|
© 2003 Tumar Posted 5 Januari 2003 Tugas
"Sistem Informasi Geogafis dan Inderaja(97040906) Program Doktor- Program Studi Ilmu Lingkungan Program
Pascasarjana Januari
2003 Dosen: Dr.
Ir .Aryo Hanggoro, DEA |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
KETERKAITAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS / DENGAN PERUBAHAN LINGKUNGAN AKIBAT BANJIR DI JAKARTA DAN MANAJEMEN INFORMASI |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
oleh : Tumar NIM : 9101040194 E-mail : [email protected] |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
ABSTRAK |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Luas
dan Letak Geografis Daerah Khusus Ibukota Jakarta mempunyai luas wilayah
± 655,7 km2, atau ± 65.570 ha termasuk wilayah daratan
Kepulauan Seribu yang tersebar di teluk Jakarta.
Secara geografis wilayah DKI Jakarta terletak antara 106 22’
42" BT sampai 106 58’ 18" BT dan 5 19’ 12" LS sampai 6
23’ 54" LS. Perkembangan luas wilayah DKI Jakarta mengalami
perubahan, dimulai dari tahun 1619 yang hanya 32 km2, tahun
1912 menjadi 125 km2, tahun 1936 berkembang
menjadi 182 km2 dan terakhir tahun 1974 diperluas lagi
menjadi 655,70 km2. Adapun bencana banjir besar yang pernah
melanda Jakarta terjadi pada tahun 1621. tahun 1654, tahun 1699 banjir
akibat letusan Gunung Krakatau, tahun 1711 banjir akibat penggundulan
hutan di daerah puncak (Bogor), tahun 1714 banjir besar yang melumpuhkan
perekonomian dan menimbulkan wabah penyakit, tahun 1854 banjir besar,
tahun 1918, 1942 juga
demikian, tahun 1976 dan
tahun 1996 serta tahun 2002 terjadi lag,i sehingga melumpuhkan seluruh
kegiatan sehari-hari dan menimbulkan korban jiwa maupun material yang
cukup besar. Jakarta yang berpenduduk sekitar 9.720.400 jiwa pada siang
hari bisa mencapai 12.000.000 jiwa lebih. Sistem tata air pada 13 sungai
di DKI Jakarta terbentuk mulai dari hulu sungai yang terdapat di
pegunungan Gede Pangrango hingga bagian hilir dataran rendah di Jakarta
Utara, membentuk morfologi sungai yang dicirikan oleh adanya lekuk-lekuk
sungai (meander), dataran banjir dan rawa pantai. (Watershed ) dan Siklus
Hidrologi Banjir dan Pembangunan adalah akibat perubahan tata guna lahan,
banjir ini disebabkankan oleh curah hujan yang tinggi, manusia dan alam
itu sendiri, sehingga meluap melampui daerah aliran sungai (DAS),
selanjutnya banjir di Jakarta erat kaitannya dengan perubahan lingkungan.
Dari
sekian kejadian yang berulang dan menimbulkan korban jiwa dan material
yang tidak sedikit, maka diperlukan suatu manajemen sistem informasi yang
memadai yaitu tepat, cepat dan akurat untuk mengambil keputusan pada saat
keadaan kritis Keterkaitan
sistem informasi geografis / penginderaan jarak jauh dengan perubahan
lingkungan akibat banjir di Jakarta dan manajemen informasi nya sangat
diperlukan untuk keperluan pengambilan kebijakan dan informasi pada
masyarakat. Kata kunci : Jakarta, banjir, lingkungan, geografis, sistem informasi |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| 1. Latar Belakang | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Propinsi
Daerah Khusus Ibukota Jakarta mempunyai luas wilayah ± 655,7
km2, atau ± 65.570 ha termasuk wilayah daratan Kepulauan
Seribu yang tersebar di teluk Jakarta.
Secara geografis wilayah DKI Jakarta terletak antara 106 22’
42" BT sampai 106 58’ 18" BT dan 5 19’ 12" LS sampai 6
23’ 54" LS.
Batas-batas wilayah DKI Jakarta adalah : Sebelah Utara dengan Laut
Jawa, Timur dengan Kabupaten Bekasi, Selatan dengan Kabupaten Bogor, dan
Barat dengan Kabupaten Tangerang
(Prop. Banten) Perkembangan
luas wilayah DKI Jakarta mengalami perubahan dimulai dari tahun 1619 hanya
32 km2, tahun 1912 menjadi 125 km2, tahun 1936
berkembang
182 km2 dan terakhir tahun 1974 menjadi 650 km2.
Adapun bencana banjir besar yang pernah melanda Jakarta pada tahun 1621.
1654, 1699 banjir akibat letusan Gunung Krakatau, tahun 1711 banjir akibat
penggundulan hutan di daerah puncak (Bogor), tahun 1714 banjir besar yang
melumpuhkan perekonomian dan menimbulkan wabah penyakit, tahun 1854 banjir
besar, tahun 1918, 1942
juga demikian, tahun
1976 dan tahun 1996 serta tahun 2002
terjadi lagi yang melumpuhkan seluruh kegiatan sehari-hari dan menimbulkan
korban jiwa / material yang cukup besar. 1.1
Permasalahan
Mengapa
banjir semakin sulit diatasi? Permasalahan banjir
akibat kondisi alam di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya adalah kondisi
alamnya + 40 % dari luas DKI Jakarta ( + 24.000 ha ) adalah
daerah rendah beberapa lokasi terutama di Jakarta Utara lebih rendah +
1 (satu) meter dari permukaan air pasang, sehingga mudah terjadi genangan
lokal dan juga akibat timbulnya limpasan air sungai, karena debit air
sungai melebihi daya tampung sungai yang dangkal, dan sempit .
