanyut pula. Sehingga bangku kerikil akan terbongkar, pada saat aliran air sungai tiba di daerah dataran rendah proses pengendapan pasir sudah mulai terjadi.

  2.4.2  Formasi Geologis dan Tanah

Seluruh dataran wilayah DKI Jakarta terdiri dari endapan aluvial pada jaman Pleistocent setebal ± 50 m. Bagian Selatan terdiri dari lapisan aluvial yang memanjang dari Timur ke Barat pada Jarak 10 km sebelah Selatan pantai. Di bawahnya terdapat lapisan endapan yang lebih tua. Kekuatan tanah di wilayah DKI Jakarta mengikuti pola yang sama dengan pencapaian lapiasan keras di wilayah bagian utara pada kedalaman 10  - 25 meter. Makin ke Selatan permukaan keras semakin dangkal yaitu antara 8  - 15 meter.

 

2.4.3   Banjir

Banjir secara hidrologis merupakan peristiwa alam biasa, bahkan sebagian besar dari dataran aluvial tempat manusia berada sekarang ini adalah merupakan hasil dari proses banjir. Dengan berkembangnya jumlah penduduk kebutuhan akan lahan semakin berkembang pula, dengan semakin majunya teknologi menyebabkan terjadinya akselerasi pembukaan lahan-lahan baru.

Daerah yang tadinya merupakan  daerah resapan dan penahan air berubah menjadi areal pemukiman yang relatif kedap. Perubahan ini menyebabkan keseimbangan hidrologis dari limpasan (run off) berubah menjadi keseimbangan baru. Keseimbangan baru tersebutlah yang mendatangkan perubahan pola temporal dari limpasan.

 

2.4.4  Sistem Informasi Manajemen Banjir

Kota Jakarta sebagai pusat berbagai macam kegiatan nasional maupun internasional sudah saatnya memliki sistem informasi manajemen banjir yang handal, sebagai sarana pendukung pengambilan keputusan manajemen tingkat atas, sebab masyarakat membutuhkan informasi banjir tersebut yang cepat, akurat dan relevan.

Sehingga informasi yang sampai masyarakat tidak simpang siur atau menghindari terjadinya miscommunication yang tidak bertanggung jawab. Yang pada akhirnya akan menimbulkan dampak negatif pada lingkungan karena informasi yang tidak benar tadi. Contoh ada suatu jalan yang tergenang dengan ketinggian yang cukup membahayakan sehingga menimbulkan kemacetan seperti banjir Pebruari 2002, banyak orang bermalam di tengah perjalanan. Untuk hal ini perlu dibangun suatu sistem informasi manajemen banjir yang memadai dan komunikatif mudah dilihat dan diketahui oleh masyarakat. 

3   Apakah Sistem Informasi Geografis (SIG) itu ?

Definisi Sistem Informasi Geografis (SIG) banyak sekali, adapun rangkupan definisi Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah teknologi system informasi yang berbasiskan komputer sehingga dapat dipergunakan untuk memproses, menyusun, menyimpan, memanipulasi dan menganalisa informasi geografis serta menyajikan data spasial yang tersimpan dalam Data Base Management System (DBMS) untuk berbagai macam aplikasi.. teknologi ini berkembang pesat sejalan dengan perkembangan teknologi informatika atau teknologi komputer.

3.1  Apakah SIG diperlukan pada dunia bisnis

Jawabnya tergantung bisnis apa dulu, mungkin bisnis itu yang sifatnya statis atau permanen, tidak mempunyai jaringan atau kantor-kantor cabang itu mungkin tidak perlu. Akan tetapi jika bisnis itu berkembang pesat dan mempunyai banyak cabang dipelbagai pelosok penjuru dunia dan asset yang tidak bergerak cukup banyak misalnya tanah, bangunan itu sudah harus memerlukan SIG. Apapun bentuknya bisnis itu memerlukan tempat/lokasi.