Faktor-faktor baik teknis maupun non teknis diantaranya hunian liar yang
mendiami bantaran sungai dan lahan basah adalah karena kondisi geografis
Jakarta yang dilalui oleh 13 sungai yang masuk dari Jawa Barat ke wilayah
DKI Jakarta dan mempunyai daerah tangkapan air sampai daerah Bogor (Puncak)
yang semuanya bermuara di laut Jawa. Permasalahan
kemacetan yang menjadi
menu sehari-hari, karena jumlah kendaraan bermotor tidak seimbang dengan
panjang jalan yang ada, serta bertambahan kendaraan bermotor tidak
seimbang dengan pembangunan jalan, masih banyaknya perlintasan sebidang Permasalahan
urbanisasi yang masuk
ke Jakarta tiap tahunnya tinggi, mereka ditampung oleh sektor informal,
karena sektor formal tak sanggup menampung mereka, bahkan tak jarang
mereka menimbulkan permasalahan sosial yang cukup merepotkan pemerintah
daerah. Permasalahan
hunian, dengan
pertambahan penduduk akibat urbanisasi mereka itu memerlukan tempat
tinggal/hunian, sehingga mereka mendiami tanah-tanah negara, bantaran
sungai, atau lahan basah lainnya. Disamping itu budaya
masyarakat kita masih cenderung membangun tempat tinggalnya ke arah
horisontal sehingga untuk memenuhi kebutuhannya diperlukan lahan yang
cukup luas pola demikian ini tidak bisa dipertahankan. Untuk memenuhi
kebutuhan hunian perlu pembangunan hunian ke arah vertikal.
1.2
Tujuan Penelitian Tujuan
penelitian ini dapat dikelompokan menjadi 2 (dua) kelompok tujuan, yakni
tujuan umum dan tujuan khusus. Secara umum, tujuan penelitian ini adalah
tersusunnya suatu rumusan saran sebagai tindak lanjut penyempurnaan konsep
perencanaan dan kebijakan
penataan sistem tata air, yang mencakup penyusunan secara makro yang
terintegrasi dengan rencana tata ruang. Pemanfaatan ruang kota Jakarta
dalam menata sistem tata air dari sudut pandang Ilmu Lingkungan, yang
didasarkan pada konsep yang berdasarkan pola kuantitas air. Secara
khusus, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan lingkungan
akibat banjir di Jakarta serta dampak negatif yang timbul. Selain itu
informasi yang bagaimanakah yang diperlukan sehingga manajemen dalam
mengambil keputusan / kebijakan bias lebih tepat, akurat dan cepat
sehingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih banyak. Tujuan
khusus dari penelitian ini adalah :
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| 2.
T e o r i |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Sebelum
penulis membahas teori-teori lebih lanjut penulis mengulas sedikit tentang
modern dan post-modern yang berhubungan dengan lingkungan dan sistem
informasi geografi.
2.1
Faham Modernisme dan Faham Post-Modernisme Dari
Descartes sampai Chico Mendes: Sejarah Singkat
Modernitas sebagai Pembangunan
Filsafat praktis dapat dilakukan dengan cara mengenal kekuatan serta
pengaruh api, air, udara, bintang, cakrawala, dan semua wujud lainnya di
sekitar kita; bukan melalui filsafat spekulatif yang terdapat pada
pelbagai aliran filsafat. Seperti halnya membeda-bedakan beraneka
kerajinan yang dikerjakan para perajin, kita dapat membedakan benda-benda
alam itu sesuai dengan kegunaannya. Dengan cara demikian, kita menjadikan
diri kita sebagai tuan sekaligus pemilik alam.
(Rene
Descartes, Discourse on Method) 2.1.1
Metafisika Modernitas Sekarang
kita bertanya apakah kita telah sampai pada filosofi tentang dunia modern,
dan kita memulainya dengan Descartes... dalam hal ini, mungkin kita mirip
seorang pelaut yang nyaris mencapai pantai setelah melewati pelayaran
panjang yang penuh badai, dan berteriak: "Daratan!"
(Hegel) Kita
membahas akibat-akibat fatal dari teknologi seolah-olah hal itu hanya
kerusakan teknis yang dapat diperbaiki oleh teknologi itu sendiri. Kita
harus mencari jalan keluar yang objektif terhadap krisis objektivitas itu
(Vaclav
Havel) Ketika
Manusia Menjadi Kaisar atas Segalanya Seperti
dinyatakan Francis Bacon dengan sangat jitu, "dalam drama kehidupan
manusia ini, hidup ini dipersembahkan hanya untuk Tuhan dan
malaikat-malaikat guna menjadi orang yang baik." Kami di Bank Dunia
ditakdirkan bukan untuk menjadi penonton. (Barber Conable, 1988) Dalam
sebuah pengertian mungkin tidak mencerminkan makna sebenarnya, tampaknya
cocok jika Barber Conable mengutip Sir Francis Bacon. Sebab,
jika Descartes adalah ahli metafisika modernitas, maka Bacon
adalah nabinya teknokrasi. Pada tahun 1620, setahun sesudah Descartes
mengemukakan pandangannya, Bacon mempublikasikan The Great Instauration.