  3.2  Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG)

Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG), sudah saatnya kita mengintropeksi diri kita masing-masing, kita dilahirkan di bumi, mencari makan di bumi, mengadakan aktivitas di bumi, matipun di kebumikan, apapun kegiatannya pasti menyentuh bumi maka sudah selayaknya kita harus tahu tentang bumi yaitu melalui SIG. Manfaat SIG meliputi seluruh aspek kegiatan manusia di bumi ini antara lain :

  • Pertahanan dan Keamanan

  • Manajemen Sumber Daya AlaM

3.2.1  Pertahanan dan Keamanan

SIG sifatnya strategis pada pertahan suatu negara untuk mengetahui batas-batas suatu negara, propinsi, kabupaten/kotamadya, kecamatan dan desa atau kelurahan. Tidak jarang suatu batas menjadi persengketaan baik antar negara, propinsi kabupaten/kotamadya, kecamatan dan desa atau kelurahan.

  • Memetakan batas

  • Memetakan konflik

  • Memetakan kekuatan musuh

  • Memetakan daerah rawan kejahatan

  • Memetakan gangguan sosial

  • Memetakan penempatan personil

Itu semua jika dikelola dengan sistem informasi yang berbasiskan Sistem Informasi Geografik (SIG) akan memudahkan bagi para pemimpin untuk mengambil keputusan yang tepat dan akurat.

3.2.2  Manajemen Sumber Daya

SIG sangat besar manfaatnya untuk keperluan manajemen sumber daya, sehingga dapat dipergunakan sebagai informasi pendukung pengambilan keputusan (Decision SUpport System) atau DSS  sumber daya antara lain :

  • Sumber daya alam;

  • Sumber daya manusia;

Sumber Daya Alam

Sangat cocok suatu sistem informasi yang berkaitan dengan sumber daya alam memanfaatkan SIG. Sumber daya alam itu dapat memanfaatkan fasilitas sistem informasinya  antara lain :

  • Sistem Informasi Sumber Daya Laut.

  • Sistem Informasi Sumber Daya Hutan

  • Sistem Informasi  Sumber Daya Mineral

  • Sistem Informasi Sumber Daya Air

  • Sistem Informasi Tata Guna Lahan

  • Dan lain sebagainya.

3.3  Kaitannya dengan Teknologi Informasi

Dengan bergabungnya teknologi telekomunikasi dan teknologi komputer ini dunia ini seolah tiada batas, karena tidak mengenal dari mana asalnya, RAS, perbedaan pangkat/jabatan, status sosial  dan lain sebagainya itu tidak berlaku di dunia maya.

Begitu juga dengan maraknya E-Bisnis, E-Commerce, E-Government, sebagai contoh misalnya dengan memanfaatkan fasilitas E_Commerce, mungkin transaksi jika semua telah memenuhi syarat lantas oke, itu hanya dalam hitungan detik. Tapi masih tetap memerlukan jasa manual contohnya masih menggunakan jasa kurir pengantar barang pesanan yang dipesan melalui E-Commerce tadi itu memakan waktu yang cukup lama.

 

3.4  Sebagai Sarana Penunjang Pelayanan Umum

Pada era reformasi dan keterbukaan pada saat ini masyarakat menginginkan pelayanan publik yang memadai sebagai konsumen. Oleh karenanya diperlukan apaya sumber daya yang mampu mengakomodir pelayanan umum. Pelayanan umum itu bukannya yang diselenggarakan oleh pemerintah saja tapi pelayanan umum yang diselenggarakan oleh masyarakat (badan hukum), 

Memang itu suatu khayalan yang fantastis tapi memang fajar-fajar saja, maka penulis mengandaikan jika semua itu tertata dengan suatu sistem yang sinergi mungkin tidak kacau balau. Mungkin saja sistem tersebut sudah ada tapi tidak optimal karena sesuatu hal. Cukup banyak pelayanan umum yang bisa memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) antara lain :

  • Sistem Informasi Transportasi Darat, Laut dan Udara.

  • Sistem Informasi Jaringan Utilitas PLN, Telekom, Gas dan PAM

  • Sistem Informasi Pengendalian Banjir.

  • Sistem Informasi Jaringan Jalan.

  • Sistem Informasi Tata Air

  • Sistem Informasi  Pertanahan

  • Sistem Informasi Bencana Alam

  • Dan lain sebagainya

 

3.5  Data Spasial

Data spasial adalah data yang ber-georeferensi Data geografik yang berhubungan dengan semua persoalan & fenomena yang ada di dunia nyata (real world).

 

3.6  Mengapa Menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG)

Informasi geografis yang ditampilkan melalui peta konvensional (pada kertas atau film) memang merupakan informasi yang murah dari segi harga dan tidak memerlukan teknologi yang tinggi. Namun perlu diingat juga bahwasanya data yang digunakan pada peta tersebut telah digeneralisir untuk memudahkan  pembacaan. Sebagai contoh, lebar jalan, panjang jalan, sungai, waduk, banjir atau luas suatu kota atau kawasan ditampilkan tidak sesuai dengan skala aslinya, apalagi jika sudah beberapa kali difoto copy mesti terjadi perubahan skala, walaupun hal ini ditampilkan lebih informative bagi pengguna.

Pada suatu kawasan yang perkembangannya sangat cepat dan pesat, informasi yang ada juga harus berubah. Namun untuk memproduksi kembali suatu peta yang sudah diperbarui (update) memerlukan proses yang panjang dan lama. Memerlukan penggambaran ulang yang menyita banyak waktu. Kemungkinan pada saat peta yang baru di-update selesai, informasinya telah berubah lagi dengan kenyataan yang ada di lapangan.Peta yang tercetak demikian itu boleh disebut sebagai peta atau dokumen yang relatif statis.

Sistem informasi geografis itu menyimpan data apa adanya, sesuai dengan skala aslinya. Data keruangan yang dimiliki oleh SIG ini tersimpan dalam bentuk digital.

 

Apakah Peta = SIG ?

Untuk mengetahui perbedaan dan keunggulan Peta dan SIG seperti terlihat pada table di bawah ini :

PETA

 

SIG

 

Statis

a

Statis dan Dinamis

a

Proses updating mahal

a

Proses updating murah

a

Kompleks

a

Fleksibel

a

Diskrit (lembar per lembar)

a

Kontinyu yang perlu saja

a

Analisa & modeling secara langsung tidak mungkin

a

Analisa & modeling secara langsung sangat mungkin

a

Menurunkan (generate) data perlu interpretasi

a

Menurunkan (generate) data tidak perlu interpretasi

a

3.7  Sumber Data

Data sebagai bahan dasar yang diolah/dipproses sehinga menjadi suatu informasi (sesuatu yang punya arti bagi yang memerlukannya)

Sistem informasi geografis memerlukan masukan data agar dapat berfungsi dan memberikan informasi lain hasil analisanya. Data dapat dikumpulkan, disimpan dan dimanipulasi Data masukan tersebut dapat diperoleh dari dua sumber yaitu : a) data sekunder dan b) data primer.

 

3.8 Data Sekunder

Data sekunder dapat berupa peta-peta, informasi yang ada pada peta kertas atau film, dikonversikan ke dalam bentuk digital. Misalnya peta geologi, peta tata guna tanah, dan lain sebagainya. Jika data sudah terekam dalam bentuk peta, disamping itu data juga dapat berupa buku statistik, buku telepon, komputer dan lain sebagainya

 

3.9  Data Primer

3.9.1  Data Lapangan

Data lapangan diperoleh dengan pengamatan langsung dengan metode wawancara dengan masyarakat sekitarnya.

Data lapangan diperoleh dengan menggunakan alat bantu untuk pengukuran vertikal maupun horizontal oleh karena SIG itu adalah sistem informasi yang memberikan informasi tentang keadaan muka/perut bumi sesuai dengan kebutuhan. Data pengamatan dengan menggunakan alat bantu tersebut berupa kontour-kontour, lebar sungai panjang sungai, lebar jalan panjang jalan, system drainasi, irigasi, curah hujan suatu wilayah pH tanah dan lain sebagainya. 

3.9.2 Data Hasil Pengideraan Jarak Jauh

Ketersediaan data teknologi penginderaan jarak jauh dapat dibedakan dua macam berdasarkan teknik pencitraannya: sistem pasif yang memanfatkan energi matahari dan sistem aktif yang menggunakan sistem RADAR (radio detecting and ranging). Penggunaan sensor pasif memungkinkan terdeteksinya radiasi elektromagnetik yang terrefleksi atau teremisikan oleh sumber-sumber alam. Sedangkan sensor aktif mampu mendeteksi sinyal terpantul dari obyek yang teradiasi oleh sumber pembangkit buatan.

 

1. Sistem Pasif (sensor optik)

Pemanfaatan sensor pasif untuk aplikasi-aplikasi penginderaan jauh dibidang pengelolaan sumberdaya alam lebih operasional dibandingkan sensor aktif.