Karya ini tidak lebih dari sebuah pro gram be sar untuk mereformasi
pengetahuan manusia, "untuk meletakkan dasar bagi kegunaan dan
kekuasa an umat manusia”, usaha yang sudah dia mulai pada The
Advancement of Learning, yang diterbitkan 15 tahun sebel umnya. Proyek
Bacon pada umumnya banyak menunjang proyek Descartes sebuah keinginan unt
uk menilai kembali semua pelajaran sebelumnya, yang menekanan pada metode
dan induksi, dan pan dangan besar mengenai dominasi terhadap alam, serta
segala persoalan manusia, dengan menerapkan "filsafat baru" ini. 2.1.2
Modernitas, Pembangunan, dan Teknologi Secara
kronologi, ilmu fisika modern dimulai sejak abad ke-17. Secara kontras,
teknologi mesin berkembang hanya dalam paro kedua abad ke-19. Akan
tetapi jika dilihat dari sudut pandang penguasaan hal-hal esensi yang
menyokongnya, teknologi modern, yang meskipun hitungan kronologinya lebih
akhir, ternyata lahir lebih dulu secara historis. (Heidegger, "The
Question Concerning Technology") Bacon
menyatakan, inspirasi program itu untuk pengetahuan dan penyelidikan
manusia telah menjadi kemajuan praktis dan teknologis yang besar pada saat
itu. Baik
kiranya untuk diteliti kekuatan dan kebijakan serta konsekuensi
penemuan-penemuan ilmiah. Dan semua itu terlihat lebih mencolok daripada
tiga penemuan yang dikenal pada masa kuno yaitu percetakan, bubuk mesiu,
dan magnet. Tidak kerajaan, tidak pula bintang tampak telah menggunakan
kekuasaan dan pengaruh yang lebih besar dalam pelbagai persoalan manusia
dibandingkan dengan penemuan-penemuan teknologi ini. 2.1.3
Kesempurnaan "Ide Universal" Perubahan
pada ide universal, yang kini sedang berusaha keras disempurnakan, pada
hakikatnya telah dimulai oleh Bacon. Dalam karya-karya Bacon, ide
universal sepenuhnya bersifat filosofis. Descartes lalu memberinya bentuk
ilmiah. Sementara Lock dan Newton menbangun pengertian-pengertian yang
memberinya bentuk ilmiah permanen. Keadaan dan situasinya saat itu memang
cocok bagi pengorganisasian sistem yang baru. (Claude-Henri
Santa-Simon, 1808). 2.1.4
Descartes Menghantui Secara Khusus Perusakan Bumi Pemikiran
Descartes menghantui secara khusus birokrasi pembangunan internasional
seperti Bank Dunia. Tidak ada gambaran yang lebih baik mengenai hal itu
daripada yang ditampilkan dalam sebuah film televisi Inggris mengenai
nasib Amazon. Pada salah satu adegan film itu, ilmuwan Brasil dan aktivis lingkungan,
Jose Lutzenberger, sedang mendiskusikan peta-peta dengan
seorang pekerja badan kolonisasi pemerintahan federal Brasil, INCRA.
Peta-peta INCRA disiapkan dengan bantuan Bank Dunia di pertengahan tahun
1980-an. Peta-peta itu membagi areal yang sangat luas dari hutan hujan
Amazon di negara bagian Rondonia (seluas wilayah negara bagian Oregon atau
Inggris Raya) ke dalam empat persegi panjang kecil, berkisi-kisi geometrik
dan sempurna yang dihubungkan dengan garis-garis lurus yang paralel. Garis
itu berupa jalan penghubung ke jalan nasional yang dibangun dengan bantuan
Bank Dunia. Visi
Descartes adalah kesatuan, universal, dan kemutlakan.
Pendekatan Cartesian merupakan sesuatu yang hampir
seluruhnya baru: suatu pandangan "asing" mengenai dunia di tahun
1637. Dan janjinya tentang kekuatan yang mengagumkan ternyata mensyaratkan
perilaku Faustian
suatu sikap "pengingkaran terhadap alam", dunia yang
direduksi sekadar sebagai ruang geometrik dan ditempati objek-objek yang
diperuntukkan bagi subjek yang mampu berpikir dan berhitung. Tidak ada
lagi tempat yang dapat lebih ringkas menggambarkan segala kecongkakan
terhadap alam itu selain prasasti
yang mendahului salah satu dari sumbangan-sumbangan Descartes pada
fisika. Akan tetapi, rumusan itu sekaligus merupakan suatu formula bagi
perusakan bumi, yang sayangnya tetap dilanjutkan 2.1.5
Untung Rugi dan Manfaat
Cartesian Lutzenberger
marah, mereka melihat itu sebagai sebuah cara gila dalam membagi tanah?
Tidakkah pembagian Cartesian yang simetris dan sempurna secara geometrik
pada tanah hibah itu mengabaikan topo grafi, kesuburan, dan akses terhadap
air? Rencana itu dibuat oleh seseorang yang duduk sendirian di sebuah
ruangan di Brasilia atau Washington, atau bahkan oleh seorang ahli
matematika Prancis di Belanda pada abad ke-17. Foto satelit NASA
memperlihatkan demikian luas perusakan hutan di Brasil,
suatu pola penghancuran lingkungan yang mengerikan.
Penghancuran lingkungan itu terus meningkat tiap tahun. Pertengahan
abad ke-20, banyak unsur pendekatan Cartesian ditanamkan pada tataran
terdalam, hampir pada tataran yang tidak disadari sebagai asumsi yang
mendasar membentuk suatu budaya global dalam pengambilan keputusan
di birokrasi dan institusi modern. Dalam budaya birokratis global, dunia
ini tampak seperti luasan ruang, sedangkan beragam ekosistem dan
masyarakat di bumi hanya diabstraksikan sebagai ruang yang menunggu,
masukan, untuk diprpses perencanaannya dan keluarannya infrastruktur, yang
disusun sesuka hati sesuai dengan hasil perhitungan. Ini adalah budaya
yang cenderung mengasumsi kan hanya ada satu jawaban untuk setiap
persoalan. Zaman ini telah berubah hampir setiap ma syarakat di dunia
menjadi sebuah sistem dengan satu tujuan global pemilikan alam, pendudukan
atas bumi dengan ketidak terbatasan penemuan untuk mengubah alam menjadi
sumber komoditas 2.1.6
Urbanisasi Pola
dan proses urbanisasi di negara-negara Barat dan di negara-negara sedang
berkembang (developing countries).Pertama-tama dijelaskan dengan
kurva Potter, 1992b dan kurva Davis, 1965 (lihat lampiran
gambar pada halaman
4). Di
negara-negara Barat : perputaran
urbanisasi prosesnya terjadi secara gradual pada awal (tahun
1800-1900), kemudian terjadi percepatan di lihat dari kenaikan kurva
(1900-1950). Setelah tingkat urbanisasi mencapai lebih dari 50%, kurva
mendatar (1950-1985). Kemudian setelah kurva mencapai 75% level urbanisasi
selesai, setelah itu terjadi penurunan antara tahun (1985-2000) an.
Putaran urbanisasi dan transisi demografi terjadi secara harmonis, dan
berlangsung dalam waktu yang lama yaitu 185 tahun. Contoh di Inggris,
Wales, Jepang dan Amerika. Di
negara-negara yang sedang berkembang
perputaran
urbanisasi prosesnya terjadi relatif lambat (1800-1945), kemudian
terjadi lonjakan yang tinggi (1945-2000)-an. Proses urbanisasi terjadi
dalam waktu yang relatif singkat yaitu 84 tahun. Kota
keberlanjutan adalah kota yang dapat memberikan pelayanan tidak saja pada
generasgi masa kini, tetapi juga pada generasi masa yang akan datang.
Di negara-negara Eropa dan Amerika haal ini dikembangkan untuk compact
city, dengan kepadatan tinggi yang dapat mengurangi masalah transportasi
dan dapat mereduksi energi. McGee dan Yeung (1993) memperkenalkan
Extented Metropolitan Region (EMR) untuk dapat mengatasi kebutuhan
fasilitas kota, sehingga dapat mengurangi masalah yang ditimbulkan
urbanisasi desa kota. Di negara
beerkembang maslah utama bukan pada reduksi energi atau lapisan ozon,
tetapi lebih kepada penyediaan air, sanitasi, hunian, dan akses untuk
kepastian kehidupan. Di
samping mempunyai fungsi pokok untuk mengalirkan kelebihan air dari
permukaan tanah di suatu daerah, sungai merupakan salah satu komponen
lingkungan yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan dan peri kehidupan
termasuk untuk menunjang kesejahteraan manusia. Di antaranya terdapat
untuk keperluan sebagai : Sumber Daya Air, Sumber Daya Perikanan, Sumber
Daya Energi, Sumber Daya Pariwisata, prasarana transportasi, dan sebagai
tempat pembuangan limbah. Berdasarkan
literatur Bz.Kinori, Manual of Surface Drainage Engineering,
Vol. I, Elsevier Publishing Company 1970 dan drainage design for Bandung
1978, maka kecepatan aliran di dalam saluran yang diizinkan adalah.
Untuk
menghitung debit banjir rencana NEDECO menggunakan metoda USCSUH (Soil
Conservation Service Unit Hidrograph) yang mempunyai kelebihan
karena telah memasukan dalam perhitungannya faktor-faktor penggunaan tanah
(land use) atau vegetasi penutup pada daerah pengaliran sungai terutama
yang dipengaruhi oleh kondisi fisik maupun geologisnya, dan kelembaban
tanah awal dari daerah pengaliran sungai 2.4
Karakteristik Sungai Teknik
sungai (River Engineering) adalah suatu pengetahuan yang komprehensif
secara sistimatis belum lama dikembangkan, bukan saja di Indonesia akan
tetapi juga di dunia internasional pada umumnya. Hal ini dapat dibuktikan
dengan dirasakannya kesenjangan dalam kepustakaan teknik sungai masih
sangat langka dan tidak adanya buku yang mencakup pengetahuan tersebut
secara keseluruhan. 2.4.1
Beban Benda Padat di dalam Sungai Pada
kecepatan yang tertentu mula-mula bergerak butir-butir yang terletak lepas
di dasar sungai karena bergeraknya butir yang satu maka butir-butir yang
lain yang terletak di sebelah hilirnya akan bergerak pula. Abrasi karena
air yang mengalir disebabkan oleh turbulensi yang menimbulkan vulsasi yang
mendorong butir-butir lainnya. Turbulensi
tergantung dari kecepatan untuk profil sungai dan derajat kekasaran palung
sungai. Di saluran-saluran yang seharusnya dengan debit konstan bentuk
profil keseimbangannya ialah sebuah ellip yang exentrisitasnya makin besar
bila material palungnya makin kasar. Bila
debit mulai tambah besar lagi maka mula-mula pasir akan hanyut. Bila debit
makin besar lagi kerikil akan hanyut dan bila debit menjadi cukup besar
batupun hanyut pula. Sehingga bangku kerikil akan terbongkar, pada saat
aliran air sungai tiba di daerah dataran rendah proses pengendapan pasir
sudah mulai terjadi. Seluruh
dataran wilayah DKI Jakarta terdiri dari endapan aluvial pada jaman
Pleistocent setebal ± 50 m. Bagian Selatan terdiri dari lapisan aluvial
yang memanjang dari Timur ke Barat pada Jarak 10 km sebelah Selatan pantai.