Kenyataannya, citra yang dihasilkan oleh sensor pasif lebih mudah diinterpretasikan dan dianalisis. Mula-mula, sensor yang terpasang pada platform satelit mendeteksi energi elektromagnetik yang dipantulkan atau direfleksikan oleh obyek di permukaan bumi. Energi elektromagnetik elektromagnetik yang terdeteksi dalam bentuk sinyal elektrik analog tersebut kemudian dikonversi menjadi nilai-nilai digital. Data-data digital yang telah terekam oleh peralatan satelit ini dikirimkan ke stasiun-stasiun penerima data di bumi dengan cara telemetri.

Data digital yang diterima oleh stasiun bumi (Ground Receiving Station) direkam dalam media perekam magnetic tape (atau DLT – digital linear tape), untuk kemudian diproses lebih lanjut dan disimpan dalam media lainnya seperti CCT – Computer Compatible Tape atau CD-ROM. Pengolahan data meliputi beberapa jenis koreksi, yaitu koreksi atmosferik, geometric dan radiometric, untuk selanjutnya didistribusikan kepada para pengguna.

Sistem pasif bekerja dalam panjang gelombang tertentu, yaitu gelombang tanpak (visible) dan infra merah. Contoh panjang gelombang yang digunakan oleh satelit-satelit penginderaan jauh yang bersistem pasif tertera pada table 3.1.

Tabel 3.1, Karakteristik utama sensor (LANSAT-7ETM, SPOT-4HRVIR dan IKONOS-21

 

LANSAT-7ETM

SPOT-4HRVIR

IKONOS-21

 

0,45-0,52 ETM1

 

0,45-0,52 B1

 

0,52-0,60 ETM2

0,50-0,59 B1

0,53-0,61 B1

 

0,63-0,69 ETM3

0,61-0,68 B2

0,64-0,72 B1

Band spectral (mm)

0,76-0,90 ETM4

0,79-0,89 B3

0,77-0,84 B1

 

1,55-1,75 ETM5

1,58-1,75 SWIR

 

 

10,4-12,5 Therm.Inf

 

 

 

2,08-2,35 ETM7

 

 

 

0,50-0,90 (P)

0,51-0,73 (P)

0,45-0,90 (P)

 

2. Sistem Aktif (sensor Radar)

Pencitraan radar meruapakan penginderaan jauh sistem aktif bekerja pada gelombang mikro. Gelombang radio ini digunakan untuk mendeteksi atau mengenali sebuah obyek, sekaligus posisinya. Proses pencitraan radar dapat dijelaskan sebagai berikut : setelah transmisi pulsa-pulsa pendek energi gelombang mikro dikirim ke arah sasaran, “real echoes” yang kuat atau refleksi yang diterima obyek, direkam dalam suatu “field of view”. Dalam pencitraan radar, panjang gelombang mikro yang digunakan (l) berkisar antara 0,75 hingga 100 cm (band K hingga band P). panjang gelombang yang digunakan dalam sistem radar disajikan dalam Tabel 3.2.

Tabel3.2,Panjang Gelombang Yang Digunakan pada Sistem Pencitraan Radar

Band

Panjang gelombang

l (cm)

Frequency n = c l[Mhz (106 cycles sec-1]

Ka

0,75 –1,1

40.000 – 26.500

K

1,1 – 1,67

26.500 – 18.000

Ku

1,67 – 2,4

18.000 – 12.500

X

2,4 – 3,75

12.000 – 8.000

C

3,75 – 7,5

8.000 – 4.000

S

7,5 – 15

4.000 – 2.000

L

15 – 30

2.000 – 1.000

P

30 – 100

1.000 – 300

2. Tingkat Ketelitian Informasi Yang Disajikan

Dalam sistem penginderaan jauh, ketelitian informasi yang dihasilkan diindikasikan oleh dua hal, yaitu resolusi spasial dan resolusi spectral. Resolusi spasial berkaitan dengan ukuran pixel (picture element). Sedangkan resolusi spectral menggambarkan banyaknya band spectral yang digunakan. Pada kasus resolusi spasial, ukuran pixel sangat menentukan ketajaman dan ketelitian citra satelit yang dihasilkan, kemampuan satelit terhadap penginderaan obyek dipermukaan bumi, dan berkaitan erat dengan skala peta yang dapat ditirunkan dari sebuah citra. Gambaran kolerasi antara resolusi spasial, skala peta dan informasi spasial yang dihasilkan disajikan pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3, Korelasi antara Resolusi Spasial dan Informasi yang dihasilkan