Di bawahnya terdapat lapisan endapan yang lebih tua. Kekuatan tanah di
wilayah DKI Jakarta mengikuti pola yang sama dengan pencapaian lapiasan
keras di wilayah bagian utara pada kedalaman 10
- 25 meter. Makin ke Selatan permukaan keras semakin dangkal yaitu
antara 8
- 15 meter.
2.4.3
Banjir Banjir
secara hidrologis merupakan peristiwa alam biasa, bahkan sebagian besar
dari dataran aluvial tempat manusia berada sekarang ini adalah merupakan
hasil dari proses banjir. Dengan berkembangnya jumlah penduduk kebutuhan
akan lahan semakin berkembang pula, dengan semakin majunya teknologi
menyebabkan terjadinya akselerasi pembukaan lahan-lahan baru. Daerah
yang tadinya merupakan
daerah resapan dan penahan air berubah menjadi areal pemukiman yang
relatif kedap. Perubahan ini menyebabkan keseimbangan hidrologis dari
limpasan (run off) berubah menjadi keseimbangan baru. Keseimbangan baru
tersebutlah yang mendatangkan perubahan pola temporal dari limpasan. 2.4.4
Sistem Informasi Manajemen Banjir Kota
Jakarta sebagai pusat berbagai macam kegiatan nasional maupun
internasional sudah saatnya memliki sistem informasi manajemen banjir yang
handal, sebagai sarana pendukung pengambilan keputusan manajemen tingkat
atas, sebab masyarakat membutuhkan informasi banjir tersebut yang cepat,
akurat dan relevan. Sehingga
informasi yang sampai masyarakat tidak simpang siur atau menghindari
terjadinya miscommunication yang tidak bertanggung jawab. Yang pada
akhirnya akan menimbulkan dampak negatif pada lingkungan karena informasi
yang tidak benar tadi. Contoh ada suatu jalan yang tergenang dengan
ketinggian yang cukup membahayakan sehingga menimbulkan kemacetan seperti
banjir Pebruari 2002, banyak orang bermalam di tengah perjalanan. Untuk
hal ini perlu dibangun suatu sistem informasi manajemen banjir yang
memadai dan komunikatif mudah dilihat dan diketahui oleh masyarakat.
3
Apakah Sistem Informasi Geografis (SIG) itu ? Definisi
Sistem Informasi Geografis (SIG) banyak sekali, adapun rangkupan definisi
Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah teknologi system informasi yang
berbasiskan komputer sehingga dapat dipergunakan untuk memproses, menyusun,
menyimpan, memanipulasi dan menganalisa informasi geografis serta
menyajikan data spasial yang tersimpan dalam Data Base Management System
(DBMS) untuk berbagai macam aplikasi.. teknologi ini berkembang pesat
sejalan dengan perkembangan teknologi informatika atau teknologi komputer. 3.1
Apakah SIG diperlukan pada dunia bisnis Jawabnya
tergantung bisnis apa dulu, mungkin bisnis itu yang sifatnya statis atau
permanen, tidak mempunyai jaringan atau kantor-kantor cabang itu mungkin
tidak perlu. Akan tetapi jika bisnis itu berkembang pesat dan mempunyai
banyak cabang dipelbagai pelosok penjuru dunia dan asset yang tidak
bergerak cukup banyak misalnya tanah, bangunan itu sudah harus memerlukan
SIG. Pemanfaatan
Sistem Informasi Geografis (SIG), sudah saatnya kita mengintropeksi diri
kita masing-masing, kita dilahirkan di bumi, mencari makan di bumi,
mengadakan aktivitas di bumi, matipun di kebumikan, apapun kegiatannya
pasti menyentuh bumi maka sudah selayaknya kita harus tahu tentang bumi
yaitu melalui SIG.
3.2.1
Pertahanan dan Keamanan SIG
sifatnya strategis pada pertahan suatu negara untuk mengetahui batas-batas
suatu negara, propinsi, kabupaten/kotamadya, kecamatan dan desa atau
kelurahan. Tidak jarang suatu batas menjadi persengketaan baik antar
negara, propinsi kabupaten/kotamadya, kecamatan dan desa atau kelurahan.
Itu
semua jika dikelola dengan sistem informasi yang berbasiskan Sistem
Informasi Geografik (SIG) akan memudahkan bagi para pemimpin untuk
mengambil keputusan yang tepat dan akurat. 3.2.2
Manajemen Sumber Daya SIG
sangat besar manfaatnya untuk keperluan manajemen sumber daya, sehingga
dapat dipergunakan sebagai informasi pendukung pengambilan
keputusan (Decision SUpport System) atau DSS
sumber daya antara lain :
Sumber
Daya Alam Sangat
cocok suatu sistem informasi yang berkaitan dengan sumber daya alam
memanfaatkan SIG. Sumber daya alam itu dapat memanfaatkan fasilitas sistem
informasinya
antara lain :
3.3
Kaitannya dengan Teknologi Informasi Dengan
bergabungnya teknologi telekomunikasi dan teknologi komputer ini dunia ini
seolah tiada batas, karena tidak mengenal dari mana asalnya, RAS,
perbedaan pangkat/jabatan, status sosial
dan lain sebagainya itu tidak berlaku di dunia maya. Begitu
juga dengan maraknya E-Bisnis, E-Commerce, E-Government, sebagai contoh
misalnya dengan memanfaatkan fasilitas E_Commerce, mungkin transaksi jika
semua telah memenuhi syarat lantas oke, itu hanya dalam hitungan detik.
Tapi masih tetap memerlukan jasa manual contohnya masih menggunakan jasa
kurir pengantar barang pesanan yang dipesan melalui E-Commerce tadi itu
memakan waktu yang cukup lama. 3.4
Sebagai Sarana Penunjang
Pelayanan Umum
Pada
era reformasi dan keterbukaan pada saat ini masyarakat menginginkan
pelayanan publik yang memadai sebagai konsumen. Oleh karenanya diperlukan
apaya sumber daya yang mampu mengakomodir pelayanan umum. Pelayanan umum
itu bukannya yang diselenggarakan oleh pemerintah saja tapi pelayanan umum
yang diselenggarakan oleh masyarakat (badan hukum),
Memang
itu suatu khayalan yang fantastis tapi memang fajar-fajar saja, maka
penulis mengandaikan jika semua itu tertata dengan suatu sistem yang
sinergi mungkin tidak kacau balau. Mungkin saja sistem tersebut sudah ada
tapi tidak optimal karena sesuatu hal. Cukup banyak pelayanan umum yang
bisa memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) antara lain :
3.5
Data Spasial
Data
spasial adalah data yang ber-georeferensi Data geografik yang berhubungan
dengan semua persoalan & fenomena yang ada di dunia nyata (real
world). 3.6
Mengapa Menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) Informasi
geografis yang ditampilkan melalui peta konvensional (pada kertas atau
film) memang merupakan informasi yang murah dari segi harga dan tidak
memerlukan teknologi yang tinggi. Namun perlu diingat juga bahwasanya data
yang digunakan pada peta tersebut telah digeneralisir untuk memudahkan
pembacaan. Sebagai contoh, lebar jalan, panjang jalan, sungai,
waduk, banjir atau luas suatu kota atau kawasan ditampilkan tidak sesuai
dengan skala aslinya, apalagi jika sudah beberapa kali difoto copy mesti
terjadi perubahan skala, walaupun hal ini ditampilkan lebih informative
bagi pengguna. Pada
suatu kawasan yang perkembangannya sangat cepat dan pesat, informasi yang
ada juga harus berubah. Namun untuk memproduksi kembali suatu peta yang
sudah diperbarui (update) memerlukan proses yang panjang dan lama.
Memerlukan penggambaran ulang yang menyita banyak waktu. Kemungkinan pada
saat peta yang baru di-update selesai, informasinya telah berubah lagi
dengan kenyataan yang ada di lapangan.Peta yang tercetak demikian itu
boleh disebut sebagai peta atau dokumen yang relatif statis. Sistem
informasi geografis itu menyimpan data apa adanya, sesuai dengan skala
aslinya. Data keruangan yang dimiliki oleh SIG ini tersimpan dalam bentuk
digital. Apakah
Peta = SIG ?
Untuk mengetahui perbedaan dan keunggulan Peta dan SIG seperti terlihat pada table di bawah ini :
3.7
Sumber Data Data
sebagai bahan dasar yang diolah/dipproses sehinga menjadi suatu informasi
(sesuatu yang punya arti bagi yang memerlukannya) Sistem
informasi geografis memerlukan masukan data agar dapat berfungsi dan
memberikan informasi lain hasil analisanya. Data dapat dikumpulkan,
disimpan dan dimanipulasi Data masukan tersebut dapat diperoleh dari dua
sumber yaitu : a) data sekunder dan b) data primer. 3.8
Data Sekunder Data
sekunder dapat berupa peta-peta, informasi yang ada pada peta kertas atau
film, dikonversikan ke dalam bentuk digital. Misalnya peta geologi, peta
tata guna tanah, dan lain sebagainya. Jika data sudah terekam dalam bentuk
peta, disamping itu data juga dapat berupa buku statistik, buku telepon,
komputer dan lain sebagainya 3.9
Data Primer 3.9.1
Data Lapangan
Data
lapangan diperoleh dengan pengamatan langsung dengan metode wawancara
dengan masyarakat sekitarnya. Data lapangan diperoleh dengan menggunakan alat bantu untuk pengukuran vertikal maupun horizontal oleh karena SIG itu adalah sistem informasi yang memberikan informasi tentang keadaan muka/perut bumi sesuai dengan kebutuhan. Data pengamatan dengan menggunakan alat bantu tersebut berupa kontour-kontour, lebar sungai panjang sungai, lebar jalan panjang jalan, system drainasi, irigasi, curah hujan suatu wilayah pH tanah dan lain sebagainya. 3.9.2
Data Hasil Pengideraan Jarak Jauh Ketersediaan
data teknologi penginderaan jarak jauh dapat dibedakan dua macam
berdasarkan teknik pencitraannya: sistem pasif yang memanfatkan energi
matahari dan sistem aktif yang menggunakan sistem RADAR (radio
detecting and ranging). Penggunaan sensor pasif memungkinkan
terdeteksinya radiasi elektromagnetik yang terrefleksi atau teremisikan
oleh sumber-sumber alam. Sedangkan sensor aktif mampu mendeteksi sinyal
terpantul dari obyek yang teradiasi oleh sumber pembangkit buatan. 1.