JENIS SATELIT

RESOLUSI SPASIAL

SKALA PETA

JENIS INFORMASI

NOAA-AVHRR

1 km

1.000.000 – 2.500.000

Liputan vegetasi

RESURS – O

210 km

500.000 – 1.000.000

Global

LANSAT-7 ETM

15 m – 30 m

50.000 – 100.000

Pemantauan

SPOT-4

10 m – 20 m

25.000 – 50.000

perubahan liputa

SPOT-5

2,5 m – 10 m

7.500 – 25.000

 

IKONOS-2

1 m – 4 m

2.500 – 10.000

Identifikasi

ORBVIEW3

1 m – 4 m

 

Obyek pd skala lokal

 

Dari sumber-sumber data tersebut saling mendukung satu terhadap yang lain. Data lapangan dapat digunakan untuk membuat peta fisis, sedangkan data penginderaan jauh memerlukan data lapangan untuk lebih memastikan kebenaran data tersebut. Jadi saling berkaitan, melengkapi dan mendukung, sehingga tidak boleh ada yang mengabaikan.

 
3.10  Geographic Reference Data

Data ber-georenfesi (geographic reference) adalah data yang dapat diidentifikasi dan mempunyai acuan lokasi berdasarkan sistem koordinat yang telah ditentukan. Pada umumnya sistem koordinat berhubungan dengen system proyeksi peta.

Kemungkinan lain dari rujukan lokasi adalah sistem yang tidak baku (arbitary). Sistem koordinat yang dikenal selama ini ada dua yaitu  koordinat vertical dan koordinat horizontal. Koordinat-koordinat tersebut baik vertical maupun horizontal masing-masing letaknya ditempatkan pada lokasi yang aman tidak mudah dipindah orang atau kuat menahan benturan dan goyangan.

Masing-masing koordinat itu mempunyai spesifikasi sendiri-sendiri dan pemakaiannyapun berbeda tapi pada akhirnya kedua koordinat itu disatukan. Karena sistem koordinat mempunyai batasan ruang, maka data ber-georeferensi disebut juga data spasial.

 

3.11  Data Geografis

Data geografik adalah semua obyek atau unsur geografik (geographic features) baik yang di bawah bumi, di atas bumi dan di permukaan bumi. Pada peta yang mempunyai geo-referensi) obyek geografik yang dapat diperlihatkan antara lain adalah : 1)  titik, 2) garis, 3) luasan, dan 4) permukaan    

  1. Titik adalah untuk suatu obyek yang memperlihatkan satu lokasi dal am ruang seperti titikl kontrol geodesi, tinggi titik, suatu bangunan, menara, jembatan, kota dan lain sebagainya.

  2.  Garis adalah menunjukan suatu obyek yang berbentuk linier seperti sungai, jalan raya, jalan kereta api, jaringan tegangan tinggi, batas adimintrasi kelurahan /desa, kecamatan, kota dan lain sebagainya.

  3. Luasan untuk menunjukan suatu oyek yang berbentuk terttutup seperti persil/kapling, waduk/situ, rawa, desa, kecamatan, kabupaten/ kotamadya dan propinsi serta negara dan lain sebagainya.

  4. Permukaan (surface) untuk menunjukan obyek yang berbentuk tiga dimensi seperti lekuk –lekuk lembah sungai dan palungnya, gunung berapi dan lain sebagainya.

 

3.12  Karakteristik Data Geografis

Data geografik pada peta dapat dikenal berdasarkan : lokasi dan liputannya, karakteristik/atributnya dan hubungan antar obyek.

  • Lokasi dan liputan / extent meliputi luas, panjang dan tinggi.

  • Karakteritik / atributnya dapat diperlihatkan dengan legenda disesuaikan dengan kebutuhan.

  • Hubungan antar obyek.

Dalam studi data geografik, yang dipersoalkan adalah BAGAIMANA, APA, DIMANA.

 

3.12.1  Data Spasial

·         Data spasial

Data spasial ini disimpan dalam basis data yang mempunyai struktur tertentu. Struktur ini akan menentukan tingkat kemudahan penyimpanan, pemanggilan atau melakukan analisa.