Sistem Pasif (sensor optik) Pemanfaatan
sensor pasif untuk aplikasi-aplikasi penginderaan jauh dibidang
pengelolaan sumberdaya alam lebih operasional dibandingkan sensor aktif. Kenyataannya,
citra yang dihasilkan oleh sensor pasif lebih mudah diinterpretasikan dan
dianalisis. Mula-mula, sensor yang terpasang pada platform satelit
mendeteksi energi elektromagnetik yang dipantulkan atau direfleksikan oleh
obyek di permukaan bumi. Energi elektromagnetik elektromagnetik yang
terdeteksi dalam bentuk sinyal elektrik analog tersebut kemudian
dikonversi menjadi nilai-nilai digital. Data-data digital yang telah
terekam oleh peralatan satelit ini dikirimkan ke stasiun-stasiun penerima
data di bumi dengan cara telemetri. Data
digital yang diterima oleh stasiun bumi (Ground Receiving Station) direkam
dalam media perekam magnetic tape (atau DLT – digital linear tape),
untuk kemudian diproses lebih lanjut dan disimpan dalam media lainnya
seperti CCT – Computer Compatible Tape atau CD-ROM. Pengolahan data
meliputi beberapa jenis koreksi, yaitu koreksi atmosferik, geometric dan
radiometric, untuk selanjutnya didistribusikan kepada para pengguna. Sistem
pasif bekerja dalam panjang gelombang tertentu, yaitu gelombang tanpak
(visible) dan infra merah. Contoh panjang gelombang yang digunakan oleh
satelit-satelit penginderaan jauh yang bersistem pasif tertera pada table
3.1. Tabel
3.1, Karakteristik utama sensor (LANSAT-7ETM, SPOT-4HRVIR dan IKONOS-21
2.
Sistem Aktif (sensor Radar) Pencitraan
radar meruapakan penginderaan jauh sistem aktif bekerja pada gelombang
mikro. Gelombang radio ini digunakan untuk mendeteksi atau mengenali
sebuah obyek, sekaligus posisinya. Proses pencitraan radar dapat
dijelaskan sebagai berikut : setelah transmisi pulsa-pulsa pendek energi
gelombang mikro dikirim ke arah sasaran, “real echoes” yang kuat atau
refleksi yang diterima obyek, direkam dalam suatu “field of view”.
Dalam pencitraan radar, panjang gelombang mikro yang
digunakan
(l)
berkisar
antara 0,75 hingga 100 cm (band K hingga band P). panjang gelombang yang
digunakan dalam sistem radar disajikan dalam Tabel 3.2. Tabel3.2,Panjang
Gelombang Yang Digunakan pada Sistem Pencitraan Radar
2.
Tingkat Ketelitian Informasi Yang Disajikan Dalam
sistem penginderaan jauh, ketelitian informasi yang dihasilkan
diindikasikan oleh dua hal, yaitu resolusi spasial dan resolusi spectral.
Resolusi spasial berkaitan dengan ukuran pixel (picture element).
Sedangkan resolusi spectral menggambarkan banyaknya band spectral yang
digunakan. Pada kasus resolusi spasial, ukuran pixel sangat menentukan
ketajaman dan ketelitian citra satelit yang dihasilkan, kemampuan satelit
terhadap penginderaan obyek dipermukaan bumi, dan berkaitan erat dengan
skala peta yang dapat ditirunkan dari sebuah citra. Gambaran kolerasi
antara resolusi spasial, skala peta dan informasi spasial yang dihasilkan
disajikan pada Tabel 3.3. Tabel
3.3, Korelasi antara Resolusi Spasial dan Informasi yang dihasilkan
Dari
sumber-sumber data tersebut saling mendukung satu terhadap yang lain. Data
lapangan dapat digunakan untuk membuat peta fisis, sedangkan data
penginderaan jauh memerlukan data lapangan untuk lebih memastikan
kebenaran data tersebut. Jadi saling berkaitan, melengkapi dan mendukung,
sehingga tidak boleh ada yang mengabaikan. 3.10 Geographic Reference DataData
ber-georenfesi (geographic reference) adalah data yang dapat
diidentifikasi dan mempunyai acuan lokasi berdasarkan sistem koordinat
yang telah ditentukan. Pada umumnya sistem koordinat berhubungan dengen
system proyeksi peta. Kemungkinan
lain dari rujukan lokasi adalah sistem yang tidak baku (arbitary). Sistem
koordinat yang dikenal selama ini ada dua yaitu
koordinat vertical dan koordinat horizontal. Koordinat-koordinat
tersebut baik vertical maupun horizontal masing-masing letaknya
ditempatkan pada lokasi yang aman tidak mudah dipindah orang atau kuat
menahan benturan dan goyangan. Masing-masing
koordinat itu mempunyai spesifikasi sendiri-sendiri dan pemakaiannyapun
berbeda tapi pada akhirnya kedua koordinat itu disatukan. Karena sistem
koordinat mempunyai batasan ruang, maka data ber-georeferensi disebut juga
data spasial. 3.11
Data Geografis
Data
geografik adalah semua obyek atau unsur geografik (geographic features)
baik yang di bawah bumi, di atas bumi dan di permukaan bumi. Pada peta
yang mempunyai geo-referensi) obyek geografik yang dapat diperlihatkan
antara lain adalah : 1) titik,
2) garis, 3) luasan, dan 4) permukaan
3.12
Karakteristik Data Geografis Data
geografik pada peta dapat dikenal berdasarkan : lokasi dan liputannya,
karakteristik/atributnya dan hubungan antar obyek.
Dalam
studi data geografik, yang dipersoalkan adalah BAGAIMANA, APA, DIMANA. 3.12.1
Data Spasial ·
Data
spasial Data
spasial ini disimpan dalam basis data yang mempunyai struktur tertentu.
Struktur ini akan menentukan tingkat kemudahan penyimpanan, pemanggilan
atau melakukan analisa. ·
Struktur
data spasial Struktur
data spasial format VEKTOR
dan RASTER 3.12.2
Data Vektor & Data Raster Dalam
Sistem Informasi Geografik (SIG), hubungan spasial : 1.