·        Struktur data spasial

Struktur data spasial  format VEKTOR dan RASTER

 

3.12.2  Data Vektor & Data Raster

Dalam Sistem Informasi Geografik (SIG), hubungan spasial :

1.     Data vector dinyatakan dengan koordinat (X, Y)

2.      data raster dinyatakan dengan grid/cell (baris, kolom)

Vektor : Titik, garis dan luasan

3.13  Proses Data (menjadi) Dijital

Secara konsepsional proses data dijital Sistem informasi geografik (SIG) melalui 3 tahapan antara lain :

  1. Dunia nyata (real world)

  2.  Model visualisasi (misal peta)

  3. Komputer

Secara operaional mungkin saja prosesnya tidak melalui 3 tahapan tadi, karena dengan teknologi baru proses menuju data dijital dapat dilakukan secara langsung misalnya produk dari Satelit IKONOS.

 

3.14  Data di Peta

  • Peta pasti mempunyai skala dari yang besar hingga kecil tergantung dari tingkat kebutuhan dan ketelitiannya.

  • Penggambaran data di peta selalu melalui prosese generalisasi

  • Data selalu dapat di generalisasi tetapi jangan sekali-kali membuat/merubah (meng-create) data.

  • Menggunakan dan membandingkan data geografik begitu saja tanpa memperhatikan skala akan membuat pemrosesan data (untuk keperluan SIG) menemui kesulitan & kesalahan. Artinya persoalan ketelitian data harus diperhatikan dalam setiap pekerjaan SIG. Aspek dalam ketelitian : ketelitian itu sendiri, mutu dan kesalahan (error).

 

4. Metode Penelitian
 

 

4.1 Rancangan Penelitian

Penelitian perubahan lingkungan terhadap banjir di Jakarta dan manajemen informasinya akan dilakukan melalui pengkajian data sekunder dan pengumpulan data primer.  Perubahan lingkungan terhadap banjir di Jakarta bukan semata-mata diakibatkan perbahan fisik kota Jakarta , tetapi juga perubahan pola penggunaan tanah di dalam daerah aliran sungai (DAS) yang mengalir melewati Jakarta.

Secara garis  besar rancangan penelitian akan mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

1.    Kegiatan persiapan penelitian :

a.     Penelaahan literature.

b.     Penelaahan peta-peta lama baik peta tematik maupun peta rencana.

c.      Super impose peta dan foto udara daerah terbangun dengan peta jaringan sistem tata air, peta genangan air dan peta lokasi kawasan kumuh.

d.     Perumusan kerangka pikir penelitian

e.     Penyusunan usulan penelitian, seminar dan penyempurnaan usulan penelitian.

2.    Pelaksanaan penelitian  :

a.     Penyediaan peta-peta kerja dan foto udara.

b.     Penelitian literatur lebih tajam

c.      Pengumpulan data sekunder.

d.     Penentuan/penetapan lokasi-lokasi sampel.

e.     Pengumpulan data primer dan observasi lingkungan di lokasi sampel.

f.       Pengolahan dan analisa data.

g.     Penulisan laporan dan penggambaran peta-peta.

h.     Konsultasi Kepada Promotor dan Ko-Promotor.

4.2           Definisi Operasional

Pengertian dan pemahaman yang berbeda pada penggunaan suatu “istilah” akan menimbulkan kerancuan ataupun kekeliruan. Untuk mencegah salah penafsiran maupun pemahaman perlu dirumuskan definisi operasional konsep-konsep yang dikaji di dalam penelitian. Definisi operasional ini diuraikan sebagai berikut :

  1. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan mahluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya.

  2. Ekosistem adalah tatanan unsure lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam bentuk keseimbangan, stabilitas dan produktivitas lingkungan hidup.

  3. Daya dukung lingkungan adalah kemampuan lingkungan untuk mendukung perikehidupan manusia dan mahluk hiduo lainnya.

  4. Perusakan lingkungan adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung terhadap sifat-sifat fisik atau hayati lingkungan, yang mengakibatkan lingkungan itu kurang atau tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan yang berkesinambungan.

  5. Dampak lingkungan adalah perubahan lingkungan yang diakibatkan oleh mutu kegiatan.

  6. Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam yang menjamin pemanfaatan secar bijaksana dan bagi sumber daya terbarui. Menjamin kesinambungan persediaannya dengen tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.

  7. Kota adalah pusat permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batasan wilayah administrasi yang diatur di dalam peraturan perundang-undangan serta permukiman yang memperlihatkan watak dan cirri hidup perkotaan.

  8. Pengertian Tempat Air Tempat-tempat dan wadah-wadah air permukaan, maupun di bawah permukaan tanah yang disebut sumber-sumber air, tidak termasuk air yang terdapat di laut.

  9. Pengertian Situ adalah suatu genangan air di atas permukaan tanah yang terbentuk secara alami maupun buatan (cekungan) di mana airnya berasal dari tanah atau air pemukaan yang mempunyai fungsi hidrologis.

  10. Pengertian Sungai adalah tempat-tempat dan wadah-wadah serta jaringan pengaliran air, yang mengalirkan air hujan yang jatuh dari udara di sesuatu daerah dipermukaan bumi untuk sebagian meresap ke dalam tanah, sebagian ditahan tanaman, sebagian lagi menguap kembali dan sisanya mengalir di atas permukaan bumi ke bagian-bagian yang rendah di daerah itu, yaitu sungai.

  11. Pengeritian data Data ialah kelompok teratur simbol-simbol yang mewakili kwantitas, tindakan benda dan sebagainya Data terdiri dari fakta -fakta dan angka-angka yang secara relatif tidak berarti bagi pemakai

  12. Pengertian informasi  data yang telah diletakan dalam konteks yang sangat berarti dan berguna yang kemudian dikomunikasikan ke penerima yang akan dipergunakan dalam pengambilan keputusan saat ini maupun yang akan datang..

4.3 Metode Pengumpulan Data

Lingkup data yang diperlukan data sekunder dan data primer. Data sekunder meliputi data grafis dan data numeric. Data grafis lama antara lain akan diperoleh dengan cara teknik kartografis. Peta penggunaan tanah akan meliputi penggunaan tanah tahun 1965, 1970, 1975, 1980, 1985, 1990 dan 1995. peta penggunaan tanah tahun 2001.

 

4.4  Metode Analisa dan Evaluasi Data

Kerangka  analisa disusun sebagai dasar pengujian hipotesis yang telah dirumuskan. Berdasarkan hipotesa yang telah dirumuskan pada sub bab 2.14 maka yang yang akan diuji adalah :

Berkurangnya “water ratio” yaitu lahan basah (wet land) mengakibatkan perubahan lingkungan terhadap banjir. Pentingnya Sistem Informasi Manajemen Banjir untuk pendukung pengambilan keputusan dan menginformasikannya pada masyarakat tentang bahaya banjir sehingga sedikit mengurangi dampak.

 

4.5   Data Yang Digunakan

1.     Peta penggunaan tanah akan meliputi penggunaan tanah tahun 1965, 1970, 1975, 1980, 1985, 1990 dan 1995. peta penggunaan tanah tahun 2001

2.     Peta sistem tata air akan meliputi penggunaan tanah tahun 1965, 1970, 1975, 1980, 1985, 1990 dan 1995. peta penggunaan tanah tahun 2001

3.     Data demografi

4.     Data curah hujan

5.     Data sarana dan prasarana.

6.     Data pendukung lainnya

DAFTAR PUSTAKA

Ersin Seyhan, 1977, Fundamentals of Hydrology, Geografisch Instituut der Rijksuniversiteit te Utrecht Universiteitscentrum “ De Uithof “ Transitorium II Heidelberglaan 2, Nederland.

 

Meijerink. A. M J, 1985, Rainfall, Soil, Rock, Water, Saturated and Unsaturated Flow, International Institute For Aerospace Survey and Earth Sciences, Enschede, The Netherlands.

 

Suyono.S, Takeda. K, 1977, Hidrologi Untuk Pengairan, Pradya Paramita, Jakarta

 

Howard T. Odum, 1992, Eko Sistem suatu pengantar, Gadjah Mada University Press Yogyakarta.

 

E.M. Wilson, 1993, Hidrologi Teknik, Penerbit ITB Bandung.

 

Eugene P. Odum, 1994, Dasar-dasar Ekologi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

 

P.A. Burroough, 1986, Prinsiples of Geographical Information Systems for Land Resources Assesment, Clarendon Press, Oxford.

John A. Richards, 1993, Remote Sensing Digital Image Analysis, Springer – Velag, Paris

 

Author information goes here.
Copyright © 2003  [Tumar]. All rights reserved.
Revised: Januari 05, 2003 .

Hosted by www.Geocities.ws

1