Data vector dinyatakan dengan koordinat (X, Y) 2. data raster dinyatakan dengan grid/cell (baris, kolom) |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Vektor : Titik, garis dan luasan |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
3.13
Proses Data (menjadi) Dijital Secara
konsepsional proses data dijital Sistem informasi geografik (SIG) melalui
3 tahapan antara lain :
Secara
operaional mungkin saja prosesnya tidak melalui 3 tahapan tadi, karena
dengan teknologi baru proses menuju data dijital dapat dilakukan secara
langsung misalnya produk dari Satelit IKONOS. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
3.14
Data di Peta
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| 4.
Metode Penelitian |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
4.1
Rancangan Penelitian Penelitian
perubahan lingkungan terhadap banjir di Jakarta dan manajemen informasinya
akan dilakukan melalui pengkajian data sekunder dan pengumpulan data
primer.
Perubahan lingkungan terhadap banjir di Jakarta bukan semata-mata
diakibatkan perbahan fisik kota Jakarta , tetapi juga perubahan pola
penggunaan tanah di dalam daerah aliran sungai (DAS) yang mengalir
melewati Jakarta. Secara
garis
besar rancangan penelitian akan mencakup kegiatan-kegiatan sebagai
berikut : 1.
Kegiatan
persiapan penelitian : a.
Penelaahan
literature. b.
Penelaahan
peta-peta lama baik peta tematik maupun peta rencana. c.
Super
impose peta dan foto udara daerah terbangun dengan peta jaringan sistem
tata air, peta genangan air dan peta lokasi kawasan kumuh. d.
Perumusan
kerangka pikir penelitian e.
Penyusunan
usulan penelitian, seminar dan penyempurnaan usulan penelitian. 2.
Pelaksanaan
penelitian
: a.
Penyediaan
peta-peta kerja dan foto udara. b.
Penelitian
literatur lebih tajam c.
Pengumpulan
data sekunder. d.
Penentuan/penetapan
lokasi-lokasi sampel. e.
Pengumpulan
data primer dan observasi lingkungan di lokasi sampel. f.
Pengolahan
dan analisa data. g.
Penulisan
laporan dan penggambaran peta-peta. h.
Konsultasi
Kepada Promotor dan Ko-Promotor. 4.2
Definisi Operasional Pengertian
dan pemahaman yang berbeda pada penggunaan suatu “istilah” akan
menimbulkan kerancuan ataupun kekeliruan. Untuk mencegah salah penafsiran
maupun pemahaman perlu dirumuskan definisi operasional konsep-konsep yang
dikaji di dalam penelitian. Definisi operasional ini diuraikan sebagai
berikut :
4.3
Metode Pengumpulan Data Lingkup
data yang diperlukan data sekunder dan data primer. Data sekunder meliputi
data grafis dan data numeric. Data grafis lama antara lain akan diperoleh
dengan cara teknik kartografis. Peta penggunaan tanah akan meliputi
penggunaan tanah tahun 1965, 1970, 1975, 1980, 1985, 1990 dan 1995. peta
penggunaan tanah tahun 2001. 4.4
Metode Analisa dan Evaluasi Data Kerangka
analisa disusun sebagai dasar pengujian hipotesis yang telah
dirumuskan. Berdasarkan hipotesa yang telah dirumuskan pada sub bab 2.14
maka yang yang akan diuji adalah : Berkurangnya
“water ratio” yaitu lahan basah (wet land) mengakibatkan perubahan
lingkungan terhadap banjir. Pentingnya Sistem Informasi Manajemen Banjir
untuk pendukung pengambilan keputusan dan menginformasikannya pada
masyarakat tentang bahaya banjir sehingga sedikit mengurangi dampak. 4.5
Data Yang Digunakan 1.
Peta penggunaan tanah akan meliputi penggunaan tanah tahun 1965,
1970, 1975, 1980, 1985, 1990 dan 1995. peta penggunaan tanah tahun 2001 2.
Peta sistem tata air akan meliputi penggunaan tanah tahun 1965,
1970, 1975, 1980, 1985, 1990 dan 1995. peta penggunaan tanah tahun 2001 3.
Data demografi 4.
Data
curah hujan 5.
Data sarana dan prasarana. 6.
Data pendukung lainnya |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
DAFTAR
PUSTAKA
Ersin
Seyhan, 1977, Fundamentals of Hydrology, Geografisch Instituut der
Rijksuniversiteit te Utrecht Universiteitscentrum “ De Uithof “
Transitorium II Heidelberglaan 2, Nederland. Meijerink.
A. M J, 1985, Rainfall, Soil, Rock, Water, Saturated and Unsaturated
Flow, International Institute For Aerospace Survey and Earth
Sciences, Enschede, The Netherlands. Suyono.S,
Takeda. K, 1977, Hidrologi Untuk Pengairan, Pradya Paramita,
Jakarta Howard
T. Odum, 1992, Eko Sistem suatu pengantar, Gadjah Mada University
Press Yogyakarta. E.M.
Wilson, 1993, Hidrologi Teknik, Penerbit ITB Bandung. Eugene
P. Odum, 1994, Dasar-dasar Ekologi, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta. P.A.
Burroough, 1986, Prinsiples of Geographical Information Systems for
Land Resources Assesment, Clarendon Press, Oxford. John
A. Richards, 1993, Remote Sensing Digital Image Analysis, Springer
– Velag, Paris
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Author information goes here.
Copyright © 2003 [Tumar]. All rights reserved.
Revised: Januari 05, 2003
.